December 31, 2014

Hilirisasi dan Komersialisasi Penelitian Perguruan Tinggi

Untuk meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian di masyarakat, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melakukan sinergi dengan kementerian lain. Misalnya dalam pemanfaatan beras Sidenuk dan Mira yang merupakan hasil teknologi BATAN, Kemenristekdikti menggandeng Kementerian Pertanian. Begitu juga dengan pengobatan kanker tanpa operasi dengan radioisotop BATAN, Kemenristekdikti sudah melakukan penjajakan dengan Kementerian Kesehatan agar teknologi tersebut dihilirkan oleh industri.

Hal tersebut disampaikan oleh Menristekdikti, Mohamad Nasir saat hadir sebagai pembicara kunci pada acara Refleksi Akhir Tahun 2014 di Kampus Pleburan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Acara yang mengambil tema Hilirisasi dan Komersialisasi Penelitian Perguruan Tinggi tersebut diselenggarakan pada hari Selasa, 30 Desember 2014. Dalam sambutannya tersebut, Menristekdikti menegaskan bahwa hasil riset harus dikomersialisasikan dan dihilirisasikan. “Produk itu tidak hanya berhenti di riset saja, tidak cukup menjadi prototype saja, namun harus produk itu harus bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Menristekdikti.

Menurut Menristekdikti, tantangan perguruan tinggi bukan hanya menerbitkan publikasi, namun juga menghilirkan produk riset. Untuk mempercepat proses hilirisasi dan komersialisasi tersebut, pemerintah akan mengembangkan lebih dari 100 Science & Techno Park (STP) baru yang akan menjadi tempat bertemunya sektor sains dan sektor bisnis. “Total anggaran 3,6 triliun rupiah akan dialokasikan untuk mewujudkan 100 STP.  Dalam satu tahun saya mentargetkan lima belas sampai tujuh belas STP terbangun, dengan kerjasama dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah dan dunia usaha,” ujar Menristekdikti.

Untuk jangka pendek, Kemenristekdikti akan menyelenggarakan Indonesia Innovation Summit pada akhir Januari atau awal Februari 2015. Kegiatan tersebut akan menampilkan hasil-hasil riset dari LPNK Ristek dan perguruan tinggi yang bisa diproduksi dan dihubungkan dengan sektor bisnis. Menristekdikti telah mengajak para pengusaha baik yang tergabung dalam KADIN, APINDO dan asosiasi bisnis lainnya untuk hadir pada kegiatan yang akan dibuka langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Menristekdikti berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ajang untuk mensinergikan sektor penelitian dengan sektor bisnis sehingga membawa dampak yang positif bagi perekonomian bangsa. “Riset yang dibutuhkan oleh dunia usaha adalah riset yang sesuai dengan keinginan pasar (market driven), sehingga apa yang dibutuhkan oleh pasar maka riset harus diarahkan kesitu,” tegas Menristekdikti.

Kegiatan Refleksi Akhir Tahun di Universitas Diponegoro adalah agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Selain Menristekdikti, turut hadir sebagai pembicara adalah Sudarto, Kepala Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencamaran Industri; Sudharto, Rektor UNDIP; Muhammad Nur, Dekan Fakultas Sains dan Matematika UNDIP dan dipandu oleh Amir Mahmud, Pemimpin Redaksi Harian Suara Merdeka yang bertindak sebagai moderator. (munawir)

December 5, 2014

CSR untuk Komersialisasi Hasil Riset

Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) adalah yayasan yang didirikan oleh Toray Industries, Inc pada akhir tahun 1993 yang bertujuan untuk mendukung kemajuan sains dan teknologi di Indonesia. ITSF membantu para peneliti, ilmuwan dan tenaga pendidik dari berbagai bidang studi dalam bentuk dana penelitian ataupun award kepada mereka dengan pencapaian luar biasa dan mampu berkontribusi dalam kemajuan sains dan teknologi. Terdapat tiga program ITSF, yaitu (1) Science and Technology Award, Pemberian penghargaan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi; (2)  Science and Technology Research Grant, Pemberian penghargaan berupa dana bantuan penelitian dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menyediakan bantuan keuangan untuk sebuah penelitian; dan (3). Science Education Award, Pemberian penghargaan dibidang pendidikan, untuk meningkatkan pendidikan ilmu pengetahuan yang inovatif dan kreatif di sekolah menengah umum. Tiga program tersebut dilaksanakan setiap tahun dengan menggunakan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Toray Industries Indonesia (PT. TIN)

Hal tersebut disampaikan, Akihiko Ishimura, Presiden Direktur PT. TIN saat bertemu dengan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, di kawasan Puspiptek Serpong, Jumat 5 Desember 2014. Dalam pertemuan tersebut, Ishimura didampingi Akihiro Ogata, Direktur PT. TIN dan Hasanuddin Abdurahman, Manajer Pengembangan Bisnis PT. TIN.

