March 16, 2013

MenristekTinjau Pelaksanaan PKPP di Tanah Laut

Untuk mengembangkan upaya pemanfaatan hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa yang dilakukan peneliti dan perekayasa di masyarakat dan daerah, Kementerian Riset dan Teknologi pada tahun 2012 telah mengeluarkan program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP). Program tersebut dilaksanakan di 6 koridor wilayah ekonomi Indonesia, dengan melibatkan 3.782 peneliti dan perekayasa dari 25 kementerian dan lembaga di Indonesia.

Dari total 829 paket penelitian PKPP, 7 diantaranya dilakukan di Balai Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta, pada hari Jumat, 15 Maret 2013 berkunjung ke BP3T Tambang Ulang untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan beberapa kegiatan penelitian yang didanai oleh Kementerian Ristek tersebut.

Kepala BP3T Tambang Ulang, Husin Nafarin, menunjukkan kepada Mennegristek beberapa kegiatan di BP3T yang didukung Kementerian Ristek, yaitu Penggemukan Sapi, Produksi Pakan Ternak, Pembuatan Pupuk Organik serta Reaktor Biogas. Seluruh kegiatan tersebut terintegrasi karena limbah jagung, singkong dan bungkil sawit diolah sebagai pakan untuk sapi, dan kotoran dari sapi tersebut diolah untuk pupuk organik dan dimanfaatkan untuk biogas elektrik. Gas yang dihasilkan digunakan untuk kompor biogas, serta operasional genset untuk penerangan dan mesin konsentrat. “semuanya termanfaatkan, tidak ada yang terbuang, ini disebut bio-cyclo farming”, ujar Husin Nafarin.

Mennegristek berharap kegiatan yang didanai Kementerian Ristek di BP3T Tambang Ulang tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak, baik untuk training para penyuluh pertanian maupun masyarakat kelompok tani. BP3T diminta Mennegristek untuk proaktif membina kelompok masyarakat melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. “Bila perlu BP3T mengadakan pelatihan dan penyuluhan buat masyarakat secara berkala, Kementerian Ristek yang akan menyiapkan  tenaga penyuluh dan pelatih dari LPNK yang ahli di bidangnya.” Ujar Mennegristek.

Dalam kunjungannya ke BP3T Tambang Ulang, Mennegristek didampingi oleh Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo; Staf Khusus Menteri bidang Kelembagaan, Gusti Nurpansyah; Tenaga Ahli Menteri Bidang Anggaran, Shidki Wahab; Asdep Relevansi Program Riset IPTEK, Ahmad Dading Gunadi; dan Asdep Iptek Masyarakat, Sadiyatmo. Selepas kunjungan, Mennegristek dan rombongan bertolak ke Banjarbaru untuk menyampaikan kuliah umum dan sosialisasi Program Insentif Riset Sinas di Auditorium Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat. (munawir)

March 15, 2013

Menristek Sosialisasikan Insentif Riset SINas di UNLAM

Berdasarkan dari data Global Growth Competitiveness Index yang dikeluarkan oleh World Economy Forum tahun 2012-2013 menunjukkan  Indonesia menduduki peringkat ke-50 dari 144 negara yang disurvey dimana pada tahun sebelumnya Indonesia bisa menduduki peringkat ke-46 dari 142 negara yang disurvei.  Penurunan peringkat tersebut disebabkan ABG (Academic, Business, Government) belum bisa bersinergi dalam memproduksi hasil-hasil riset yang telah dihasilkan selama ini.

Hal tersebut disampaikan Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta saat menyampaikan kuliah umum dan sosialisasi insentif riset SINas di depan civitas akademika Universitas Lambung Mangkurat, di Auditorium Fak. Kedokteran UNLAM di Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada Jumat, 15 Maret 2013. Mennegristek juga menyayangkan masih banyaknya hasil riset yang hanya pada level prototype saja. ”Infrastruktur dan birokrasi juga menjadi penyebab yang membuat Indonesia turun peringkat. Dengan demikian, banyak hasil riset di indonesia hanya sampai di protipe atau hanya sampai diatas meja saja. Penyebab lainnya adalah pengusaha dan pemerintah yang belum bisa bersinergi dalam memproduksi hasil riset secara massal,” Tegas Gusti.

Oleh karena itu Mennegristek berharap Insentif Riset SINas dapat menyelesaikan persoalan ini, karena sasaran Insentif Riset SINas ini adalah untuk peningkatan produktivitas  (academic of excellent) dan pendayagunaan hasil litbang nasional (economic value). “Saya berharap dengan adanya Insentif SINas, Perguruan Tinggi baik swasta dan negeri, Lemlit, LPPM dan konsursium riset, bisa menghasilkan riset atau penelitian yang bisa menjadi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi negeri kita tercinta ini, tentunya ABG harus bisa bersinergi,” harap Mennegristek.

Terdapat empat skema Pendanaan Riset SINas, yaitu (1) Insentif Riset Dasar, yang ditujukan untuk mengejar ketertinggalan penguasaan iptek (state of the art) dan menghasilkan  penemuan-penemuan baru yang berkualitas (breakthrough, nobel prize), (2) Insentif Riset Terapan, yang ditujukan untuk menghasilkan teknologi dan meningkatkan kemampuan pengintegrasian teknologi, khususnya dalam mengaplikasikan hasil-hasil riset dasar menjadi proven technology, (3) Insentif Riset Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi, yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan teknologi di sektor produksi melalui kemitraan riset lembaga litbang dengan industri, dan (4) Insentif Percepatan Difusi Dan Pemanfaatan Iptek yang ditujukan untuk mendifusikan iptek dan meningkatkan pemanfaatan hasil-hasil litbang melalui pembiayaan penerapan  teknologi di sektor produksi, pembiayaan lembaga intermediasi yang dapat menerapkan hasil  litbang di sektor produksi (performance based) dan stimulus bagi penumbuhan start-up company   berbasis teknologi (misalnya melalui inkubator teknologi). Topik Riset yang didanai harus sesuai dengan 7 bidang fokus riset nasional, yaitu Teknologi Pangan, Teknologi Kesehatan dan Obat, Teknologi Energi, Teknologi Transportasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Teknologi Pertahanan dan Keamanan, dan Teknologi Material Maju.

Pemaparan tentang Insentif Riset Sinas ini disampaikan langsung Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo dan Asdep Relevansi Program Riset IPTEK, Ahmad Dading Gunadi. Turut hadir pada acara tersebut Staf Khusus Menteri bidang Kelembagaan, Gusti Nurpansyah; Tenaga Ahli Menteri Bidang Anggaran, Shidki Wahab; dan Asdep Iptek Masyarakat, Sadiyatmo. (munawir)

March 10, 2013

Catatan Perjalanan Belgia-Luxembourg

Alhamdulillah, awal Maret lalu dapat kesempatan berkunjung ke Eropa lagi, kali ini ke Belgia dan Luxembourg. Kunjungan ini sangat berbeda dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya, karena kali ini saya mendampingi Bapak Menristek, Gusti Muhammad Hatta, dengan berbagai peran, ya ajudan, ya protokol, ya fotografer, dan tentu saja sebagai PR beliau. Otomatis dalam kunjungan singkat ini, saya ga bisa melipir kesana-sini, karena harus mengikuti jadwal beliau yang sangat ketat. 

