July 16, 2012

Menjawab Tantangan Pasar Domestik dengan Teknologi

Dalam masterplan Percepatan Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), terdapat 22 kegiatan ekonomi utama yang tersebar di seluruh nusantara dan merupakan potensi perekonomian nasional. Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi akan memberikan dukungan terhadap upaya pengelolaan 22 kegiatan ekonomi utama tersebut yang masih dominan berorientasi pada potensi sumber daya alam Indonesia. Diharapkan upaya ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dan komponen impor.  Hal tersebut untuk menjawab salah satu tantangan teknologi yang harus berorientasi domestik.

Hal tersebut dikemukakan Deputi Menristek Bidang Kelembagaan Iptek, Benyamin Lakitan yang mewakili Menristek saat menyampaikan keynote speech pada Dialog Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Riset Nasional (DRN) dengan tema “Mainstreaming Iptek dalam Pembangunan Nasional” pada Senin, 16 Juli 2012 di auditorium BPPT. Lebih lanjut Benyamin Lakitan menyampaikan bahwa teknologi yang berorientasi domestik bukan hanya memaksimalkan upaya memanfaatkan sumber daya domestik, namun disisi lain juga adalah upaya pemenuhan atau permintaan pasar domestik dengan menggunakan pendekatatan demand-driven. “Ukuran pasar dan daya serap Indonesia sangat besar dan cenderung meningkat. Namun kapasitas pasar domestik tersebut saat ini belum menjadi sasaran utama bagi pengembangan teknologi yang harusnya sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan menguasai pasar domestik”, ujar Benyamin.

Dialog nasional ini diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi tentang penguatan jaringan antara penyedia dengan pengguna teknologi, khususnya dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selama ini hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa (litbangyasa) belum banyak dimanfaatkan oleh BUMN, padahal perusahaan BUMN dapat dijadikan sebagai “captive market” bagi produk-produk teknologi yang dihasilkan oleh lembaga litbang dan perguruan tinggi. Menurut Menteri BUMN, Dahlan Iskan yang turut hadir sebagai pembicara pada dialog tersebut, upaya mempererat linkage antara lembaga litbang dan BUMN sudah digalakkan misalnya pada bidang pangan. Menurut Dahlan Iskan, permintaan akan tepung terigu kian meningkat sementara gandum terus diimpor, sehingga Dahlan Iskan telah menginstruksikan kepada BUMN agar akhir tahun ini menanam lima belas ribu hektar tanaman sorgum dan harus terus meningkat supaya konsumsi terhadap tepung terigu impor bisa menurun. “Hasil riset sorgum dari para ahli kita sangat luar biasa. Kalau kita bisa memproduksi sorgum dua juta ton dalam setahun, sudah mengurangi 30 persen ketergantungan impor pada tepung terigu. Kita bisa menghemat banyak”, ujar Dahlan Iskan.

Dialog Nasional tersebut diselenggarakan dalam rangka Sidang Paripurna Dewan Riset Nasional II Tahun 2012. Selain dihadiri oleh 55 anggota DRN, dialog tersebut juga dihadiri oleh 200 peserta dari Dewan Riset Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota, Kabalitbang Kementerian, Kabalitbangda, Perguruan Tinggi, BUMN, pelaku usaha, dan para pejabat di lingkungan Kementerian Ristek, LPNK dan Kementerian terkait lainnya. (munawir)

July 5, 2012

Sinergi Menegristek dan Mendagri dalam Memperkuat SIDa

Kementerian Riset dan Teknologi adalah salah satu kementerian yang bertugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang riset, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam menjalankan tugas ini ditetapkan Visi pembangunan Iptek 2009 – 2014 yakni “Iptek Untuk Kesejahteraan dan Kemajuan Peradaban“. Dimana kemajuan Iptek nasional diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing produk industri, membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan profesionalisme individu, menyelesaikan permasalahan lingkungan dan akhirnya memajukan perekonomian bangsa. Untuk mencapai amanat itu, dua program utama Ristek adalah Penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDa).

Penguatan SIDa diharapkan dapat memfasilitasi dan menstimulasi pemerintah daerah agar mampu menumbuhkan sumber daya Iptek secara efektif dan efisien, serta mengembangkan sinerginya dengan faktor pasar, perkembangan sektor produksi, serta perkembangan iklim usaha yang kompetitif di daerahnya masing-masing, sehingga kemampuannya untuk melaksanakan proses pertambahan nilai dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan, sesuai dengan potensi dan karakteristiknya masing-masing. Melalui kebijakan penguatan sistem inovasi nasional, pemerintah pusat perlu menjamin agar setiap daerah memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses elemen-elemen kemampuan Iptek nasional bagi keperluan membangun daerahnya, meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta membentuk keunggulan untuk meningkatkan perdagangan dengan daerah-daerah lain, dan mempenetrasi pasar internasional.

