December 19, 2013

Menristek Tetapkan Tiga Pusat Unggulan Iptek Baru

Untuk mendongkrak kesiapan teknologi hasil lembaga litbang dan meningkatkan jumlah teknologi yang dimanfaatkan oleh industri dan pelaku usaha, pada tahun 2011 Kementerian Riset dan Teknologi meluncurkan Program Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI). Melalui program ini, lembaga litbang didorong untuk menghasilkan produk dan teknologi yang dapat digunakan oleh industri dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saingnya.

Setelah Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek Kelapa Sawit pada tahun 2011 dan Puslit Kopi dan Kakao serta Lembaga Penyakit Tropis Unair masing-masing ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek Kakao (Puslitkoka) dan Pusat Unggulan Iptek Penyakit Tropis pada tahun 2012. Ketiga lembaga tersebut ditetapkan sebagai PUI karena capaian akademik dan kontribusinya terhadap pengembangan industri kelapa sawit, teknologi pengolahan kakao, dan industri kesehatan melalui pengembangan aneka produk vaksin serta riset stem cell untuk pengobatan penyakit degeneratif.

Pada penghujung tahun 2013 ini, Kementerian Ristek kembali menetapkan 3 lembaga litbang sebagai Pusat Unggulan Iptek. Dua di antaranya merupakan lembaga litbang baru, yaitu Pusat Kajian Hortikultura (PKHT) IPB dan Pusat Studi Biofarmaka (PSB) IPB. Sedangkan satu sisanya adalah lembaga litbang lama, yaitu Puslitkoka dengan pengembangan tema riset kopi. Penganugerahan Pusat Unggulan Iptek tahun 2013 diselenggarakan di auditorium BPPT pada hari Selasa, 17 Desember 2013, dan diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa beserta Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta.

Menurut Menko Bidang Perekonomian, tidak ada satupun negara di dunia ini yang negaranya menjadi maju tanpa menguasai keunggulan iptek. Salah satu ciri dari globalisasi saat ini, diantaranya adalah semakin dalamnya penetrasi sains dan teknologi kedalam perekonomian, yang berarti inovasi menjadi kata kunci dari sebuah keunggulan. “Tidak ada pilihan bagi kita, secepat mungkin mentransformasikan perekonomian kita berbasis inovasi. Kuncinya ada pada kemampuan riset dan pusat unggulan kita untuk menghasilkan knowledge, kemudian dikembangkan menjadi invention, dan kemudian menjadi inovasi”, ujar Hatta Rajasa.

Menurut Menristek, daya saing Indonesia berada pada peringkat 38 dari 148 negara. Dari indikator yang terkait dengan inovasi, Indonesia menduduki peringkat yang relatif cukup baik yaitu di urutan 33, namun dari aspek kesiapan teknologis (technological readiness) masih lemah yaitu berada di urutan 75. “Ini berarti hasil penelitian kita belum siap diproduksi secara massal. Pusat Unggulan Iptek kita harapkan mampu menjadi alat untuk meningkatkan nilai kesiapan teknologi kita”, ujar Menristek.

Di samping lima lembaga litbang yang telah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan iptek, masih ada 12 lembaga litbang lagi yang sedang dipersiapkan Kemenristek menjadi pusat unggulan Iptek, di antaranya Pusat Penelitian Karet, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN, Pusat Mikroelektronika ITB, Pusat Penelitian Pigmen Material Aktif Universitas Ma Chung, serta beberapa konsorsium lembaga riset dalam bidang pengembangan lahan suboptimal, teknologi reklamasi lahan, hutan tropis berkelanjutan, energi terbarukan, rumput laut, pariwisata, ruminansia besar, dan sagu yang masing-masing tersebar di enam Koridor Ekonomi MP3EI. Lembaga-lembaga litbang ini akan menjadi pusat unggulan di bidangnya masing-masing dan mendukung terwujudnya industri yang berdaya saing, meningkatkan produksi dan kualitas produk dalam rangka kemandirian dan ekspor.

Lembaga litbang yang dipersiapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek akan terus bertambah jumlahnya sampai tercapai batas minimum (critical mass), sehingga dapat berkontribusi secara signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di tiap koridor ekonomi yang tinggi, inklusif dan berkelanjutan, meningkatkan konektivitas/infrastruktur antar koridor ekonomi dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan mewujudkan visi MP3EI yaitu menjadi 12 negara besar dunia pada tahun 2025 dan 7 negara besar dunia pada tahun 2050. (mwr/ humasristek)

December 16, 2013

Pengembangan Teknologi Peternakan Ruminansia Besar di Kalimantan Selatan


Program Nasional Swasembada Daging Sapi tahun 2014, merupakan salah satu program prioritas Pemerintah dalam lima tahun sejak tahun 2010, dimaksudkan untuk mewujudkan ketahanan pangan asal ternak berbasis sumberdaya lokal. Program ini dirancang dari hulu–hilir, didukung oleh kemampuan dalam penguasaan dan pemanfaatan Iptek dengan melibatkan paling tidak 10 kementerian dan 3 lembaga. Untuk mencapai swasembada daging pada tahun 2014 tersebut, diperlukan berbagai rumusan kebijakan dan strategi khusus, antara lain: (1) pembibitan dan pemuliabiakan sapi nasional; (2) terobosan peningkatan populasi sapi; dan (3) ketahanan pakan nasional.

Selain kebijakan dan strategi tersebut, dukungan penguasaan iptek terhadap swasembada dapat diwujudkan melalui : pertama, peningkatan kemampuan SDM termasuk juga kapasitas para peternak–petani; kedua, pengembangan teknologi untuk perbaikan mutu bakalan melalui metoda inseminasi buatan, embrio transfer atau rekayasa genetika; ketiga, pengembangan teknologi untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun dengan teknologi pakan murah; dan keempat, pengembangan kawasan terpadu/klaster inovasi peternakan–pertanian sebagai wahana untuk mengintegrasikan dan mensinergikan aktivitas litbang dengan dunia usaha yang menghasilkan produk industri peternakan–pertanian, seperti industri daging dan turunannya; industri pakan; industri pupuk dan bahan bakar terbarukan, yang sering kali disebut dengan 4 F (food, feed, fertilizer, dan fuel).

Hal tersebut disampaikan Menristek, Gusti Muhammad Hatta saat berkunjung ke Balai Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan pada hari Senin, 16 Desember 2013. Kunjungan tersebut dalam rangka Program Kementerian Ristek yaitu Pengembangan Teknologi Peternakan Ruminansia Besar sebagai upaya mendukung Program Nasional Swasembada Daging Sapi tahun 2014. dalam Roadmap Program Swasembada tersebut, Kalimantan Selatan memang menjadi daerah prioritas pengembangan campuran Inseminasi Buatan dan Kawin Alam. “Konsumsi daging per kapita nasional kita masih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, padahal kita sudah punya ahlinya dan hasil penelitian terkait produktivitas ternak juga sudah banyak namun belum dimanfaatkan secara massal. Oleh karena itu, Kementerian Ristek mendorong penggunaan teknologi untuk meningkatkan produksi ternak”, ujar Menristek.

Program Kementerian Ristek tersebut dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan pelaksanaan inseminasi buatan pada sapi, pelatihan dan pembuatan pakan awetan, pelatihan dan pembuatan pakan konsentrat, pelatihan dan pembuatan silase, pelatihan dan pembuatan pupuk organik, serta pelatihan dan pembuatan bakso sebagai produk olahan daging. Tujuan akhir dari program ini adalah meningkatnya angka kelahiran ternak khususnya sapi di Kabupaten Tanah Laut dan sekitarnya sebagai daerah percontohan dan Kalimantan Selatan secara keseluruhan.

Di penghujung acara, Menristek bersama Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Resnawan meninjau pameran tersebut sekaligus menyerahkan sertifikat penghargaan kepada 10 inseminator terbaik, sertifikat alih teknologi IB Sexing dan sertifikat ISO 9001:2008 bagi Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) Banjar Baru. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Kementerian Ristek, Hari Purwanto; Plt Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, I Wayan Budiastra dan Staf Khusus Menristek Bidang Daerah dan Media Massa, Gusti Nurpansyah. (munawir)

November 6, 2013

Cuti Besar

Awal april tahun depan, genap 8 tahun saya kerja di Ristek. Menurut aturan kepegawaian, karena saya udah kerja lebih dari 6 tahun, saya berhak mendapatkan cuti besar selama maksimal 3 bulan.
Sejujurnya saya butuh cuti panjang saat ini. Tesis yg mulai saya garap bulan maret silam blum ada tanda-tanda selesai, sementara sudah lebih dari separuh rekan seangkatan sudah wisuda akhir agustus yang kemarin. Sebenarnya tidak begitu sulit menyelesaikan tesis ini, namun menjadi sulit ketika setiap pagi saya harus bekerja di kantor dan malamnya tenaga saya sudah habis untuk sekedar mengintip tesis saya.

Rencananya saya mau minta cuti mulai senin depan sampai pertengahan februari tahun depan. Rencananya selama cuti saya akan banyak menghabiskan waktu saya di Pusat Diseminasi Iptek Nuklir BATAN untuk mewawancarai para narasumber tesis saya d sana. Beres di BATAN, saya berencana melakukan survei di kabupaten bangka barat untuk mencari tau sejauh mana efektivitas program sosialisasi PLTN yg dilakukan BATAN di sana.

Bila penelitian saya sudah di-ACC oleh dosen pembimbing saya, makan saya akan maju sidang tesis paling lambat 16 Januari dan wisuda pada bulan Februari dgn catatan tesis saya sudah selesai perbaikan. Bismillah. Tidak boleh menunda lagi. Tidak boleh malas-malasan lagi, karena cepat atau lambat tahap ini memang harus dilalui.

October 28, 2013

Timor Leste Ingin Belajar Komersialisasi Teknologi dari Indonesia

Sebanyak 12 orang delegasi dari Timor Leste berkunjung ke Business Innovation Center (BIC) di Puspiptek Serpong, pada Senin, 28 Oktober 2013. Delegasi tersebut merupakan para pejabat dari Institute of Business Development Support (IADE) yang merupakan salah satu lembaga di bawah Kementerian Promosi Sektor Swasta Timor Leste. Delegasi dipimpin langsung oleh Hernani Viterbo C. Soares, selaku Direktur Executive IADE dan didampingi oleh Annabelle Skof dari Organisasi Buruh Internasional (ILO).

Menurut Hernani, Timor Leste mempunya potensi yang besar untuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, namun Timor Leste masih menghadapi permasalahan di bidang pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk mendukung ide-ide dan peluang bisnis yang akan dikembangkan. “Kita belum punya kemampuan untuk mengembangkan komersialisasi dan intermediasi teknologi, maka dari itu kita ingin melihat BIC secara lebih dekat, berdiskusi lebih dalam mengenai potensi dan peluang kerjasama yang bisa kita lakukan,” ujar Hernani.

Hernani melanjutkan bahwa saat ini IADE mendapatkan bantuan dari ILO Dalam bentuk program Business Opportunities and Support Services (BOSS), yang bertujuan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi daerah, meningkatkan pelayanan pemerintah dan menciptakan lapangan kerja berkualitas di perdesaan dengan memperluas akses pasar bagi UKM, memperkuat kontraktor lokal dan meningkatkan penyediaan layanan pengembangan usaha. Hernani berharap program BOSS tersebut dapat menjadi fokus kerjasama dengan Indonesia, dan kemudian dapat ditingkatkan menjadi kerjasama bilateral.

Asdep Jaringan Penyedia dengan Pengguna Kementerian Ristek, Sri Setiawati, sebagai pengelola kawasan Puspiptek menyambut baik kunjungan delegasi dari IADE Timor Leste ke Puspiptek. Sri menjelaskan kepada delegasi bahwa kawasan Puspiptek awalnya merupakan kawasan pendukung industri strategis. Dan saat ini, sesuai dengan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Puspiptek diharapkan menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia melalui pengembangan inovasi di beberapa fasilitas iptek yang terdapat di dalam kawasan Puspiptek. Sri berharap kerjasama antara IADE dengan BIC dapat direalisasikan dengan baik. “Agar kerjasama ini efektif, sebaiknya dipetakan dulu antara kebutuhan di lapangan dengan kemampuan teknologi yang bisa diimplementasikan,” ujar Sri.

