August 30, 2010

Safari Ramadhan Menristek ke Jawa Barat


Membangun perekonomian bangsa yang berbasis iptek tidak akan berjalan mulus bila hanya ditopang denan dengan kebijakan di bidang iptek itu sendiri. Pembangunan tersebut harus didukung pula dengan kebijakan di sektor lain seperti sektor ekonomi dan pendidikan. Untuk mensinergikan berbagai kebijakan lintas sektor tersebut, dibutuhkan sebuah sistem yang disebut Sistem Inovasi Nasional yang saat ini sedang dibangun oleh Kementerian Riset dan Teknologi bersama stakeholder terkait lainnya.

Hal tersebut disampaikan Menegristek Suharna Surapranata saat berdialog dengan puluhan tokoh pemuda dan masyarakat di Hotel Narapati Bandung pada Jumat, 27 Agustus 2010 dalam rangka kegiatan Safari Ramadhan Menristek ke Propinsi Jawa Barat. Turut hadir mendampingi Menristek dalam acara tersebut, Deputi Bidang Sumber Daya Iptek, Freddy Zen; dan Staf Khusus Menteri Bidang Riset dan Kerjasama, Warsito P. Taruno.

Kegiatan Safari Ramadhan tersebut merupakan program tahunan dari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II (KIB II), dimana Menteri dapat menyosialisasikan program-program pemerintah dan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat secara langsung melalui kegiatan dialog dan silaturrahmi. Kegiatan ini dirangkaikan dengan kunjungan kerja ke Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, BATAN Bandung; Balai Teknologi Informasi LIPI Bandung; dan Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN Bandung. (munawir)

Kunjungan Kerja Menristek ke fasilitas LPNK di Bandung

Pembangunan ekonomi bangsa tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Pembangunan ekonomi berbasis inovasi yang diterapkan negara maju terbukti mampu meningkatkan perekonomian meskipun tidak ditunjang dengan sumber daya alam yang melimpah. Oleh karena itu, sudah waktunya bagi Indonesia untuk merubah orientasi pembangunan yang selama ini berdasarkan keunggulan komparatif tersebut menjadi pembangunan berbasis keunggulan kompetitif.

Hal tersebut disampaikan Menegristek Suharna Surapranata ketika memberikan pengarahan di Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, BATAN. Kegiatan tersebut mengawali rangkaian kunjungan kerja Menristek  ke Bandung  dalam rangka Safari Ramadhan KIB II pada hari Jumat 27 Agustus 2010.

Menristek melanjutkan, proses transformasi pembangunan tersebut bukan hal yang mudah  dan membutuhkan agen perubah (agent of change) yang memiliki kredibilitas untuk merealisasikannya. Kredibilitas agent of change tersebut harus dibangun atas dasar integritas dan ditunjukkan dengan sikap konsisten terhadap moralitas, humanitas dan nasionalitas. “Mudah-mudahan dengan momen bulan Suci Ramadhan ini, kita mampu meningkatkan integritas kita sebagai agent of change”, Ujar Menristek.

Sementara itu, dalam kunjungannya ke Balai Teknologi Informasi LIPI Bandung, Menristek kembali menegaskan bahwa pembangunan ekonomi bangsa berbasis iptek dan inovasi barulah akan dianggap berhasil bila hasil-hasil riset yang ada sudah mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan yang ada di masyarakat. Strategi yang dijalankan Kementerian Riset dan Teknologi untuk meniadakan kesenjangan antara supply-push dan demand-driven adalah dengan membangun sinergi fungsional antar sektoral sehingga tumpang tindih riset dapat dieliminasi dan hasil riset yang ada relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Menegristek mengungkapkan, mengatasi tumpang tindih riset di antara lembaga penelitian adalah bagian dari kontrak kinerjanya dengan Presiden. Oleh karena itu, Menristek akan merealisasikan penyusunan regulasi yang jelas tentang ruang lingkup dan batasan riset yang dilakukan oleh masing-masing lembaga, mulai dari riset dasar hingga difusi hasil riset. Di sisi lain,  lembaga penelitian harus senantiasa melakukan komunikasi dan transparansi satu sama lain agar hasil riset bersinergi dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.

Menristek menutup rangkaian kunjungan kerjanya dengan memberikan pengarahan di   Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN Bandung. Pada kesempatan tersebut, Menristek menekankan pentingnya menjalin kemitraan yang strategis dengan pihak industri. Selain mensinergikan hasil penelitian dengan kebutuhan industri, lembaga penelitian harus mampu melakukan komunikasi yang efektif sehingga pihak industri dapat memberikan kontribusi yang besar khususnya menyediakan alternatif pendanaan kegiatan riset. "Apabila kita tidak mampu membangun komunikasi yang baik dengan industri, maka kita akan ditinggalkan oleh sektor industri", Ujar Menristek.

