December 24, 2006

Catatan Perjalanan Aceh

Nangroe Aceh Darussalam, akhirnya saya pun menginjakkan kaki di propinsi paling barat Indonesia ini. Ini kali pertama saya ke Aceh, bahkan ke pulau Sumatera. Perjalanan ke Aceh lumayan melelahkan juga karena pesawat Sriwijaya Air yang kutumpangi harus transit di Medan terlebih dahulu.


salah satu sudut kota Aceh

Di Aceh saya ditugaskan berkunjung ke Balai Pengembangan Teknologi Pertanian. Di kantor itu saya disambut Bapak Nasir Ali.  Beliau banyak memberi informasi seputar masalah pertanian di Aceh. Dari hasil diskusi itu saya bisa mengambil kesimpulan kalau prioritas pengembangan teknologi pertanian di Aceh adalah restorasi lahan pertanian yang mengalami peningkatan kadar garam (salinitas) pasca bencana Tsunami.

Pada hari Jumatnya, saya puas-puasin berkeliling kota Banda Aceh. Karena hujan yang turun cukup deras, niat jalan-jalan naik labi-labi (angkot) pun batal. Saya akhirnya menyewa mobil dan memilih untuk menyetir sendiri. Sebelum Shalat Jum'at saya mengunjungi Museum Aceh dan kegiatan Aceh Expo yang diadakan selama seminggu di Gedung Sosial.


Rumah Aceh di kawasan Museum

Sholat Jumat tentu saja di Masjid Baiturrahman Aceh. Saya senang banget bisa merasakan sujud di masjid ini. Selama ini masjid Baiturrahman hanya saya lihat melalui televisi, khususnya saat liputan Tsunami dua tahun yang lalu.


Mejeng di depan Masjid Baiturrahman :)







Menara Masjid Baiturrahman


Abis Jumatan, saya pun lanjut keliling kota Banda Aceh. Di beberapa lokasi, masih tampak sisa-sisa bencana tsunami seperti rongsokan mobil atau bangkai kapal nelayan yang terdampar di halaman rumah. Saya juga mengunjungi PLTD Apung yang kini parkir di tengah-tengah pemukiman warga. Kebayang bagaimana derasnya tsunami sampai bisa membawa PLTD apung yang sangat besar ini.


PLTD Apung yang kini berada di tengah daratan kota Aceh

Saya juga menyempatkan ke wilayah pantai Ulele, yang menjadi zero point bencana tsunami ini. Sepanjang perjalanan ke sana nampak rumah-rumah bagi korban tsunami yang masih sementara dikerjakan. Dua tahun setelah Tsunami kondisinya masih menyedihkan. Benar kata orang-orang di TV kalau proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh sepertinya masih jalan di tempat...


puing-puing sisa Tsunami di Pantai Ulele



Pintu Gerbang Kuburan Massal Korban Tsunami

Solat Ashar saya lakukan di daerah Darussalam, sekalian jalan-jalan ngeliat kampus IAIN Arraniry dan kampus Unsyiah yang berada dalam satu kawasan, abis itu saya ke daerah Ulee Kareng, nongkrong di cafe deket Simpang Tujuh menikmati cappuccino di tengah derasnya hujan.


Pasar Atjeh (pas di samping Masjid Baiturrahman)



Nampang di Prasasti "Selected Emergency Repair Work of the Floodway Dyke in Aceh" dari Pemerintah Jepang

Location: Banda Aceh City, Banda Aceh City, Aceh, Indonesia

19 comments: