July 30, 2013

Menristek Silaturrahim Dengan Warga Sekitar Reaktor Nuklir

Di bulan suci Ramadhan ini, umat Islam dilatih untuk dapat menahan diri dari hawa nafsu dalam rangka meningkatkan kadar iman dan ketakwaan pribadi muslim. Beratnya latihan pada bulan ini diimbangi dengan besarnya “reward” dari Allah SWT, dimana berkah, rahmat dan magfirah dari Allah SWT dilimpahkan pada bulan Ramadhan ini. Bahkan di dalam bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang  nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Pesan itu disampaikan Menristek, Gusti Muhammad Hatta di depan peserta Sarasehan Bersama Tokoh Masyarakat di Sekitar Kawasan Nuklir Serpong, yang diselenggarakan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada Selasa, 30 Juli 2013 di Gedung 71 BATAN, Puspiptek Serpong. Menristek menambahkan bahwa di bulan puasa ini selain memperbanyak ibadah, umat Islam juga dianjurkan memperluas silaturrahim. “Jadi harus seimbang antara hablun minallah dengan hablun minannas, acara sarasehan seperti ini sangat bagus karena memperluas silaturrahim antara BATAN dengan warga sekitar kawasan nuklir,” ujar Menristek.

Menurut Kepala BATAN, Djarot  Sulistio Wisnubroto, kegiatan sarasehan yang rutin diadakan setiap tahun ini bertujuan untuk meningkatkan silaturrahim antara keluarga besar BATAN, unsur Muspida dan warga sekitar fasilitas nuklir Serpong. Menurut Djarot, BATAN yang mengelola kawasan nuklir di Serpong harus senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat sekitar sebagai pemangku kepentingan yang berada di garis paling depan untuk menjaga aspek keselamatan dan keamanan nuklir. “Warga adalah barrier pertama di luar kawasan nuklir, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun alhamdulillah sampai saat ini, puluhan tahun reaktor nuklir berdiri belum ada masalah yang signifikan yang mengancam keselamatan dan keamanan warga,” ujar Djarot.

Djarot menambahkan, di kawasan Puspiptek Serpong, BATAN juga mengelola sawah seluas 35 hektar yang melibatkan warga sekitar dalam pengelolannya sebagai bentuk community development. Djarot berharap dengan makin dekatnya BATAN dengan warga sekitar dapat menghilangkan anggapan BATAN sebagai menara gading. “Mudah-mudahan masyarakat dapat menganggap BATAN sebagai lembaga pemerintah yang bisa berkomunikasi dan berdiskusi serta sedapat mungkin ikut memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat,” tutup Djarot.

Acara sarasehan ditutup tausiyah yang disampaikan oleh K.H. Soleh Kosasih. Setelah buka puasa bersama, Menristek didaulat menjadi imam sholat maghrib, memimpin puluhan jamaah yang terdiri dari para pimpinan Kementerian Ristek, BATAN, unsur Muspida dan warga sekitar kawasan nuklir dari Kampung Setu, Kademangan, Baru Asih, Keranggan dan Sengkol. (munawir)

July 24, 2013

Iran Tertarik Kerjasama Teknologi Pesawat Terbang

Salah satu usulan dari Pemerintah Iran yang disampaikan pada the 4th Indonesia-Iran Joint Working Committee (JWC) Meeting on Scientific and Technological Cooperation adalah kerjasama di bidang teknologi pesawat terbang sipil. Untuk merealisasikan usulan tersebut, delegasi JWC Iptek Iran berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI)  di Bandung pada Rabu, 24 Juli 2013.

Menurut Deputi Menteri Sains, Riset dan Teknologi Iran, Mohammad Mahdi Nejad Nouri yang menjadi Ketua Delegasi JWC Iran, kerjasama di bidang riset dan pengembangan pesawat terbang sipil dengan Indonesia sangat strategis bagi Iran, karena saat ini Iran sedang melakukan riset dan pengembangan pesawat terbang untuk kapasitas 100 dan 150 orang. "Dengan berkunjung ke sini, kami ingin mengetahui apa saja aktivitas riset dan pengembangan di PT DI dan berharap dapat menjalin kerjasama yang lebih intens,” ujar Mahdi.

Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT DI yang menyambut delegasi JWC Iran menyampaikan sejarah dan aktivitas PT DI. Menurut Andi, kemampuan utama PT DI adalah mengintegrasikan berbagai teknologi dan komponen menjadi pesawat terbang yang berkualitas. Beberapa jenis pesawat yang telah diproduksi PT DI adalah CN235-220, NC-212-200, Helikopter NBO-105, Helikopter BELL-412, dan Helikopter NAS-332C1.  Yang
sedang dikembangkan PT DI saat ini adalah pesawat turboprop untuk kapasitas 80-100 penumpang. “Peluang di kelas turboprop masih terbuka lebar, karena saingan kita yang kuat hanya ATR dan Bombardier,” ujar Andi.

Setelah melakukan diskusi, delegasi JWC Iran diajak berkunjung ke beberapa fasilitas di PT DI. Sonny S Ibrahim, Manajer Komunikasi PT DI memperlihatkan proses produksi beberapa komponen pesawat di fasilitas Aerostructures. Menurut Sonny, fasilitasi tersebut memproduksi komponen untuk Airbus A380/A320/A321/A340/A350, Boeing B-747/B-777/B-787, Eurocopter MK-2 (EC225/EC725) dan Airbus Military CN235/C295/C212-400. “Khusus untuk komponen bahu pesawat Airbus A380, PT DI dipercaya sebagai single supplier,” ujar Sonny.

Sonny juga mengajak delegasi melihat langsung proses pembuatan pesawat CN235-220 untuk kapasitas 35-40 penumpang dan NC-212-200 untuk kapasitas 12-26 penumpang. Menurut Sonny, proses pembuatan satu unit pesawat di PT DI mulai dari material pertama sampai proses delivery membutuhkan waktu sekitar 14 bulan, dengan kapasitas produksi masing-masing 6 unit untuk tiap jenis pesawat. Keunggulan pesawat CN235-220 adalah dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan (multi-purpose). “Pesawat ini dapat mendarat di tanah dan dengan kekuatan mesin penuh, pesawat ini hanya membutuhkan landasan dengan panjang 600 meter untuk take-off,” jelas Sonny.

Delegasi JWC Iptek Iran sangat terkesan dengan kemampuan PT DI dalam riset, pengembangan, hingga produksi pesawat. Mereka berharap kerjasama di bidang teknologi pesawat terbang ini dapat direalisasikan segera. (munawir)

July 23, 2013

Indonesia-Iran Perkuat Kerjasama Riset dan Iptek

Kerjasama di bidang riset dan iptek antara Indonesia dengan Iran secara resmi dimulai pada tahun 2006 yang ditandai dengan penandatantangan Nota Kesepahaman antara Menteri Riset dan Teknologi saat itu, Kusmayanto Kadiman dengan Menteri Luar Negeri Iran, di hadapan presiden SBY dan Presiden Mahmoud Ahmadinedjad. Sejak itu, kedua negara membentuk Joint Committee Meeting (JCM) on Research and Technology yang sampai saat ini telah bertemu sebanyak 3 kali baik di Iran maupun di Indonesia untuk membicarakan perkembangan kerja sama di bidang riset dan iptek. Kerjasama kedua negara diarahkan kepada iptek sebagai solusi atas permasalahan global saat ini.

Hal itu disampaikan Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman, saat membuka pertemuan Indonesia-Iran JCM on Research and Technology ke-4 di Jakarta yang berlangsung pada Senin-Selasa, 22-23 Juli 2013. Dalam sambutannya, Agus menyampaikan bahwa selama ini Indonesia dan Iran memfokuskan kerjasama riset dan ipteknya di dalam beberapa bidang, yaitu ilmu kebumian, nanoteknologi, teknologi kedirgantaraan, ilmu kedokteran dan sel punca, serta bioteknologi. "Berbagai bentuk kerjasama, baik itu pertukaran peneliti dan ilmuwan, program riset bersama, penyelenggaraan seminar maupun workshop bersama, dapat dilakukan untuk meningkatkan kerjasama yang sedang berjalan ataupun yang akan dilakukan di masa mendatang," ujar Agus.

