November 23, 2008

Catatan Perjalanan Paris (Bagian 2)

Dan petualanganku di kotanya om Napolen pun berlanjut. Setelah empat hari sibuk dengan berbagai meeting, akhirnya ada waktu untuk jalan-jalan lagi. Kali ini saya jalan ke Lafayette, sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Paris, terkenal karena mahalnya. Jepitan rambut yang plastik aja harganya 30 euro, kalo di KRL ekonomi Serpong-Tanah Abang aja sepuluh ribu dapet tiga. hehehe...

Dari Lafayette, jalan dikit ke Place de L'Opera dan lanjut naik Metro ke stasiun Chatelet Les Halles, disini lumayan rame karena menjadi tempat transit lebih dari 10 jalur Metro. Di basementnya ada mall yang harga barang-barangnya masih lumayan murahlah dibanding Lafayette. Dari mall ini saya naik Metro lagi ke arah stasiun Charles de Gaulle Etoile, yang letaknya dibawah Monumen Arc de Triomphe. Monumen yang termasuk salah satu landmark di Paris ini termasuk unik, karena ada dua belas avenue (jalan) yang bertemu di Monumen ini. Monumen ini selesai dibangun tahun 1835, oleh arsitek bernama Jean-Francois-Thérèse Chalgrin dan dilanjut oleh Jean-Armand Raymond karena Chalgrin meninggal sebelum Monumen ini selesai.  Desain dari monumen ini terinspirasi dari Arch of Constantine di Roma, Italia, tapi ukuran yang di paris ini dua kali lebih besar daripada yang di Roma.

Monumen ini terletak di ujung Avenue Des Champs Élysées, jalan yang sangat terkenal karena di sisi kanan kiri jalan pun penuh dengan pertokoan dengan brand yang sudah ga asing lagi, mulai dari Mont Blanc, Nike, Louis Vuitton, Peugeot, Renault, Toyota, Adidas, Apple, Disney, Yves Saint Lauren, Dior, Mont Blanc dan puluhan outlet dari brand terkenal lainnya. Saya menyusuri Avenue Des Champs Élysées ini dari sisi kiri menuju Place de La Concorde. Pedestrian yang nyaman dan luas membuat jarak yang jauh tidak begitu terasa.

Hari terakhir di Paris, tentu saja saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Yang pertama saya kunjungi adalah Musée du Louvre (Museum Louvre) yang letaknya di dalam Jardin Des Tuileries, di dalam nih museum banyak karya-karya terkenal seperti lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci. Museum ini mulai dibangun sejak tahun 1546, namun baru pada tahun 1793 dibuka untuk publik umum. Untuk masuk ke museum, melewati piramida dari kaca yang dibuat Mr. I.M.Pei, seorang arsitek dari Aeerika Seirikta yang lahir di China. Bangunan piramida kaca ini yang selesai dibuat tahun 1989 termasuk salah satu karya arsitektur abad 20 yang terkemuka.


Setelah dari Museum Louvre, sebenarnya pengen lanjut ke cathedral of Notre Dame. Tapi daripada jalan ke gereja, saya mending berkunjung ke Mosquee de Paris yang terletak di Rue Daubenton. Masjid ini merupakan yang terbesar dan tertua di Paris. Di sisi kiri depannya ada restoran muslim, jadi mampir dulu deh makan siang. Makan siang kelar, azan pun berkumandang menandakan waktu sholat Ashar telah tiba. Bahagia rasanya bisa menikmati Sholat berjamaah di .Jumlah orang yang solat berjamaah ashar di masjid ini lumayan banyak dan yang dateng tidak didominasi penduduk bertampang Timur Tengah, tapi banyak pula wajah-wajah asli Eropa. Dengar-dengar sih banyak orang Eropa yang masuk Islam belakangan ini, Perancis bahkan menjadi negara di Eropa yang penduduk muslimnya paling besar.



Dari masjid ini, saya kembali ke Avenue Des Champs Élysées, kali ini niatnya menyusuri pertokoan yang ada di sisi kanan jalan, saya lebih tertarik untuk mampir ke showroom automotif, ngeliat mobil konsep dari Peugeot dan Renault... dari Avenue Des Champs Élysées pengennya ngabisin jalan sampe ke Concorde, niatnya emang pengen naek kincir raksasa yang ada di situ, tapi kaki udah pegalnya minta ampun, so belok kanan ke Stasiun Metro Fraklin D. Roosevelt untuk selanjutnya kembali ke hotel.

November 22, 2008

Catatan Perjalanan Paris (Bagian 1)

Pukul enam pagi, pesawat Air France yang kutumpangi dari Jakarta akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Charles de Gaulle Paris. Di terminal 2E, saya dijemput oleh staff KBRI, untuk selanjutnya diantar ke hotel Holiday Inn di daerah Auteuil.