Di akhir kegiatan, Menristek mendengarkan presentasi terkait Pengembangan Sistem Informasi berbasis  Satelit dan Terestial untuk Peringatan Dini Bencana di Jawa Barat dan Pengembangan Sistem Energi Listrik HIBRID berbasis sistem inovasi Daerah di Bantul yang merupakan program bersama Kementerian Riset dan Teknlogi bersama LAPAN. (munawir)  

August 25, 2010

Buka Puasa Menristek dengan Anak Yatim Piatu

Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, mengadakan buka puasa bersama dengan lebih dari seratus anak yatim piatu di kediaman Menristek di bilangan Kuningan pada hari Rabu, 25 Agustus 2010. Anak-anak yatim piatu tersebut berasal dari Panti Asuhan Al-Farhan Yayasan Darussalam, Reni Jaya, Tangerang; anak yatim piatu binaan Masjid Jabal Annur, Tambun Bekasi; dan anak yatim piatu binaan masjid Al-Ikhlas Kampung Bali, Jakarta Pusat.

Dalam sambutannya, Menristek memaparkan bahwa kegiatan berbuka puasa dengan anak yatim piatu tersebut adalah wujud dari keinginan pemerintah untuk selalu dekat dan peduli dengan seluruh lapisan masyarakat, termasuk dengan para anak yatim piatu yang merupakan generasi bangsa yang akan melanjutkan pembangunan di masa yang akan datang.

Sementara itu, Adi Junjunan Mustafa, peneliti dari Bakosurtanal yang menyampaikan tausiyah pada kesempatan tersebut, menekankan pentingnya pendidikan terhadap anak yatim piatu. Adi Junjunan berpesan pada pengasuh panti asuhan yang turut hadir agar senantiasa memperhatikan aspek pendidikan anak yatim piatu tersebut agar kelak anak-anak tersebut dapat menjadi manusia yang berkualitas dan mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Adi Junjunan juga mengisahkan perjalanan hidup Muhammad SAW. yang walaupun sejak kecil sudah menjadi anak yatim piatu namun sangat sukses menjadi Nabi dan Rasul yang terakhir, sekaligus sebagai kepala pemerintahan dan panglima perang di kala itu. Di Akhir tausiyahnya Adi Junjunan mengajak seluruh hadirin yang hadir untuk senantiasa menyantuni anak yatim karena Rasulullah SAW. telah menjanjikan derajat yang tinggi di surga kelak bagi orang-orang yang menyantuni anak yatim. (munawir)

August 24, 2010

Pemerintah Seriusi Pembangunan Backbone Broadband


Perkembangan jaringan backbone broadband yang pesat mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah untuk dijadikan bagian infrasktruktur dasar untuk memacu perekonomian Indonesia. Perhatian tersebut diwujudkan dengan memasukkan rencana pembangunan broadband  ke dalam 0Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011. Dari total 500 trilliun anggaran pembangunan infrakstruktur untuk lima tahun ke depan, beberapa persen akan disisihkan untuk merealisasikan jaringan backbone broadband tersebut.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur & Pengembangan Wilayah, Menko Perekonomian, Luky Eko Wuryanto saat membuka Round Table Discussion Broadband Economy Indonesia, di Hotel Borobudur pada Selasa, 24 Agustus 2010. Pertemuan tersebut digelar Kantor Menko perekonomian untuk mendiskusikan berbagai aspek terkait pembangunan jaringan backbone broadband di Indonesia mulai dari regulasi, teknologi, aplikasi hingga aspek pendanaan.

Broadband merupakan sebuah istilah dalam internet yang merupakan koneksi internet transmisi data kecepatan tinggi. Teknologi broadband tersebut mampu mentransfer 512 kilobytes per second (Kbps) atau lebih, sekira 10 kali lebih cepat dari modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan data dengan kecepatan di kisaran 30-50 Kbps. Saat ini, jaringan akses broadband kabel Indonesia dimanfaatkan oleh 1,4 juta pelanggan, sementara jaringan akses broadband nirkabel dipakai kurang lebih 11 juta pelanggan. Survei McKinsey pada 2009 menyimpulkan setiap terjadi pertumbuhan penetrasi broadband sebesar 10% akan mendorong pertumbuhan GDP sebesar 0,6-0,7 persen. Selain itu, backbone broadband memberikan efisiensi bagi sektor-sektor yang termasuk sendi perekonomian, seperti listrik, kesehatan, transportasi, dan pendidikan sebesar 0,5 hingga 1,5 persen.

