October 5, 2016

STS Forum Menyambut Era Society 5.0

Science and Technology in Society Forum (STS forum) merupakan lembaga nirlaba internasional yang dibentuk pada tahun 2004 di Jepang, yang bertujuan untuk memajukan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di dunia, serta mengembangkan jejaring antara pemangku kepentingan iptek dari sektor bisnis, politik, akademisi, pemerintah dan media massa.

Setiap tahun STS forum menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri sekitar 1200 peserta dari lebih 100 negara.

Tahun ini pertemuan STS Forum diadakan di Kyoto International Conference Center, Jepang pada tanggal 1-4 Oktober 2016, dibuka langsung oleh Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe dan dihadiri Perdana Menteri Slovenia, Wakil Perdana Menteri Rusia dan 16 orang Menteri terkait Iptek dari negara-negara mitra STS Forum.

Dalam sambutannya, PM Abe menyampaikan bahwa perkembangan iptek yang demikian pesat akan membawa manusia masuk ke dalam era “Society 5.0”, dimana iptek mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh manusia khususnya dalam bidang kesehatan.

PM Abe menjelaskan lompatan dalam sejarah manusia dimana masa berburu adalah era “Society 1.0”, dan “Society 2.0” adalah era dimana manusia mulai bertani sedangkan “Society 3.0” adalah era industrialisasi. Saat ini kita sedang bersiap-siap meninggalkan era “Society 4.0” yaitu era teknologi informasi menuju “Society 5.0”. “Dalam era Society 5.0 seluruh teknologi penginderaan, robotika, komunikasi, BIG data, dan komputasi awan akan menyatu menjadi solusi untuk berbagai masalah kita yang sebelumnya dianggap tidak dapat terpecahkan,” ujar PM Abe.

Delegasi Indonesia yang hadir pada Forum STS tersebut adalah Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti Muhammad Dimyati; Kepala BPPT, Unggul Priyanto; dan Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain. Muhammad Dimyati mewakili Menristekdikti dalam pertemuan para Menteri terkait Iptek dari negara-negara mitra STS Forum.

Sedangkan Kepala BPPT dan Kepala LIPI masing-masing menjadi pembicara pada sesi tematik “Collaboration among Academia, Industries and Government” dan  “Industrial Innovation”.

Delegasi Indonesia pada forum ini bertukar pengalaman dan informasi dengan delegasi negara lain tentang kondisi pencapaian iptek masing-masing negara.

Di sela-sela forum STS, delegasi Indonesia secara khusus diundang oleh pendiri sekaligus pemimpin STS Forum, Koji Omi untuk membicarakan peluang untuk meningkatkan kerjasama antara Jepang dengan Indonesia di bidang Iptek dan inovasi.

Pada pertemuan tersebut disepakati untuk menyelenggarakan simposium pada bulan April 2017 di Indonesia yang akan dihadiri oleh para pemangku kepentingan iptek dari kedua negara yang berasal dari sektor pemerintah, akademisi dan industri. (MWR)


October 1, 2016

Reformasi Regulasi untuk Riset yang Lebih Baik


Untuk mendorong kontribusi Iptek dalam pembangunan nasional, Kemenristekdikti pada tahun ini menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Rencana Induk tersebut akan memandu seluruh program dan aktivitas riset di dalam negeri agar membawa peran yang signifikan dan terukur dalam pembangunan nasional hingga tahun 2045. Bila menggunakan indikator Multi Factor Productivity (MFP) yang mengukur seberapa dominan Iptek mewarnai pembangunan nasional, Indonesia saat ini masih berada di angka 16,7 persen yang menunjukkan bahwa masih banyak aspek pembangunan yang belum mendapatkan nilai tambah teknologi. Apabila RIRN konsisten diimplementasikan, pada tahun 2045, MFP Indonesia diprediksi bisa mencapai angka 70 persen.

Hal tersebut diungkapkan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati di hadapan ratusan mahasiswa Indonesia pada acara puncak Tokyo Tech Indonesian Commitment Award (TICA) 2016 yang digelar di kampus Ookayama, Tokyo Institute of Technology (Tokodai), Sabtu, 1 Oktober 2016. Dimyati mengapresiasi mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Tokodai yang selama 6 tahun konsisten menyelenggarakan kegiatan ilmiah ini.

“Saya sangat mengapresiasi seluruh panitia dan mahasiswa Indonesia di Tokodai yg senantiasa menjadikan riset sebagai nafas dari aktivitas kalian di kampus ini,” ujar Dimyati.

TICA 2016 yang tahun ini mengangkat tema “Sustainable Development in Indonesia” adalah kompetisi paper yang rutin diadakan setiap tahun untuk meningkatkan minat riset pada mahasiswa S1 tingkat akhir atau yang baru saja lulus. Sebanyak 326 paper masuk ke meja panitia tahun ini dan yang terbaik diundang langsung ke Tokyo untuk menerima penghargaan. Pemenang tahun ini untuk Cluster Science & Engineering adalah Fadhli Dzil Ikram dari Institut Teknologi Bandung; untuk _Cluster Management & Social, Sultan Kurnia AB dari Universitas Gadjah Mada; dan untuk Cluster Creativity Enhancement dimenangkan oleh Bintang Alfian Nur Rachman, mahasiswa Institut Teknologi Bandung.

Mengakhiri sambutannya, Dimyati menegaskan bahwa pemerintah saat ini sedang berupaya keras menciptakan iklim riset yang kondusif. Berbagai upaya dilakukan seperti memudahkan laporan pertanggungjawaban penelitian yang berbasis output melalui PMK 106 Tahun 2016 dan upaya revisi Perpres 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang Jasa yang memungkinkan penelitian dilakukan secara Multi Years, serta mendorong penyelesaian UU Paten.

“Kesemua upaya tersebut merupakan bagian dari reformasi regulasi untuk menciptakan kondusifitas riset di dalam negeri,” tegas Dimyati. (MWR)