Berangkat Ahad malam, 3 Maret, penerbangan dari Jakarta hingga Brussels, menggunakan KLM, transit 2 kali di Kuala Lumpur dan Amsterdam. Tiba di Brussels keesokan harinya pukul 10.00 pagi. Tak lama setelah check-in dan makan siang di hotel Royal Windsor Brussels, kami pun memulai agenda resmi Belgia. Kunjungan pertama ke wilayah Flanders yang berada di sebelah utara Belgia. Disana kami mengunjungi Vlaams Instituut voor Biotechnologie (VIB) di kota Ghent, didampingi Bapak Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Eropa, Belgia dan Luxembourg, Arif Havas Oegroseno. VIB adalah lembaga riset bioteknologi terkemuka yang  memiliki lebih dari 1300 peneliti yang berasal lebih dari 60 negara. Berdasarkan ranking yang dibuat oleh Scimago pada tahun 2011, VIB termasuk dalam 10 besar lembaga riset ilmu hayati terbaik di dunia, dengan menargetkan output 1 publikasi setiap hari dan 1 sarjana tingkat doctoral setiap minggunya. Produk riset yang dihasilkan langsung dilanjutkan ke tahap produksi massal, baik oleh industri start-ups yang ada di Ghent Science Technopark (STP) maupun oleh perusahaan global yang menjalin kerjasama dengan VIB, misalnya BASF, Bayer, Pfizer, Johnson&Johnson, Roche, dan lainnya.


Pada hari kedua, kami berkunjung ke Parlemen Eropa menghadiri acara Opening Plenary, EU Science : Global Challenge Global Collaboration Conference. Bapak Menteri diundang untuk menyampaikan pidato di depan peserta konferensi tersebut bersama dengan Menteri Sains Montenegro, Sanja Vlahovic; Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah Maroko, Lahcen Daoudi; serta Menteri Iptek Kanada, Gary Goodyear. Setelah kegiatan di Parlemen Eropa, Kami langsung bertolak ke Luxembourg. Tidak lupa kami mampir dulu ke beberapa landmark di Brussels seperti Manneken Pis dan Atomium. Perjalanan menuju Luxembourg ditempuh selama 3 jam melalui jalur darat. Di Luxembourg hanya menginap semalam dan pada hari Rabu pagi, 6 Maret kami pun bertolak kembali ke tanah air.




March 5, 2013

Iptek dan Inovasi, Solusi Tantangan Global

Dalam menghadapi tantangan global terkait ketahanan energi, Pemerintah Indonesia serius mengembangkan riset energi alternatif yang bersumber dari tenaga surya, angin, arus laut, bahan bakar nabati, panas bumi, dan juga teknologi nuklir yang bersih dan aman.  

Hal tersebut diungkapkan Mennegristek, Gusti Muhammad Hatta, saat menyampaikan pidato pada Opening Plenary, EU Science : Global Challenge Global Collaboration Conference yang diselenggarakan di Brussels, Belgia pada 5 Maret 2013. Mennegristek juga menegaskan bahwa saat ini perubahan dan tantangan global yang tidak dapat diprediksi telah mempengaruhi semua negara di dunia, sehingga diperlukan kebersamaan dan bahu-membahu dalam menghadapi tantangan tersebut. ”Saya tekankan di sini, bahwa Indonesia siap bekerja sama dengan negara lain, melalui kolaborasi global dalam menghadapi tantangan global yang tidak bisa dihindari lagi”, Ujar Mennegristek.

Selain Mennegristek, pada acara tersebut beberapa Menteri terkait riset, iptek dan inovasi juga tampil memaparkan perkembangan di negara masing-masing khususnya dalam menghadapi permasalahan global dewasa ini. Menteri yang hadir antara lain  Menteri Sains Montenegro, Sanja Vlahovic; Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset Ilmiah Maroko, Lahcen Daoudi; serta Menteri Iptek Kanada, Gary Goodyear.

Kehadiran Mennegristek pada konferensi tersebut atas undangan Parlemen Eropa. Mennegristek menjadi satu-satunya Menteri yang mewakili negara dari  kawasan Asia Tenggara.  Selama ini Indonesia memang menjadi mitra aktif beberapa negara Eropa, seperti Belanda, Jerman dan Perancis untuk kerjasama dalam bidang riset dan iptek. Selain kerjasama bilateral, Indonesia juga menjalin kemitraan dengan Uni Eropa, baik melalui program-program yang disepakati bersama ataupun melalui skema pendanaan riset kompetitif Framework Programme (FP) 7.

