December 31, 2014

Hilirisasi dan Komersialisasi Penelitian Perguruan Tinggi

Untuk meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian di masyarakat, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melakukan sinergi dengan kementerian lain. Misalnya dalam pemanfaatan beras Sidenuk dan Mira yang merupakan hasil teknologi BATAN, Kemenristekdikti menggandeng Kementerian Pertanian. Begitu juga dengan pengobatan kanker tanpa operasi dengan radioisotop BATAN, Kemenristekdikti sudah melakukan penjajakan dengan Kementerian Kesehatan agar teknologi tersebut dihilirkan oleh industri.

Hal tersebut disampaikan oleh Menristekdikti, Mohamad Nasir saat hadir sebagai pembicara kunci pada acara Refleksi Akhir Tahun 2014 di Kampus Pleburan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Acara yang mengambil tema Hilirisasi dan Komersialisasi Penelitian Perguruan Tinggi tersebut diselenggarakan pada hari Selasa, 30 Desember 2014. Dalam sambutannya tersebut, Menristekdikti menegaskan bahwa hasil riset harus dikomersialisasikan dan dihilirisasikan. “Produk itu tidak hanya berhenti di riset saja, tidak cukup menjadi prototype saja, namun harus produk itu harus bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Menristekdikti.

Menurut Menristekdikti, tantangan perguruan tinggi bukan hanya menerbitkan publikasi, namun juga menghilirkan produk riset. Untuk mempercepat proses hilirisasi dan komersialisasi tersebut, pemerintah akan mengembangkan lebih dari 100 Science & Techno Park (STP) baru yang akan menjadi tempat bertemunya sektor sains dan sektor bisnis. “Total anggaran 3,6 triliun rupiah akan dialokasikan untuk mewujudkan 100 STP.  Dalam satu tahun saya mentargetkan lima belas sampai tujuh belas STP terbangun, dengan kerjasama dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah dan dunia usaha,” ujar Menristekdikti.

Untuk jangka pendek, Kemenristekdikti akan menyelenggarakan Indonesia Innovation Summit pada akhir Januari atau awal Februari 2015. Kegiatan tersebut akan menampilkan hasil-hasil riset dari LPNK Ristek dan perguruan tinggi yang bisa diproduksi dan dihubungkan dengan sektor bisnis. Menristekdikti telah mengajak para pengusaha baik yang tergabung dalam KADIN, APINDO dan asosiasi bisnis lainnya untuk hadir pada kegiatan yang akan dibuka langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Menristekdikti berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ajang untuk mensinergikan sektor penelitian dengan sektor bisnis sehingga membawa dampak yang positif bagi perekonomian bangsa. “Riset yang dibutuhkan oleh dunia usaha adalah riset yang sesuai dengan keinginan pasar (market driven), sehingga apa yang dibutuhkan oleh pasar maka riset harus diarahkan kesitu,” tegas Menristekdikti.

Kegiatan Refleksi Akhir Tahun di Universitas Diponegoro adalah agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Selain Menristekdikti, turut hadir sebagai pembicara adalah Sudarto, Kepala Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencamaran Industri; Sudharto, Rektor UNDIP; Muhammad Nur, Dekan Fakultas Sains dan Matematika UNDIP dan dipandu oleh Amir Mahmud, Pemimpin Redaksi Harian Suara Merdeka yang bertindak sebagai moderator. (munawir)

December 5, 2014

CSR untuk Komersialisasi Hasil Riset

Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) adalah yayasan yang didirikan oleh Toray Industries, Inc pada akhir tahun 1993 yang bertujuan untuk mendukung kemajuan sains dan teknologi di Indonesia. ITSF membantu para peneliti, ilmuwan dan tenaga pendidik dari berbagai bidang studi dalam bentuk dana penelitian ataupun award kepada mereka dengan pencapaian luar biasa dan mampu berkontribusi dalam kemajuan sains dan teknologi. Terdapat tiga program ITSF, yaitu (1) Science and Technology Award, Pemberian penghargaan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi; (2)  Science and Technology Research Grant, Pemberian penghargaan berupa dana bantuan penelitian dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menyediakan bantuan keuangan untuk sebuah penelitian; dan (3). Science Education Award, Pemberian penghargaan dibidang pendidikan, untuk meningkatkan pendidikan ilmu pengetahuan yang inovatif dan kreatif di sekolah menengah umum. Tiga program tersebut dilaksanakan setiap tahun dengan menggunakan anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Toray Industries Indonesia (PT. TIN)

Hal tersebut disampaikan, Akihiko Ishimura, Presiden Direktur PT. TIN saat bertemu dengan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, di kawasan Puspiptek Serpong, Jumat 5 Desember 2014. Dalam pertemuan tersebut, Ishimura didampingi Akihiro Ogata, Direktur PT. TIN dan Hasanuddin Abdurahman, Manajer Pengembangan Bisnis PT. TIN.

