February 20, 2013

Panja RUU Keantariksaan Kunjungi Balai Inderaja

Sembilan anggota Panitia Kerja RUU Keantariksaan dari Komisi VII DPR-RI berkunjung ke Balai Penginderaan Jauh LAPAN di Kota Pare-Pare Sulawesi Selatan pada hari Rabu, 20 Februari 2013. Rombongan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi VII DPR-RI, Sutan Bathoegana didampingi oleh beberapa anggota DPR lainnya seperti Jhoni Allen Marbun, Albert Yaputra, Rofi Munawar, Ismayatun, Teuku Irwan, Didik Salmijardi, dan Tommy Adrian Firman.

Dalam sambutannya, Sutan Bhatoegana menyatakan pentingnya RUU Keantariksaan ini segera disahkan, sebagai wujud kedaulatan Indonesia di udara. Selama ini memang belum ada peraturan perundangan yang mengakomodir masalah keantariksaan sehingga masih mengacu kepada konvensi internasional yang diratifikasi Indonesia. Banyak manfaat yang diperoleh Indonesia dengan disahkannya RUU tersebut kelak. “Undang-Undang Keantariksaan ini sangat bermanfaat dan merupakan instrument penting bagi pemerintah. UU ini bahkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi dan meminimalisir pencurian ikan di wilayah laut Indonesia”, ujar Sutan.

Kunjungan Panja RUU Keantariksaan tersebut diisi penyampaian masukan dari anggota PANJA kepada Kepala LAPAN, Bambang Setiawan Tejasukmana untuk penyempurnaan draft RUU tersebut. Kepala Pusat Teknologi dan Data Penginderaan Jauh LAPAN, Orbita Roswintawati juga memaparkan profil dan fungsi dari Balai Penginderaan Jauh Pare-Pare yang sedang dikunjungi oleh para anggota Komisi VII DPR-RI tersebut.

Balai Penginderaan Jauh Pare-Pare merupakan stasiun bumi yang dibangun pada tahun 1993 dan berfungsi untuk melaksanakan penerimaan, perekaman, dan pengelolaaan data satelit penginderaan jauh dengan daerah liputan optimal 97 persen wilayah Indonesia. Di fasilitas tersebut terdapat beberapa antena, di antaranya Antenna Scientific Atalanta, Antena NEC dan Antena Seaspace yang mampu menerima data satelit JERS-1 (data SAR (Synthetic Aperture Radar) dan  OPS (Optical Sensor)), LANDSAT, ERS-1, ERS-2, SPOT2, SPOT4, danModis (Aqua dan Terra).

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Tenaga Ahli Menristek bidang Kebijakan Publik, Shidki Wahab; Asisten II Pemkot Pare-Pare Syahrial Djafar; Plt. Kadis Kominfo Pare-Pare Iwan Asaad; dan beberapa pejabat dari unsure Muspida Kota Pare-Pare. (munawir)

February 18, 2013

Ristek Luncurkan Program Beasiswa 2013

Dalam dokumen Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan Rencana Strategis Kementerian Ristek, terdapat kegiatan Revitalisasi Kawasan Puspiptek untuk menjadi Technopark kelas dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan investasi baik infrastruktur dan peralatan maupun sumber daya manusia. Peneliti dan perekayasa muda yang berkiprah di kawasan Puspiptek dituntut untuk dapat meningkatkan kapasitas individu melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar regenerasi SDM yang berkualitas tetap terjaga. Program Beasiswa yang disediakan Kementerian Ristek menjadi salah satu instrumen peningkatan kapasitas yang dapat dimanfaatkan oleh para peneliti dan perekayasa tersebut.

Hal itu disampaikan Asdep Jaringan Penyedia dengan Pengguna, Wisnu Sardjono saat memberikan sambutan pada acara Sosialisasi Kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM Iptek 2013 yang diselenggarakan di Graha Widya Bakti Puspiptek, Senin 18 Februari 2013.  Acara tersebut dihadiri lebih dari 100 peneliti dan perekayasa dari beberapa lembaga penelitian di kawasan Puspiptek.

Asdep SDM Iptek, Andika Fajar dalam pengarahannya di depan peserta mengungkapkan bahwa tahun ini Kementerian Ristek akan membiayai 100 orang karyasiswa untuk studi di dalam negeri, yang terdiri dari 70 orang untuk jenjang Strata 2 dan 30 orang untuk jenjang Strata 3. Khusus untuk studi luar negeri, tahun ini Kementerian Ristek akan memberangkatkan 30 orang karyasiswa, yaitu 5 orang pada jenjang Strata 2 dan 25 orang untuk jenjang Strata 3. “Bila Program Research-Pro yang dibiayai pinjaman dari Worldbank disetujui, maka tahun ini kita akan merekrut 70 orang karyasiswa untuk jenjang Strata 3 dan 11 orang untuk jenjang Strata 2, dan akan kita berangkatkan ke luar negeri pada tahun depan.” Ujar Andika.  