Komisioner Eropa untuk Riset, Iptek dan Inovasi, Máire Geoghegan-Quinn, yang tampil membuka konferensi tersebut, menyampaikan bahwa Uni Eropa beserta negara-negara mitra melalui kegiatan riset bersama telah menghasilkan beberapa solusi untuk permasalahan global misalnya di bidang kesehatan, energi dan mitigasi bencana alam. “Riset dan Inovasi adalah komponen yang paling esensial dalam berbagai pendekatan dalam menyelesaikan masalah global yang sedang kita hadapi saat ini”. Ujar Máire.

Konferensi yang diselenggarakan selama lima hari tersebut, dihadiri para pembuat kebijakan Iptek, ilmuwan dan peneliti serta perwakilan dunia industri yang berasal lebih dari 100 negara. Selama konferensi tersebut, diadakan 45 seminar yang mengangkat topik tematik seperti kesehatan, energy, TIK, Keamanan, Material Maju, Transportasi, Lingkungan, Keantariksaan, Pertanian dan Pangan. Isu-isu horizontal, misalnya transfer teknologi, HaKI, dan kemitraan global juga dibahas pada pada seminar parallel selama penyelenggaraan konferensi tersebut. (munawir)

March 4, 2013

Menegristek Tertarik Jajaki Kerjasama dengan VIB

Di sela-sela kunjungannya ke Brussels sebagai pembicara pada EU Science :  Global Challenge and Global Conference, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menegristek),  Gusti Muhammad Hatta menyempatkan berkunjung ke salah satu lembaga riset bioteknologi terkemuka, Vlaams Instituut voor Biotechnologie (VIB) yang terletak di kota Ghent, Flanders, pada Senin, 4 Maret 2013. Menegristek disambut langsung oleh Johan Cardoen, Managing Director VIB.

Dalam paparannya memperkenalkan VIB, Johan Cardoen menyampaikan bahwa lembaga riset ini memiliki lebih dari 1300 peneliti yang berasal lebih dari 60 negara. Berdasarkan ranking yang dibuat oleh Scimago pada tahun 2011, VIB termasuk dalam 10 besar lembaga riset ilmu hayati terbaik di dunia, dengan menargetkan output 1 publikasi setiap hari dan 1 sarjana tingkat doctoral setiap minggunya. Produk riset yang dihasilkan langsung dilanjutkan ke tahap produksi massal, baik oleh industri start-ups yang ada di Ghent Science Technopark (STP) maupun oleh perusahaan global yang menjalin kerjasama dengan VIB, misalnya BASF, Bayer, Pfizer, Johnson&Johnson, Roche, dan lainnya.

“Kami sangat fokus dalam menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi ekonomi, khususnya hasil riset ke dalam aplikasi industri," ujar Johan Cardoen.

Menegristek sangat tertarik dengan keberhasilan yang dicapai oleh VIB. Mennegristek berharap hasil-hasil penelitian di Indonesia tidak hanya sampai pada tingkat prototipe saja, namun harus dilanjutkan hingga tahap produksi oleh industri.

Puspiptek Serpong yang sedang bertransformasi menjadi technopark kelas dunia diharapkan dapat mengadopsi konsep Ghent STP ini, denga memperkuat sinergi antara sektor Academic, Business dan Government (ABG).

“Saya tertarik untuk bekerjasama, khususnya pertukaran ilmuwan dan peneliti untuk belajar di sini,” ujar Menegristek.

Deputi Menegristek bidang Jaringan Iptek ad interim, Amin Soebandrio yang turut hadir pada kunjungan tersebut, menginginkan selain dengan pertukaran ilmuwan dan peneliti, VIB dapat membagi langsung pengalamannya dengan pihak-pihak terkait di Indonesia. Amin mengundang VIB untuk datang ke Indonesia pada konferensi ilmiah yang akan diadakan pada bulan Agustus mendatang dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-18. Pihak VIB menyambut gembira beberapa peluang kerjasama yang ditawarkan oleh Kementerian Ristek dan berharap dapat segera dilaksanakan.

Turut hadir pada pertemuan tersebut, Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Eropa, Belgia dan Luxembourg, Arif Havas Oegroseno; dan Staf Khusus Mennegristek bidang Kelembagaan, Gusti Nurpansyah. (munawir)