Kristanto Santosa, Direktur BIC, memaparkan tentang sejarah dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BIC. Menurut Kristanto, BIC didirikan untuk mengembangkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis (ABG, Academician, Business, and Government) dalam hal inovasi yang sampai saat ini belum optimal. BIC memberikan layanan umum dalam bentuk konsultasi inovasi, maupun layanan yang spesifik untuk kalangan swasta/bisnis, akademisi dan pemerintah. Selain itu BIC juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan publikasi seperti pameran, seminar dan workshop serta menerbitkan buku direktori 100+ Inovasi Indonesia paling prospektif setiap tahunnya. (munawir)

October 22, 2013

Remote Sensing, Solusi Permasalahan Global


Remote sensing atau penginderaan jauh (inderaja) merupakan teknologi yang sangat diandalkan untuk mendapatkan informasi mengenai obyek-obyek di bumi, maupun obyek-obyek lainnya yang tidak kasat mata. Teknologi ini memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk memberikan informasi berkaitan dengan obyek-obyek yang direkamnya. Awalnya teknologi ini berkembang untuk kepentingan militer, namun akhirnya dimanfaatkan sipil untuk menggantikan teknologi terrestrial dan foto udara dengan wahana sederhana yang telah berkembang sebelumnya.

Setelah sukses menggelar Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) yang ke-7, 26 tahun yang silam, tahun ini Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) ke 34 yang diselenggarakan di Discovery Kartika Plaza Hotel – Bali, pada tanggal 21 hingga 24 Oktober 2013. Pertemuan ACRS ini diselenggarakan tiap tahunnya dengan semangat meningkatkan kerjasama, kebersamaan dan persaudaraan antar pemangku kepentingan teknologi penginderaan jauh di kawasan Asia. Tahun ini ACRS mengangkat tema “Bridging Sustainable Asia”, dimana para pemangku kepentingan teknologi inderaja dari berbagai negara di Asia dan dunia, negara berkembang dan negara maju, bersama-sama mendiskusikan peluang dan tantangan pengembangan teknologi remote sensing dalam mengatasi berbagai permasalahan global untuk menuju kawasan Asia Pacific yang berkelanjutan.

Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta yang membuka pertemuan tersebut menyampaikan bahwa baru-baru ini Indonesia meningkatkan kapasitas teknologi remote sensing-nya melalui upgrading sistem penerimaan dan pengolahan data satelit SPOT4/5/6, LDCM dan ALOS 2 yang mendukung kinerja dua stasiun bumi di Pare-Pare, Sulawesi Selatan dan Rumpin, Banten. Terlepas dari hal tersebut, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dan kendala dalam riset dan pengembangan remote sensing. “Oleh karena itu, untuk mengatasi kendala tersebut, saya mendorong kolaborasi internasional di bidang remote sensing, baik aspek data maupun aplikasinya,” ujar Menristek

Menristek menambahkan, riset dan inovasi harus menjadi bagian dari pengembangan bisnis. Menristek berharap remote sensing dapat memainkan peran yang penting dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan daya saing bisnis, melalui pemanfaatan hasil riset remote sensing oleh para pengguna dalam hal ini pemerintah, industri dan masyarakat. Saat ini remote sensing secara luas digunakan untuk menginventarisir dan mengamati sumber daya alam, pemetaan geologi, dan tingkat perubahan lahan, misalnya lahan perkebunan, daerah bencana, pemetaan irigasi dan lain sebagainya. “Riset dan pengembangan remote sensing harus diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah, industri dan masyarakat,” tegas Menristek.

Pembukaan ACRS turut dihadiri Kepala LAPAN, Bambang S. Tedjakusuma; Kepala BIG, Asep Karsidi; Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar; Staf Ahli Menristek Bidang TIK, I Wayan Budiastra; dan Staf Khusus Menristek, Gusti Nurpansyah. (munawir)

September 12, 2013

Menristek Resmikan Upgrading Sistem Stasiun Bumi LAPAN Parepare

Fasilitas stasiun bumi Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) yang terletak di kota Parepare, Sulawesi Selatan dibangun dan diresmikan pada bulan September 1993 oleh Presiden Soeharto dengan kemampuan menerima data Landsat-5/6, SPOT -1/2/(3)/4 (SATIN Project), dan ERS-1/2. Pada tahun 1995 dilakukan peningkatan kemampuan (upgrading) untuk menerima dan merekam data JERS-1 (Japan) dan pada tahun 2002-2004 dilakukan upgrading untuk menerima dan merekam data Landsat-7 dan Terra/Aqua. Pada tahun 2013, kembali dilakukan upgrading untuk menerima dan mengolah data SPOT-5/6 dan Landsat-8.

Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, berkunjung langsung meresmikan upgrading tersebut sekaligus meninjau stasiun bumi LAPAN di Parepare pada Rabu, 12 September 2013. Menurut Menristek, upgrading sistem dan infrastruktur di fasilitas stasiun bumi LAPAN tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan SDM yang mengolah data satelit tersebut. Oleh karena itu, Kementerian Ristek menyediakan beasiswa yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti dan perekayasa di LPNK RISTEK, termasuk LAPAN. “Jangan sampai ada kesenjangan di antara peneliti yang muda dengan yang akan pensiun,” ujar Menristek.

Menristek menegaskan, data satelit yang disediakan LAPAN sangat penting dalam mendukung program Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD). Tersedianya peta dasar dan peta penutupan hutan/lahan dari data satelit tersebut yang lebih akurat, terintegrasi dan tepat waktu sangat membantu langkah-langkah penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. “Dengan ini diharapkan kita dapat menurunkan emisi gas rumah kaca, sesuai komitmen pemerintah Indonesia sebesar 26 persen,” ujar Menristek.

Kepala LAPAN, Bambang S. Tedjakusuma, dalam Instruksi Presiden (inpres) nomor 6 tahun 2012 tentang Penyediaan, Penggunaan, Pengendalian Kualitas, Pengolahan, dan Distribusi Data Satelit Penginderaan Jauh Resolusi Tinggi dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, LAPAN bertugas untuk menyediakan data satelit penginderaan jauh resolusi tinggi dengan lisensi pemerintah Indonesia. Untuk memenuhi peran tersebut, Lapan melakukan upgrading sistem penerimaan dan pengolahan data satelit SPOT-5, SPOT -6, dan Landsat-8. “Sebelum adanya inpres ini, masing-masing instansi pemerintah membeli sendiri data satelit, dan tidak dapat digunakan oleh instansi lain. Dengan adanya inpres dan UU ini, data satelit yang disediakan LAPAN diolah menjadi citra gambar oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), dan dapat dimanfaatkan secara gratis untuk kebutuhan nasional,” ujar Bambang.

Selain Menristek dan Kepala LAPAN, acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala BIG, Asep Karsidi; Deputi Kepala Bappenas Bidang Ekonomi, Prasetijono Widjojo; Kepala Balitbangda Sulsel, Idrus Hafied; Staf Ahli Menristek Bidang TIK dan Transportasi, I Wayan Budiastra; dan Staf Khusus Menristek Urusan Daerah dan Media Massa, Gusti Nurpansyah. (munawir)

August 12, 2013

MUDIK 1434 H

Alhamdulillah sudah sampai lagi di Jakarta, setelah 11 hari mudik lebaran ke Makassar. Libur sebenarnya dah selesai kemarin, tapi tiket Merpati yg sudah saya pesan sejak awal tahun jadwalnya dimundurin sehari. Begitu juga saat berangkat, jadwalnya dimajukan sehari oleh Merpati. Alasannya tidak ada penerbangan pada tgl 2 dan 11 Agustus. ya kalau emang ga ada penerbangan pada hari tersebut, ya kenapa dong tiket gw bisa diissued? Hehehe tp gpplah, dengan begini waktu berkumpul dengan keluarga di Makassar lebih banyak walau harus ga ngantor dua hari dan tunjangan kinerja kena potong 10 persen.

Selama di Makassar, waktu saya manfaatkan untuk silaturrahim dengan kerabat dan sahabat. Naik gunung ke Malaka menjenguk nenek, ke rumah Abba Thahir di Pettarani, menjenguk Kartina yg abis lahiran, ziarah kubur kakek, nenek dan Abba, hingga wisata kuliner mie titi di outlet barunya yang baru dan besar di daerah Bumi Tamalanrea Permai.     

Muter-muter di Makassar tuh rasanya sama aja kek muter-muter Serpong, kemana-mana deket. Dari rumah ke Pasar Terong rasanya sama aja kek dari rumah Serpong ke Pasar Modern BSD, dari rumah ke Mal Panakkukang rasanya seperti dari rumah Serpong ke BSD Plaza. Rasanya pengen kembali tinggal dan kerja di Makassar aja. Ga enak rasanya merantau, tinggal di kota besar, tapi jauh dari keluarga besar.

Uqi bilang "Abi, janganmi ke Jakarta nah, enak tinggal di Makassar". Saat mau boarding Uqi bertanya lagi, "Abi, hari apaki pulang ke Makassar lagi?", dengan lesu kujawab, "bukan hari nak.. tapi insya Allah tahun depanpi lagi kalau lebaran, itupun kalo adaji uang untuk beli tiket",  Kodong...
#galau #homesick #rindumama

July 30, 2013

Menristek Silaturrahim Dengan Warga Sekitar Reaktor Nuklir

Di bulan suci Ramadhan ini, umat Islam dilatih untuk dapat menahan diri dari hawa nafsu dalam rangka meningkatkan kadar iman dan ketakwaan pribadi muslim. Beratnya latihan pada bulan ini diimbangi dengan besarnya “reward” dari Allah SWT, dimana berkah, rahmat dan magfirah dari Allah SWT dilimpahkan pada bulan Ramadhan ini. Bahkan di dalam bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang  nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Pesan itu disampaikan Menristek, Gusti Muhammad Hatta di depan peserta Sarasehan Bersama Tokoh Masyarakat di Sekitar Kawasan Nuklir Serpong, yang diselenggarakan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada Selasa, 30 Juli 2013 di Gedung 71 BATAN, Puspiptek Serpong. Menristek menambahkan bahwa di bulan puasa ini selain memperbanyak ibadah, umat Islam juga dianjurkan memperluas silaturrahim. “Jadi harus seimbang antara hablun minallah dengan hablun minannas, acara sarasehan seperti ini sangat bagus karena memperluas silaturrahim antara BATAN dengan warga sekitar kawasan nuklir,” ujar Menristek.

Menurut Kepala BATAN, Djarot  Sulistio Wisnubroto, kegiatan sarasehan yang rutin diadakan setiap tahun ini bertujuan untuk meningkatkan silaturrahim antara keluarga besar BATAN, unsur Muspida dan warga sekitar fasilitas nuklir Serpong. Menurut Djarot, BATAN yang mengelola kawasan nuklir di Serpong harus senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat sekitar sebagai pemangku kepentingan yang berada di garis paling depan untuk menjaga aspek keselamatan dan keamanan nuklir. “Warga adalah barrier pertama di luar kawasan nuklir, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun alhamdulillah sampai saat ini, puluhan tahun reaktor nuklir berdiri belum ada masalah yang signifikan yang mengancam keselamatan dan keamanan warga,” ujar Djarot.

Djarot menambahkan, di kawasan Puspiptek Serpong, BATAN juga mengelola sawah seluas 35 hektar yang melibatkan warga sekitar dalam pengelolannya sebagai bentuk community development. Djarot berharap dengan makin dekatnya BATAN dengan warga sekitar dapat menghilangkan anggapan BATAN sebagai menara gading. “Mudah-mudahan masyarakat dapat menganggap BATAN sebagai lembaga pemerintah yang bisa berkomunikasi dan berdiskusi serta sedapat mungkin ikut memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat,” tutup Djarot.

Acara sarasehan ditutup tausiyah yang disampaikan oleh K.H. Soleh Kosasih. Setelah buka puasa bersama, Menristek didaulat menjadi imam sholat maghrib, memimpin puluhan jamaah yang terdiri dari para pimpinan Kementerian Ristek, BATAN, unsur Muspida dan warga sekitar kawasan nuklir dari Kampung Setu, Kademangan, Baru Asih, Keranggan dan Sengkol. (munawir)

July 24, 2013

Iran Tertarik Kerjasama Teknologi Pesawat Terbang

Salah satu usulan dari Pemerintah Iran yang disampaikan pada the 4th Indonesia-Iran Joint Working Committee (JWC) Meeting on Scientific and Technological Cooperation adalah kerjasama di bidang teknologi pesawat terbang sipil. Untuk merealisasikan usulan tersebut, delegasi JWC Iptek Iran berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI)  di Bandung pada Rabu, 24 Juli 2013.

