November 29, 2007

Ketika Cinta Bertasbih 2


Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Judul : Ketika Cinta Bertasbih 2
Penerbit : Basmala & REPUBLIKA
Harga : Rp. 49.500,-






Hanya butuh waktu kurang dari 6 jam bagi saya untuk melahap habis lanjutan kisah Abdullah Khairul Azzam dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 2 ini, kemaren sewaktu Thia menelpon dari Toko Buku Gramedia dan ngasih tau kalo KCB 2 sudah beredar, kontan saja saya minta dia untuk membeli novel tersebut. Sejak bulan Mei saya memang sudah penasaran pengen tau kelanjutan kisahnya.

Sama dengan novel KCB 1*), novel KCB 2 ini penuh dengan hikmah dan ilmu, kadang-kadang kita akan merasa tidak sedang membaca novel, tetapi membaca buku fiqh, buku hikmah, buku nahwu. Alurnya pun susah ditebak, selalu ada kejutan di tiap babnya. Tegang juga membaca novel ini, karena hingga bab-bab terakhir saya masih belum bisa menebak akhir dari kisah ini. untungnya happy ending.

Emosi pun seakan dipermainkan ketika ikut menyelami momen-momen bahagia dan sedih dalam novel ini, kadang saya tertawa gemas dan kadang jadi sendu terharu. Mungkin karena Kang Abik, memang menulis dari hati.

Latarnya pun digambarkan dengan apik oleh Kang Abik, kalau KCB 1 latarnya di Mesir, maka KCB 2 latarnya  dominan di Indonesia (Jawa Tengah). detail yang disuguhkan Kang Abik seakan-akan mengajak kita ikut terlibat di dalam cerita novel ini.

Sayangnya masih ada beberapa kesalahan pengetikan/pencetakan, mudah-mudahan di cetakan berikutnya hal tersebut bisa diatasi.

*) Komentar saya tentang Novel Ketika Cinta Bertasbih 1 bisa dilihat di SINI

October 16, 2007

Catatan Perjalanan Beijing

Alhamdulillah udah kembali lagi ke tanah air, setelah 2 minggu ngikutin training workshop di Beijing. Training tersebut diikuti 19 peserta dari 11 negara, dari Belarus, Indonesia, Kazakhtan, Mesir, Mongolia, Pakistan, Polandia, Rumania, Rusia, Thailand, dan Yunani. Rata-rata peserta training adalah praktisi di bidang iptek, khususnya pada aplikasi iptek untuk UKM. Pelaksana training workshop ini adalah Beijing International Bussiness Incubator. Pagi hari diisi dengan materi selama 2 jam, dan pada siang hari peserta mengunjungi science park yang ada di Beijing.

Foto bersama peserta training dari 11 Negara

Karena jadwal training yang ga padat, bisa dibilang tiap hari saya manfaatkan tuk jalan-jalan, biasanya saya jalan ke daerah Niujie, kawasan muslim di Beijing. Di sana ada masjid yang dibangun pada abad ke-9, ada supermarket muslim, dan tentu saja restoran muslim. Saya dan peserta muslim lainnya dari Pakistan sering nyari makan di Niujie, karena makanan di hotel ga ada yang halal. gitu juga kalo lunch, walaupun panitia udah menjamin kalo restoran yang dikontrak selama training itu bebas dari daging babi, tapi kita yang muslim memilih hanya untuk makan nasi putih dan kentang rebus. so, kalo udah nyampe di hotel pada sore harinya, perut ini udah kriuk-kriuk minta diisi lagi... hehehehe
Masjid tertua di Beijing, Masjid Niujie

di Masjid Niujie, ketemu dengan orang Indonesia juga... hehehehe
Tempat jalan-jalan lainnya tentu saja shopping centre, di Beijing ada beberapa shopping centre yang rame, di pusat kota ada Xidan Street dan Wangfujing Street, cuman saya jarang ke sana karena mahal-mahal, namanya juga mall jadi ga bisa nawar. So saya seringnya ke Qianmen dan Silk Street, nah yang di tempat yang dua ini nih harganya bisa bener-bener murah asalkan jago nawar. kadang-kadang kita harus berani nawar sampe 10% dari harga awal yang disebut si penjual, kalo harganya masih kemahalan, pura-pura aja ninggalin tuh penjual, pasti dipanggil lagi kok. hehehehe, walhasil souvenir, mainan, jaket, dan tas bisa saya beli dengan harga yang terjangkau.

