May 24, 2012

Penguatan Pembangunan Iptek Nasional melalui Sinergi Ristek-LPNK

Dalam upaya mengoptimalkan sumberdaya riset, memperkecil resiko kegagalan dan mempermudah proses mengalirnya hadil-hail riset ke industri, kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Riset dan Teknologi adalah dengan melakukan sinergi lintas lembaga dalam format konsorsium. Pada tahun anggaran 2011 dan 2012 telah dilaksanakan sinergi antara Kementerian Ristek, LPNK, Perguruan Tinggi dan BUMN dalam bentuk Konsorsium Riset/Pendayagunaan dengan prakarsa dan penggerak dari Kementerian Ristek.

Hal tersebut diutarakan Menteri Riset dan Teknologi dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar pada pembukaan acara Rapat Koordinasi (Rakor) Perencanaan Ristek-LPNK dengan tema "Membangun Sinergi Riset Tahun Anggaran 2013". Rakor tersebut diselenggarakan di Auditorium BPPT pada tanggal 23 Mei 2012 dan dihadiri oleh para ketua LPNK Ristek beserta jajaran pejabat Eselon 1 dan 2 dari Kementerian Ristek dan LPNK. Lebih lanjut Menegristek dalam sambutannya berpesan agar sinergi program dan Kegiatan Ristek-LPNK dapat terus dilaksakanan serta dapat diarahkan untuk mewujudkan Visi dan Misi Kementerian Ristek dan LPNK Ristek, khususnya berkontribusi nyata dalam pelaksanaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Salah satu upaya untuk mewujudkan sinergi tersebut adalah dengan penyelenggaraan rakor ini.

Sementara itu Sekretaris Kementerian Ristek, Mulyanto, dalam laporannya di hadapan peserta Rakor mengungkapkan masih terdapat beberapa program dan kegiatan Ristek dan LPNK yang memiliki lokus dan fokus yang sama, namun dikerjakan masing-masing terpisah. Melalui Program Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pemerintah menetapkan 6 koridor ekonomi, lokus dan fokus komoditasnya, sehingga terjadi proses sektorisasi di antara Ristek dan LPNK. Mulyanto Menambahkan, dalam forum sesmen-sestama Ristek LPNK dalam tiga bulan terakhir ini sudah ada titik temu pembagian peran Ristek LPNK. Misalnya untuk komoditas kakao yang dikembangkan BPPT di Koridor Sulawesi, LPNK lainnya mendukung sesuai dengan tupoksi dan kompetensi masing-masing. Pada akhirnya Kementerian Ristek sendiri akan berperan untuk mengarahkan program insentifnya untuk mendukung sinergi program bersama ini. "Mudah-mudahan dengan rakor ini, berbagai program di Kementerian Riset dan Teknologi dan LPNK semakin baik dan terlihat sinerginya, karena Ristek dan LPNK adalah satu kesatuan yang mempunyai tugas bersama untuk membangun iptek nasional", ujar Mulyanto menutup laporannya.

Rakor ini sendiri dibagi atas 4 Sidang Komisi, yaitu Komisi 1 yang membahas Komoditas, terkait dengan komoditas karet, kakao dan sagu. Komisi 2 membahas tentang Teknologi Transportasi, Komisi 3 membahas tentang Energi dan Komisi 4 membahas tentang SDM Iptek. Rakor diakhiri dengan pemaparan rumusan dari masing-masing sidang komisi untuk kemudian ditindaklanjuti oleh Ristek dan LPNK pada tahun anggaran 2013. (munawir).

May 12, 2012

Kadar Arsen dan Mercuri Teluk Buyat Aman

Kadar arsen dan mercuri dalam air laut di lokasi penempatan tailing di dasar laut teluk Buyat dinyatakan aman terhadap biota laut atau kesehatan manusia. Demikian disampaikan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti M Hatta saat membacakan sambutannya dalam presentasi publik hasil pemantauan lingkungan Teluk Buyat di Manado, Sabtu 12 mei 2012.