Menurut Deputi Menteri Sains, Riset dan Teknologi Iran, Mohammad Mahdi Nejad Nouri yang menjadi Ketua Delegasi JWC Iran, kerjasama di bidang riset dan pengembangan pesawat terbang sipil dengan Indonesia sangat strategis bagi Iran, karena saat ini Iran sedang melakukan riset dan pengembangan pesawat terbang untuk kapasitas 100 dan 150 orang. "Dengan berkunjung ke sini, kami ingin mengetahui apa saja aktivitas riset dan pengembangan di PT DI dan berharap dapat menjalin kerjasama yang lebih intens,” ujar Mahdi.

Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT DI yang menyambut delegasi JWC Iran menyampaikan sejarah dan aktivitas PT DI. Menurut Andi, kemampuan utama PT DI adalah mengintegrasikan berbagai teknologi dan komponen menjadi pesawat terbang yang berkualitas. Beberapa jenis pesawat yang telah diproduksi PT DI adalah CN235-220, NC-212-200, Helikopter NBO-105, Helikopter BELL-412, dan Helikopter NAS-332C1.  Yang
sedang dikembangkan PT DI saat ini adalah pesawat turboprop untuk kapasitas 80-100 penumpang. “Peluang di kelas turboprop masih terbuka lebar, karena saingan kita yang kuat hanya ATR dan Bombardier,” ujar Andi.

Setelah melakukan diskusi, delegasi JWC Iran diajak berkunjung ke beberapa fasilitas di PT DI. Sonny S Ibrahim, Manajer Komunikasi PT DI memperlihatkan proses produksi beberapa komponen pesawat di fasilitas Aerostructures. Menurut Sonny, fasilitasi tersebut memproduksi komponen untuk Airbus A380/A320/A321/A340/A350, Boeing B-747/B-777/B-787, Eurocopter MK-2 (EC225/EC725) dan Airbus Military CN235/C295/C212-400. “Khusus untuk komponen bahu pesawat Airbus A380, PT DI dipercaya sebagai single supplier,” ujar Sonny.

Sonny juga mengajak delegasi melihat langsung proses pembuatan pesawat CN235-220 untuk kapasitas 35-40 penumpang dan NC-212-200 untuk kapasitas 12-26 penumpang. Menurut Sonny, proses pembuatan satu unit pesawat di PT DI mulai dari material pertama sampai proses delivery membutuhkan waktu sekitar 14 bulan, dengan kapasitas produksi masing-masing 6 unit untuk tiap jenis pesawat. Keunggulan pesawat CN235-220 adalah dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan (multi-purpose). “Pesawat ini dapat mendarat di tanah dan dengan kekuatan mesin penuh, pesawat ini hanya membutuhkan landasan dengan panjang 600 meter untuk take-off,” jelas Sonny.

Delegasi JWC Iptek Iran sangat terkesan dengan kemampuan PT DI dalam riset, pengembangan, hingga produksi pesawat. Mereka berharap kerjasama di bidang teknologi pesawat terbang ini dapat direalisasikan segera. (munawir)

July 23, 2013

Indonesia-Iran Perkuat Kerjasama Riset dan Iptek

Kerjasama di bidang riset dan iptek antara Indonesia dengan Iran secara resmi dimulai pada tahun 2006 yang ditandai dengan penandatantangan Nota Kesepahaman antara Menteri Riset dan Teknologi saat itu, Kusmayanto Kadiman dengan Menteri Luar Negeri Iran, di hadapan presiden SBY dan Presiden Mahmoud Ahmadinedjad. Sejak itu, kedua negara membentuk Joint Committee Meeting (JCM) on Research and Technology yang sampai saat ini telah bertemu sebanyak 3 kali baik di Iran maupun di Indonesia untuk membicarakan perkembangan kerja sama di bidang riset dan iptek. Kerjasama kedua negara diarahkan kepada iptek sebagai solusi atas permasalahan global saat ini.

Hal itu disampaikan Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman, saat membuka pertemuan Indonesia-Iran JCM on Research and Technology ke-4 di Jakarta yang berlangsung pada Senin-Selasa, 22-23 Juli 2013. Dalam sambutannya, Agus menyampaikan bahwa selama ini Indonesia dan Iran memfokuskan kerjasama riset dan ipteknya di dalam beberapa bidang, yaitu ilmu kebumian, nanoteknologi, teknologi kedirgantaraan, ilmu kedokteran dan sel punca, serta bioteknologi. "Berbagai bentuk kerjasama, baik itu pertukaran peneliti dan ilmuwan, program riset bersama, penyelenggaraan seminar maupun workshop bersama, dapat dilakukan untuk meningkatkan kerjasama yang sedang berjalan ataupun yang akan dilakukan di masa mendatang," ujar Agus.

Selain beberapa bidang tersebut di atas, Indonesia juga tertarik untuk menjajaki kerjasama terkait pengembangan Science Techno Park (STP). Iran mempunyai banyak pengalaman dalam menelurkan program spin off/start up company yang berasal dari perguruan tinggi. Iran juga tercatat sebagai negara yang mempunyai jumlah publikasi terbanyak di antara negara Islam lainnya. Sejalan dengan hal tersebut, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh dalam sambutannya pada pertemuan tersebut menyampaikan bahwa Indonesia dan Iran mempunyai semangat yang sama dalam kerjasama iptek ini dan berharap kerjasama dapat direalisasikan dalam tataran yang lebih teknis dan praktis. "Wajib hukumnya bagi Iran untuk berbagi kemajuan yang dicapai dalam bidang riset dan iptek kepada negara-negara sahabat," ujar Mahmoud.

Dalam pertemuan tersebut, anggota JCM dari kedua negara menyampaikan kemajuan dari masing-masing bidang yang dikerjasamakan. Dari Indonesia, delegasi terdiri dari perwakilan Kementerian Ristek, BPPT, LIPI, LAPAN, BSN dan Fakultas Kedokteran UI. Sementara itu delegasi dari Iran berjumlah 10 orang berasal dari Kementerian Sains, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Kementerian Pertahanan, Pusat Penelitian Energi, dan STP. Delegasi Iran yang dimpimpin Deputi Menteri Iptek Iran, Mohammad Mehdi Nejad Noori, juga akan berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia dan Bandung Technology Park di Jawa Barat.

Kerjasama kedua negara di bidang riset dan iptek mulai dijajaki pada tahun 2003, saat Menristek pada waktu itu Hatta Rajasa berkunjung ke Iran atas undangan Menteri Sains, Riset dan Teknologi Iran, Mostafa Moin. Keduanya menandatangani Pernyataan Bersama yang berisikan tekad kedua belah pihak untuk meningkatkan hubungan persahabatan dan hubungan kerjasama di bidang riset dan iptek untuk meningkatkan pembangunan sosial ekonomi kedua negara. Tahun ini, Iran kembali mengundang Menristek untuk berkunjung ke Iran dan sekaligus menandatangani perpanjangan Nota Kesepahaman yang mendasari kerjasama riset dan iptek kedua negara.(munawir)

Menristek Temui Delegasi JWC Iptek Iran

Di sela-sela pertemuan Indonesia-Iran Joint Working Committee (JWC) on Scientific and Techological Cooperation, delegasi JWC Iptek Iran melakukan kunjungan kehormatan ke Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta pada Selasa, 23 Juli 2013. Didampingi Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, delegasi Iran yang berkunjung adalah Mohammad Mahdi Nejad Nouri, Esmael Khaderi Far, Ahmad Fazel Zadeh, Ali Asghar Tofiq, Amir Said Karami, Abdurrahman Tarough, Gholamrheza Shakiba, Iraj Tajuddin, Seyed Mohammad Said Mosavi Asle, dan Mohammad Aminei. Delegasi JWC Iran tersebut berasal dari Kementerian Sains, Riset dan Teknologi Iran, Kementerian Pertahanan Iran, Pusat Penelitian Material dan Energi, dan Fars Science and Technology Park.

Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman yang mendampingi Menristek melaporkan bahwa sehari sebelumnya anggota JWC Iptek dari Iran dan Indonesia telah melakukan pertemuan dan membahas perkembangan kerjasama iptek kedua negara di beberapa bidang, yaitu yaitu ilmu kebumian, nanoteknologi, teknologi kedirgantaraan, ilmu kedokteran dan sel punca, serta bioteknologi. Menerima laporan tersebut, Menristek menyampaikan apresiasi kepada para anggota JWC Iran atas kerjasama yang baik di beberapa bidang tersebut. "Bidang-bidang kerjasama yang sudah ada sekarang sejalan dengan fokus pengembangan iptek di Indonesia. Kerjasama Indonesia dan Iran di bidang Iptek harus terus ditingkatkan dan diperluas ruang lingkupnya," ujar Menristek.

Anggota JWC Iran, Ali Asghar Tofiq yang menjabat Direktur Puslit Energi dan Material Iran, kepada Menristek menyampaikan perkembangan nanoteknologi yang mulai berkembang di Iran sejak tahun 2003. Ali berharap kerjasama bidang nanoteknologi dengan Indonesia makin ditingkatkan melalui Inter-Islamic Network on Nanotechnology (INN) yang dibentuk di Iran. INN dibentuk atas inisiasi Ministerial Standing Committee for Scientific and Technological Cooperation (COMSTECH) yang merupakan salah satu komite di dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Ali yang juga merupakan CEO INN mengundang Indonesia melalui Menristek untuk bergabung dalam INN. Menristek menyambut baik undangan tersebut dan akan menindaklanjutinya dengan pihak terkait di Indonesia.

Indonesia dan Iran kini sedang membahas perpanjangan Nota Kesepahaman Kerjasama Iptek-Indonesia yang ditandatangani pada tahun 2006 silam. Dubes Iran berharap dalam waktu dekat Nota Kesepahaman tersebut telah selesai dibahas, dan Menristek dapat berkunjung ke Iran untuk menandatangani langsung Nota Kesepahaman tersebut. Selain lima bidang kerjasama yang telah berjalan, Nota Kesepahaman tersebut juga akan menjadi dasar kerjasama beberapa inisiatif baru, di bidang energi terbarukan, Science & Technology Park serta kerjsama iptek untuk industri. (munawir)

July 8, 2013

Marhaban Yaa Ramadhan

Alhamdulillah, Ramadhan yang dinanti telah datang, bulan penuh ampunan dan ganjaran amal dilipatgandakan. Bulan penuh berkah penuh rahmah. Momen terbaik untuk mengupgrade kapasitas iman dan taqwa kita. 

Insya Allah, tahun ini masih diberi rizki untuk mudik ke Makassar. Tiket pesawat sudah di tangan sejak awal tahun. Rencananya pulang tanggal 1 Agustus mendatang. Sudah banyak rencana untuk dilakukan ketika mudik nanti. Tak sabar rasanya menanti. 

Ini Ramadhan ketiga tanpa Abba, beliau meninggal 2 tahun lalu seminggu sebelum Ramadhan. Tanggal 24 Juli besok tepat 2 tahun Abba menghadap sang Khalik. Rasa rindu ke Abba selalu menyergap, 2 hari yang lalu saya mimpi melihat Abba dengan gaya khasnya, memakai kopiah, sarung dan baju koko menyetir mobil mengantar Uqi dan Lana pulang. Entah dari mana, namanya jg mimpi.

Menjelang Ramadhan seperti ini, teringat lagi 22 tahun lalu, ketika Abba mengajak saya ke mercusuar di Bulukumba untuk melihat hilal. sebagai seorang hakim, salah satu tugas Abba ya urusan hisab dan ru'yat. Mmmh, rasanya masa kecil yg kuhabiskan dengan Abba ga terlalu banyak. Kenangan ke mercusuar itu termasuk yang masih bisa kuingat sampai sekarang.  

Allahumaghfirly.. Wa liwalidayya... Warhamhuma... Warhamhuma.. Warhamhuma... Kamaa rabbayaniy shagiiraa...