Menristek Dikti menyambut baik upaya PT. Toray selama ini dalam memajukan sains dan teknologi di Indonesia. Menristek Dikti berhadap, kegiatan riset yang didanai oleh PT. Toray dapat berlanjut sampai ke pengembangan produk dan dapat dilanjutkan ke skala industri. “Jangan sampai terbatas hanya riset saja, namun dihilirisasi menjadi prototype hingga produk yang lebih aplikatif. itu harapan saya”, ujar Mohamad Nasir.

Menurut Menristek Dikti, dengan adanya pengembangan produk, program ITSF dapat lebih menguntungkan kedua belah pihak, dimana PT. Toray selaku industri mendapatkan produk untuk dikembangkan dan bagi peneliti dapat mengkomersialisasikan hasil risetnya. CSR sebaiknya tidak terbatas pada bantuan dana saja, namun harus dimanfaatkan lebih untuk pengembangan produk. “Ini adalah kontribusi industri terhadap dunia penelitian di Indonesia, yang outputnya kembali kepada industry”, ujar Menristek Dikti.

Menanggapi hal tersebut, Hasanuddin menjelaskan bahwa PT. Toray saat ini sedang menjajaki kerjasama dengan LIPI dan BPPT maupun perguruan tinggi untuk melakukan kegiatan riset bersama di bidang yang menjadi kepentingan bersama, yaitu bidang Lingkungan, khususunya Water Treatment, dan bidang Material, khususnya Bio-based Polymer. “Kami ingin membangun komunikasi yang lebih baik dengan peneliti di Indonesia, karena perusahaan kami adalah perushaan produksi yang berbasis hasil riset”, ujar Hasanuddin.

Dalam pertemuan tersebut, Menristek Dikti didampingi, Deputi Menristek bidang Kelembagaan Iptek, Mulyanto; Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman; Kepala Biro Hukum dan Humas, Agus Sediadi; Asdep Jaringan Penyedia dan Pengguna, Sri Setiawati; Asdep Jaringan Iptek Internasional, Nada Marsudi; dan Kabid Analisis dan Perancangan Jaringan Iptek Internasional, Tiomega Gultom. (munawir)

Menristekdikti Hadiri Peringatan HUT Batan ke-56

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang Ke-56 tahun 2014 diselenggarakan di Gedung Graha Widya Bakti Puspiptek Serpong, pada hari Jumat 5 Desember 2014. Tema HUT Batan kali ini adalah "Melalui Penguasaan Iptek Nuklir Batan Berkontribusi bagi Indonesia dalam Kemandirian Pangan dan Energi".

Menristekdikti, Mohamad Nasir yang hadir pada peringatan tersebut, menyatakan dukungan dari Kementerian RIset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi kepada pengembangn iptek nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Menristekdikti bahkan menantang Batan, sebagai pionir untuk segera merealisasikan pemanfaatan nuklir untuk pembangkit energi. “Batan harus menjadi motor berdirinya PLTN di Indonesia”, ujar Mohamad Nasir

Mohamad Nasir mendorong rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimental atau PLTN mini dapat segera diwujudkan. Namun Mohamad Nasir berpesan agar Batan selalu intensif melakukan edukasi kepada publik tentang aspek keamanan dan keselamatan PLTN. Bila PLTN Mini sudah terbangun, Mohamad Nasir meminta agar fasilitas tersebut dapat diakses oleh masyarakat untuk melihat langsung operasional PLTN. Harapannya bila masyarakat sudah menerima, maka PLTN skala besar dapat dibangun untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang semakin meningkat. “Kalau 2017 sudah bisa beroperasi, 2018 dan 2019 kita kenalkan ke masyarakat, 2020 kita sudah bisa siap membangun PLTN dengan daya yang lebih besar, target kita di masa datang PLTN bisa berkontribusi sampai 10 GW”, ujar Mohamad Nasir.