Menurut Luky, pembangunan infrastuktur jaringan broadband tersebut ke depan akan semakin ditingkatkan. “Broadband dan digitasi adalah solusi yang tepat bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Broadband adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat dihindari lagi”, ujar Luky.
Sementara itu, Staf Ahli Menristek bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, Engkos Koswara yang hadir dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa Kementerian Ristek sejak tahun 2008 telah melakukan serangkain uji coba Broadband Wireless Access nomadik dan mobile di kawasan Puspiptek Serpong. Engkos mengajak pula pihak-pihak terkait untuk bersama-sama memanfaatkan Kawasan Puspiptek Serpong sebagai laboratorium uji coba teknologi broadband tersebut.

Di akhir pembicaraannya, Engkos berharap pemerintah dapat memberikan akses yang luas kepada industri dalam negeri untuk membangun teknologi broadband tersebut. Engkos meyakini bahwa Industri dalam negeri tidak kalah bersaing dengan industri luar dalam teknologi broadband. Engkos memberi contoh PT. Xirka, perusahaan lokal yang bergerak dalam bidang pengembangan chipset BWA. “Dalam pengembangan teknologi broadband, kita jangan hanya berperan sebagai user, kita harus menjadi player”, tegas Engkos.

Diskusi tentang broadband tersebut dihadiri oleh sejumlah stakeholder teknologi Komunikasi dan Informasi yang berasal dari Kementerian, LPNK, Perguruan Tinggi, Operator Provider, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional, dan Masyarakat Telematika Indonesia. Tindak lanjut dari hasil pertemuan ini akan dilanjutkan dengan membentuk beberapa tim kecil yang akan lebih fokus  membahas beberapa isue yang berkembang seperti persoalan TKDN, teknologi, regulasi dan isu terkait lainnya. (munawir)

LIPI anugerahkan Sarwono Award pada Umar Anggara Jenie dan Mooryati Soedibyo

Puncak rangkaian acara peringatan Ulang Tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) sejak tahun 2001 diisi oleh dua agenda penting, yaitu Penganugerahan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo dan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture. Kedua kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas jasa-jasa Prof.Dr.Sarwono Prawirohardjo (almarhum) sebagai Bapak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sekaligus Ketua pertama LIPI.

Hal tersebut disampaikan Kepala LIPI, Lukman Hakim pada acara Penganugerahan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo IX dan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture X di Widya Graha LIPI pada Senin, 23 Agustus 2010.

Menurut Lukman Hakim, penghargaan Sarwono Prawirohardjo yang juga populer dengan nama Sarwono Award tersebut adalah wujud perhatian LIPI sebagai lembaga keilmuan terbesar dan tertua di tanah air, terhadap prestasi ilmiah dan serta dedikasi yang telah dicapai oleh pada Ilmuwan Indonesia baik pada pentas nasional maupun internasional. “Kepada Ilmuwan seperti itulah dipandang pantas untuk diberikan penghargaan ilmiah tertinggi oleh Lembaga ini yaitu Penghargaan Sarwono Prawirohardjo”, Ujar Lukman Hakim.

Pada Ulang Tahun yang ke-43 ini, LIPI menganugerahkan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo kepada Prof.Dr.Umar Anggara Jenie dan Dr. BRAy Mooryati Soedibyo. Prof. Umar Anggara Jenie adalah seorang Guru Besar Kimia Medisinal Organik di Universitas Gadjah Mada yang banyak berperan dalam mengembangkan kehidupan berilmu pengetahuan di Indonesia di bidang etika ilmiah, mendorong riset strategis, serta meningkatkan status pembinaan profesionalitas fungsional peneliti di tingkat nasional. Sedangkan Dr. BRAy Mooryati Soedibyo adalah sosok herbalis yang menduniakan Indonesia lewat jamu dan kosmetika asli buatan datu-datu nusantara. “Keduanya memberi kontribusi dan prestasi luar biasa pada bidangnya yang bermanfaat dalam pengembangan iptek, kebudayaan, kemanusiaan serta konsisten dalam forum kegiatan ilmiah dan profesi” Ujar Lukman Hakim.

Adapun Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture untuk tahun ini disajikan oleh Kuswata Kartawinata, PhD., seorang biolog terkemuka yang membawakan orasi berjudul “Dua Abad Mengungkap Kekayaan Flora dan Ekosistem di Indonesia”. Dalam oransinya, Kuswata mengungkapkan bahwa taksonomi sebagai ilmu yang mempelajari kekayaan flora dan ekosistem dapat dimanfaatkan sebagai landasan membuat prediksi. “Pola alami yang direfleksikan dalam taksonomi memungkiknan ilmuwan untuk meramalkan sifat-sifat organismen yang belum teramati”, jelas Kuswata.

Kuswata juga menuturkan bahwa tumbuhan, terutama sifat-sifat farmakognosinya, menyajikan nilai indikator bagi keanekaragaman hayati dan ekosistem. Namun, ketidakmampuan kita meramal tumbuhan mana yang dapat menyediakan senyawa kimia yang bermanfaat memaksa kita untuk melestarikan keanekaragaman hayati secara maksimum, “Oleh karena itu, strategi konservasi jangan terfokus kepada produk sekarang, tetapi hendaknya menerapkan perspektif luas yang melingkup semua spesies yang mungkin memiliki nilai pemanfaatan besar”, ujar Kuswata.

Karena perusakan habitat dan eksploitasi spesies yang berlebihan, Kuswata menandaskan bahwa Indonesia memiliki daftar spesies terancam punah terpanjang di Indonesia. Untuk itu, Kuswata menegaskan bahwa eskplorasi ekosistem hutan di masa depan sebaiknya dapat mengintegrasikan taksonomim etnobotani, ekologi dan farmakognosi. ”Pendekatan terpadu itu saya namakan pendekatan ekotaksofarmakognosi yang berdasarkan penelaahan dalam petak cuplikan vegetasi” tegas Kuswata di akhir orasinya. (munawir)

August 20, 2010

Menristek dan Memperin buka R&D Ritech Expo 2010

Usaha bangsa  Indonesia dalam percepatan pembangunan dan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dapat dilepaskan dari peran dan keterlibatan teknologi. Oleh karena itu Indonesia tidak cukup mengandalkan pertumbuhan ekonomi yang ditunjang keunggulan komparatif saja, namun perlu ditunjang pula oleh keunggulan kompetitif. Sebagai konsekuensinya, dominasi produk hasil industri yang selama ini berbasiskan sumber daya alam harus mulai dialihkan ke produk yang berbasiskan hasil inovasi.

Hal tersebut disampaikan Menristek, Suharna Surapranata dalam sambutannya pada Pembukaan R&D Ritech Expo 2010 yang diadakan di Jakarta Convention Center, pada Jumat 20 Agustus 2010. Turut hadir pada acara tersebut, Menteri Perindustrian, M.S. Hidayat, serta Kepala LPNK, perwakilan DPR dan duta besar negara sahabat.

Pada kesempatan tersebut, Menristek kembali menegaskan pentingnya sinergi antara lembaga riset dengan sektor industri. Berdasarkan pemetaan riset sesuai dengan Agenda Riset Nasional, sejauh ini banyak hasil riset hanya sampai pada tahap riset dasar dan riset terapan saja. Sedangkan  untuk peningkatan kapasitas produksi dan percepatan difusi belum optimal karena lemahnya kolaborasi antara lembaga riset dan industri. Intermediasi antara keduanya perlu dibangun sehingga lembaga riset dapat menghasilkan produk yang diperlukan industri dan di sisi lain industri senantiasa mengkomunikasikan produk hasil riset yang mereka butuhkan. Bila kolaborasi keduanya ditunjang dengan komitmen pemerintah, maka tidak mustahil pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan dicapai. “Sinergi antar lembaga litbang, industri dan pemerintah atau yang biasa disebut dengan triple helix, bisa meningkatkan kemampuan kita untuk berkompetisi sehingga kita bisa menembus pasar dunia”, ujar Menristek.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan R&D Ritech Expo diselenggarakan untuk menjawab rendahnya penerapan teknologi yang dihasilkan oleh lembaga litbang nasional pada dunia industri. Menperin berharap kegaitan ini dapat menjadi pendorong bagi masyarakat luas untuk lebih meningkatkan kemampuan produksi industri mereka dan makin memanfaatkan serta menerapkan hasil litbang yang telah dihasilkan oleh lembaga litbang. “Semoga RD Ritech expo mampu membuka lebih luas wawasan kita tentang kemampuan teknologi dalam negeri sehingga mampu memberikan sumbangan yang lebih nyata dalam pembangunan ekonomi nasional”, ujar Menperin.