Selama jalan-jalan di kota Beijing, saya seringnya naik bus karena murah, cuman bayar 1 yuan doang. kadang juga kalo pengen cepat naek kereta bawah tanah (subway) bayarnya cuman 3 yuan, kalo udah nyasar baru deh naek taksi, tarif awal taksi 10 yuan, tapi selanjutnya tarifnya naik ga kenceng-kenceng amat, so paling saya cuman bayar 15 yuan tiap kali naek taksi. bisa dibilang, transportasi publik di Beijing sudah sangat memadai, busnya bersih-bersih, armadanya banyak, dan berhenti hanya di halte (ga seperti di Jakarta yang bisa berhenti dimana aja), ada jalur khususnya seperti busway di Jakarta, cuman bedanya di beijing ga ada pembatas khusus antara jalur bus dan jalur kendaraan lain, cuman garis kuning di jalan aja. walaupun demikian, ga ada tuh mobil pribadi yang nyerobot jalur bus. di Beijing ada juga kemacetan sih, tapi ga separah di Jakarta. Trus di Beijing ga ada tuh yang namanya sepeda motor, paling banter sepeda yang pake mesin listrik. mungkin orang-orang di Beijing malas pake motor karena transportasi publik sudah memadai, atau mungkin juga pemerintah kota beijing yang membatasi penggunaan sepeda motor.

Di depan pintu masuk forbidden city


di Great Wall, Balian

Alhamdulillah panitia training juga ngajakin jalan-jalan ke Forbidden City dan Great Wall, wah seneng banget bisa mengunjungi dua tempat bersejarah tersebut. asli ramai banget deh, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing tumpek blek di Forbidden City dan Great Wall, hmm sepertinya Cina juga mendapatkan pemasukan yang banyak dari sektor pariwisata nih. Satu hari sebelum pulang ke tanah air, saya juga menyempatkan diri datang ke Summer Palace, dari hotel naik taksi bayar 30 yuan, pulangnya naek bus turun di Qianmen bayar cuman 2 yuan. sayangnya pemandangan di Summer Palace ga bisa dijepret dengan sempurna karena cuaca kurang mendukung.

Sempat juga ngerasain puasa di kota Beijing, jadwal imsak dan iftar saya dapatkan dari Masjid Niujie, untuk sahur biasanya rebus mie, tapi kalo ga sempet lagi ngerebus, tinggal ngacir aja ke McD di depan hotel yang buka 24 jam. begitu juga untuk iftar, Burger, Sandwich, Chicken Nugget, dan French Fries McD yang jadi favorit. Apesnya, hari terakhir baru saya tahu kalo ternyata di belakang McD itu ada restoran muslim....

Tidak semua peserta mengerti ama yang namanya bulan Ramadhan, kalo peserta dari Thailand sih udah tau karena katanya punya banyak teman muslim, tapi ada juga yang bingung ngeliat kita cuman tinggal di bus sewaktu lunch. Martin, peserta dari Polandia nanya ama saya, kok kamu ga makan siang? di ruangan tadi pagi juga ga minum kopi? setelah saya jelaskan apa dan bagaimana bulan puasa itu, kayaknya dia takjub juga, dia bilang, hebat ya kamu bisa ga makan dan minum dari pagi sampe jam 6 sore, selama sebulan lagi. hehehehe


Peserta training yang beragama muslim dari Pakistan dan Indonesia
Kiri-Kanan : Muhammad Raza Ahmad Khan, Abdul Qayyum, saya dan Pak Yani