Selain beberapa bidang tersebut di atas, Indonesia juga tertarik untuk menjajaki kerjasama terkait pengembangan Science Techno Park (STP). Iran mempunyai banyak pengalaman dalam menelurkan program spin off/start up company yang berasal dari perguruan tinggi. Iran juga tercatat sebagai negara yang mempunyai jumlah publikasi terbanyak di antara negara Islam lainnya. Sejalan dengan hal tersebut, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh dalam sambutannya pada pertemuan tersebut menyampaikan bahwa Indonesia dan Iran mempunyai semangat yang sama dalam kerjasama iptek ini dan berharap kerjasama dapat direalisasikan dalam tataran yang lebih teknis dan praktis. "Wajib hukumnya bagi Iran untuk berbagi kemajuan yang dicapai dalam bidang riset dan iptek kepada negara-negara sahabat," ujar Mahmoud.

Dalam pertemuan tersebut, anggota JCM dari kedua negara menyampaikan kemajuan dari masing-masing bidang yang dikerjasamakan. Dari Indonesia, delegasi terdiri dari perwakilan Kementerian Ristek, BPPT, LIPI, LAPAN, BSN dan Fakultas Kedokteran UI. Sementara itu delegasi dari Iran berjumlah 10 orang berasal dari Kementerian Sains, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Kementerian Pertahanan, Pusat Penelitian Energi, dan STP. Delegasi Iran yang dimpimpin Deputi Menteri Iptek Iran, Mohammad Mehdi Nejad Noori, juga akan berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia dan Bandung Technology Park di Jawa Barat.

Kerjasama kedua negara di bidang riset dan iptek mulai dijajaki pada tahun 2003, saat Menristek pada waktu itu Hatta Rajasa berkunjung ke Iran atas undangan Menteri Sains, Riset dan Teknologi Iran, Mostafa Moin. Keduanya menandatangani Pernyataan Bersama yang berisikan tekad kedua belah pihak untuk meningkatkan hubungan persahabatan dan hubungan kerjasama di bidang riset dan iptek untuk meningkatkan pembangunan sosial ekonomi kedua negara. Tahun ini, Iran kembali mengundang Menristek untuk berkunjung ke Iran dan sekaligus menandatangani perpanjangan Nota Kesepahaman yang mendasari kerjasama riset dan iptek kedua negara.(munawir)

Menristek Temui Delegasi JWC Iptek Iran

Di sela-sela pertemuan Indonesia-Iran Joint Working Committee (JWC) on Scientific and Techological Cooperation, delegasi JWC Iptek Iran melakukan kunjungan kehormatan ke Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta pada Selasa, 23 Juli 2013. Didampingi Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, delegasi Iran yang berkunjung adalah Mohammad Mahdi Nejad Nouri, Esmael Khaderi Far, Ahmad Fazel Zadeh, Ali Asghar Tofiq, Amir Said Karami, Abdurrahman Tarough, Gholamrheza Shakiba, Iraj Tajuddin, Seyed Mohammad Said Mosavi Asle, dan Mohammad Aminei. Delegasi JWC Iran tersebut berasal dari Kementerian Sains, Riset dan Teknologi Iran, Kementerian Pertahanan Iran, Pusat Penelitian Material dan Energi, dan Fars Science and Technology Park.

Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman yang mendampingi Menristek melaporkan bahwa sehari sebelumnya anggota JWC Iptek dari Iran dan Indonesia telah melakukan pertemuan dan membahas perkembangan kerjasama iptek kedua negara di beberapa bidang, yaitu yaitu ilmu kebumian, nanoteknologi, teknologi kedirgantaraan, ilmu kedokteran dan sel punca, serta bioteknologi. Menerima laporan tersebut, Menristek menyampaikan apresiasi kepada para anggota JWC Iran atas kerjasama yang baik di beberapa bidang tersebut. "Bidang-bidang kerjasama yang sudah ada sekarang sejalan dengan fokus pengembangan iptek di Indonesia. Kerjasama Indonesia dan Iran di bidang Iptek harus terus ditingkatkan dan diperluas ruang lingkupnya," ujar Menristek.