Pameran R&D Ritech Expo 2010

R&D – RITECH Expo 2010 diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi selama 3 hari mulai 20 Agustus 2010 hingga 22 Agustus 2010. Pameran yang bertemakan “Inovasi Teknologi Menuju Peningkatan Daya Saing Industri Berbasis Nanoteknologi” diikuti lebih dari 100 stand yang berasal dari lembaga litbang pemerintah, lembaga litbang industri, dan perguruan tinggi. Peserta pameran dibagi atas zona bidang fokus yaitu Zona Hankam 15 stand, teknologi informasi dan komunikasi 18 stand, material maju 17 stand, Kesehatan 12 stand, Energy 17 stand, Transportasi 11 stand dan Pangan 12 stand.

Selain pameran tematik nantoteknologi dan fokus litbang nasional, R&D Ritech Expo juga diisi dengan talkshow, karyawisata pelajar dan seminar yang merupakan tindak lanjut kerjasama Indonesia-Mesir di bidang pengembangan dan penerapan nanoteknologi. (munawir)

August 19, 2010

FGD Strategi Peningkatan Adopsi Teknologi Pangan

Teknologi belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan ketahanan pangan di Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan dari menurunnya Total Factor Productivity (TFP) Indonesia untuk tanaman pangan pada periode tahun 1981-2001 dibandingkan dengan periode dua puluh tahun sebelumnya. Untuk dapat meningkatkan kontribusi teknologi ketahanan pangan, maka teknologi tersebut harus diadopsi dalam proses produksi pangan. Teknologi yang diadopsi tersebut harus pula selaras dengan kebutuhan dan persoalan nyata serta sepadan dengan kapasitas teknis, ekonomis dan sosio kultural para calon penggunanya.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Dewan Riset Nasional (DRN), Andrianto Handojo saat membuka Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi Peningkatan Adopsi Teknologi Pangan” di Ruang Komisi I dan II, Gedung BPPT pada Kamis, 19 Agustus 2010. Kegiatan tersebut bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah strategis untuk adopsi teknologi pangan dalam negeri ditinjau dari sisi pengguna teknologi, penyedia teknologi maupun dari aspek intgrasi antara penyedia dan pengguna teknologi sehingga dapat mendorong peningkatan kontribusi teknologi terhadap ketahanan pangan nasional pada khususnya dan pembangunan perekonomian pada umumnya.

Andrianto menambahkan, hasil-hasil litbang pertanian dan pangan yang banyak ternyata tidak serta-merta meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan serta kesejahteraan petani. Diakui, proses pemanfaatan hasil riset memerlukan tahap-tahap pengenalan dan adopsi yang tidak sederhana. “Begitu banyak varietas padi yang dihasilkan oleh lembaga litbang, namun hanya beberapa saja yang sukses diadopsi dan dimanfaatkan oleh petani. Melihat kenyataaan seperti ini, tentu perlu dilakukan penelaahan secara lebih mendalam tentang faktor-faktor dan kondisi-kondisi yang menghalangi pemanfaatan hasil-hasil litbang pertanian dan pangan oleh pengguna,” Ujar Andrianto

Sementara itu Roedhy Poerwanto, Wakil Ketua Komtek Ketahanan Pangan DRN, dalam laporannya mengungkapkan bahwa hasil penelitian di bidang pertanian dan ketahanan pangan jumlahnya sangat besar. Untuk Program Insentif Riset yang dikelola Kementerian Riset dan Teknologi, jumlah proposal penelitian dalam bidang ketahanan merupakan yang terbesar dibandingkan bidang fokus yang lainnya. Begitu pula dengan dana insentif riset yang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pertanian menunjukkan kondisi yang sama. Hasil riset yang banyak tersebut meliputi varietas baru dan unggul, teknik budidaya, hingga pengelolaan pasca panen. Namun di sisi lain, sejak beberapa dekade yang lalu tidak tampak perubahan yang signifikan dalam cara petani bercocok tanam. Hal ini disebabkan adanya gap antara hasil penelitian yang telah menjadi teknologi atau varietas dengan apa yang digunakan dan dimanfaatkan secara langsung oleh petani. “Di forum ini, kita bersama-sama akan mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan rendahnya adopsi teknologi di bidang ketahanan pangan untuk kita cari solusinya bersama-sama pula. Agar ke depan, riset-riset yang ada memang betul-betul dibutuhkan oleh para petani kita yang bisa memacu produksi pangan, dan mensejahterahkan masyarakat.” Ujar Roedhy.