Setelah seremoni penutupan, panitia mengadakan party untuk peserta, namun saya dan 3 peserta muslim yang lain sudah sepakat untuk tidak ikut party, namanya juga bulan Ramadhan, so kita memilih untuk ke restoran muslim di belakang McD untuk farewell iftar, yang nraktir peserta dari Pakistan, Muhammad Raza Ahmad Khan dan Abdul Qayyum. Mr. Muhammad sempat kaget pas saya beritahu kalo bapak saya juga bernama Razak Ahmad, hehehe. selama training, saya dan Pak Yani (peserta dari Indonesia juga) banyak berdiskusi tentang dunia islam dengan Mr. Raza dan Mr. Qayyum, terutama konstalasi politik di Pakistan dan Timur Tengah secara umum. wah senang bisa punya saudara baru dari Pakistan.

October 10, 2007

October 2, 2007

Buka Puasa IAPIM Jabodetabek

Tadi malam seneng banget, karena bisa ngumpul-ngumpul dengan sesama alumni Pesantren Modern IMMIM yang berdomisili di Jabodetabek dalam acara buka puasa yang diadakan di Dapur Sunda Pancoran. Alumni yang hadir lebih dari 50 orang, baru kali ini gathering alumni di Jabotabek dihadiri banyak orang. biasanya yang datang cuman belasan orang. Menurut Kanda Amir Zaman yang menjadi host kali ini, undangan buka puasa cuman dikirim ke 3 orang, tapi sms itu bergulir dengan cepat sehingga alumni yang datang lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya. Alumni yang datang pun beragam, mulai dari anggota DPR hingga musisi, mulai dari ustadz hingga pegawai negeri, mulai dari alumni angkatan pertama hingga angkatan ke-21, semuanya larut dalam nostalgia mengenang 6 tahun kebersamaan di pondok pesantren.



Rasa persaudaraan sesama alumni Pesantren IMMIM tentu saja sangat kuat, karena setidaknya para alumni Pesantren IMMIM pernah merasakan 6 tahun pengalaman yang mondok di kampus yang sama, mengalami penderitaan yang sama, menikmati makanan yang sama, dan berbagai pengalaman lainnya. Sehingga apabila ada kesempatan bertemu, para alumni Pesantren IMMIM pasti akan asyik bernostalgia tentang indahnya kehidupan yang pernah dijalani bersama di pesantren.


Kanda Ikhsan memberikan tausiyah kepada para alumni

Acara Buka Puasa juga diisi dengan tausiyah oleh Ustadz Ikhsan, LC (Alumni tahun 85). Ustadz Ikhsan berulang kali mengingatkan bahwa status kita-kita yang hadir di acara buka puasa ini adalah alumni pesantren, sehingga apa pun profesi yang sekarang digeluti oleh para alumni, tugas utama sebagai da'i tidak boleh dilupakan. Jangan sampai kehidupan dunia membuat kita lupa sama Allah SWT. Jazakallah yaa ustaz Ikhsan atas tausiyahnya.

Setelah Kanda Amir Zaman mendata semua peserta yang hadir, acara buka puasa pun ditutup setelah terlebih dahulu menyepakati untuk mengadakan acara silaturrahim (halal bi halal) pada bulan Syawal nanti.

Catatan :
- IMMIM : Ikatan Masjid Musholla Indonesia Muttahidah

- IAPIM : Ikatan Alumni Pesantren IMMIM

April 3, 2007

Resensi Buku: Ketika Cinta Bertasbih 1

Tepat sebelum azan magrib dikumandangkan, saya menyelelesaikan bacaan novel Ketika Cinta Bertasbih. Tidak butuh waktu lama memang bagi saya untuk melahap habis untaian kisah yang ditulis dengan indahnya oleh Kang Abik dalam novelnya tersebut. Rasa tak sabar sudah menghinggapi diri untuk membaca kelanjutan kisah Khairul Azzam, Fadhil, Furqon, Hafez, Anna Althafunnisa, Eliana, dan tokoh-tokoh lainnya pada episode 2 dwilogi Ketika Cinta Bertasbih ini...