Anggota JWC Iran, Ali Asghar Tofiq yang menjabat Direktur Puslit Energi dan Material Iran, kepada Menristek menyampaikan perkembangan nanoteknologi yang mulai berkembang di Iran sejak tahun 2003. Ali berharap kerjasama bidang nanoteknologi dengan Indonesia makin ditingkatkan melalui Inter-Islamic Network on Nanotechnology (INN) yang dibentuk di Iran. INN dibentuk atas inisiasi Ministerial Standing Committee for Scientific and Technological Cooperation (COMSTECH) yang merupakan salah satu komite di dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Ali yang juga merupakan CEO INN mengundang Indonesia melalui Menristek untuk bergabung dalam INN. Menristek menyambut baik undangan tersebut dan akan menindaklanjutinya dengan pihak terkait di Indonesia.

Indonesia dan Iran kini sedang membahas perpanjangan Nota Kesepahaman Kerjasama Iptek-Indonesia yang ditandatangani pada tahun 2006 silam. Dubes Iran berharap dalam waktu dekat Nota Kesepahaman tersebut telah selesai dibahas, dan Menristek dapat berkunjung ke Iran untuk menandatangani langsung Nota Kesepahaman tersebut. Selain lima bidang kerjasama yang telah berjalan, Nota Kesepahaman tersebut juga akan menjadi dasar kerjasama beberapa inisiatif baru, di bidang energi terbarukan, Science & Technology Park serta kerjsama iptek untuk industri. (munawir)

July 8, 2013

Marhaban Yaa Ramadhan

Alhamdulillah, Ramadhan yang dinanti telah datang, bulan penuh ampunan dan ganjaran amal dilipatgandakan. Bulan penuh berkah penuh rahmah. Momen terbaik untuk mengupgrade kapasitas iman dan taqwa kita. 

Insya Allah, tahun ini masih diberi rizki untuk mudik ke Makassar. Tiket pesawat sudah di tangan sejak awal tahun. Rencananya pulang tanggal 1 Agustus mendatang. Sudah banyak rencana untuk dilakukan ketika mudik nanti. Tak sabar rasanya menanti. 

Ini Ramadhan ketiga tanpa Abba, beliau meninggal 2 tahun lalu seminggu sebelum Ramadhan. Tanggal 24 Juli besok tepat 2 tahun Abba menghadap sang Khalik. Rasa rindu ke Abba selalu menyergap, 2 hari yang lalu saya mimpi melihat Abba dengan gaya khasnya, memakai kopiah, sarung dan baju koko menyetir mobil mengantar Uqi dan Lana pulang. Entah dari mana, namanya jg mimpi.

Menjelang Ramadhan seperti ini, teringat lagi 22 tahun lalu, ketika Abba mengajak saya ke mercusuar di Bulukumba untuk melihat hilal. sebagai seorang hakim, salah satu tugas Abba ya urusan hisab dan ru'yat. Mmmh, rasanya masa kecil yg kuhabiskan dengan Abba ga terlalu banyak. Kenangan ke mercusuar itu termasuk yang masih bisa kuingat sampai sekarang.  

Allahumaghfirly.. Wa liwalidayya... Warhamhuma... Warhamhuma.. Warhamhuma... Kamaa rabbayaniy shagiiraa...

July 5, 2013

Delegasi APEC PPSTI Berkunjung ke PPKS Medan

Setelah melakukan pertemuan APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI) selama dua hari, 1-2 Juli 2013, para delegasi dari anggota ekonomi APEC diundang oleh Kementerian Riset dan Teknologi untuk berkunjung ke salah satu pusat unggulan iptek yang terletak di kota Medan, yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), pada hari Rabu, 3 Juli 2013. Rombongan dipimpin langsung Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman yang juga merupakan Chairman APEC PPSTI.

Direktur PPKS, Witjaksana Darmosarkoro, dalam sambutannya menyampaikan profil PPKS sebagai lembaga riset bertaraf internasional dan mandiri secara finansial. Menurut Witjaksana, kemajuan PPKS dapat dilihat dari perkembangan kinerja dan sertifikasi atau penghargaan yang telah diraih seperti ISO 9001, KAN, KNAPPP, Bakrie Award dan Anugerah Ristek Pranata Litbang. “Penunjukan PPKS sebagai pusat unggulan iptek oleh Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenristek) semakin memperkuat kedudukan PPKS sebagai lembaga penelitian kelapa sawit,” ujar Witjaksana.