Pada kesempatan tersebut, Batan memberikan anugerah kepada Mohamad Nasir sebagai "Keluarga Besar Batan " dengan pemberian kartu tanda pengenal yang didalamnya terdapat chip yang berguna untuk akses masuk ke seluruh kawasan nuklir yang ada di Batan. Selain itu, Batan juga menganugerahi penghargaan tertinggi du bidang iptek nuklir kepada Dirjen BATAN pertama sekaligus mantan Menteri Kesehatan (alm) G.A. Siwabessy sebagai Bapak Atom Indonesia,  sebagai bentuk terima kasih atas jasa-jasa almarhum dalam merintis dan memajukan perkembangan iptek nuklir di Indonesia (munawir).

December 4, 2014

December 3, 2014

Peluncuran Buku Saku Indikator Iptek 2014

Selama lima tahun terakhir, kondisi iptek nasional bergerak melambat dan dapat dikatakan stagnasi. Kondisi ini dapat dilihat dari Ekonomi dan Intensitas Teknologi, Belanja Litbang Nasional, Sumber Daya Manusia Iptek dan Luaran Iptek. Kondisi ini terpapar dalam Buku Saku Indikator Iptek Indonesia 2014. Buku ini diluncurkan lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, pada Rabu, 3 Desember 2014.

Buku Saku Indikator Iptek Indonesia 2014 merupakan buku yang berisi data dan informasi Iptek yang diperlukan untuk menggambarkan kondisi iptek saat ini, sehingga para pengambil keputusan mengetahui dan memahami berbagai kondisi iptek agar kebijakan iptek untuk pembangunan menjadi lebih terarah.

Iskandar Zulkarnaen, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan bahwa ada hal menarik terkait dengan kondisi iptek nasional lima tahun terakhir. “Iptek nasional Indonesia bergerak melambat dan dapat dikatakan stagnasi, indikator hal ini dapat dilihat dari Peningkatan Rasio belanja Litbang Nasional (GERD) terhadap PDB di tahun 2013 hanya 0,01 dari tahun sebelumnya. Saat ini nilai rasio (GERD) Indonesia 0,09%. Nilai ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya sepeti Malaysia 1% (2012), Thailand 0,25% (2012), atau bahkan Singapura (2,1%), “ ungkap Iskandar.

Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pappiptek) LIPI, Trina Fizzanty menambahkan bahwa berdasarkan data ekspor industri manufaktur Indonesia, kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspor hanya 55,5% di tahun 2011, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 (63,2%). Angka ini sangat kecil jika dibandingkan negara lain yang memiliki kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspornya mencapai di atas 80% seperti Malaysia (81,18%), Singapura (89,76%), Korea (96,74%), dan China (96,17%). Khusus manufaktur dengan intensitas teknologi tinggi dan menengah seperti industri farmasi, kendaraan bermotor, elektronik, dll., Indonesia hanya memiliki kontribusi sebesar 28,92% terhadap total ekspor bandingkan dengan Malaysia yang telah memiliki kontribusi sebesar 59,11%, Singapura 68,99%, China 58,96% dan Korea 71,85%.

Sementara itu, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir, menyoroti masih rendahnya rasio peneliti per 10.000 angkatan kerja di tahun 2012 adalah 7,25, walaupun angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2009 (3,60). Angka ini masih jauh dibandingkan dengan Malaysia 16,43 atau Singapura 64,38. Bahkan Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi melihat sektor perguruan tinggi memiliki rata-rata belanja litbang per peneliti terendah dibandingkan dengan sektor pemerintah dan swasta. Satu peneliti di perguruan tinggi hanya mendapat sekitar Rp 87.833.580/tahun. Keadaan ini mengindikasikan bahwa peningkatan dana pendidikan (20% dari APBN) belum memprioritaskan pada kegiatan penelitian dan pengembangan.