Sebagaimana karya-karya Kang Abik terdahulu, karyanya kali ini juga sarat dengan hikmah yang dapat dipetik oleh pembacanya. Kutipan-kutipan ayat, hadits, mahfudzat, kisah sahabat bahkan kaidah ushul fiqhi memang menjadi kekayaan dari tulisan Kang Abik. Karakter yang dilakonkan para tokoh di novel tersebut, memang sudah jadi barang langka di kalangan remaja dan pemuda masa kini, namun melahirkan kerinduan bagi pembaca untuk dapat memiliki karakter-karakter tersebut, seperti karakter yang mencintai ilmu, yang menjunjung tinggi kesucian diri, jiwa dan cinta, serta karakter paripurna yang mencontohkan sikap tauladan dalam menghadapi problema asmara yang sudah pasti selalu mendera semua pemuda-pemudi yang memiliki cinta di hatinya.


Kepiawaian Kang Abik dalam menjelaskan keindahan tiap detil sudut kota-kota dalam novel tersebut juga menumbuhkan kerinduan pada negeri seribu menara tersebut. Dua jempol naik deh buat Kang Abik, tokoh Abdullah Khairul Azzam dalam novelnya ini lagi-lagi menjadi inspirasi banyak orang sebagaimana tokoh lain pada novel-novelnya yang terdahulu. kali ini Kang Abik mampu merombak standar keberhasilan seorang mahasiswa yang selama ini sering dinilai dari sisi prestasi akademis saja. menurut saya, tokoh Azzam yang lebih fokus pada bisnis bakso dan tempenya untuk bisa survive di Mesir dan mampu memberi nafkah pada keluarganya di Indonesia adalah keberhasilan sejati.

March 10, 2007

February 2, 2007

Jakarta Banjir

Ga Nyangka kalo hari ini jadi puncak banjir di Jakarta.  Baru nyadar setelah Lina SMS kalau bus jemputan kantor yang dia tumpangi baru nyampe di pintu tol Taman Mini padahal udah jam 8 pagi. Jam 8.30 baru 3 orang yang ada di ruangan, padahal biasanya jam segitu ruangan tuh udah ramai.


Suasana kantor masih sepi, padahal udah jam 9

Karena ada agenda presentasi di Bakosurtanal Cibinong, jam 9 pagi saya berangkat bersama pak Deputi. Belum jauh keluar dari kantor, udah bisa kelihatan kalau hari ini adalah awal petaka banjir di Jakarta. Terlihat di perempatan dari arah Tanah Abang, Kebon Sirih ke Jembatan Lima, air sudah menggenangi jalan dan membuat arus lalu lintas menjadi macet.


Banjir dah menutup permukaan jalan Kemanggisan-Kebun Sirih

Alhamdulillah tiba di Bakosurtanal tuh sekitar pukul 10.15, setelah presentasi, langsung solat Jum'at dan pamitan, Setelah mampir makan siang di Rumah Makan Sate Kiloan yang ga jauh dari pintu Tol Sentul, kami pun kembali ke Jakarta dan ternyata  perjalanan pulang dari Cibinong ke kantor memakan waktu 4 jam.


Macet Total di pintu Tol Taman Mini

Kemacetan paling panjang tuh di pintu Tol Taman Mini, karena ada genangan air di sebagian ruas jalan tol. Di mobil tuh kami terus memantau siaran Radio Elshinta yang non-stop menyiarkan info banjir. Penyiarnya ngasih info beberapa ruas jalan yang macet, so drivernya inisiatif muter lewat Jalan Tol Lingkar Utara (arah Tj. Priok-Bandara), sepanjang perjalanan dari Cawang sampai Pluit alhamdulillah lancar-lancar aja, tapi beberapa ruas jalan tol sudah dipenuhi mobil yang parkir. Sepertinya rumah para pemilik mobil di bawah udah kebanjiran.  sepeda motor juga banyak yang lewat di Jalan Tol...


