Pendahuluan
Ada ungkapan yang sederhana namun menyimpan kedalaman yang luar biasa: "Tak kenal maka tak sayang." Kita sudah hafal pepatah ini sejak kecil. Tapi pernahkah kita menerapkannya pada hubungan kita dengan Nabi Muhammad ﷺ?
Kita semua mengaku mencintai beliau. Nama beliau kita sebut dalam setiap shalat, shalawat kita ucapkan berkali-kali setiap hari. Namun jika ditanya lebih jauh — seperti apa raut wajah beliau? Bagaimana cara beliau berjalan? Apa yang beliau makan di keseharian? Bagaimana suara tawa beliau? — sebagian besar dari kita akan terdiam. Kita mengenal Nabi ﷺ dari sisi sejarah besar dan hukum-hukum syariat, tapi sosok pribadinya masih terasa jauh dan asing.
Di sinilah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah hadir sebagai jendela yang tak ternilai. Setelah pada pertemuan sebelumnya kita mengkaji sifat-sifat dan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala — agar kita semakin mencintai-Nya, semakin khusyuk, dan semakin tunduk kepada-Nya — kini kita berpindah untuk mengenal Nabi ﷺ dari sisi yang paling intim dan personal. Tujuannya sama: agar cinta kita semakin dalam, agar kita semakin bersemangat mengikuti sunnahnya, dan semakin sungguh-sungguh menjauhi larangannya.
Apa Itu Syamail? Mengenal Makna di Balik Istilah
Kata syamail (الشمائل) adalah bentuk jamak dari syimalah (الشيمة). Dalam bahasa Arab, kata ini memiliki beberapa makna yang saling berdekatan: al-akhlaq (akhlak), ath-thabi'ah (tabiat), as-sajiyyah (perangai), dan al-khashlah (sifat karakter seseorang). Semuanya mengacu pada satu muara: kepribadian dan karakter seseorang secara menyeluruh.
Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang yang berperangai mulia disebut karimush-syamail — orang yang syamailnya terhormat. Maka ketika kita berbicara tentang Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, kita sedang membicarakan akhlak, tabiat, perangai, dan seluruh sisi kepribadian Nabi Muhammad ﷺ.
Ruang lingkup kitab ini mencakup dua sisi besar: pertama, akhlaq Nabi ﷺ secara umum; dan kedua, berbagai hal yang bersifat pribadi (khususiyyat) yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari beliau — mulai dari apa yang beliau kenakan, apa yang beliau makan, hingga bagaimana beliau beristirahat.
Gambaran Isi Kitab: Perjalanan Mengenal Sang Nabi ﷺ dari Dekat
Untuk memberi gambaran betapa komprehensif dan detailnya kitab ini, mari kita sekilas tengok sebagian dari bab-babnya. Dimulai dari bentuk tubuh Rasulullah ﷺ dan stempel kenabian, kemudian rambut beliau dan cara beliau bersisir, uban, celak yang beliau gunakan, hingga pakaian, sepatu, dan sandal beliau. Ada pula bab tentang cincin, pedang, baju besi, dan helm perang. Kemudian bab tentang sorban dan kain sarung (izar).
Selanjutnya, kita diajak mengenal Nabi ﷺ dalam kesehariannya: cara duduk, cara berjalan, cara berbicara, hingga cara beliau tertawa dan bercanda. Ada bab tentang cara Nabi ﷺ makan, lauk kesukaan beliau, roti yang beliau makan, buah-buahan, minuman, dan wewangian yang beliau pakai. Ada bab tentang cara beliau berwudu sebelum makan, dan apa yang beliau baca sebelum dan sesudah makan.
Yang paling menyentuh, kitab ini juga memuat bab tentang cara Nabi ﷺ menangis, tentang ibadah-ibadah beliau — shalat Dhuha, shalat malam di rumah, bacaan Al-Qur'an beliau — tentang puasa beliau, tempat tidur beliau, hingga sifat tawadhu' dan sifat malu beliau. Dan bab terakhir yang sangat istimewa: tentang melihat Nabi ﷺ dalam mimpi.
Seluruhnya terdiri dari 55 bab yang tersusun rapi dan menyeluruh. Membacanya, kita seolah diajak untuk mengenal seseorang yang sangat dekat — dari cara ia bangun pagi hingga cara ia wafat. Tidak pernah ada kitab lain yang mengumpulkan semua ini dalam satu karya khusus sebelumnya.
Mengapa Kita Perlu Mempelajari Syamail?
Tujuan Pertama: Agar Semakin Cinta kepada Nabi ﷺ
Ini adalah tujuan yang paling utama dan paling mulia. Cinta kepada Nabi ﷺ bukan sekadar perasaan sentimentil — ia adalah ibadah yang menjadi syarat kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan beliau juga bersabda bahwa seseorang akan bersama orang yang ia cintai. Ketika Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mendengar hadits ini, ia berucap dengan penuh harap:
"Sesungguhnya aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar. Dan aku berharap bisa berkumpul bersama mereka — meskipun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka."