July 5, 2013

Delegasi APEC PPSTI Berkunjung ke PPKS Medan

Setelah melakukan pertemuan APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI) selama dua hari, 1-2 Juli 2013, para delegasi dari anggota ekonomi APEC diundang oleh Kementerian Riset dan Teknologi untuk berkunjung ke salah satu pusat unggulan iptek yang terletak di kota Medan, yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), pada hari Rabu, 3 Juli 2013. Rombongan dipimpin langsung Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman yang juga merupakan Chairman APEC PPSTI.

Direktur PPKS, Witjaksana Darmosarkoro, dalam sambutannya menyampaikan profil PPKS sebagai lembaga riset bertaraf internasional dan mandiri secara finansial. Menurut Witjaksana, kemajuan PPKS dapat dilihat dari perkembangan kinerja dan sertifikasi atau penghargaan yang telah diraih seperti ISO 9001, KAN, KNAPPP, Bakrie Award dan Anugerah Ristek Pranata Litbang. “Penunjukan PPKS sebagai pusat unggulan iptek oleh Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristek) semakin memperkuat kedudukan PPKS sebagai lembaga penelitian kelapa sawit,” ujar Witjaksana.

Selain mendapatkan informasi tentang PPKS, para delegasi APEC PPSTI juga mendapatkan pemaparan dari PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dan Pusat Penelitian Karet Indonesia (Puslitkaret). Puslitkaret juga merupakan salah satu lembaga riset yang sedang dipersiapkan untuk menjadi pusat unggulan iptek oleh Kementerian Ristek. Sementara itu PT RPN adalah sebuah perusahaan riset dan pengembangan anak perusahaan BUMN Perkebunan yang menaungi PPKS dan Puslitkaret.

Setelah berdialog, rombongan diajak berkunjung ke Unit Pelayanan dan Informasi Kelapa Sawit (UPIKS), yang merupakan showroom produk hasil penelitian dan layanan paket teknologi yang dilakukan oleh PPKS. Di UPIKS, rombongan melihat langsung berbagai produk kelapa sawit dari hulu sampai hilir. Selain itu, rombongan juga ditunjukkan pengolahan tandan kelapa sawit untuk pakan ternak dan pemanfaatan biogas kelapa sawit untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Anggota delegasi APEC PPSTI dari China Taipei yang mewakili rombongan mengaku sangat terkesan dengan proses teknologi dan inovasi yang berlangsung di PPKS dan berharap lembaga terkait di masing-masing ekonomi anggota APEC dapat menjalin kerjasama lebih lanjut dengan PPKS Medan. (munawir)

July 2, 2013

Kemenristek Perkuat Kelembagaan Pusat Unggulan Iptek

Sejak diluncurkan pada tahun 2011, Program Pusat Unggulan Iptek (PUI) telah mengidentifikasi dua belas lembaga litbang dan konsorsium yang akan dikembangkan sebagai PUI. Tiga di antaranya, yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember dan Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga, telah ditetapkan sebagai PUI karena sudah memenuhi kriteria sebagai pusat unggulan. Kriteria tersebut baik dari sisi output akademik yang diindikasikan dari jumlah publikasi, paten, produk/ prototipe, dan dari sisi outcome yaitu kontribusinya bagi pembangunan nasional, yang diindikasikan antara lain dari jumlah produk/teknologi yang digunakan oleh industri, jumlah jasa pelayanan konsultasi dan pelatihan kepada industri dan UKM/ masyarakat, serta jumlah produk/teknologi yang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Untuk terus mengembangkan kapasitas lembaga-lembaga tersebut, untuk yang kedua kalinya Kementerian Ristek menyelenggarakan Workshop Penguatan Kelembagaan Pusat Unggulan Iptek, yang bertempat di PPKS Medan, pada tanggal 1-2 Juli 2013. Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta yang hadir membuka workshop tersebut mengutarakan bahwa workshop ini merupakan langkah penting dalam membangun pusat unggulan yang terkemuka yang tidak saja unggul dari sisi akademik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”Setiap tahun saya menginginkan pusat unggulan iptek bertemu untuk berbagi informasi, capaian, dan pengalaman masing-masing lembaga, dan bersama-sama mencari langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan yang ada,” ujar Menristek.

Pengembangan pusat unggulan iptek yang sedang dikembangkan oleh Kemenristek ditujukan untuk mendukung program utama Kemenristek seperti tercantum dalam RPJMN 2010-2014 yaitu, penguatan sistem inovasi nasional (SINas) untuk mendukung pembangunan nasional. Pengembangan pusat unggulan iptek juga merupakan implementasi inisiatif strategi pembangunan nasional dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 (Perpres No. 32 Tahun 2011) yaitu “Pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi, yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek, yang sesuai untuk peningkatan daya saing.

Delapan lembaga calon PUI lainnya yang sedang disiapkan Kementerian Ristek saat ini adalah Pusat Penelitian Karet Bogor sebagai PUI Karet, Pusat Studi Biofarmaka IPB Bogor sebagai PUI Obat Herbal, Konsorsium Riset Pengelolaan Hutan Tropis Berkelanjutan Unlam Kalsel sebagai PUI Hutan Berkelanjutan, Konsorsium Riset Rumput Laut Unhas Sulsel sebagai PUI Rumput Laut, Konsorsium Riset Pariwisata Unud Bali sebagai PUI Pariwisata, Konsorsium Riset Ruminansia Besar Unram NTB sebagai PUI Ruminansia Besar, Konsorsium Riset Sagu Unipa Papua Barat sebagai PUI Sagu, Konsorsium Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Sub Optimal Unsri Sumsel sebagai PUI Lahan Suboptimal, Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB Bogor sebagai PUI Hortikultura.

Menurut Menristek, penyebaran PUI yang merata di seluruh koridor ekonomi diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan masing-masing daerah, melalui pengembangan komoditas dari hulu hingga ke hilir. Penguasaan teknologi dan peningkatan daya saing daerah dan nasional akan terwujud, dengan dukungan pemerintah daerah dan sektor industri. “Untuk pimpinan daerah, saya menghimbau untuk mendukung pengembangan pusat unggulan iptek dan memanfaatkan pusat unggulan iptek yang ada bagi pengembangan perekonomian daerah. Saya juga mengajak industri untuk juga bekerjasama dengan lembaga litbang, menciptakan dan menggunakan produk dan teknologi hasil litbang dalam negeri yang inovatif, efektif dan efisien sehingga dapat memperkuat struktur dan daya saing ekonomi daerah dan nasional,” ujar Menristek.

Selain Menristek, turut hadir pada workhop tersebut, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi; Ketua Dewan Riset Nasional, Andrianto Handojo; Sekretaris Kementerian Ristek, Hari Purwanto; Deputi Bidang Kelembagaan Iptek, Mulyanto; Staf Ahli Menristek Bidang Pertanian dan Pangan, Benyamin Lakitan, dan Staf Khusus Menristek Bidang Daerah dan Media Massa, Gusti Nurpansyah. (munawir)

July 1, 2013

Indonesia Pimpin Pertemuan Iptek Dan Inovasi Strategis APEC

Kawasan Asia Pasifik yang strategis memungkinkan kawasan ini berpengaruh dan memainkan peran yang sangat penting dalam perekonomian global. Negara-negara di kawasan tersebut yang tergabung dalam Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) terus melakukan sinergi dalam berbagai bidang kerjasama untuk meningkatkan kapasitas masing-masing ekonomi anggota APEC dan kawasan secara keseluruhan. Khusus untuk bidang iptek, riset dan inovasi, pada tahun ini dibentuk APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI) yang dipimpin oleh Indonesia hingga tahun 2015.

Dalam rangkaian pertemuan APEC Senior Official Meeting 3 yang diselenggarakan di Medan sejak tanggal 22 Juni hingga 6 Juli 2013 mendatang, ekonomi anggota APEC PPSTI kembali melakukan pertemuan yang kedua pada tanggal 1-2 Juli 2013. Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, yang hadir membuka pertemuan tersebut menyampaikan bahwa pertemuan APEC PPSTI pertama di Surabaya pada April 2013 silam telah membentuk tiga sub-group yaitu Building Science Capacity (CAPACITY), Promoting an Enabling Environment for Innovation (INNOVATION), dan Enhancing Regional Science and Technology Connectivity (CONNECTIVITY). “Saya sangat senang dengan dibentuknya tiga sub-grup ini, karena ketiga aspek ini (Capacity, Innovation, Connectivity) adalah elemen yang penting bagi masing-masing ekonomi APEC maupun kawasan Asia Pasifik untuk membentuk karakternya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan regional,” ujar Menristek.

Menristek juga menambahkan bahwa bidang-bidang kerjasama yang telah diidentifikasi pada pertemuan PPSTI pertama yaitu : (i) Life Sciences, including Health, Medicine and Biotechnology; (ii) Alternative and Renewable Energy; (iii) Waste Water Management; (iv) ICT and Digital Divide issu; dan (v) Food and Agriculture, sejalan dengan beberapa bidang fokus pengembangan iptek di Indonesia, sehingga kesempatan Indonesia sebagai pemimpin APEC PPSTI perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan iptek nasional. “Saya berharap pertemuan ini dapat menghasilkan Rencana Aksi Strategis APEC PPSTI 2013 – 2015, meliputi pemilihan topik kerjasama regional, penyusunan rencana aksi, berdasarkan kelompok sub group (Capacity, Innovation, Connectivity) tersebut,” ujar Menristek.

APEC PPSTI yang merupakan transformasi dari APEC Industrial Science and Technology Working Group (APEC ISTWG) dibentuk untuk mendukung perkembangan kerjasama iptek di kawasan regional APEC, serta menentukan kebijakan inovasi regional dari masing-masing anggota APEC. Karena APEC PPSTI merupakan forum utama komunitas iptek APEC maka, forum ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama diantara ABG (academicians-business-government) dalam bidang iptek dan inovasi. PPSTI disarankan untuk melibatkan pihak swasta dari sejak awal penentuan rencana aksi, untuk mendukung penetrasi teknologi, diseminasi dan komersialisasi iptek di seluruh masyarakat APEC. (munawir)

Menristek Serukan Industri APEC Perkuat Kerjasama Litbang

Salah satu tantangan bersama yang dihadapi oleh anggota Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) adalah pencemaran dan kerusakan ekosistem laut. Pembuangan limbah secara illegal oleh pribadi maupun industri telah mengancam kelestarian lingkungan laut. polusi, penambangan, dan penangkapan ikan dengan cara yang salah juga dapat mengakibatkan rusaknya terumbu karang, terhambatnya pertumbuhan fitoplankton dan kerusakan biota laut lainnya. Dibutuhkan para peneliti yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk menyelesaikan berbagai masalah dan tantangan di bidang kelautan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, saat mengumumkan pemenang penghargaan The APEC Science Prize for Innovation, Research, and Education (ASPIRE) di Hotel Santika Dyandra Medan, Senin 1 Juli 2013. Penghargaan ASPIRE 2013 dimenangkan oleh Dr. Carissa Klein dari University of Queensland, Australia. Sebagai Ketua APEC tahun ini, Indonesia diminta menentukan tema dari kompetisi ini. ”Tahun ini kita memilih tema Pembangunan Kelautan Berkelanjutan (Sustainable Ocean Development), karena keinginan kita yang kuat mendorong ekonomi APEC yang lain untuk mencari solusi pembangunan kelautan yang berkelanjutan secara ekonomi dan mempertimbangkan aspek lingkungan hidup,” ujar Menristek.

Menristek juga mendorong APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI), agar pada tahun-tahun mendatang, industri yang menunjukkan komitmen berkolaborasi di bidang litbang iptek dan inovasi agar mendapatkan penghargaan dari APEC. "Saat ini APEC telah melahirkan banyak pemikir muda yang hebat. Kita butuh lebih banyak pelaku dengan memadukan tenaga kerja ilmiah kita dengan sektor bisnis dan industri. Dengan demikian, APEC akan menjalankan siklus penuh inovasi," ujar Menristek.