Acara tersebut menampilkan pembicara, Rachmat Pambudi, Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia; Maulana W. Jumantara, GM Manufacturing Food PT. Unilever Indonesia; dan Anang Lastriyanto, Pengajar pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Acara dipandu oleh I Wayan Budiastra, Asisten  Deputi Kompetensi Kelembagaan, Kementerian Ristek.

Turut hadir dalam acara tersebut, Ketua Badan Standardisasi Nasional yang juga anggota Komtek Pertanian DRN, Bambang Setiadi; Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas, Teguh Rahardjo; Deputi Bidang Jaringan Iptek, Syamsa Ardisasmita; Deputi Bidang Pendayagunaan Iptek, Idwan Suhardi; Staf Ahli Menristek bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian, Masrizal dan Staf Ahli Menteri Bidang Kesehatan dan Obat, Amin Subandrio. (munawir)

August 17, 2010

Bangkitnya Industri Pertahanan Dalam Negeri

Krisis multi-dimensi pada tahun 1998 membawa dampak buruk kepada berbagai sektor termasuk industri pertahanan. Namun seiring berjalannya waktu, industri pertahanan sedikit demi sedikit kembali tumbuh berkembang seiring komitmen pemerintah untuk memprioritaskan pengembangan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsita) buatan dalam negeri . Pembangunan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) yang merupakan kapal perang terbesar dan pertama dibuat di Indonesia adalah bukti nyata kebangkitan Industri Pertahanan dalam negeri tersebut.

Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pada Launching Rencana Pembangunan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan,  pada Senin 16 Agustus 2010. Acara tersebut dihadiri Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata yang didampingi Oleh Deputi Menristek bdiang Relevansi dan Produktivitas, Teguh Rahardjo dan Staf Ahli Menteri bidang Teknologi Pertahanan Keamanan, Hari Purwanto. Turut hadir pula Panglima TNI, Djoko Suyanto; perwakilan Komisi I DPR dan  anggota Komite Kebijakan Industri  Pertahanan.

Menhan menambahkan, Kapal Perang Jenis PKR yang akan dibuat di Indonesia oleh PT. PAL dirancang dapat digunakan dalam beberapa misi operasi antara lain peperangan elektronika, peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan anti kapal permukaan dan bantuan tembakan kapal. Di samping itu kapal perang PKR tersebut dilengkapi dengan Rudal SAM, SSM dan Rudal Anti Kapal Selam. “Bahkan Kapal PKR ini dapat digunakan untuk Peace Keeping Operation ke luar negeri. Sebelumya kita pernah mengirim Kapal Perang sekelas Sigma yang dimensinya lebih kecil dari Kapal Perang PKR ke Libanon dan kapal tersebut sudah diakui sesuai dengan standard kapal perang NATO.

Selain untuk tugas tempur, Kapal PKR ini juga akan bertugas untuk menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Luasnya wilayah laut Indonesia membutuhkan tidak sedikit kapal perang yang canggih untuk menjaga kedaulatan. “Kapal PKR ini bila bertugas di Laut Cina Selatan atau di wilayah timur laut Indonesia, akan cukup untuk menjaga kedaulatan kita. Walaupun kita sudah memiliki banyak kapal perang yang besar, namun kapal PKR ini akan menjadi kapal yang paling modern dan canggih, sehingga akan menimbulkan efek gentar kepada siapapun yang  mencoba mengganggu kedaulatan kita”, Ujar Menhan.

Pembangunan Kapal PKR adalah wujud persembahan anak bangsa dalam memperingati 65 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. “Pembangunan Kapal Perang PKR adalah satu langkah perjalanan besar bagi industri pertahanan Indonesia”, Ujar Menhan mengkahiri sambutannya.

Spesifikasi Kapal Perang PKR

Spesifikasi dari kapal perang PKR tersebut antara lain memiliki panjang keseluruhan + 105 meter, luas + 14 meter, kedalaman + 8, 8 meter, kecepatan (max/cruiser/ekon) + 30/18/14 kn dengan kekuatan utama + 4x9.240 hp.

Kapal tersebut dilengkapi pula dengan perlengkapan radar untuk mendeteksi kapan selam dan pesawat udara, perlengkapan persenjataan di antaranya meriam kaliber 76 sampai 100 mm dan kaliber 20 sampai 30 mm, peluncur rudal ke udara dan senjata torpedo serta perlengkapan pendukung lainnya. Kapal ini juga dilengkapi dengan fasilitas helipad di deck kapal.