Menristek Dikti menyambut baik upaya PT. Toray selama ini dalam memajukan sains dan teknologi di Indonesia. Menristek Dikti berhadap, kegiatan riset yang didanai oleh PT. Toray dapat berlanjut sampai ke pengembangan produk dan dapat dilanjutkan ke skala industri. “Jangan sampai terbatas hanya riset saja, namun dihilirisasi menjadi prototype hingga produk yang lebih aplikatif. itu harapan saya”, ujar Mohamad Nasir.

Menurut Menristek Dikti, dengan adanya pengembangan produk, program ITSF dapat lebih menguntungkan kedua belah pihak, dimana PT. Toray selaku industri mendapatkan produk untuk dikembangkan dan bagi peneliti dapat mengkomersialisasikan hasil risetnya. CSR sebaiknya tidak terbatas pada bantuan dana saja, namun harus dimanfaatkan lebih untuk pengembangan produk. “Ini adalah kontribusi industri terhadap dunia penelitian di Indonesia, yang outputnya kembali kepada industry”, ujar Menristek Dikti.

Menanggapi hal tersebut, Hasanuddin menjelaskan bahwa PT. Toray saat ini sedang menjajaki kerjasama dengan LIPI dan BPPT maupun perguruan tinggi untuk melakukan kegiatan riset bersama di bidang yang menjadi kepentingan bersama, yaitu bidang Lingkungan, khususunya Water Treatment, dan bidang Material, khususnya Bio-based Polymer. “Kami ingin membangun komunikasi yang lebih baik dengan peneliti di Indonesia, karena perusahaan kami adalah perushaan produksi yang berbasis hasil riset”, ujar Hasanuddin.

Dalam pertemuan tersebut, Menristek Dikti didampingi, Deputi Menristek bidang Kelembagaan Iptek, Mulyanto; Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman; Kepala Biro Hukum dan Humas, Agus Sediadi; Asdep Jaringan Penyedia dan Pengguna, Sri Setiawati; Asdep Jaringan Iptek Internasional, Nada Marsudi; dan Kabid Analisis dan Perancangan Jaringan Iptek Internasional, Tiomega Gultom. (munawir)

Menristekdikti Hadiri Peringatan HUT Batan ke-56

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang Ke-56 tahun 2014 diselenggarakan di Gedung Graha Widya Bakti Puspiptek Serpong, pada hari Jumat 5 Desember 2014. Tema HUT Batan kali ini adalah "Melalui Penguasaan Iptek Nuklir Batan Berkontribusi bagi Indonesia dalam Kemandirian Pangan dan Energi".

Menristekdikti, Mohamad Nasir yang hadir pada peringatan tersebut, menyatakan dukungan dari Kementerian RIset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi kepada pengembangn iptek nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Menristekdikti bahkan menantang Batan, sebagai pionir untuk segera merealisasikan pemanfaatan nuklir untuk pembangkit energi. “Batan harus menjadi motor berdirinya PLTN di Indonesia”, ujar Mohamad Nasir

Mohamad Nasir mendorong rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimental atau PLTN mini dapat segera diwujudkan. Namun Mohamad Nasir berpesan agar Batan selalu intensif melakukan edukasi kepada publik tentang aspek keamanan dan keselamatan PLTN. Bila PLTN Mini sudah terbangun, Mohamad Nasir meminta agar fasilitas tersebut dapat diakses oleh masyarakat untuk melihat langsung operasional PLTN. Harapannya bila masyarakat sudah menerima, maka PLTN skala besar dapat dibangun untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang semakin meningkat. “Kalau 2017 sudah bisa beroperasi, 2018 dan 2019 kita kenalkan ke masyarakat, 2020 kita sudah bisa siap membangun PLTN dengan daya yang lebih besar, target kita di masa datang PLTN bisa berkontribusi sampai 10 GW”, ujar Mohamad Nasir.