“Oleh karena itu saya akan mendorong pihak-pihak swasta baik di BUMN maupun di BKPM, nanti akan Saya kumpulkan dan Saya diskusikan untuk mendorong riset di Indonesia agar bisa meningkat dari segi alokasi anggarannya maupun output hasil riset tersebut. Kami akan menentukan pada semua perguruan tinggi antara 10-15% itu harus dialokasikan pada riset,” ujar Menristekdikti. (munawir)

October 16, 2014

Kamis 16 Oktober 2014 RISET-PRO Targetkan Cetak Doktor Handal

Penggunaan uang rakyat harus dipertanggunggjawabkan dengan baik, termasuk oleh karyasiswa. Demikian disampaikan Menristek, Gusti Muhammad Hatta dalam arahannya pada pembekalan tugas belajar karyasiswa Kemenristek 2014, di Gedung BPPT, Kamis 16 Oktober 2014.

“Untuk meningkatkan SDM, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya termasuk memberikan beasiswa. Uang rakyat yang dipakai untuk sekolah harus bisa dipertanggungjawabkan dengan baik,” ujarnya. Menristek mengemukakan hal itu saat memberikan pengarahan dan pembekalan program karyasiswa Kemenristek 2014. Menristek juga mengatakan bahwa amanah yang sudah diberikan kepada karyasiswa harus bisa dimanfaatkan agar dapat menjadi peneliti maupun perekayasa professional yang mampu membanggakan Indonesia.

Pada kesempatan yang sama Deputi Sumber Daya Iptek, M. Dimyati mengatakan, Indonesia masih jauh ketinggalan dalam daya saing dan sumber daya manusia (SDM) bertitel doktor atau lulusan strata tiga (S-3). Dengan jumlah penduduk sekitar 252 juta jiwa, jumlah doctor di Indonesia 120 orang per satu juta penduduk. Sementara negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Singapura 2350-300 doktor per jumlah penduduk. “Dari pegawai Kemenristek dan LPNK, jumlah doctor cuma 5%, master 17%. Para pegawai yang berusia lebih dari 41 tahun sebesar 63%,” ujarnya.

Kondisi kelembagaan yang belum kondusif dalam memberikan penghargaan kepada para peneliti dan perekayasa juga menjadi kendala dalam mencetak SDM handal. Berdasarkan survai CSImago tahun 2013, publikasi penelitian kita selama 16 tahun (1996-2013) hanya mencapai 25.481 tulisan, padahal jumlah dosen dan peneliti di perguruan tinggi ada sekitar 120.492 orang. Dengan jumlah tersebut posisi Indonesia hanya berada di urutan ke-61 dari 239 negara. “Belum lagi daya saing kita masih di urutan 38 dari 144 negara. Malaysia di urutan 24, Brunei 26, Thailand 37 dan Singapura berada di urutan 2 setelah Switzerland,” katanya menambahkan di depan 76 peserta karya siswa.

Dirinya mengatakan dalam upaya mendorong kemajuan Indonesia dan peningkatan SDM, pemerintah melakukan berbagai upaya salah satunya melalui program RISET-PRO. Research and Innovation in Science and Technology Project (RISET-PRO) yang dikelola oleh Kemenristek dengan anggaran soft loan mendorong 223 peneliti dan perekayasa untuk menjadi doctor dan magister. Ia berharap program ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para peserta karyasiswa agar menjadi scientist yang mumpuni dan berguna bagi bangsa. (munawir).

October 13, 2014

Kotabaru Dicanangkan sebagai Kawasan PKN


Pemerintah sejak beberapa tahun lalu menggulirkan program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN).  Program ini fokus terhadap kegiatan pendampingan dan pembinaan nelayan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan keluarganya. Pendampingan dilakukan baik secara langsung kepada Rumah Tangga Sasaran (RTS), kelompok, maupun secara luas di wilayah berbasis Pelabuhan Perikanan (PP)/Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Tahun ini Kabupaten Kotabaru yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan yang dicanangkan sebagai kawasan Implementasi Program PKN tersebut. Pencanangan dilakukan pada hari Senin, 13 Oktober 2014 oleh Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja dan disaksikan oleh Deputi Menristek Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Agus Puji Prasetyono.

Sjarief  mengungkapkan, dicanangkannya Kotabaru sebagai kawasan program PKN karena wilayah perairan laut di Kotabaru, memiliki potensi unggulan yang dapat dimanfaatkan  untuk pengembangan perikanan.  Tercatat, potensi lestari ikan di Kabupaten Kotabaru mencapai 98 ton/tahun, selain itu potensi ikan kerapu mencapai 10,2 ton/tahun, udang 15 ton/tahun, kepiting dan rajungan 220 ton/tahun, ikan bawal 93 ton/tahun, ikan asin 220,5 ton/tahun, lobster 96 ton/tahun, dan rumput laut 447 ton/tahun serta terdapat juga potensi karang laut. Sementara rumah tangga perikanan laut tercatat sebanyak 4.149 rumah tangga dengan perahu motor berjumlah 3.341 unit. Sedangkan jumlah rumah tangga perikanan darat, tambak dan kolam sebanyak 1.411 rumah tangga dengan perahu jenis jukung sebanyak 251 buah.