Berdasarkan perhitungan PT. PAL yang berbasis di Surabaya, dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk membuat kapal perang PKR yang pertama. Pembangunan kapal perang PKR ini akan menggunakan anggaran sebesar 170 juta euro dan menyerap sekitar 1500 tenaga kerja lokal. (munawir)

August 12, 2010

Pelantikan Staf Ahli Menristek

Kementerian Riset dan Teknologi telah melakukan restrukturisasi organisasi pada tahun 2010 sebagai bentuk implementasi dari Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dan Peraturan Presiden dan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara. Struktur organisasi yang baru tersebut juga diselaraskan dengan kebijakan Kementerian Riset dan Teknologi untuk menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penunjang peningkatan produktivitas guna terwujudnya Sistem Inovasi Nasional (SINas).

Pelantikan Pejabat Eselon I hingga IV sesuai dengan struktur baru tersebut sebelumnya telah dilaksanakan pada tanggal 14 dan 21 Juni 2010. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 102/M Tahun 2010, Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, kembali melantik 3 orang Staf Ahli Menteri pada Kamis, 12 Agustus 2010 di Ruang Komisi Utama, Gedung BPPT.

Pejabat yang dilantik adalah  Hari Purwanto sebagai Staf Ahli Menristek bidang Pertahanan dan Keamanan; Agus Roesyana Hoetman sebagai Staf Ahli Menristek bidang Energi dan Material Maju;  dan Masrizal sebagai Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian. Hadir sebagai saksi pada pelantikan tersebut, Sekretaris Menristek, Mulyanto dan Deputi Bidang Jaringan Iptek, Syamsa Ardisasmita.

Pada kesempatan yang sama, Menristek melantik pula tiga orang pejabat Eselon III, yaitu Choiruddin sebagai Kepala Bidang Perguruan Tinggi dan Lemlitbang, Asdep Sarana dan Prasarana Iptek; Ophirtus Sumule sebagai Kepala Bidang Perkembangan, Asdep Jaringan Pusat dan Daerah; serta Agus Setiadi Tamtanus sebagai Kepala Bidang Transfer, Asdep Iptek Indutri Strategis.
Turut hadir pada pelantikan tersebut, para Kepala LPNK Ristek dan pejabat Eselon I, dan II Kementerian Riset dan Teknologi beserta jajarannya. (munawir)

August 10, 2010

Launching Buku “Kreatifitas dan Teknologi, Indonesia Bisa”

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-15, Kementerian Riset dan Teknologi  (KNRT) menerbitkan Buku “Kreatifitas dan Teknologi, Indonesia Bisa”. Buku tersebut merupakan realisasi dari keinginan KNRT untuk memasyarakatkan hasil-hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa (litbangyasa) ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang telah dicapai hingga saat ini dalam format buku agar dapat dipahami dengan mudah oleh rakyat Indonesia.

Selain itu, buku tersebut diterbitkan KNRT dengan harapan dapat  menjadi pendorong bagi seluruh anak bangsa untuk lebih kreatif dan inovatif sesuai dengan semangat Sistem Inovasi Nasional  (SINas) sebagai pondasi terwujudnya Bangsa Indonesia yang mandiri dan sejahtera.

Buku ini merupakan penggambaran secara ringkas mengenai berbagai hasil litbangyasa dari berbagai Lembaga Pemerintahan Non-Kementerian (LPNK) di bawah koordinasi KNRT. Menristek, Suharna Surapranata dalam sambutannya di buku tersebut berharap buku “Kreatifitas dan Teknologi, Indonesia Bisa” bisa memberikan gambaran atas capaian Indonesia di bidang Iptek sekaligus memetakan bidang-bidang yang perlu terus dikembangkan lebih lanjut serta berbagai kemampuan teknologi yang siap didayagunakan untuk memberikan kemanfaatan yang riil di masyarakat. (munawir)

August 4, 2010

Tarhib Ramadhan 1431 H

Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan tahun 1431 Hijriah,  Kementerian Riset dan Teknologi menyelenggarakan Tarhib Ramadhan pada hari Selasa, 3 Agustus 2010 di Auditorium Gedung II BPPT. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh pejabat dan staf di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata berpesan kepada para hadirin untuk menyambut bulan Suci Ramadhan dengan mempersiapkan diri pada tiga aspek, yaitu aspek ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah. “Secara ruhiyah, kita perlu banyak berzikir dan membaca kitb suci Al-Quran. Secara Fikriyah, kita menyiapkan amalan-amalan yang akan kita lakukan di Bulan Ramadhan. Dan secara jasadiyah, kita mempersiapkan kondisi fisik kita dengan menjaga kesehatan” ujar Suharna.