Carissa Klein mengungguli enam nominasi lainnya, yaitu Zhonghui Liu dari Hongkong, Tonni Agustiono Kurniawan dari Indonesia, Craig Radford dari Selandia Baru, Changxiang Yan dan Cina, Yeon-Ju Lee dari Korea, dan Demian Alexander Willette dari Amerika Serikat. Para nominasi ini dipilih dari kegiatan penelitian mereka yang unggul dan dibuktikan dengan banyaknya publikasi ilmiah internasional yang diterbitkan. Selain itu para nominasi juga melakukan kolaborasi dengan peneliti lain dari ekonomi anggota APEC. Penelitian yang dilakukan Carissa Klein telah membantu dua ekonomi APEC, yaitu Amerika Serikat dan Malaysia dalam melakukan zonasi spasial untuk kegiatan penangkapan ikan dan konservasi. “Orang sering melihat pengembangan kawasan laut yang dilindungi sebagai konflik kepentingan antara penangkapan ikan dan konservasi. Padahal kita dapat melakukan zonasi di laut untuk mempertemukan kebutuhan para pemangku kepentingan, baik itu industri perikanan, perusahaan pertambangan dan kelompok konservasi,” ujar Carissa.

Penghargaan ASPIRE  adalah penghargaan tahunan untuk para peneliti muda APEC yang masih berusia di bawah 40 tahun. Hadiah kepada pemenang sebesar 25.000 USD diberikan oleh publishers international dalam bidang iptek yaitu Wiley dan Elsevier. Sebelumnya, ASPIRE  dimenangkan Ali Javey dari Amerika Serikat (2011) dan Rossa Wai Kwun Chiu dari Hongkong, China (2012). Turut hadir menyaksikan penyerahan ASPIRE , Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dan Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman, selaku Chairman APEC PPSTI. (munawir)

June 30, 2013

E-TICKETING CL

Sebelum e-ticketing Commuter Line diterapkan per 1 Juni 2013, saya biasanya memarkir motor di salah satu rumah warga di belakang Pasar Serpong, tepat disamping pagar Stasiun KA Serpong. Dengan begitu, saya tinggal menyusuri rel sepanjang 50 meter dan membeli tiket pada petugas di ujung peron. Ga perlu capek-capek lagi naik tangga ke stasiun Serpong dan ngantri tiket. Perjalanan juga jadi lebih singkat, hanya 10 menit dari rumah, jauh lebih cepat dibandingkan saya parkir di stasiun Serpong, karena harus melewati Pasar Serpong yang macetnya ga bisa diprediksi. Dengan adanya e-ticketing, mau ga mau saya harus kembali parkir di Stasiun Serpong.

Pada stiker sosialiasi e-ticketing yang ditempel di dalam gerbong, dijelaskan bahwa di loket pembelian tiket, penumpang tinggal menyebutkan stasiun tujuan ke petugas, dan tiket akan keluar dari dispenser. Tiket yang bentuknya seperti kartu ATM tersebut kemudian ditempelkan ke pemindai yang ada di depan gate. Bila lampu di gate sudah berwarna hijau, penumpang bisa masuk dengan mendorong barrier yang ada pada gate. Selama perjalanan, ada petugas yang akan memeriksa secara manual atau menggunakan portable scanner. Begitu tiba di stasiun tujuan, tiket dimasukkan ke dalam alat yang ada pada pintu keluar. Kalau tarif progresif sudah diterapkan, tiket akan ditolak alat tersebut bila stasiun tempat penumpang turun berbeda dengan stasiun tujuan yang disebutkan saat membeli tiket.

Namun, sampai hari ini, alur e-ticketing seperti disebutkan di atas belum 100 persen diterapkan. Kadang di stasiun tujuan, tiket diserahkan langsung kepada petugas yg berjaga di pintu keluar. Entah apakah alat e-ticketingnya lagi error atau sengaja digituin supaya penumpang tidak menumpuk dan berdesak-desakan di pintu keluar. Memang dengan sistem e-ticketing, butuh waktu yang lebih lama karena penumpang harus menunggu lampu hijau untuk bisa keluar. Bayangkan kalo di waktu yang bersamaan, ratusan penumpang buru-buru pengen keluar sementara gate yang tersedia kurang dari 5 buah. 

Sampai kemarin pun, dari stasiun Tana Abang ke stasiun Serpong, masih menggunakan tiket cetak (karcis). Entah kenapa blum menggunakan e-ticketing. Kita berdoa aja semoga sistem e-ticketing ini merupakan awal dari perbaikan pelayanan Commuter Line. Syukur-syukur bisa senyaman subway di Eropa, atau ga usah jauh-jauh deh, bisa senyaman transport publik di Malaysia dan Singapura aja udah cukup menggembirakan.

June 27, 2013

Hikmah Dibalik Musibah

Abis sholat magrib, saya terima pesan BBM dari sepupu di Makassar yg memberi kabar kalau sepupuku (Kak Ulla) yang tinggal di Pamulang, mengalami kecelakaan lalu lintas. Kabar itu cukup mengagetkan karena katanya Kak Ulla dalam kondisi kritis dan belum sadar. Saya pun menghubungi nomor handphone Kak Ulla dan diangkat oleh Dani. Saya mulai tenang saat Dani bilang Kak Ulla sudah sadar dan sedang CT Scan di RS. Sari Asih Ciputat. 

Saat menuju RS Sari Asih, saya berpapasan dengan ambulance yg mengangkut Kak Ulla ke RSUD Tangerang Selatan. Saya pun banting setir ke RSUD Tangerang Selatan dan langsung menuju ruang UGD yang terdapat di Gedung 1. Di ruangan tersebut suasana sangat ramai, dan Kak Ulla masih belum mendapat tindakan lanjutan. Dokter jaga meminta pengertian keluarga pasien karena jumlah tenaga medis yang bertugas malam itu tidak seimbang dengan jumlah pasien. Pasien menumpuk di UGD karena ruang perawatan semuanya penuh. Walau RSUD ini terbilang baru dan besar, namun tidak dapat menampung semua pasien rujukan. Gedung 2 dan Gedung 3 juga masih dalam proses pembangunan.   

Dari hasil CT Scan Kak Ulla, disebutkan bahwa tidak tampak fraktur/pendarahan intrakranial, namun terdapat pendarahan sinuses maksilaris -ethmoidalis (cavum nasi) dan  Fraktur dinding sinus maksilaris, orbita dan cavum nasi bilateral. Dokter juga bilang  terdapat hematoma jaringan lunak orbita-infraorbita bilateral dan Emfisema subkutis infraorbita kiri. Selain luka-luka di area kepala, tangan kanan juga mengalami patah dan harus dibedah untuk memasang plat. 

Saya menghubungi salah satu penumpang mobil Carry yang bertabrakan dengan motor kak Ulla. Menurut info dari Ibu tersebut, Kak Ulla waktu kecelakaan terjadi berupaya menyalip kendaraan di depannya tanpa menyadari ada kendaraan lain dari depan. Benturan keras menyebabkan Kak Ulla tidak sadar sampai tiba di rumah sakit.

Karena adanya musibah ini, keluarga yang berdomisili di Serpong  berkumpul di RSUD menjaga Kak Ulla sambil menunggu istrinya datang dari Balikpapan. Lucunya kami malah dapat info musibah ini bukan dari polisi atau RS setempat tapi dari rumah masing-masing di daerah. Saya dapat info dari Makassar, Dani dapat info dari Balikpapan dan Iccang dapat info dari Sinjai. Salah satu hikmahnya berkumpul di RSUD mungkin untuk menyambung silaturrahim. Walaupun kami tinggal di kawasan yang sama di sekitar Puspiptek, namun sangat jarang sekali saya bisa bertemu dengan sepupu dan ponakan saya itu.

Hikmah kedua, jadi makin nyadar untuk lebih berhati-hati dalam berkendara. Salah perhitungan dan ugal-ugalan bisa berdampak celaka yang cukup parah. Yang namanya musibah, tidak bisa kita prediksi datangnya. Mungkin kita sudah berhati-hati dan mematuhi peraturan lalu lintas, namun perilaku ugal-ugalan orang lain juga dapat membuat kita celaka. Sebaiknya kita memang selalu bermunajat kepada Allah untuk menjauhkan segala bentuk musibah dan celaka pada diri kita. La haula wala quwwata illa billah...

June 23, 2013

Menristek Pantau Penyaluran BLSM Di Banjarmasin

Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM secara serentak dibagikan kepada Rumah Tangga Sasaran. Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, memantau langsung penyaluran BLSM di Kantor Pos Banjarmasin, Sabtu pagi, 22 Juni 2013.

Tiga tenda besar dan ratusan kursi disiapkan di halaman Kantor Pos Banjarmasin untuk melayani masyarakat penerima BLSM. Tidak tampak antrian panjang di depan 4 loket yang telah buka sejam pukul 07.00 pagi. Untuk pembayaran tahap pertama hari ini, 628 warga dari 4 kelurahan, yaitu Kampung Melayu, Pasar Lama, Seberang Masjid, dan Pekapuran Laut dijadwalkan menerima BLSM hari ini. Menurut Kepala Kantor Pos Banjarmasin, Edi Suharto, loket BLSM sengaja ditempatkan di halaman kantor, agar tidak mengganggu pelayanan reguler Kantor Pos.

Setelah berdialog dengan masyarakat penerima BLSM, Menristek menegaskan bahwa program BLSM ini disalurkan agar masyarakat miskin tidak terlalu merasakan dampak kenaikan harga BBM. Menurut Menristek, selain program BLSM ini, pemerintah juga telah melaksanakan program-program lain untuk masyarakat yang kurang mampu. "Selain BLSM yang bersifat sementara ini, pemerintah terus melaksanakan program Raskin, Bantuan Siswa Miskin (BSM), dan Program Keluarga Harapan (PKH)," ujar Menristek.

Menristek juga memantau langsung data realisasi penyaluran BLSM secara nasional dan realtime melalui sistem teknologi informasi berbasis web yang dikembangkan oleh PT. Pos Indonesia. Data setiap pembayaran BLSM langsung terekam oleh sistem dan terintegrasi secara nasional. "Teknologi Informasi yang digunakan PT Pos Indonesia dalam menyalurkan BLSM ini sangat bagus sekali, data realisasi penyaluran BLSM dapat dipantau secara realtime seluruh Indonesia, sehingga pusat tidak perlu lagi meminta data ke daerah," ujar Menristek.

Teknologi informasi yang dikembangkan oleh PT Pos Indonesia adalah Aplikasi Fund Distribution. Menurut Edi Prayitno, Kepala Area Teknologi Informasi Wilayah Kalimantan PT Pos Indonesia, selain untuk menyalurkan BLSM, aplikasi ini juga digunakan untuk menyalurkan program bantuan pemerintah lainnya, seperti program BSM dan PKH. Selain memudahkan penyaluran BLSM, aplikasi ini juga untuk mencegah penyimpangan dalam penyaluran. “Masyarakat juga dapat memantau langsung melalui website www.kompensasi.info," ujar Edi.

Turut mendampingi Menristek memantau penyaluran BLSM, Kepala Area Rite dan Properti PT Pos Indonesia Kantor Area IX Kalimantan, Akhmad Fauzi; Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenristek, Dadit Herdikiagung; dan Kabag Humas dan Protokol Kemenristek, Qiqi Asmara. (munawir)

June 21, 2013

RISTEKGAUL

Pertengahan tahun 2010, saya pindah unit kerja dari bagian kerjasama internasional ke bagian Hubungan Masyarakat. Di tempat yang baru, salah satu tugas utama saya adalah meliput kegiatan-kegiatan Kementerian dan dimuat di website. 

Waktu itu saya merasa, tidak banyak orang yang membaca berita yang saya buat, karena yang orang yang niat berkunjung ke website Ristek biasanya memang mencari informasi yang spesifik, bukan sekedar membaca-baca berita yang ada. Saya mulai berfikir untuk membuat feeding baik itu dengan RSS atau cara lain, untuk meningkatkan traffic pembaca berita di website ristek. 

Saya akhirnya memilih untuk membuat akun Facebook Page dan Twitter untuk Kementerian. Setiap berita baru yang tayang di website Ristek, saya share melalui Facebook yang paralel dengan akun twitter. Awalnya kedua akun tersebut saya promosikan kepada teman-teman yang sudah connected dengan saya di kedua socmed tersebut. Alhamdulillah dalam waktu sebulan, fans dan followernya sudah ratusan orang. 