Pada kesempatan tersebut, Batan memberikan anugerah kepada Mohamad Nasir sebagai "Keluarga Besar Batan " dengan pemberian kartu tanda pengenal yang didalamnya terdapat chip yang berguna untuk akses masuk ke seluruh kawasan nuklir yang ada di Batan. Selain itu, Batan juga menganugerahi penghargaan tertinggi du bidang iptek nuklir kepada Dirjen BATAN pertama sekaligus mantan Menteri Kesehatan (alm) G.A. Siwabessy sebagai Bapak Atom Indonesia,  sebagai bentuk terima kasih atas jasa-jasa almarhum dalam merintis dan memajukan perkembangan iptek nuklir di Indonesia (munawir).

December 4, 2014

December 3, 2014

Peluncuran Buku Saku Indikator Iptek 2014

Selama lima tahun terakhir, kondisi iptek nasional bergerak melambat dan dapat dikatakan stagnasi. Kondisi ini dapat dilihat dari Ekonomi dan Intensitas Teknologi, Belanja Litbang Nasional, Sumber Daya Manusia Iptek dan Luaran Iptek. Kondisi ini terpapar dalam Buku Saku Indikator Iptek Indonesia 2014. Buku ini diluncurkan lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, pada Rabu, 3 Desember 2014.

Buku Saku Indikator Iptek Indonesia 2014 merupakan buku yang berisi data dan informasi Iptek yang diperlukan untuk menggambarkan kondisi iptek saat ini, sehingga para pengambil keputusan mengetahui dan memahami berbagai kondisi iptek agar kebijakan iptek untuk pembangunan menjadi lebih terarah.

Iskandar Zulkarnaen, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan bahwa ada hal menarik terkait dengan kondisi iptek nasional lima tahun terakhir. “Iptek nasional Indonesia bergerak melambat dan dapat dikatakan stagnasi, indikator hal ini dapat dilihat dari Peningkatan Rasio belanja Litbang Nasional (GERD) terhadap PDB di tahun 2013 hanya 0,01 dari tahun sebelumnya. Saat ini nilai rasio (GERD) Indonesia 0,09%. Nilai ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya sepeti Malaysia 1% (2012), Thailand 0,25% (2012), atau bahkan Singapura (2,1%), “ ungkap Iskandar.

Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Pappiptek) LIPI, Trina Fizzanty menambahkan bahwa berdasarkan data ekspor industri manufaktur Indonesia, kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspor hanya 55,5% di tahun 2011, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 (63,2%). Angka ini sangat kecil jika dibandingkan negara lain yang memiliki kontribusi ekspor manufaktur terhadap total ekspornya mencapai di atas 80% seperti Malaysia (81,18%), Singapura (89,76%), Korea (96,74%), dan China (96,17%). Khusus manufaktur dengan intensitas teknologi tinggi dan menengah seperti industri farmasi, kendaraan bermotor, elektronik, dll., Indonesia hanya memiliki kontribusi sebesar 28,92% terhadap total ekspor bandingkan dengan Malaysia yang telah memiliki kontribusi sebesar 59,11%, Singapura 68,99%, China 58,96% dan Korea 71,85%.

Sementara itu, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir, menyoroti masih rendahnya rasio peneliti per 10.000 angkatan kerja di tahun 2012 adalah 7,25, walaupun angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2009 (3,60). Angka ini masih jauh dibandingkan dengan Malaysia 16,43 atau Singapura 64,38. Bahkan Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi melihat sektor perguruan tinggi memiliki rata-rata belanja litbang per peneliti terendah dibandingkan dengan sektor pemerintah dan swasta. Satu peneliti di perguruan tinggi hanya mendapat sekitar Rp 87.833.580/tahun. Keadaan ini mengindikasikan bahwa peningkatan dana pendidikan (20% dari APBN) belum memprioritaskan pada kegiatan penelitian dan pengembangan.

“Oleh karena itu saya akan mendorong pihak-pihak swasta baik di BUMN maupun di BKPM, nanti akan Saya kumpulkan dan Saya diskusikan untuk mendorong riset di Indonesia agar bisa meningkat dari segi alokasi anggarannya maupun output hasil riset tersebut. Kami akan menentukan pada semua perguruan tinggi antara 10-15% itu harus dialokasikan pada riset,” ujar Menristekdikti. (munawir)