Selain mendapatkan informasi tentang PPKS, para delegasi APEC PPSTI juga mendapatkan pemaparan dari PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dan Pusat Penelitian Karet Indonesia (Puslitkaret). Puslitkaret juga merupakan salah satu lembaga riset yang sedang dipersiapkan untuk menjadi pusat unggulan iptek oleh Kementerian Ristek. Sementara itu PT RPN adalah sebuah perusahaan riset dan pengembangan anak perusahaan BUMN Perkebunan yang menaungi PPKS dan Puslitkaret.

Setelah berdialog, rombongan diajak berkunjung ke Unit Pelayanan dan Informasi Kelapa Sawit (UPIKS), yang merupakan showroom produk hasil penelitian dan layanan paket teknologi yang dilakukan oleh PPKS. Di UPIKS, rombongan melihat langsung berbagai produk kelapa sawit dari hulu sampai hilir. Selain itu, rombongan juga ditunjukkan pengolahan tandan kelapa sawit untuk pakan ternak dan pemanfaatan biogas kelapa sawit untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Anggota delegasi APEC PPSTI dari China Taipei yang mewakili rombongan mengaku sangat terkesan dengan proses teknologi dan inovasi yang berlangsung di PPKS dan berharap lembaga terkait di masing-masing ekonomi anggota APEC dapat menjalin kerjasama lebih lanjut dengan PPKS Medan. (munawir)

July 2, 2013

Kemenristek Perkuat Kelembagaan Pusat Unggulan Iptek

Sejak diluncurkan pada tahun 2011, Program Pusat Unggulan Iptek (PUI) telah mengidentifikasi dua belas lembaga litbang dan konsorsium yang akan dikembangkan sebagai PUI. Tiga di antaranya, yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember dan Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga, telah ditetapkan sebagai PUI karena sudah memenuhi kriteria sebagai pusat unggulan. Kriteria tersebut baik dari sisi output akademik yang diindikasikan dari jumlah publikasi, paten, produk/ prototipe, dan dari sisi outcome yaitu kontribusinya bagi pembangunan nasional, yang diindikasikan antara lain dari jumlah produk/teknologi yang digunakan oleh industri, jumlah jasa pelayanan konsultasi dan pelatihan kepada industri dan UKM/ masyarakat, serta jumlah produk/teknologi yang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Untuk terus mengembangkan kapasitas lembaga-lembaga tersebut, untuk yang kedua kalinya Kementerian Ristek menyelenggarakan Workshop Penguatan Kelembagaan Pusat Unggulan Iptek, yang bertempat di PPKS Medan, pada tanggal 1-2 Juli 2013. Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta yang hadir membuka workshop tersebut mengutarakan bahwa workshop ini merupakan langkah penting dalam membangun pusat unggulan yang terkemuka yang tidak saja unggul dari sisi akademik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, dan pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”Setiap tahun saya menginginkan pusat unggulan iptek bertemu untuk berbagi informasi, capaian, dan pengalaman masing-masing lembaga, dan bersama-sama mencari langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan yang ada,” ujar Menristek.

Pengembangan pusat unggulan iptek yang sedang dikembangkan oleh Kemenristek ditujukan untuk mendukung program utama Kemenristek seperti tercantum dalam RPJMN 2010-2014 yaitu, penguatan sistem inovasi nasional (SINas) untuk mendukung pembangunan nasional. Pengembangan pusat unggulan iptek juga merupakan implementasi inisiatif strategi pembangunan nasional dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 (Perpres No. 32 Tahun 2011) yaitu “Pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi, yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek, yang sesuai untuk peningkatan daya saing.

Delapan lembaga calon PUI lainnya yang sedang disiapkan Kementerian Ristek saat ini adalah Pusat Penelitian Karet Bogor sebagai PUI Karet, Pusat Studi Biofarmaka IPB Bogor sebagai PUI Obat Herbal, Konsorsium Riset Pengelolaan Hutan Tropis Berkelanjutan Unlam Kalsel sebagai PUI Hutan Berkelanjutan, Konsorsium Riset Rumput Laut Unhas Sulsel sebagai PUI Rumput Laut, Konsorsium Riset Pariwisata Unud Bali sebagai PUI Pariwisata, Konsorsium Riset Ruminansia Besar Unram NTB sebagai PUI Ruminansia Besar, Konsorsium Riset Sagu Unipa Papua Barat sebagai PUI Sagu, Konsorsium Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Sub Optimal Unsri Sumsel sebagai PUI Lahan Suboptimal, Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB Bogor sebagai PUI Hortikultura.