Menegristek selaku Koordinator pemantauan lingkungan Teluk Buyat menyatakan dari hasil pantauan tim Panel Ilmiah Independen (PII) kadar arsen dan merkuri tidak berbeda dengan konsentrasi pada lokasi rujukan dan berada dibawah baku mutu air laut Indonesia, yakni sesuai dengan Kepmen Lingkungan Hidup 51-2004.

"Secara singkat kualitas air laut di sepuluh titik sampel pada 2011 berada di bawah baku mutu dan tidak berdampak pada kesehatan. Kualitas air laut masih bagus jangan ragu makan ikannya," kata Gusti M Hatta saat memberikan sambutan.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup ini juga menyatakan tim PII juga menemukan bahwa kualitas air laut Teluk Buyat sekitar tempat pembuangan tailing masih memenuhi baku mutu air laut untuk biota laut yang ditetapkan pemerintah Indonesia dan juga kriteria internasional untuk biota laut dan kesehatan manusia.

Dalam kesempatan ini tim PII yang beranggotakan enam orang pakar memaparkan hasil analisis dan interpretasi data hasil pantauan tahun 2011. Tim PII yang berada dibawah koordinasi Menteri Negara Riset dan Teknologi ini setiap tahunnya mengembangkan metodologi pemantauan lingkungan, termasuk Jaminan Mutu/ Kendali Mutu yang memenuhi standar nasional dan internasional.

Keenam pakar yang terdiri dari Prof.Dr.Magdalena Irene Umboh (Universitas Negeri Manado), Prof.Dr.Ineke FM Rumengan (Universitas Sam Ratulangi), Prof.dr.Amin Subandrio Phd (UI), Thomas Sheperd,Phd (Sheperd Consulting AS) dan Keith William Bentley,PhD (Centre For Environmental Health, Australia) mempresentasikan hasil analisi mereka kepada publik.

Prof.Dr.Magdalena Irene Umboh dari Universitas Negeri Manado memaparkan stratifikasi kolom air laut yang menampilkan profil konduktifitas kolom air, suhu dan kedalaman, menunjukkan keadaan variabilitas alami relatif stabil, tidak berbeda dengan hasil yang dilaporkan pada tahun sebelumnya.

Secara umum, berdasarkan hasil pantauan lingkungan samapai tahun 2011 di wilayah Teluk Buyat, parameter kualitas lingkumngan memenuhi standar yang berlaku dan tidak memiliki dampak terhadap kesehatan manusia. Kualitas terumbu karang dan makrobenthos (biota yang hidupnya melekat pada, menancap, merayap, atau membuat liang didasar laut) meningkat dari tahun ke tahun.

Hadir dalam presentasi publik pemantauan Teluk Buyat antara lain Gubernur Provinsi Sulawesi Utara Sinyo H Sarundajang, Sesmenkokesra Indroyono Susilo, pejabat Kementerian Lingkungan Hidup, pejabat Kementerian Ristek, pengurus Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara, pejabat Pemprov dan undangan lainnya serta pakar yang tergabung dalam Panel Ilmiah Independen (PII). (munawir)

Menristek Resmikan Empat Laboratoritum di Universitas Hasanuddin

Dalam kunjungannya ke Makassar untuk menghadiri Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor IV Sulawesi pada hari Jumat, 11 Mei 2012, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta menyempatkan diri berkunjung ke Universitas Hasanuddin (UNHAS) untuk meninjau dan meresmikan empat fasilitas laboratorium baru di UNHAS. Laboratorium yang pertama diresmikan oleh Menristek pada kesempatan tersebut adalah Laboratorium Bayi Tabung “Hasanuddin Fertility Center” di Rumah Sakit Pendidikan UNHAS yang ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menristek.

Fasilitas Bayi Tabung tersebut merupakan yang pertama di Kawasan Timur Indonesia, menyusul enam belas fasilitas lainnya yang sudah beroperasi di daerah Jawa, Bali dan Sumatera.  Menurut Rektor UNHAS, Idrus Paturusi, yang mendampingi Menristek, fasilitas ini tidak hanya menarik minat masyarakat di kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan saja, namun banyak pasien dari luar daerah seperti Kalimantan yang datang berkunjung ke laboratorium bayi tabung ini. Menristek sendiri memberikan apresiasi atas kemajuan UNHAS dalam membangun infrastruktur yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Kemajuan UNHAS sangat luar biasa dan menjadi contoh yang baik bagi perguruan tinggi yang lain”, ujar Menristek.