Karena hari Ahad, jalan dari bandara ke Kota Paris cukup lengang, ga nyampe sejam mobil yang jemput saya sudah tiba di daerah Auteuil, tapi ternyata ga gampang nemuin hotel Holiday Inn yang terletak di rue Gudin. Walaupun staff KBRI yang ngantar kita udah tinggal 30 tahun di Paris, tetap aja nyasar kemana-mana, untungnya ada seorang penduduk paris yang mau nunjukin lokasi hotel yang kita tuju.

Ternyata hotel Holiday Inn ini ga segede yang saya bayangkan, saya udah ngebayangin nih hotel segede Hotel Sari Pan Pacific di Jakarta. Walaupun hotelnya kecil. tapi room ratenya lumayan mahal, lebih mahal daripada hotel Bintang Lima di Jakarta, bayangin aja untuk semalam tarif kamarnya 120 euro (sekitar 1,7 juta rupiah), padahal fasilitasnya biasa-biasa aja. Harga itu bahkan belum termasuk breakfast yang diharge 15 Euro. Koneksi internet juga tidak gratis, untuk menggunakan wifi selama untuk seminggu aja musti membayar 88 euro.

Saya dapat kamar di lantai 6, dari balkon kamar Menara Eiffel bisa terlihat dengan jelas. Karena penasaran, saya pun memutuskan untuk menyusuri jalan-jalan di kota Paris dengan tujuan Menara Eiffel. Saya berjalan ke arah utara menyusuri Avenue de Versailles, di sisi kanan jalan terdapat pasar tradisional, jualannya macem-macem, mulai dari ikan, daging, sayur, buah, bunga, pakaian, dll.. pokoknya lumayan komplit, sepertinya pasar ini cuma buka hari Minggu saja. Dari situ saya belok ke kanan dan kemudian menyusuri tepi sungai Seine melalui Quai Louis. Pemandangan Sungai Sein tidak kalah indahnya. Sayangnya jalan-jalan di kota Paris terkesan kotor dengan menumpuknya daun-daun gugur dari pohon yang tertanam rapi di sisi kiri jalan.


Di tengah sungai, tepat di sisi jembatan Point de Grenelle, ada miniatur patung Liberty. Namanya juga miniatur, walaupun mirip cuman ukurannya ga segede yang di Amerika sana. Melangkah ke utara lagi di sebelah kiri ada bengunan gede banget, ternyata gedungnya Maison Radio France. dari sini saya menyusurin jalan gede Avenue du Pt Kennedy dan kemudian menyeberang sungai Seine melalui jembatan Point de Bir-Hakeem. dari jembatan ini, Menara Eiffel sudah bisa terlihat dengan utuh, yah kira-kira jaraknya 200 meteran lagi dehh.. kami mempercepat langkah, sudah tidak sabar lagi rasanya tiba di menara yang menjadi simbol kota Paris.

Setelah berjalan sekitar 3-4 KM, akhirnya saya pun tiba di Menara Eiffel dan langsung mengantri untuk naik ke puncaknya. Ada tiga tingkat yang bisa dikunjungi, dengan tarif yang berbeda. Saya memilih untuk naik ke tingkat paling atas dengan membayar 12 euro. Begitu tiba di puncak eiffel, rasanya dingin banget, cuaca di bawah aja yang 10 derajat celcius sudah menusuk ke tulang, apalagi kalo di atas menara yang tingginya 324 meter. Menara Eiffel ini didesain dan dibangun oleh seorang insinyur sipil Perancis bernama Alexandre-Gustave Eiffel pada tahun 1889. Selama 40 tahun, menara Eiffel menjadi konstruksi paling tertinggi sedunia, yang kemudian pada tahun 1930 dikalahkan oleh Chrysler Building di Newyork yang lebih tinggi 7 meter. Setiap tahunnya Menara Eiffel ini dikunjungi sekitar 6 juta turis.

Kembali ke hotel, saya sudah terlalu capek untuk berjalan, saya pun memutuskan untuk naek Metro dari stasiun Bir-Hakeem menuju Trocadero dan kemudian pindah ke Jalur 9 dan turun di stasiun Porte de Saint-Cloud yang letaknya pas di depan hotel. Eh jangan kirain Metro di sini sama dengan Metro Mini di Jakarta ya, Metro di sini tuh kereta bawah tanah. Jalur metro di Paris sangat rumit dan sudah ada sejak lama. Untuk naek metro pun tidak terlalu mahal,  saya beli tiket yang bisa dipakai sepuasnya selama seminggu hanya dengan 16 euro.

Seperti biasa, begitu pukul dua tengah malam, saya sudah terbangun dan rasanya susah untuk merem lagi gara-gara jetlag. Selisih waktu Paris dan Jakarta memang enam jam, artinya jam dua tengah malam disini sama dengan jam delapan pagi di Jakarta. Sepertinya enak banget berpuasa di Paris kalo lagi musim dingin seperti ini, subuhnya jam 6.15 dan ifthornya jam 17.07... hehehe...