Menurut Menristek, penyebaran PUI yang merata di seluruh koridor ekonomi diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan masing-masing daerah, melalui pengembangan komoditas dari hulu hingga ke hilir. Penguasaan teknologi dan peningkatan daya saing daerah dan nasional akan terwujud, dengan dukungan pemerintah daerah dan sektor industri. “Untuk pimpinan daerah, saya menghimbau untuk mendukung pengembangan pusat unggulan iptek dan memanfaatkan pusat unggulan iptek yang ada bagi pengembangan perekonomian daerah. Saya juga mengajak industri untuk juga bekerjasama dengan lembaga litbang, menciptakan dan menggunakan produk dan teknologi hasil litbang dalam negeri yang inovatif, efektif dan efisien sehingga dapat memperkuat struktur dan daya saing ekonomi daerah dan nasional,” ujar Menristek.

Selain Menristek, turut hadir pada workhop tersebut, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi; Ketua Dewan Riset Nasional, Andrianto Handojo; Sekretaris Kementerian Ristek, Hari Purwanto; Deputi Bidang Kelembagaan Iptek, Mulyanto; Staf Ahli Menristek Bidang Pertanian dan Pangan, Benyamin Lakitan, dan Staf Khusus Menristek Bidang Daerah dan Media Massa, Gusti Nurpansyah. (munawir)

July 1, 2013

Indonesia Pimpin Pertemuan Iptek Dan Inovasi Strategis APEC

Kawasan Asia Pasifik yang strategis memungkinkan kawasan ini berpengaruh dan memainkan peran yang sangat penting dalam perekonomian global. Negara-negara di kawasan tersebut yang tergabung dalam Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) terus melakukan sinergi dalam berbagai bidang kerjasama untuk meningkatkan kapasitas masing-masing ekonomi anggota APEC dan kawasan secara keseluruhan. Khusus untuk bidang iptek, riset dan inovasi, pada tahun ini dibentuk APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI) yang dipimpin oleh Indonesia hingga tahun 2015.

Dalam rangkaian pertemuan APEC Senior Official Meeting 3 yang diselenggarakan di Medan sejak tanggal 22 Juni hingga 6 Juli 2013 mendatang, ekonomi anggota APEC PPSTI kembali melakukan pertemuan yang kedua pada tanggal 1-2 Juli 2013. Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, yang hadir membuka pertemuan tersebut menyampaikan bahwa pertemuan APEC PPSTI pertama di Surabaya pada April 2013 silam telah membentuk tiga sub-group yaitu Building Science Capacity (CAPACITY), Promoting an Enabling Environment for Innovation (INNOVATION), dan Enhancing Regional Science and Technology Connectivity (CONNECTIVITY). “Saya sangat senang dengan dibentuknya tiga sub-grup ini, karena ketiga aspek ini (Capacity, Innovation, Connectivity) adalah elemen yang penting bagi masing-masing ekonomi APEC maupun kawasan Asia Pasifik untuk membentuk karakternya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan regional,” ujar Menristek.

Menristek juga menambahkan bahwa bidang-bidang kerjasama yang telah diidentifikasi pada pertemuan PPSTI pertama yaitu : (i) Life Sciences, including Health, Medicine and Biotechnology; (ii) Alternative and Renewable Energy; (iii) Waste Water Management; (iv) ICT and Digital Divide issu; dan (v) Food and Agriculture, sejalan dengan beberapa bidang fokus pengembangan iptek di Indonesia, sehingga kesempatan Indonesia sebagai pemimpin APEC PPSTI perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan iptek nasional. “Saya berharap pertemuan ini dapat menghasilkan Rencana Aksi Strategis APEC PPSTI 2013 – 2015, meliputi pemilihan topik kerjasama regional, penyusunan rencana aksi, berdasarkan kelompok sub group (Capacity, Innovation, Connectivity) tersebut,” ujar Menristek.