Menristek pada kunjungannya tersebut juga meresmikan Laboratorium Bio Molekuler di RS Pendidikan UNHAS, Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Sains di Fakultas MIPA UNHAS dan Laboratorium Bioteknologi Terpadu di Fakultas Peternakan UNHAS. Menristek menutup kunjungan ke UNHAS dengan memberikan kuliah umum di depan civitas akademika UNHAS dan menanam pohon eboni di halaman Gedung Program Pascasarjana UNHAS. Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Kepala BPPT,  Marzan Aziz Iskandar;  Kepala BATAN, Hudi Hastowo; Staf Ahli Menteri Bidang Pangan dan Pertanian, Masrizal; Staf Ahli Menteri Bidang Energi dan Material Maju, Agus Rusyana Hoetman; dan Staf Ahli Menristek Bidang Pertahanan dan Keamanan, Hari Purwanto. (munawir)

May 11, 2012

Menristek beri pengarahan peserta Rakor SDM Iptek Koridor Sulawesi

Di dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI) diperjelas bahwa Penguatan Kemampuan SDM dan IPTEK Nasional merupakan salah satu pilar dan strategi utama dari MP3EI. Hal ini telah memberikan posisi penting terhadap peran SDM dan Iptek dalam upaya mencapai Visi Indonesia 2025 yaitu “Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur”. Di samping itu, penguasaan iptek juga menjadi modal dasar untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat dalam pengembangan ekonomi sehingga dapat bersaing secara global. Penjabaran MP3EI lebih jauh tentang peran SDM dan Iptek bagi upaya menuju keunggulan kompetitif sangat diperlukan sebagai upaya perekonomian Indonesia yang berbasiskan inovasi (innovation-driven economy).

Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan tiga elemen utama yaitu mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 Koridor Ekonomi; memperkuat konektivitas nasional; serta memperkuat kemampuan SDM dan Iptek nasional, dengan fokus utamanya peningkatan nilai tambah, mengintegrasikan pendekatan sektoral dan Regional; memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya dan mendorong Inovasi.

Hal tersebut disampaikan Menristek, Gusti Muhammad Hatta saat memberikan pengarahan di depan peserta Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor IV Sulawesi di Makassar, Jumat 11 Mei 2012. Rakor ini diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Balitbangda Provinsi Sulawesi Selatan yang bertujuan untuk mengkonsolidasikan aktor inovasi dari unsur akademisi/peneliti, dunia usaha/industri, masyarakat, legislator dan pemerintah dalam kerangka penguatan SDM dan Iptek di koridor ini.

Menristek menegaskan penyelenggaraan Rakor ini adalah momen yang tepat untuk mendiskusikan, mengkoordinasikan, dan mensinergikan kegiatan pengembangan inovasi antara pusat dan daerah serta antar daerah baik di dalam propinsi maupun antar propinsi dalam koridor Sulawesi. Menristek juga berharap Rakor ini dapat digunakan untuk memetakan potensi SDM dan Iptek di Koridor Sulawesi dan merencanakan rencana kerja kedepan hingga 2014 beserta langkah-langkah strategi pencapaian dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan pusat-pusat unggulan yang berbasis pada kemampuan sumber daya lokal. “Harapan saya, Rakor ini mampu merumuskan masterplan penguatan SDM dan Iptek yang terkait dengan pengembangan komoditas unggulan di Koridor Ekonomi Sulawesi”, Ujar Menristek

Potensi ekonomi melalui komoditas unggulan yang terdapat di Koridor Ekonomi Sulawesi menunjukkan perubahan positif yang perlu didukung lebih lanjut oleh berbagai pihak, khususnya pemerintah. Produk hasil pertanian koridor ini merupakan salah satu penunjang untuk ketahanan pangan nasional. Di samping itu, perkebunan, khususnya kakao sebagai unggulannya telah menunjukkan pertumbuhan luas lahan di atas 5% pertahunnya. Pertambahan ini memerlukan penanganan yang serius untuk meningkatkan produktivitasnya. Selanjutnya output hasil perikanan koridor ini yang sebesar 25% dari total output perikanan nasional menunjukkan posisi strategis koridor terhadap sektor perikanan nasional. Sektor pertambangan, khususnya nikel dan juga migas di Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Potensi tersebut, menurut Menristek, harus diberi sentuhan inovasi dan teknologi untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan daya saing.