Nama URL facebook dan akun twitternya "ristekgaul", sebenarnya pengennya pake nama akun "ristek" aja, tapi ternyata akun tersebut sudah tidak available lg di twitter. Akhirnya saya pilih nama akun "@ristekgaul", mengikuti nama grup milis internal pegawai Ristek. Nama milis ini sendiri sudah ada sejak Menristek masih dijabat pak Kusmayanto Kadiman (KK). Konon pak KK sendirilah yang memberikan nama "ristekgaul" tersebut.

Pada tahun 2011, mulailah kedua akun tersebut dipromosikan. Awalnya melalui banner di website, dan kemudian berlanjut ke seluruh jenis publikasi di media massa, mulai dari display di majalah, poster, hingga billboard. Bahkan dalam beberapa program tayangan Ristek di televisi, nama akun FB dan twiiter "@ristekgaul" dipromosikan melalui runningtext.   

Sejak itu jumlah fans dan followers "@ristekgaul" kian meningkat. Kami kadang kewalahan untuk merespon komentar dan pertanyaan melalui FB dan twitter tersebut. Di FB, pada umumnya mengomentari foto dan berita yang kita share. Ada juga yang bertanya tentang beasiswa, info magang, sampai penerimaan cpns. Tidak sedikit juga yang mempromosikan hasil karya inovasi yang mereka buat dan meminta insentif untuk mengembangkannya lebih lanjut. 
   
Sedangkan di twitter, kebanyakan followers "@ristekgaul" meretweet berita dan informasi yang mereka anggap menarik. Tidak sedikit juga followers yang mention kita karena merasa geli dan protes dengan nama akun "@ristekgaul". Ada yg bilang alay-lah, absurdlah, Gejelah, hehehehe. Bagi saya yang penting informasi yang kami sampaikan melalui kedua akun tersebut bermanfaat bagi pembacanya. Bahkan nama akun "ristekgaul", juga saya jadikan nama channel video-video Ristek di Youtube. So, buat yang belum follow kita, silahkan klik
www.facebook.com/ristekgaul
www.twitter.com/ristekgaul
www.youtube.com/ristekgaul

Semangat pagi :)

June 12, 2013

Peran Standar dan Akreditasi dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa

Daya saing sebuah bangsa, dalam konteks globalisasi atau regional dapat dipahami sebagai kemampuan sebuah bangsa untuk dapat diterima sebagai pemain dalam rantai produksi dan transaksi global dan regional. Untuk dapat bersaing dalam rantai produksi dan transaksi global maupun regional, sebuah bangsa harus mampu memenuhi persyaratan-persyaratan produksi dan transaksi yang diatur dalam pasar global dan yang ditetapkan dalam standard Internasional maupun regional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta saat membuka Pertemuan Teknis Laboratorium, Lembaga Inspeksi dan Lembaga Sertifikasi Terakreditasi di Auditorium Badan Standardisasi Nasional (BSN), pada Selasa, 11 Juni 2013. Kegiatan yang mengambil tema “Peranan Akreditasi dalam Memfasilitasi Perdagangan dan Skema Penilaian Kesesuaian Dalam Penguatan Daya Saing Perekonomian” tersebut diselenggarakan bersama oleh BSN dan Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Lebih lanjut Mennegristek menegaskan, globalisasi dan regionalisasi perdagangan merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh seluruh bangsa di dunia. Bangsa yang berdaya saing akan mampu memperoleh manfaat yang besar untuk meningkatkan kesejahteraannya, dan sebaliknya bangsa yang tidak mampu meningkatkan daya saingnya akan menjadi korban dan hanya menjadi penonton tanpa memperoleh keuntungan ekonomi dari segala potensi perdagangan global tersebut. Menurut Mennegristek, sebelum bersaing di tingkat regional maupun global, persaingan di tingkat nasional perlu dimenangkan terlebih dahulu. “Untuk memenangkan persaingan di tingkat nasional, produk (berupa barang, jasa, proses, dan sumberdaya manusia), harus dinilai kesesuaiannya dengan standard. Disinilah kita perlu standard yang baik dan perlu lembaga penilai kesesuaian standard yang terakreditasi, baik laboratorium, lembaga inspeksi, dan lembaga sertifikasi,” ujar Mennegristek.

Kegiatan pertemuan teknis yang dihadiri kurang lebih 900 orang stakeholder dari Sabang sampai Merauke tersebut diselenggarakan dengan landasan beberapa pemikiran diantaranya pentingnya strategi dalam menghadapi berbagai zona perdagangan bebas dimana akreditasi sangat berperan dalam menentukan strategi tersebut. (munawir)

June 10, 2013

Kepala Tiga

Kalo saya mengumumkan kalo hari ini saya baru menginjak usia 30 tahun, saya yakin banyak yg akan bereaksi seperti ini... "masa sih..?", "sumpe lo...?", "ah yang bener aja wi"... Reaksi seperti itu sudah lazim saya terima bahkan sejak usia 25 tahun. Banyak orang menyangka saya (jauh) lebih tua dari usia yg sesungguhnya. Katanya sih karena emang tampang saya dah terlihat tua, ada yg bilang karena saya melihara jenggot, ada yg bilang krn saya dah punya dua anak yg mulai gede. Temen saya dari Mongolia berpendapat saya nampak lebih tua karena perut saya buncit... Thanks dah... -_-" 

Tapi yg ini beneran lo, hari ini hari jadi saya yang ke-30 kalo dihitung berdasarkan kalender masehi. Kalo berdasarkan kalender hijriyah, ulang tahun saya sekitar 3 minggu lagi, tepatnya 28 Sya'ban. SMS pertama saya terima pagi ini tentu saja dari mama yg mendoakan saya menjadi lebih baik dan dan bisa dijadikan panutan dan kebanggaan. Kata mama, Umur tdk bertambah tp semakin berkurang. Mama jg berpesan agar saya berusaha menjadi yang terbaik bagi keluarga.. Makasih doanya ma, aamin allahumma aamiin. 

Harapan jangka pendek, tesis saya cepat kelar dan diet saya sukses. Kalo untuk jangka panjang, banyak banget yang saya inginkan, mulai dari menjadi expert di bidang PR, menguasai banyak bahasa asing, dan hapal Al-Qur'an (aamiin). 

Tidak ada pernah kata terlambat, man jadda wajada, man shabara zhafira, man saara 'alad darbi wasala. Aamiin.

May 21, 2013

SNI untuk Sirine Peringatan Dini Tsunami akan Ditetapkan

Pada tahun 2006, setelah terjadinya bencana tsunami di Pangandaran, Pemerintah Kabupaten Bantul bersama dengan beberapa elemen masyarakat telah menginisiasi pembangunan alat penyebaran peringatan dini tsunami berupa sirine yang dipasang pada garis pantai di Kabupaten Bantul  yang membentang sepanjang 13,7 KM. Hingga saat ini total 32 unit sirine telah dipasang dan terpadu dengan sistem pengeras suara di masjid, gereja dan fasilitas umum lainnya.

Hal itu disampaikan, Bupati Bantul, Ibu Sri Surya Widati, sesaat sebelum menyerahkan rumusan konsep SNI untuk Sirine Peringatan Dini Tsunami kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menegristek), Gusti Muhammad Hatta, di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Senin 20 Mei 2013. Menurut Sri, sistem peringatan dini tsunami dengan sirine tersebut yang merupakan hasil inovasi dan kreativitas masyarakat, telah berfungsi dengan baik saat diuji pada kegiatan tsunami drill yang didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Sistem tersebut juga telah direplikasi di beberapa daerah lain, seperti Purworejo, Kebumen, Cilacap dan Ciamis. “Oleh karena itu, kami mendorong agar hasil inovasi masyarakat yang berbasis kearifan lokal dapat berkembang menjadi industri yang berdaya saing, sehingga perlu dibuat standar nasional (SNI)  untuk sirine ini”, ujar Sri Surya Widati.

Sementara itu, Menurut Menegristek, sejak Tahun 2008, Presiden telah meresmikan Sistem Peringatan Dini Tsunami, dimana potensi bencana tsunami sudah dapat diketahui paling lama 5 menit setelah terjadinya gempa. Namun, tambah Menegristek, yang peringatan dini ini perlu ditunjang sistem penyebaran peringatan dini yang sifatnya menjangkau masyarakat di daerah rawan bencana, seperti sistem sirine yang dibuat oleh masyarakat Bantul. “Saya sangat senang dan mendorong sistem ini untuk menjadi Standar Nasional, karena merupakan karya anak bangsa dan dibuat dari bahan lokal dari dalam negeri”, Ujar Mennegristek.

Lebih lanjut Menegristek menyampaikan, berdasarkan data dari Badan Informasi Geospasial (BIG) sejak 2006 lalu, Indonesia mempunyai garis pantai 104 ribu kilometer. Dengan panjang ini, Indonesia merupakan negara ke-empat setelah Amerika Serikat, Kanada dan Rusia. Para ahli memperkirakan separuh pesisir pantai Indonesia, berarti sekitar 52 ribu kilometer, rawan tsunami. Sirine di tingkat lokal yang dibahas mempunyai radius daya pancar sekitar 200 meter. Hal ini berarti diperlukan sekitar130 ribu unit sirine di sepanjang pantai Indonesia yang rawan tsunami. Bila harga tiap sirine ini Rp. 20 juta, maka tidak kurang dari Rp. 2,2 trilyun harus disediakan untuk keperluan melindungi masyarakat dari ancaman bencana tsunami. SNI diperlukan agar sistem sirine sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi lokal sehingga kebutuhan sistem sirine yang besar dapat dipenuhi dari industri dalam negeri. (munawir)

Menristek Luncurkan Ujicoba Prototipe Bus Listrik

Pengembangan mobil hibrida dan mobil listrik merupakan visi yang telah dibangun Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika mengambil inisiatif menjadi tuan rumah UN Climate Change Conferentce di Bali pada 2007. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan perlunya percepatan pengembangan mobil ramah lingkungan untuk mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17 tahun lalu, Presiden kembali meminta Kementerian Riset dan Teknologi dan pihak terkait lainnya untuk membuat kendaraan yang ramah lingkungan, dengan istilah Low Cost Green Car dan lebih ditekankan kepada angkutan publik. Bus Listrik buatan LIPI merupakan salah satu wujud dari kendaraan ramah lingkungan tersebut.

Hal itu disampaikan Menegristek, Gusti Muhammad Hatta, saat memberikan sambutan pada acara Peluncuran Uji Coba Prototipe Bus Listrik di Taman Pintar Yogkarta, Senin, 20 Mei 2013. Menurut Menegristek, bus listrik bisa menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran udara, “Di Jakarta, 40 persen pencemaran udara berasal dari transportasi. Penggunaan bus litrik yang bebas emisi akan membantu menjaga kualitas udara di Yogyakarta”, ujar Menegristek.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan bahwa Pemda DIY menyambut baik dan mengapresiasi  ujicoba prototipe riset bus listrik ini. Menurut Sri Sultan, kemacetan telah menjadi masalah dalam transportasi yang serius di Yogyakarta. Setiap bulannya terjadi penambahan 200-300 mobil dan 6000 sepeda motor yang tidak seimbang dengan pertumbuhan infrastruktur jalan. “Oleh karena itu, penggunaan bus listrik  diharapkan dapat menjadi solusi transportasi massal di Jogjakarta”, ujar Sri Sultan.

Sri Sultan menjelaskan beberapa keunggulan bus listrik,  yaitu tidak memiliki emisi gas buang, tidak bising seperti mesin diesel, sehingga merupakan alat angkut yang ramah lingkungan. Bus Listrik juga hemat dalam penggunaan bahan bakar karena konsumsi listrik sesuai dengan pola gerak kendaraan. Sri Sultan berharap, Ujicoba prototipe bus listrik di Yogyakarta bisa memberikan umpan balik positif bagi pengembangan program mobil listrik, yang saat ini telah masuk kedalam tahap riset dan ujicoba protitipe, penyiapan regulasi dan identifikasi sektor industri.  

Selama masa ujicoba beberapa bulan kedepan, Bus listrik LIPI yang menggunakan tenaga baterai dan berkapasitas 12 orang tersebut akan melayani wisatawan yang ingin berkeliling di seputar kawasan keraton dan alun-alun DIY, tanpa dipungut biaya. Tempat pengisian (Charging Point) daya baterai bus Listrik telah disiapkan PT. PLN dan ditempatkan di Terminal Penumpang Giwangan dan Taman Pintar yang juga menjadi pickup point untuk penumpang bus.