APEC PPSTI yang merupakan transformasi dari APEC Industrial Science and Technology Working Group (APEC ISTWG) dibentuk untuk mendukung perkembangan kerjasama iptek di kawasan regional APEC, serta menentukan kebijakan inovasi regional dari masing-masing anggota APEC. Karena APEC PPSTI merupakan forum utama komunitas iptek APEC maka, forum ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama diantara ABG (academicians-business-government) dalam bidang iptek dan inovasi. PPSTI disarankan untuk melibatkan pihak swasta dari sejak awal penentuan rencana aksi, untuk mendukung penetrasi teknologi, diseminasi dan komersialisasi iptek di seluruh masyarakat APEC. (munawir)

Menristek Serukan Industri APEC Perkuat Kerjasama Litbang

Salah satu tantangan bersama yang dihadapi oleh anggota Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) adalah pencemaran dan kerusakan ekosistem laut. Pembuangan limbah secara illegal oleh pribadi maupun industri telah mengancam kelestarian lingkungan laut. polusi, penambangan, dan penangkapan ikan dengan cara yang salah juga dapat mengakibatkan rusaknya terumbu karang, terhambatnya pertumbuhan fitoplankton dan kerusakan biota laut lainnya. Dibutuhkan para peneliti yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk menyelesaikan berbagai masalah dan tantangan di bidang kelautan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, saat mengumumkan pemenang penghargaan The APEC Science Prize for Innovation, Research, and Education (ASPIRE) di Hotel Santika Dyandra Medan, Senin 1 Juli 2013. Penghargaan ASPIRE 2013 dimenangkan oleh Dr. Carissa Klein dari University of Queensland, Australia. Sebagai Ketua APEC tahun ini, Indonesia diminta menentukan tema dari kompetisi ini. ”Tahun ini kita memilih tema Pembangunan Kelautan Berkelanjutan (Sustainable Ocean Development), karena keinginan kita yang kuat mendorong ekonomi APEC yang lain untuk mencari solusi pembangunan kelautan yang berkelanjutan secara ekonomi dan mempertimbangkan aspek lingkungan hidup,” ujar Menristek.

Menristek juga mendorong APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI), agar pada tahun-tahun mendatang, industri yang menunjukkan komitmen berkolaborasi di bidang litbang iptek dan inovasi agar mendapatkan penghargaan dari APEC. "Saat ini APEC telah melahirkan banyak pemikir muda yang hebat. Kita butuh lebih banyak pelaku dengan memadukan tenaga kerja ilmiah kita dengan sektor bisnis dan industri. Dengan demikian, APEC akan menjalankan siklus penuh inovasi," ujar Menristek.

Carissa Klein mengungguli enam nominasi lainnya, yaitu Zhonghui Liu dari Hongkong, Tonni Agustiono Kurniawan dari Indonesia, Craig Radford dari Selandia Baru, Changxiang Yan dan Cina, Yeon-Ju Lee dari Korea, dan Demian Alexander Willette dari Amerika Serikat. Para nominasi ini dipilih dari kegiatan penelitian mereka yang unggul dan dibuktikan dengan banyaknya publikasi ilmiah internasional yang diterbitkan. Selain itu para nominasi juga melakukan kolaborasi dengan peneliti lain dari ekonomi anggota APEC. Penelitian yang dilakukan Carissa Klein telah membantu dua ekonomi APEC, yaitu Amerika Serikat dan Malaysia dalam melakukan zonasi spasial untuk kegiatan penangkapan ikan dan konservasi. “Orang sering melihat pengembangan kawasan laut yang dilindungi sebagai konflik kepentingan antara penangkapan ikan dan konservasi. Padahal kita dapat melakukan zonasi di laut untuk mempertemukan kebutuhan para pemangku kepentingan, baik itu industri perikanan, perusahaan pertambangan dan kelompok konservasi,” ujar Carissa.

Penghargaan ASPIRE  adalah penghargaan tahunan untuk para peneliti muda APEC yang masih berusia di bawah 40 tahun. Hadiah kepada pemenang sebesar 25.000 USD diberikan oleh publishers international dalam bidang iptek yaitu Wiley dan Elsevier. Sebelumnya, ASPIRE  dimenangkan Ali Javey dari Amerika Serikat (2011) dan Rossa Wai Kwun Chiu dari Hongkong, China (2012). Turut hadir menyaksikan penyerahan ASPIRE , Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dan Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman, selaku Chairman APEC PPSTI. (munawir)