Maka dari itu, program ini menyasar pengembangan kapasitas skala usaha nelayan, pembudidaya ikan dan masyarakat perikanan lainnya melalui pengembangan usaha rumah tangga ke arah usaha industri, dan meningkatkan pengolahan serta pemasaran hasil kelautan dan perikanan. Sjarief menjelaskan, dalam pelaksanannya, program-program seperti pembangunan rumah sangat murah bagi nelayan, pekerjaan alternatif dan tambahan bagi keluarga nelayan, bantuan langsung masyarakat berupa skema usaha menengah kecil (UMK) dan kredit usaha rakyat (KUR), termasuk pembangunan fasilitas sekolah dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) serta fasilitas bank rakyat terus disinergikan dengan stakeholder terkait.  “Sehingga Program Pro Rakyat ini dapat lebih optimal dan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat nelayan,” jelas Sjarief.

Bupati Kotabaru, Irhamni Ridjani mengungkapkan potensi daerahnya di bidang perikanan kelautan. Menurut Irhamni, dengan jumlah nelayan yang besar dan perairan yang cukup luas, dan produksi ikan yang cukup tinggi, Kabupaten Kotabaru berpeluang besar menjadi pusat industri perikanan dan kelautan. Irhamni berharap dengan dicanangkanya Kotabaru sebagai kawasan PKN, produktivitas dan kesejahteraan nelayan makin meningkat. “Dengan program PKN ini, kami harap Kemenristek dapat memberikan dukungan teknologi untuk meningkatkan produktivitas para nelayan di Kotabaru,” ujar Irhamni.

Pencanangan Program PKN di kota Baru merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Nusantara Tahun 2014 yang diketuai oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Rencananya puncak Peringatan Hari Nusantara akan diselenggarakan di Pantai Siring Laut, Jujadi, Kab. Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 13 Desember 2014.  (munawir)

September 29, 2014

Menristek Buka Pameran Pendidikan dan Kreativitas Siswa

Dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Indramayu ke 487, Pemerintah Kabupaten Indramayu menyelenggarakan Expo Pendidikan dan Kreativitas Siswa. Kegiatan yang bertempat di alun-alun pendopo Kabupaten Indramayu tersebut dibuka langsung oleh Menristek Gusti Muhammad Hatta pada hari Senin, 29 September 2014.

Bupati Indramayu, Anna Sophanah, dalam laporannya kepada Menristek menyampaikan bahwa Indramayu merupakan salah satu lumbung padi nasional dan penyumbang sector perikanan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Namun menurut bupati, dibutuhkan sentuhan inovasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas di kedua sektor tersebut. “Dapat dilihat pada pameran ini, banyak karya siswa yang baru dan inovatif,” ujar Bupati Indramayu

Pada pameran tersebut, ditampilkan berbagai karya dari pelajar Indramayu, seperti alat pendeteksi banjir, mobil listrik, becak listrik, pengolahan sampah plastik menjadi sumber energi,  hingga teknologi tepat guna untuk penanganan pasca panen dalam hal ini mesin perontok padi manual dan menggunakan mesin. Pameran ini sendiri diikuti puluhan stand gabungan dari 49 SMA, 103 SMK, 186 SMP dan 896 SD.

Menristek mengaku kagum dengan pencapaian siswa di Indramayu dalam mengembangkan teknologi tepat guna. Produk yang dihasilkan para siswa tersebut sangat bermanfaat dalam menyelesaikan masalah di tengah masyarakat. “Teknologinya bagus dan harganya murah. Yang seperti ini harus ditingkatkan produksinya. Pemerintah berkewajiban untuk mendorong pengembangan kreativitas siswa seperti ini,” ujar Menristek

Untuk menggali potensi daerah yang dimiliki Indramayu, Menristek mendorong pemerintah daerah untuk melakukan sinergi dengan Universitas Wiralodra. Selain itu Menristek juga mengundang Bupati Indramayu untuk berkunjung ke Puspiptek Serpong untuk mengeksplorasi peluang kerjasama pemanfaatan teknologi yang relevan dengan potensi yang dimiliki daerah Indramayu. “Jika Pemkab Indramayu berkeinginan untuk mengembangkan potensi unggulan daerah dengan membutuhkan sentuhan teknologi, kami dapat memfasilitasi untuk koordinasi dan bersinergi dengan LPNK di bawah koordinasi kami,” ujar Menristek.