Dalam kunjungannya ke Makassar, selain memberi pengarahan di depan peserta Rakor, Menristek juga menyaksikan penandatanganan MoU tentang Pusat Riset Kakao dan Pusat Riset Rumput Laut, antara Gubernur Sulawesi Selatan, Rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS), Balitbang Kementerian Pertanian, dan Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan. Menristek juga akan berkunjung ke UNHAS untuk memberikan kuliah umum dan meresmikan beberapa laboratorium di Rumah Sakit Pendidikan UNHAS, Fakultas Peternakan dan Fakultas MIPA. (munawir)

May 3, 2012

Program dan Kegiatan Kementerian Ristek tahun 2013 Mulai Disusun

Pembangunan iptek diakui belum menampilkan kinerja yang maksimal dalam proses pembangunan nasional secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan iptek harus berintegrasi dengan pembangunan nasional agar bernilai tambah dan berkesinambungan.  Kementerian Riset dan Teknologi harus berpartisipasi secara aktif dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), dengan membentuk Center of Excellence di masing-masing setiap koridor ekonomi melalui peningkatan SDM dan Iptek.

Hal tersebut disampaikan Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta, saat memberikan arahan di depan peserta Workshop Perencanaan Kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2013 di Jakarta, pada hari Kamis, 3 Mei 2012. Pada kesempatan tersebut Mennegristek menekankan agar Rencana strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU) harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga relevan dan terukur.  Berbagai program dan kegiatan yang dirancang dalam mencapai sasaran IKU juga harus lugas dan efektif.  Mennegristek meminta pada peserta dalam menyusun Program dan Kegiatan 2013 agar mengacu kepada evaluasi program dan kegiatan tahun 2011 dan catur wulan pertama tahun 2013. “Workshop ini sangat strategis buat kita dengan harapan Program dan Kegiatan Tahun 2013 dapat dirancang dengan lebih baik sejak dini. Program dan Kegiatan yang sudah sukses pelaksanaannya tetap dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Sedangkan yang belum maksimal agar diperbaiki”, Ujar Mennegristek.

Sekretaris Kementerian Riset dan Teknologi, Mulyanto dalam laporannya menyampaikan bahwa pelaksanaan workshop ini bertujuan untuk membuka ruang kepada unit teknis dalam menyampaikan gagasan terkait kegiatan dan program yang lebih luas dan lebih dini. Menurut Sesmenristek, ada dua titik kritis di dalam perencanaan yang harus diselesaikan yaitu Tahapan perencanaan dalam mendesain target dan hasil, yang diturunkan dari tujuan dan sasaran strategis yang terdapat di dalam restra dan dievaluasi secara berkala.  Titik kritis yang kedua adalah Tahapan perencanaan kegiatan, dimana kegiatan harus dirancang agar sesuai dengan IKU. “Apabila kedua titik kritis tersebut tidak dapat diselesaikan, maka kinerja dan prestasi kementerian Ristek akan sulit untuk diukur”, ujar Mulyanto.

Workshop ini diselenggarakan selama dua hari (3-4 Mei 2012) dan diikuti oleh Seluruh Pejabat Eselon I, II, dan III di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. Pada workshop ini dibahas berbagai materi, diantaranya Manajemen Kinerja dan Perumusan IKU, Manajemen Perencanaan Berbasis Kinerja, dan Penganggaran Berbasis Kinerja yang akan disampaikan narasumber dari Kementerian PAN dan RB, Kementerian PPN dan Kementerian Keuangan. Workshop juga dibagi ke dalam beberapa komisi teknis, yaitu Komisi Kebijakan, Komisi Insentif, Komisi Koordinasi, Komisi Tematik dan Komisi Program Nasional. (munawir)