Hal tersebut dikemukakan Menegristek, Gusti Muhammad Hatta pada jumpa pers yang menutup rangkaian penyelenggaraan Rakornas Penelitian dan Pengembangan Pemerintahan Dalam Negeri Tahun 2012, yang diselenggarakan di Hotel Clarion Makassar pada taggal 3-5 Juli 2012. Rakornas tahun ini mengangkat tema Pemantapan Kebijakan Dalam Penguatan Program Kelitbangan Untuk Meningkatkan Kualitas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Rakornas tersebut dihadiri sekitar 250 peserta dari Balitbangda dan Bappeda seluruh Indonesia.

Menegristek menambahkan bahwa pada tanggal 25 April 2012, Menegristek dan Mendagri telah menandatangani Peraturan Bersama tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) yang bertujuan untuk mengatur kebijakan penguatan, penataan unsur dan pengembangan SIDa secara terkoordinasi, agar dapat menjadi sebuah instrumen untuk memperkuat peran Iptek dalam sistem inovasi di daerah, yang merupakan pilar penting untuk membangun Sistem Inovasi Nasional (SINas) yang tangguh. “Peraturan Bersama tersebut juga mempertegas hubungan fungsional langsung antara Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BPPD) dengan Kementerian Riset dan Teknologi, sedangkan hubungan organisasi dan kelembagaan  Balitbangda dengan Kementerian Dalam Negeri”, Ujar Menegristek.

Sementara itu Mendagri, Gamawan Fauzi dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekjen Kementerian Dalam Negeri, Diah Anggraeni saat membuka Rakornas menyampaikan bahwa dengan adanya peraturan bersama ini maka pemerintah daerah harus membangun arah kebijakan pembangunan berbasis litbang."Kelembagaan Litbang perlu direvitalisasi dan direposisi. Kerjasama antara birokrasi dengan stakeholder perlu ditingkatkan agar hasil litbang dapat lebih optimal", ujar Sekjen Kemendagri.

Pada jumpa pers tersebut, Menegristek didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri, Muhammad Marwan; Kepala Balitbangda Sulsel, Idrus Hafied;  Deputi Menristek Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo dan Staf Khusus Menristek bidang Media dan Daerah, Gusti Nurpansyah. Pada kesempatan tersebut, Menristek juga melepas rombongan peserta Rakornas yang akan melakukan field trip ke Malino. (munawir)

Menegristek Perkenalkan Mobil Listrik ke Fajar Group

Di sela-sela kunjungan kerjanya ke Makassar, Menristek Gusti Muhammad Hatta berkunjung ke Fajar Media Group di Gedung Graha Pena Makassar, Kamis 5 Juli 2012. Pada kunjungannya tersebut, Menegristek mempresentasikan profil Mobil Listrik yang dibuat oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika, (Telimek) LIPI.

Menegristek menjelaskan bahwa penelitian mobil listrik di Indonesia telah dimulai sejak 15 tahun silam. Pada tahun 2018 nanti diharapkan produksi mobil listrik nasional secara massal sudah terwujud. Menurut Menristek, saat ini pengembangan mobil listrik lebih cepat dari yang diharapkan. “Peneliti dari LIPI sudah berhasil membuat prototipe mobil listrik bentuk bus, padahal dalam roadmap pengembangan mobil listrik, prototipe dijadwalkan selesai pada tahun depan”, ujar Menristek.

Menegristek berharap, mobil listrik ini nantinya akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, karena sumber tenaga listrik dapat dihasilkan dari berbagai energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, bahkan arus laut. Selain itu mobil listrik ini juga terbukti ramah lingkungan dan lebih efisien. “Biaya operasional dan perawatan mobil listrik bisa menghembat biaya 50 hingga 70 persen”, papar Menristek.          

Dalam kunjungannya ke Fajar Media Group, Menegristek disambut oleh Direktur Utama Harian FAJAR, H Syamsu Nur beserta jajaran direksi FAJAR Group. Selain memperkenalkan mobil listrik, dalam kunjungannya ke FAJAR Group tersebut Menristek juga menjadi narasumber dialog tentang Rakornas Litbang Pemerintahan Dalam Negeri yang disiarkan secara live oleh Fajar TV.  (munawir)