Pada kesempatan tersebut, Menristek juga memberikan bantuan kepada Pemkab Indramayu sebanyak 100 kg benih padi SIDENUK yang dihasilkan oleh BATAN dan tiga unit alat penjernih air yang dihasilkan oleh LIPI. (munawir)  

Menristek Beri Kuliah Perdana di Universitas Wiralodra

Dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Indramayu, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menyempatkan berkunjung ke Universitas Wiralodra (Unwir) Indramayu dan memberikan kuliah umum di hadapan sivitas akademika Unwir, pada Senin, 29 September 2014. Kuliah umum tersebut juga merupakan kuliah perdana bagi mahasiswa Unwir untuk Tahun Ajaran 2014/2015.

Dalam kuliah umumnya yang berjudul “Peranan Perguruan Tinggi dalam Mendukung Pembangunan Daerah Melalui Pengembangan Iptek Berbasis Kearifan Lokal”, Menristek menyinggung pentingnya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal agar dapat menumbuhkan perekonomian nasional. “Alam Indonesia sangat kaya, menghasilkan berbagai komoditas pangan seperti kakao maupun komoditas tambang seperti  aluminium dan nikel. Selama ini kita jual mentahnya saja, padahal bila diolah terlebih dahulu sebelum dijual maka nilainya akan berlipat-lipat”, ujar Menristek.

Menristek mengingatkan bahwa beberapa bulan lagi Kawasan ASEAN menjadi pasar terbuka yang berbasis produksi, dimana aliran barang, jasa, dan investasi bergerak bebas, sesuai dengan kesepakatan ASEAN. Tingkat keunggulan komparatif dan kompetitif yang berbeda antar negara anggota ASEAN berpengaruh dalam menentukan manfaat Masyarakat Ekonomi ASEAN (Asean Economy Community, AEC) 2015 di antara negara-negara ASEAN.  Indonesia harus meningkatkan daya saing guna menghadapi integrasi perekonomian dan meningkatkan potensi pasar domestik, “kalau kita kalah bersaing, barang dari luar akan menyerbu kita”, tegas Menristek

Menutup kuliah umumnya, Menristek menekankan pentingnya memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM). Menurut Menristek, selain penguasaan teknologi, percepatan peningkatan kualitas SDM menjadi syarat mutlak untuk peningkatan daya saing dan percepatan proses industrialisasi. Oleh karena itu Menristek berhadap kepada Unwir untuk dapat menghasilkan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan agar dapat menghasilkan SDM yang unggul dan produktif.

Rektor Unwir, Ujang Suratno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa jumlah mahasiswa Unwir saat ini mencapai 4320 orang mahasiswa yang terbagi ke dalam delapan fakultas dan satu program pasca sarjana. Saat ini Unwir baru menyerap sepuluh persen lulusan SMA/SMK di Indramayu, dan kedepannya diharapkan dapat meningkat menjadi 25 persen. Ujang juga menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menristek beserta rombongan ke Unwir, karena Menristek adalah Menteri pertama yang berkunjung ke Unwir sejak didirikan 32 tahun silam. (munawir)