Andika menambahkan, selain beasiswa strata 2 dan strata 3, Kementerian Ristek juga menyelenggarakan Program Beasiswa Non Gelar, dalam bentuk insentif untuk pemagangan riset, pelatihan, penerbitan jurnal nasional dan internasional, presentasi makalah di konferensi nasional dan internasional serta program English for Academic Puspose (EAP). Program ini diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan system Iptek secara keseluruhan serta pada proses pembangunan pondasi yang kuat bagi koordinasi antar pemangku kepentingan Iptek, implementasi Iptek yang lebih baik dan pengawasan kebijakan Iptek. (munawir)

February 16, 2013

Menristek: Sinergi ABG Kunci Kemajuan Bangsa

Masyarakat harus terlibat aktif dalam kegiatan pembangunan di daerahnya,  dan tidak hanya menjadi penonton saja. Sehingga sumber daya manusia lokal perlu disiapkan terlebih dahulu agar mampu bersaing dan berkompeten dalam pengelolaan berbagai potensi dan sumber daya di daerah tersebut.

Hal itu disampaikan Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta saat menjadi Keynote Speaker pada Seminar Nasional dengan Topik Integrasi Teknologi, Industrialisasi, dan Dunia Keuangan menuju Pembangunan Indonesia Timur, yang diselenggarakan oleh Universitas Teknologi Sumbawa  (UTS) di Kantor Bupati Sumbawa, pada hari Sabtu, 16 Februari 2013. Lebih lanjut Mennegristek menambahkan, hadirnya UTS merupakan jawaban paling tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia Sumbawa yang selama ini tidak memiliki banyak kesempatan untuk berpartisipasi langsung dalam kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah.

Menyinggung topik seminar tentang integrasi teknologi dan industrialisasi, Mennegristek menjelaskan bahwa hasil-hasil inovasi karya anak bangsa sangat melimpah, namun inovasi tersebut banyak yang hanya berbentuk prototype saja. Tidak banyak yang berlanjut hingga diproduksi secara massal. Sehingga peran pemerintah dalam mensinergikan antara dunia industri dan akademisi sangat dibutuhkan. “Salah satu tugas utama Ristek adalah mempertemukan ABG, yaitu Academic, Business dan Government. Bila ketiga sektor tersebut telah bersinergi, kita pasti akan bertambah maju.” Tegas Mennegristek.

Selain Mennegristek, pada seminar tersebut tampil pula beberapa pembicara nasional yaitu Pahala N Mansury (Managing Director Finance and Strategy Bank Mandiri), Nurul Taufiqu Rochman (Pakar Nanoteknologi LIPI), Arief Budi Witarto (Pakar Bioteknologi LIPI), Soedomo Mergonoto (Presdir PT. Santos Jaya Abadi). Seminar dipandu langsung oleh Zulkifliemansyah, Rektor Universitas Teknologi Sumbawa.

Pada kesempatan tersebut, Mennegristek juga menyaksikan penandatanganan Letter of Intent oleh beberapa institusi dengan UTS, diantaranya Pusat Penelitian Metalurgi LIPI, Pusat Penelitian Oceanografi LIPI, Bappeda Sumbawa, Pengurus Cabang HIPMI Sumbawa dan media cetak Suara NTB. (munawir)

Mennegristek Tinjau Kampus UTS

Kabupaten Sumbawa terkenal akan sumberdaya alam yang melimpah, mulai dari sumberdaya pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan dan pertambangan. Berdasarkan keadaan geologis, wilayah kabupaten sumbawa memiliki keanekaragaman sumberdaya dan cadangan mineral tambang baik logam, bukan logam dan batuan. Namun sumberdaya alam tersebut tidak didukung dengan sumber daya manusia yang memadai. Hal tersebut menjadi alasan utama didirikannya Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).

Pada hari Sabtu, 16 Februari 2013, Mennegristek meninjau lokasi pembangunan kampus UTS yang terletak di Desa Batu Alang, Moyo Hulu, Sumbawa Besar. Mennegristek berharap dengan hadirnya UTS ini, mampu menjawab tingginya kebutuhan akan pakar teknologi baik peneliti maupun perekayasa, khususnya di kawasan Timur Indonesia. “Saat ini tenaga ahli di bidang teknologi masih sangat terbatas, rasionya hanya 2671 orang per satu juta penduduk. Masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga kita”, ujar Mennegristek.

Rektor UTS, Zulkieflimansyah, yang juga merupakan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI mengatakan bahwa UTS ini ide awalnya merupakan Sekolah Tinggi Teknologi Sumbawa (STTS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sumbawa (STIES). Namun demi pengembangan ke depan, kedua sekolah tadi digabung ke dalam satu universitas. Sebagai universitas, UTS harus membuka minimal 10 program studi. “Untuk itu tahun 2013 Insya Allah UTS akan membuka 5 fakultas yaitu Fakultas Teknik, Fakultas Teknobiologi dan Pertanian, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Komunikasi. Dalam beberapa tahun ke depan akan dibentuk beberapa fakultas lagi, termasuk fakultas kedokteran”, ujar Zulkieflimansyah.

Mennegristek mengapresiasi rencana pengembangan UTS ini hingga terbentuk kawasan technopark, karena di lokasi pembangunan kampus UTS sudah terlebih dahulu dibangun beberapa pabrik yang akan menampung keluaran UTS. Dalam kunjungannya tersebut, Mennegristek didampingi Deputi Bidang Sumber Daya Iptek, Freddy Permana Zen; Asdep SDM Iptek, Andika Fajar; Asdep Data dan Informasi Iptek, Agus Sediadi; Asdep Iptek Masyarakat, Sadiyatmo; Staf Khusus Menteri bidang Daerah dan Media Massa, Gusti Nurpansyah; dan Wakil Bupati Sumbawa, Arasy Muhkan. (munawir)