Sebelum peluncuran ujicoba oleh Menegristek, Gubernur DIY dan Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, terlebih dahulu ditandatangi Kesepakatan bersama antara Kementerian Ristek dan Pemkot Yogyakarta terkait program ini. Turut hadir dalam acara ini, Sekretaris Kementerian Ristek, Hari Purwanto; Deputi Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman; kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar, Kepala BATAN, Djarot S. Wisnubroto;  Kepala BSN, Bambang Prasetya dan Wakil Ketua LIPI, Djusman Sajuti. (munawir)

May 3, 2013

Ngejar Bahan Tesis di UNJ

Jadi ceritanya begini, awalnya tuh karena proposal tesis saya belum di ACC oleh Prof. Azhar Kasim, dosen pembimbing saya. Menurut beliau, saya musti mengganti paradigma penelitian saya menjadi positivis atau post-positivis, yg sebelumnya menggunakan pendekatan kualitatif.

Saya pun browsing sana-sini mencari karya ilmiah lain yg topiknya sama, yaitu evaluasi program sosialisasi dengan model CIPP dan menggunakan pendekatan positivis. Sebenarnya udah nemu beberapa yg topiknya sama, tapi kok ya rasanya hati nih belum sreg kalo musti pake paradigma positivis. Saya cari lagi tesis/disertasi yang menggunakan model CIPP dan akhirnya nemu berita di Antara, kalo bulan Maret kemaren, Ibu Andi Nurpati baru promosi Doktor di UNJ dengan disertasi yang mengangkat topik evaluasi program sosialisasi pemilu 2009 di KPU, dgn menggunakan model CIPP dan pembahasan yang deskriptif analitis.

Senangnya bukan kepalang, bagai musafir nemu oase di tengah sahara.. Hehehe... Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi Ibu Andi Nurpati via sms dan twitter untuk meminta salinan disertasi beliau untuk saya jadikan tinjauan pustaka. Alhamdulillah Ibu Andi Nurpati membalas twit saya dan meminta alamat email saya. Tak lama setelah saya membalas twit ibu Andi Nurpati, beliau twit lg menginfokan kalau disertasi beliau juga bisa saya dapatkan di UPT Perpustakaan UNJ dan Perpustakaan Pasca Sarjana UNJ. Saya paham, dengan kesibukan beliau yang luar biasa padat, mungkin sulit bagi beliau untuk segera mengirimkan disertasi beliau melalui email.

Keesokan harinya alias hari ini, saya pun langsung menuju kampus UNJ. Tak lupa terlebih dahulu saya menghubungi Pak Wandi, rekan sesama peserta diklatpim tahun lalu yg bertugas sebagai Kasubbag Umum di FT UNJ, berharap bisa bersua walau sebentar demi silaturrahim. Walau masih tanggal muda, namun kantong tua, akhirnya saya milih naik bus aja, ga naik taksi atau ojek.

Pukul 09.45, dari perempatan Kebon Sirih (BI), saya naek bus Kopaja 502 tujuan Kampung Melayu dan turun di perempatan Matraman. Sebelum turun, saya nanya keneknya, kalo mo ke UNJ naek bus apa. Keneknya bilang naek Metro Mini 49 aja. Saya pun nurutin sarannya bapak kenek itu, ga lama nunggu bus 49nya datang. Agak aneh rasanya dah lama duduk tapi kali ini ga ada kenek yg nagih ongkos, eh ternyata bayar ongkosnya langsung ke pak supir... Pendapatannya pasti lebih gede karena ga musti ngupah kenek.

Tapi sepertinya saya salah naek bus deh, karena bus 49 ini malah putar balik di Utan Kayu.  saya memilih turun di deket halte busway dan baru ngeh kalo dari utan kayu ke UNJ bisa naik Trans Jakarta. Dodol yak, kenapa ga naik Trans Jakarta aja dari Perempatan Matraman tadi. Ga nyampe 10 menit kemudian, saya dah tiba di kampus UNJ dengan Trans Jakarta. ada sesuatu yang menarik di halte busway, yaitu layar informasi kedatangan armada TransJakarta berikut posisi realtimenya. Namun sayangnya informasi yang muncul di layar tidak akurat, bus TJ dari arah Matraman yang katanya bakal datang semenit lagi ga nongol-nongol. Bus dari arah sebaliknya malah udah datang padahal di layar tersebut infonya baru datang 6 menit kemudian. Yah maklum aja deh.

Baru kali ini nginjak kampus UNJ, suasana di dalamnya beda ama UNHAS dan UI yang lebih luas dan banyak pohon serta ada danaunya, di kampus ini terasa lebih crowded. saya langsung menuju UPT Perpustakaan. Ruangan penyimpan disertasi ada di lantai 6, terlebih dahulu naik tangga ke lantai 2 dan dari sana menggunakan lift menuju lantai 6. Khusus untuk pengunjung non civitas akademika UNJ, wajib membayar tiga ribu rupiah, entahlah apakah pembayaran ini termasuk PNBP atau tidak, yang jelas di kwitansinya ga ada nomer seri.

Begitu tiba di lantai 6, petugas mempersilahkan saya mencari terlebih dahulu di katalog yang menggunakan program komputer. agak kagok juga karena applikasi katalognya masih menggunakan program DOS dan bener-bener mouseless hehehe... setelah dicari-cari, disertasi ibu Andi Nurpati ga nemu juga, mungkin karena masih baru, jadi belum masuk koleksi UPT Perpustakaan. Yo wes saya pun ke perpustakaan Pascasarjana UNJ untuk melanjutkan pencarian.

Sayangnya, pengunjung yang bukan anggota perpustakaan Pascasarjana tidak bisa mengakses koleksi literatur di perpustakaan tersebut. petugasnya bilang saya harus bawa surat pengantar dari kantor... eh cape deh. kalopun bisa ngakses, tuh disertasi cuman bisa saya baca di tempat, ga bisa difotocopy atau dipimnjem. petugasnya juga nginfoin kalo disertasi bu Andi Nurpati blum keindeks karena masih baru... fyuh...

Akhirnya kuputuskan pulang aja, sebelumnya mampir dulu ke FT UNJ, sayangnya pak Wandi masih rapat jadi ga sempat silaturrahim. Beliau mau bantu untuk copy-in disertasi yang saya cari kalau sudah ada di perpustakaan. tapi keknya bakal lama kalo nunggu tuh disertasi masuk perpustakaan UNJ. pukul 11.15 saya naik busway menuju Dukuh Atas, dari situ pindah koridor 1 dan turun di halte Sarinah.  Pukul 12.00 saya dah nyampe kantor dan ga telat sholat Juma'at alhamdulilah.

Jadi kesimpulannya gini, keuntungan naik public transport itu sebagai berikut :
1. Cepet : buktinya dari UNJ ke kantor cuman butuh 45 menit pake Trans Jakarta. coba kalo nyetir atau naik taksi, pasti lebih lama karena macet. seharusnya bisa lebih cepat dari 45 menit, tapi di depan Pasaraya Manggarai agak tersendat karena banyak mobil masuk ke jalur busway.
2. Murah : total ongkos yang keluar dari kantor di Thamrin menuju kampus UNJ di Rawamangun pulang pergi hanya 11 ribu rupiah. harusnya sih 9 ribu aja karena yang 2 ribu itu untuk bayar pas saya salah naik bus Metro Mini 49. coba kalo naik taksi, 11 ribu paling nyampe Tugu Tani doang. 
3. Sehat : pindah koridor busway di Dukuh Atas itu sesuatu banget, jalan dari Halte Dukuh Atas 2 ke Halte Dukuh Atas lumayan bakar kalori. tapi buat yang jarang jalan kek saya bisa pegel juga, pas naek Trans Jakarta nih betis langsung keram hehehehe
4. Nyaman : naik Trans Jakarta lumayan nyaman kalo ga terlalu padet kek tadi, alhamdulillah masih dapat duduk dan masih bisa ngetik postingan ini. sebagian besar thread ini saya ketik di BB di dalam Trans Jakarta, di perjalanan dari kampus UNJ menuju Sarinah. Yang ga nyaman ya pas naek Kopaja 502 ama Metro Mini 49 tadi, ga ada AC jadinya keringetan gimana gitu. Masalah keamanan juga blum terjamin, tahun 2010 silam BB saya pernah dicopet di Kopaja 502.

Udah dulu ah, lumayan deh ngapus kangen ngeblog... hehehe....  


April 18, 2013

Penyusunan Agenda Aksi Menuju RB70

Ada tiga hal positif dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Kementerian Riset dan Teknologi. Yang pertama adalah telah diterapkannya Sistem Penilaian Kinerja Individu Kementerian Ristek yang dikenal dengan nama SiPekik. Yang kedua adalah telah diterapkannya sistem penilaian mandiri (self assessment) oleh Kementerian Ristek,  dan yang ketiga adalah adanya Rencana Aksi Reformasi Birokrasi di unit kerja tingkat Eselon I.

Hal tersebut disampaikan Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta, saat membuka Rapat Koordinasi Reformasi Birokrasi (Rakor RB) Tahun 2013 yang diselenggarakan di Auditorium Graha Widya Bakti Puspiptek Serpong, pada Kamis, 18 April 2013. Rakor RB yang  mengambil tema “Menuju Ristek Berkinerja Tinggi, akuntabel dan berintegritas” tersebut dihadiri oleh seluruh pejabat eselon I hingga IV di lingkungan Kementerian Ristek.

Lebih lanjut Mennegristek berpesan kepada peserta Rakor untuk terus melakukan evaluasi internal secara objektif pada pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Kementerian Ristek, agar hasil evaluasi tersebut selaras dengan penilaian yang dilakukan oleh pihak eksternal. Mennegristek berharap agar komitmen masing-masing individu di Kementerian Ristek tetap dijaga dalam menjalankan program Reformasi Birokrasi. ”Intinya adalah komitmen kita dari dalam diri masing-masing. Mari kita sama-sama berjuang agar target pelaksanaan 70 persen Reformasi Birokrasi dapat tercapai tahun ini”, ujar Mennegristek.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Riset dan Teknologi, Mulyanto melaporkan bahwa penyelenggaraan Rakor RB dirancang untuk menindaklanjuti Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) yang telah dilaporkan kepada Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang saat ini telah mencapai nilai 68 persen. Dari hasil penilaian tersebut, dilakukan pemetaan terhadap kriteria penilaian yang masih perlu ditingkatkan melalui penyusunan agenda aksi di masing-masing unit kerja tingkat Eselon I. “Bila agenda aksi tersebut dilaksanakan dengan baik, maka nilai 68 persen dapat ditingkatkan. Melihat semangat kita semua, saya yakin pencapaian kita lebih dari target 70 persen yang kita tetapkan tahun ini”, ujar Mulyanto.

Rakor RB ini akan diselenggarakan selama dua hari, dalam bentuk sidan pleno dan siding komisi.Pada sidang pleno akan dipaparkan dan didiskusikan hasil penilaian PMPRB tingkat Kementerian maupun tiap unit kerja. Sedangkan Sidang komisi akan dilakukan secara paralel untuk membahas topik-topik spesifik di setiap unit kerja Eselon I dan menyusun agenda aksi RB 2013. (munawir)

April 17, 2013

Bangka Botanical Garden, Dari Ancaman Menjadi Peluang

Selain menyampaikan ceramah umum di depan masyarakat Bangka Belitung, Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta melengkapi kedatangannya ke provinsi ini dengan berkunjung ke Bangka Botanical Garden (BBG), pada hari Senin, 15 April 2013. BBG merupakan kawasan seluas 300 hektar yang menjadi ikon agrowisata di Bangka Belitung, yang memadukan pertanian, peternakan dan perikanan.

Awalnya kawasan ini merupakan bekas galian tambang timah yang kemudian direstorasi oleh PT. Dona Kembara Jaya sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR). Johan Riduan Hassan, pemilik PT. Dona Kembara Jaya bahkan mendapat penghargaan Kalpataru pada tahun 2010 atas usahanya yang dikenal dengan slogan “Bangka Goes Green” tersebut.