June 12, 2014

Launching Hari Nusantara 2014

Potensi sumberdaya kelautan Indonesia sekira kurang lebih 3000 triliun rupiah/tahun belum tergarap secara maksimal sehingga belum memberikan arti yang signifikan bagi pembangunan. Laut belum dilihat sebagai sumber pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, pemecah masalah kemiskinan sebagaimana diharapkan dalam kebijakan pembangunan nasional. Oleh karena itu perlu dibangun suatu sistem yang diyakini sebagai solusi yang paling rasional dan efektif serta berpengaruh dalam jangka panjang yaitu melalui jalur pendidikan yang dapat membuka cakrawala baru melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kelautan. Penguasaan iptek kelautan menjadi salah satu faktor penentu bagi keberhasilan pembangunan nasional dibidang kelautan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta saat menghadiri Launching Hari Nusantara ke-14, di Gedung Merdeka Bandung, pada Rabu 11 Juni 2014. Pada kesempatan tersebut, Menristek mengungkapkan bahwa Kementerian Ristek bersama dengan para stakeholder telah melakukan kajian terkait Pusat Penelitian Iptek Kelautan. Menristek berharap agar seluruh pihak bersinergi untuk mewujudkan pusat penelitian tersebut. “Dengan kerjasama ini kedepan insyaallah kita dapat melakukan penelitian dan pengembangan Iptek Kelautan yang maju sehingga tercipta teknologi kelautan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Dengan cara itu potensi kekayaan alam laut dapat kita amankan, kita gali dan kita manfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Menristek.

Hari Nusantara yang diperingati setiap tanggal 13 Desember merupakan perwujudan dari Deklarasi Djuanda yang dianggap sebagai Deklarasi Kemerdekaan Indonesia kedua, karena dengan deklarasi tersebut Indonesia merajut dan mempersatukan kembai wilayah dan lautannya yang luas, menyatu menjadi kesatuan yang utuh dan berdaulat. Untuk tahun ini, puncak peringatan akan dilaksanakan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan dan Menristek  dipilih sebagai Ketua Panitia Nasional Peringatan Hari Nusantara 2014. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Launching Hari Nusantara ini dilaksanakan bersamaan dengan peringatan World Oceans Day 2014.

Selain Launching Hari Nusantara, peringatan World Oceans Day juga diisi dengan Seminar Kelautan Nasional, yang menghadirkan Capres nomor urut 2 Joko Widodo dan Cawapres nomor urut 1, Hatta Rajasa untuk mengetahui arah pembangunan kelautan kedepan dari pemimpin bangsa Indonesia yang terpilih kelak. (munawir)

February 10, 2014

Kuliah Umum Menristek di Universitas Bengkulu

Dalam rangka kunjungan kerja ke Bengkulu untuk menghadiri Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2014, Menristek, Gusti Muhammad Hatta menyempatkan diri berkunjung ke Kampus Universitas Bengkulu (Unib) untuk menyampaikan Kuliah Umum tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah, pada hari Sabtu 8 Februari 2014. Menristek dan rombongan disambut langsung oleh Rektor Universitas Bengkulu, Ridwan Nurazi beserta jajaran wakil rektor Universitas Bengkulu.

Dalam sambutannya, Rektor Unib  menekankan pentingnya aktivitas riset dan inovasi sebagai dasar kebijakan pemerintah. Sebagai pakar di bidang ekonomi Rektor Unib mengilustrasikan perusahaan swasta yang tidak melakukan riset dan inovasi, sehebat apapun perusahan tersebut, bila sudah meninggalkan aktivitas riset dan inovasi, maka pasti akan mengalami kemunduran. Begitu juga dengan kegiatan pemerintah pusat maupun daerah. “Beberapa program Pemda di Bengkulu tidak berbasiskan riset dan inovasi, sehingga tidak berhasil,” ujar Rektor Unib.

Menanggapi sambutan dari Rektor Unib, Menristek dalam paparan kuliah umumnya juga menekankan pentingnya aktivitas riset dan inovasi di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal unggulan di daerah sehingga produk-produk dari Indonesia makin berdaya saing. Selama ini Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah dan mengimpor kembali dalam bentuk produk jadi. Menurut Menristek, salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing adalah dengan membentuk Pusat Unggulan Iptek. “Dari tujuh belas lembaga yang sedang kita bina, lima diantaranya sudah kita tetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek, lembaga-lembaga tersebut sudah mampu mengolah komoditas lokal dari hulu hingga hilir sebagai produk jadi,” ujar Menristek.