Suharna menambahkan, Bulan Suci Ramadhan adalah momen yang tepat untuk merenungi kembali tugas pokok dan fungsi kita sebagai manusia. Tujuan dari ibadah puasa adalah meningkatkan ketakwaan sehingga tercipta moral dan akhlak yang baik. “Profesionalisme dan kompetensi tidak ada gunanya apabila kita tidak memiliki moralitas. Sinergi antara profesionalisme dan moralitas adalah karakter ideal yang diperlukan dalam membangun bangsa Indonesia” jelas Suharna.

Tampil sebagai penceramah pada acara ini, Ustaz Adi Junjunan Mustafa, peneliti dari Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional yang aktif berdakwah melalui Lembaga Dakwah Khairu Ummah Bogor.  Ustaz Adi mengangkat topik “Memaknai Ketakwaan sebagai Tujuan Shaum Ramadhan”. (munawir)

August 2, 2010

Evaluasi Perjanjian dan Nota Kesepahaman untuk Optimalkan Kerjasama Bilateral

Terdapat banyak naskah perjanjian dan nota kesepahaman (MoU) kerjasama yang telah ditandatangani oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Negara-negara mitra. Sebagian besar telah berjalan dengan baik, namun masih terdapat pula beberapa perjanjian dan MoU yang belum terimplementasi. Evaluasi terhadap perjanjian dan MoU kerjasama yang belum berjalan tersebut perlu dilakukan agar permasalahan yang menghambat impelementasi kerjasama tersebut dapat diidentifikasi dan diselesaikan bersama-sama.

“Selama ini kita terlalu fokus pada persiapan pertemuan Sidang Komisi Bersama, sehingga evaluasi terhadap perjanjian kerjasama yang telah ditandatangani tidak optimal. Kondisi ini harus kita perbaiki” Ujar Abdul Munim Ritonga, Plt. Direktur Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri saat membuka pertemuan antar-kementerian yang diselenggarakan di Hotel Golden Flower Bandung pada tanggal 30-31 Juli 2010. Pertemuan tersebut membahas evaluasi Perjanjian Kerjasama Bilateral sekaligus mempersiapkan Sidang Komisi Bersama (SKB) antara pemerintah Indonesia dengan Tunisia, Aljazair dan Maroko. Hadir pada pertemuan tersebut, perwakilan dari Kementerian dan Lembaga yang terkait dengan kerjasama bilateral dengan ketiga negara tersebut.

Kabid Fasilitas Jaringan Riptek Internasional Kementerian Ristek, Selli Salbiah, yang hadir pada pertemuan tersebut mengemukakan bahwa Nota Kesepahaman antara Indonesia dengan Tunisia untuk Kerjasama di bidang Riset dan Iptek telah ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri masing-masing negara di Tunis pada tanggal 9 Juni 2008. Saat ini pemerintah Indonesia masih menunggu respon dari Pemerintah Tunisia tentang pembentukan Joint Working Committee dan penentuan bidang-bidang yang akan dikerjasamakan. Selli berharap Pemerintah Tunisia dapat memberikan respon pada SKB dengan Tunisia yang akan diadakan tahun ini.

Adapun kerjasama riset dan iptek dengan Aljazair, lanjut Selli, saat ini pemerintah Indonesia sedang menunggu usulan draft Nota Kesepahaman yang akan diajukan terlebih dahulu oleh Pemerintah Aljazair. Hal tersebut disepakati pada pertemuan antara Menegristek dengan Duta Besar Aljazair untuk Indonesia pada tanggal 19 Februari 2010. Sebagai negara berkembang, potensi Aljazair sebagai mitra kerjasama di bidang iptek cukup menjanjikan. Sebagai contoh, Pemerintah Aljazair mengalokasikan anggaran sebesar 130 Juta Dollar AS untuk membangun sebuah kawasan technopole seluas 1.870 hektar dan terdiri atas satu industrial park dan tiga technology park yang dapat menampung perusahaan-perusahaan yang mengkhususkan diri pada teknologi maju. Dari komposisi teknopark dan lembaga riset di Aljazair, beberapa kesamaan bidang fokus yang dapat dijajaki untuk kerjasama bilateral ke depan yaitu di bidang Pertanian dan Pangan, Energi Terbarukan, Kesehatan dan Obat-Obatan (Bioteknologi), Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Material Maju. (munawir)