Pengendara sepeda motor nekat melewati jalan tol Lingkar Timur

Di depan CitraLand, jalan tol menuju Grogol-Semanggi macet lagi karena sebagian ruas jalan tol sudah terendam banjir, untungnya di mobil banyak bacaan plus ngemil Rambutan jadi ga beteamat... setelah perjuangan beberapa jam... akhirnya pukul 16.30 nyampe deh di kantor... hmmm...


Sebuah bus nekat melawan arus banjir



yang jelas... bengkel motor hari ini larisss manisssssss



sayang banget tuh mobil jazz biru udah kerendam banjir...

January 11, 2007

Pelabuhan Sunda Kelapa

Bulan Juni tahun lalu, saya sering jalan-jalan ke Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan tua di utara kota Jakarta yang konon sudah ada sejak abad ke-12. Kebetulan letak pelabuhan itu cuman 200 meter dari kos-kosan saya di Pasar Ikan, dengan jalan kaki 5 menit kita sudah bisa sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Saat ini pelabuhan tersebut direncanakan menjadi kawasan wisata karena nilai sejarahnya yang tinggi. Sifat pelayanan jasanya pun hanya antar pulau, setiap harinya pelabuhan kecil ini hanya didatangi sekitar 10 kapal angkut. Rata-rata kapal yang berlabuh membawa muatan kayu dari Kalimantan dan Sumatera. Suasannanya sama seperti pelabuhan Paotere di Makassar. Hampir sebagian besar pelaut yang ada di pelabuhan ini berasal dari Sulawesi Selatan, pemilik kapal-kapal tradisional yang berlabuh di sini pun rata-rata saudagar dari Bugis-Makassar, sehingga tidak aneh bila kita mendengar para pelaut di pelabuhan ini rata-rata menggunakan bahasa daerah Bugis dan Makassar. 

kapal yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa

Awalnya orang-orang di pelabuhan ini menyapa saya dengan bahasa Indonesia, tetapi setelah saya memperkenalkan diri bahwa saya putra asli dari tanah Bugis, kami pun melanjutkan ngobrol dalam bahasa bugis atau makassar... "ooo pada idi" atau "ooo paraikatteji" adalah kalimat yang biasanya terucap setelah mereka tahu kalo saya juga berasal dari Sulawesi Selatan yang artinya "oh, ternyata sesama kita".

Banyak pelaut tua yang berasal dari Bugis yang mengaku sudah puluhan tahun tidak kembali ke tanah Bugis, rata-rata mereka sudah tidak melaut lagi tetapi alih profesi sebagai kuli angkat kayu atau usaha perahu penyeberangan. Mereka rata-rata sudah berkeluarga dan menetap di perkampungan di sekitar pelabuhan ini, seperti di Kampung Luarbatang atau Pasar Ikan.

Berikut beberapa hasil jepretanku di Pelabuhan Sunda Kelapa..


pelaut tua ini berasal dari Bone (kampungnya JK), katanya sejak tahun 1970-an
tidak pernah kembali lagi ke Sulawesi Selatan. tiap hari beliau menyeberangkan penduduk
dari Sunda Kelapa ke Kampung Luarbatang. kadang-kadang juga perahu kecilnya dirental ama turis :)



Ayo nak kita pulang... udah mo magrib... jalan2nya udah dulu ya... di belakang
masih tampak dua orang fotografer lagi motret matahari yang lagi indah-indahnya...



Salut deh ama Bapak ini, dimanapun kalo waktunya tiba.. solat harus dilaksanakan :)



Perahu penyebrangan sudah mau berangkat... hmm.. hari semakin senja...




Malam pun tiba... mudah-mudahan dapat penumpang banyak ya pak tua..




Humm... siluet kapal tradisional.. 

Foto diambil : 11 Juni 2006
Kamera : Nikon