Kuliah Umum diakhiri dengan dialog interaktif antara Menristek dengan peserta kuliah umum yang mayoritas mahasiswa pasca sarjana dan mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi. Dalam dialog tersebut, Menristek didampingi oleh Direktur Pusat Teknologi Industri BPPT, Priyo Atmaji dan Kepala Bidang Penelitian Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Misnawi. Dalam kunjungannya ke Unib, Menristek didampingi Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Statistik Daerah Bengkulu, Diah Iriyanti; Deputi Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman dan Asdep Jaringan Iptek Pusat dan Daerah, Hotmatua Daulay. (munawir)

February 9, 2014

Menristek Hadiri Peringatan HPN 2014

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN)  tahun ini digelar di Bengkulu dengan mengangkat tema “Pers Sehat, Rakyat Berdaulat”. HPN setiap tahunnya diperingati setiap tanggal 9 Februari, bertepatan dengan Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). HPN menjadi ajang silaturahmi dan penyatuan pemikiran untuk kemajuan pers pada khususnya dan kemajuan bangsa pada umumnya. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan terbesar dan paling bergengsi bagi komponen pers Indonesia.

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono bersama beberapa Menteri KIB II, termasuk Menristek, Gusti Muhammad Hatta, menghadiri puncak peringatan HPN  2014 di yang berpusat di Fort Marlborough Bengkulu, Minggu 9 Februari 2014. Pada acara tersebut ditandatangani beberapa Nota Kesepahaman antara PWI dengan beberapa elemen pemerintah maupun swasta. Selain itu beberapa anugerah juga diberikan seperti Anugerah Jurnalistik Adinegoro, Penghargaan Jurnalistik Inovasi dan Anugerah Medali Emas Spirit Jurnalistik.  

Setelah puncak peringatan HPN 2014 tersebut, Menristek berkesempatan menanam pohon Ketapang (Teminalia Catappa) di  tepi Pantai Panjang  sebagai bagian dari Gerakan Menanam 1 Milyar Pohon. Selain menanam pohon, Menristek beserta Presiden RI dan Menteri KIB II lainnya juga berkesempatan melepas puluhan anak penyu yang terdiri dari tiga jenis, yaitu penyu hijau, penyu sisik dan penyu lekang. Anak penyu atau tukik tersebut merupakan hasil penangkaran dari Kelompok Pemuda Pemudi Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (LP3LH) desa Air Hitam, Kabupaten Mukomuko. (munawir)

January 27, 2014

Baksos DWP Kementerian Ristek di Kelurahan Rawa Buaya

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, Darma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Ristek menyelenggarakan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) di Posko Pengungsi Banjir yang terletak di RW 1, Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat pada hari Senin, 27 Januari 2013. Menurut Pembina DWP Kementerian Ristek, Violet Gusti M. Hatta, kegiatan Baksos ini merupakan program kerja DWP yang sifatnya terencana, namun khusus kegiatan di Rawabuaya ini sifatnya insidentil karena bencana banjir yang melanda Jakarta beberapa pekan ini. Wakil Lurah Rawa Buaya yang menyambut rombongan DWP Kementerian Ristek, Ibu Diah menyampaikan bahwa para pengungsi sudah 14 hari menempati posko pengungsian ini.
 
Dihadapan ratusan pengungsi banjir yang didominasi ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak, Ibu Violet berpesan agar masyarakat selalu waspada akan musibah banjir yang biasa menyerang kapan saja. Wilayah Rawa Buaya memang sering menjadi langganan banjir yang siklusnya 5 tahun sekali, namun kini tiap tahun wilayah ini dilanda banjir karena anomali cuaca. Ibu Violet juga berpesan kepada masyarakat untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan agar hal-hal yang bisa menyebabkan banjir bisa dikurangi. “Setelah bencana banjir usai, berbagai macam penyakit bisa muncul seperti diare dan ISPA, oleh karena itu ibu-ibu yang membersihkan rumah setelah banjir agar menggunakan cairan disinfektan, dan apabila ada anggota keluarga yang terserang penyakit agar segera dibawa ke puskesmas terdekat,” ujar Ibu Violet.

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan bantuan secara simbolis dari Ibu Violet mewakili DWP Kementerian Ristek kepada masyarakat Rawa Buaya yang diwakili oleh Bapak Ali Maulana Kamil, Wakil Camat Cengkareng. Bantuan tersebut berupa sembako seperti beras, telur, mie instan, dan susu hingga barang-barang yang dibutuhkan oleh para pengungsi seperti pakaian, sabun mandi dan cairan disinfektan. DWP Kementerian Ristek juga memberikan bingkisan kepada 25 orang relawan yang membantu para pengungsi selama banjir. Selain memberikan bantuan berupa barang, DWP Kementerian Ristek juga menghibur anak-anak korban banjir dengan menampilkan pembacaan dongeng oleh Kak Iman Surahman. (munawir)