Johan mengungkapkan ada empat tujuan pengembangan kawasan BBG sebagai paru-paru kota Pangkalpinang ini. Yaitu sebagai tempat penelitian lingkungan, sarana edukasi perbaikan lingkungan, wahana olahraga dan hobby (pemancingan, jogging track, sepeda, dan fotografi), serta lahan pendapatan bagi karyawan dan masyarakat sekitar. Berbagai aktivitas pertanian, peternakan dan perikanan di kawasan ini memang telah memberikan keuntungan secara finansial. Produksi buah naga sekitar 5 ton dalam 3 bulan terakhir mampu membiayai sebagian operasional kawasan ini. Produksi susu sapi saat ini yang mencapa 200-300 liter per hari juga akan ditingkatkan menjadi 500-1000 liter perhari. Penjualan hasil sayuran juga menerapkan sistem bagi hasil dengan petani setempat. “Banyak orang beranggapan memperbaiki lingkungan akan menghabiskan uang yang banyak, tapi disini kami membuktikan sebaliknya. Memperbaiki lingkungan adalah profit center, bukan cost center”, ujar Johan.

Mennegristek mengaku senang dengan konsep restorasi bekas lahan galian tambang timah menjadi kawasan botanical garden. Mennegristek berharap, konsep ini dapat dicontoh oleh perusahaan tambang lainnya di Indonesia sebagai bentuk tanggung jawab memelihara lingkungan. “lahan yang tadinya gersang, bisa menjadi kawasan agro yang terintegrasi dan menghasilkan pendapatan bagi pengelola dan masyarakat sekitar. BBG telah berhasil mengubah ancaman dan tantangan menjadi peluang”, ujar Mennegristek.

Pada kesempatan tersebut, Mennegristek beserta rombongan meninjau berbagai fasilitas di kawasan BBG, mulai dari peternakan sapi, kebun buah naga dan kebun kurma.  (munawir)

Ceramah Umum Mennegristek di Bangka Belitung

Nilai ekonomi dari berbagai komoditi sumber daya alam cenderung mengalami penurunan relatif terhadap nilai ekonomi produk-produk teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan serta meningkatkan taraf hidup masyarakat. Oleh karena itu, Indonesia perlu menggeser sumber ekspor dari komoditas dan produksi biaya rendah menuju produk bernilai tambah tinggi, dan inovasi memainkan peran besar dalam mempercepat proses transformasi iniuntuk meningkatkan produktivitas ekonomi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta saat menyampaikan ceramah umum tentang implementasi pilar ketiga Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesa (MP3EI) dan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) di depan masyarakat Bangka Belitung di Hotel Aston Soll Marina Pangkalpinang, pada hari Senin, 15 April 2015. Menurut Mennegristek pendekatan pemanfaatan inovasi dapat dilakukan secara lebih terintegrasi di tingkat daerah dalam bentuk SIDa yang mendukung implementasi MP3EI.

Mennegristek menambahkan, bahwa melalui SIDa, diharapkan terbentuk jejaring atau interaksi dan sinergi antar aktor inovasi (akademisi, business, pemerintah, komunitas) maupun pendukungnya seperti lembaga finansial dan lembaga legislasi. Dengan demikian, pemanfaatan inovasi dapat lebih memperhatikan ciri khas daerah masing-masing. Dengan ditandatanganinya Peraturan Bersama Menristek dan Mendagri yang tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa)Pada tanggal 25 April 2012 lalu, peran Badan Litbang Daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota menjadi sangat vital sebagai ujung tombak pelaksanaan SIDa. “Litbang jangan lagi diistilahkan dengan ‘sulit berkembang’, namun harus identik dengan istilah ‘elit dan membanggakan’”, ujar Mennegristek.

Ceramah Umum Mennegristek juga dirangkaikan dengan Diseminasi Iptek Nuklir dan hasil studi tapak PLTN di Babel oleh Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto. Terkait hal tersebut, Mennegristek menyampaikan sikapnya yang mendorong rencana pembangunan PLTN di Bangka Belitung. Kebutuhan energi pada tahun 2025 sekitar 100 giga ton lebih saat ini baru dapat dipenuhi sekitar 30 persen, dan PLTN merupakan alternatif yang dapat mengatasi kelangkaan energy di masa depan. Pemilihan Pulau Bangka sebagai lokasi studi tapak PLTN, karena selain sumber uranium tersedia, posisi pulau ini juga sangat strategis. “Pulau Bangka relatif aman dari gempa karena terlindungi Pulau Sumatera dari ring of fire, selain itu listrik yang dihasilkan nanti dapat dengan mudah dihubungkan dengan jaringan listrik utama di pulau Sumatera dan pulau Jawa”, ujar Mennegristek.

Dalam kunjungannya ke Pangkalpinang tersebut, Mennegristek didampingi Deputi Bidang Sumber Daya Iptek, Freddy Permana Zen; Staf Khusus Menteri, Gusti Nurpansyah dan sejumlah asisten deputi terkait. (munawir)

April 4, 2013

Birrul Walidain

Berbakti kepada orang tua atau birrul walidain merupakan salah satu kewajiban yang paling utama, sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Israa, ayat 23 : "Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya, dan hendaklah kalian berbakti kepada kedia orang tua".

Masih banyak lagi dalil lainnya baik itu firman Allah maupun sabda Rasulullah terkait hal berbakti kepada kedua orang tua. Dalam salah satu sabda beliau, Rasulullah menyebutkan bahwa berbuat kepada kedua orang tua adalah jihad. Di banyak riwayat lain mengatakan bahwa taat dan berbakti kepada orang tua dapat membantu meraih pengampunan dosa, membantu menolak musibah, memperluas rizki, dan salah satu penyebab masuk surga. Sebaliknya durhaka pada orang tua, merupakan dosa yang sangat besar, dan diancam mendapat balasan yang 'cepat', baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam surah Luqmaan ayat 15, Allah SWT berfirman : "Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini". Dari ayat di atas, bisa ditarik dua kesimpulan, yang pertama bahwa kita tetap dituntut memperlakukan kedua orang tua kita dengan baik, walaupun mereka dalam keadaan kafir. Yang kedua, bahwa dilarang menuruti perintah orang tua dalam hal berbuat maksiat dan kesyirikan. Hal ini dipertegas Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yaitu: "Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kewajiban". 

April 3, 2013

Bus Listrik, Solusi Transportasi Yogyakarta

Kemacetan menjadi  menjadi permasalahan transportasi yang serius di Yogyakarta. Seperti di kota-kota besar lainnya, kemacetan diakibatkan rasio pertumbuhan kendaraan yang tidak seimbang dengan infrastruktur jalan. Sekitar 200-300 unit mobil dan 6000 sepeda motor bertambah setiap bulannya. Sebagai salah satu solusi transportasi massal, bus listrik yang dibuat oleh Puslit Teknologi Listrik dan Mekatronika LIPI Bandung dan Pusat Teknologi Industri Sistem Transportasi BPPT  akan beroperasi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Hal tersebut dibahas pada rapat koordinasi menjelang Ujicoba Bus Listrik di Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi DIY, pada Rabu, 3 April 2013. Rapat tersebut dihadiri perwakilan dari Kementerian Ristek, LIPI, BPPT, PT. PLN, UGM, serta perwakilan dari Pemkot Yogyakarta dan Pemprov DIY. Rapat ini membahas tentang berbagai aspek dalam rangka menyiapkan ujicoba bus listrik di DIY yg rencananya akan diresmikan langsung oleh Mennegristek dan Gubernur DIY dalam waktu dekat.

Menurut Staf Ahli Mennegristek bidang Teknologi Transportasi dan TIK, Hari Purwanto, bus listrik LIPI yg menggunakan tenaga baterai dan berkapasitas 12 orang tersebut akan melayani wisatawan yang ingin berkeliling di seputar kawasan keraton dan alun-alun DIY. Tempat pengisian (Charging Point) daya baterai bus Listrik akan ditempatkan di Taman Pintar yang sekaligus menjadi pickup point untuk penumpang bus tersebut.

Sementara itu bus listrik buatan BPPT  akan digunakan sebagai armada Transjogja. Sebagai tahap awal, bus listrik BPPT akan beroperasi di kawasan kampus UGM. Berbeda dengan bus listrik yg dibuat LIPI, bus listrik BPPT tersebut mengambil tenaga listrik dari jaringan kabel di atas jalur bus, dengan sistem electric trolley bus. Tahun ini bus listrik BPPT tersebut akan melalui serangkaian ujicoba di kawasan Puspiptek Serpong dan diharapkan tahun depan sudah dapat beroperasi, sambil menunggu hasil kajian tekno-ekonomi dan sosial yang dilakukan UGM.

"Kementerian Ristek beserta LPNK Ristek mendukung Yogyakarta sebagai kota dan provinsi pertama yang mengaplikasikan transportasi hijau", ujar Hari Purwanto.

Walikota Yogyakarta, H. Haryadi Suyuti, yang ditemui setelah Rapat tersebut, menyampaikan kegembiraannya dengan rencana tersebut dan berharap solusi ini dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di Yogyakarta.

"Kami berterima kasih atas rencana ini. Kami memang merindukan sistem transportasi hijau", ujar Haryadi.

Setelah rapat tersebut,  Walikota Yogyakarta bersama tim dari Kementerian Ristek mengunjungi Taman Pintar dan melakukan simulasi rute di kawasan alun-alun dan keraton DIY. Tim dari Kementerian Ristek terdiri dari Staf Khusus Mennegristek, Zulkifli Halim;  Staf Ahli Mennegristek bidang Teknologi Transportasi dan TIK, Hari Purwanto; Asdep Iptek Pemerintah; Pariatmono Soekamdo; dan Asdep Iptek Industri Besar, Alvini Pranoto. (munawir)

March 16, 2013

MenristekTinjau Pelaksanaan PKPP di Tanah Laut

Untuk mengembangkan upaya pemanfaatan hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa yang dilakukan peneliti dan perekayasa di masyarakat dan daerah, Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2012 telah mengeluarkan program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP). Program tersebut dilaksanakan di 6 koridor wilayah ekonomi Indonesia, dengan melibatkan 3.782 peneliti dan perekayasa dari 25 kementerian dan lembaga di Indonesia.

Dari total 829 paket penelitian PKPP, 7 diantaranya dilakukan di Balai Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta, pada hari Jumat, 15 Maret 2013 berkunjung ke BP3T Tambang Ulang untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan beberapa kegiatan penelitian yang didanai oleh Kementerian Ristek tersebut.

Kepala BP3T Tambang Ulang, Husin Nafarin, menunjukkan kepada Mennegristek beberapa kegiatan di BP3T yang didukung Kementerian Ristek, yaitu Penggemukan Sapi, Produksi Pakan Ternak, Pembuatan Pupuk Organik serta Reaktor Biogas. Seluruh kegiatan tersebut terintegrasi karena limbah jagung, singkong dan bungkil sawit diolah sebagai pakan untuk sapi, dan kotoran dari sapi tersebut diolah untuk pupuk organik dan dimanfaatkan untuk biogas elektrik. Gas yang dihasilkan digunakan untuk kompor biogas, serta operasional genset untuk penerangan dan mesin konsentrat. “semuanya termanfaatkan, tidak ada yang terbuang, ini disebut bio-cyclo farming”, ujar Husin Nafarin.

Mennegristek berharap kegiatan yang didanai Kementerian Ristek di BP3T Tambang Ulang tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak, baik untuk training para penyuluh pertanian maupun masyarakat kelompok tani. BP3T diminta Mennegristek untuk proaktif membina kelompok masyarakat melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. “Bila perlu BP3T mengadakan pelatihan dan penyuluhan buat masyarakat secara berkala, Kementerian Ristek yang akan menyiapkan  tenaga penyuluh dan pelatih dari LPNK yang ahli di bidangnya.” Ujar Mennegristek.

Dalam kunjungannya ke BP3T Tambang Ulang, Mennegristek didampingi oleh Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo; Staf Khusus Menteri bidang Kelembagaan, Gusti Nurpansyah; Tenaga Ahli Menteri Bidang Anggaran, Shidki Wahab; Asdep Relevansi Program Riset IPTEK, Ahmad Dading Gunadi; dan Asdep Iptek Masyarakat, Sadiyatmo. Selepas kunjungan, Mennegristek dan rombongan bertolak ke Banjarbaru untuk menyampaikan kuliah umum dan sosialisasi Program Insentif Riset Sinas di Auditorium Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat. (munawir)