Syekh Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari, pengajar di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, mengungkapkan sebuah pernyataan yang sangat indah tentang akhlak Nabi ﷺ: untuk manusia biasa, akhlak yang mulia akan menghias pemiliknya. Tetapi untuk Nabi ﷺ, justru akhlak itulah yang menjadi indah ketika disandang oleh beliau. Sifat dermawan menjadi super-dermawan di tangan Nabi ﷺ. Sifat pemaaf menjadi pemaaf yang tiada tara. Karena sosok beliau begitu agung, setiap akhlak yang beliau sandang menjadi sempurna karenanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri memuji akhlak Nabi ﷺ dalam firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Allah bersumpah dengan huruf Nun, dengan qalam, dan dengan apa yang mereka tulis — kemudian memuji Nabi ﷺ dengan pujian yang agung. Bayangkan: jika orang yang memuji adalah seorang profesor, kita akan memperhatikan. Jika yang memuji adalah seorang ulama besar, kita akan takjub. Tapi ini — yang memuji adalah Allah Rabbul 'alamin. Keagungan sebuah pujian berbanding lurus dengan keagungan sang pemuji. Dan ketika yang memuji adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka keagungan akhlak Nabi ﷺ itu benar-benar tak terbatas.
Salah satu yang membuat kita semakin rindu mengenal beliau adalah zuhud-nya yang luar biasa. Selama 23 tahun berdakwah, kadang-kadang Nabi ﷺ memiliki harta yang banyak — tapi beliau tidak pernah berubah dari kezuhudannya. Sebagian ulama bahkan menyebut: di antara mukjizat Nabi ﷺ adalah zuhudnya beliau terhadap dunia. Bandingkan dengan diri kita — ketika punya uang, betapa mudahnya kita melupakan zuhud. Semakin kita mengenal akhlak Nabi ﷺ yang luar biasa ini, semakin besar cinta kita kepadanya.
Tujuan Kedua: Agar Bisa Meniru Nabi ﷺ
Tentu saja, tidak semua syamail bisa kita tiru. Ada yang tidak bisa ditiru, seperti wajah Nabi ﷺ, proporsi fisik beliau, dan hal-hal yang memang merupakan kekhususan beliau sebagai rasul.
Namun ada pula yang bisa dan bahkan menjadi ibadah ketika ditiru — seperti makan dengan tangan kanan, mengucapkan bismillah sebelum makan, adab-adab tidur dengan miring ke sisi kanan, dan banyak lagi kebiasaan Nabi ﷺ yang memang merupakan tuntunan syar'i.
Ada kategori ketiga: sesuatu yang bukan ibadah secara zatnya, namun boleh kita ikuti selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak menimbulkan syuhrah (keanehan yang mencolok di masyarakat). Misalnya menyukai kurma karena Nabi ﷺ menyukainya — makan kurma bukan ibadah tersendiri, namun niat cinta kepada Nabi ﷺ yang mendorong kesukaan itu bisa menjadikannya bernilai pahala. Yang penting, jangan sampai kita mengatakan "ini sunnah" untuk sesuatu yang memang bukan sunnah.
Sebagian sahabat Nabi ﷺ melakukan hal ini secara sadar — mereka sengaja menyukai makanan atau kebiasaan tertentu semata karena Nabi ﷺ menyukainya, sebagai ekspresi tulus kecintaan mereka. Dan sebagian ulama Salaf pun demikian. Pahalanya bukan dari apa yang dilakukan, melainkan dari cinta kepada Nabi ﷺ yang menjadi motif di baliknya.
Adapun untuk hal-hal seperti pakaian izar (kain tanpa jahitan seperti pakaian ihram), sorban, atau tunggangan unta — para ulama mengatakan boleh ditiru selama tidak menimbulkan keanehan di tengah masyarakat setempat. Sorban di Sudan atau Yaman adalah pakaian biasa, tidak mencolok. Tapi di Indonesia, tentu konteksnya berbeda dan perlu kebijaksanaan dalam penerapannya.
Tujuan Ketiga: Sebagai Muqaddimah untuk Belajar Sirah Nabi ﷺ
Mempelajari syamail adalah pintu masuk sebelum menyelami sirah Nabi ﷺ secara mendalam. Logikanya sederhana namun kuat: agar kita betul-betul terlibat dan tergugah saat membaca sirah, kita perlu mencintai sosok yang kita baca tentangnya terlebih dahulu. Jika kita sudah jatuh cinta kepada Nabi ﷺ melalui pengenalan terhadap syamail dan akhlaknya, membaca sirah akan terasa seperti menelusuri perjalanan orang yang paling kita sayang.
Tujuan Keempat: Agar Bisa Mengenali Nabi ﷺ dalam Mimpi
Ini adalah hikmah yang paling unik — dan penting. Dengan mengenal fisik Nabi ﷺ secara akurat, kita bisa memverifikasi apakah sosok yang kita lihat dalam mimpi benar-benar Nabi ﷺ atau tidak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
"Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku — karena setan tidak mampu mengambil rupaku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Setan memang tidak bisa meniru fisik Nabi ﷺ secara persis — namun setan bisa mengaku-ngaku sebagai Nabi dalam mimpi seseorang. Di sinilah pengetahuan tentang sifat fisik beliau menjadi penting. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pun pernah diminta memverifikasi: ketika seseorang mengaku bermimpi bertemu Nabi, Anas meminta orang itu menggambarkan sosok yang ia lihat. Jika sesuai dengan deskripsi yang shahih, barulah Anas membenarkan.
Bukan hanya itu — ada seseorang yang pernah mengklaim melihat Nabi ﷺ dalam mimpi dengan penampilan seorang tua berambut dan berjenggot putih semua. Klaim ini langsung bisa dipatahkan: dari riwayat yang shahih, uban Nabi ﷺ tidak mencapai dua puluh helai pun. Rambut dan jenggot beliau secara keseluruhan berwarna hitam. Maka siapa pun yang belajar syamail, tidak akan mudah ditipu oleh klaim semacam itu.
Tentang Kitab dan Pengarangnya
Judul lengkap kitab ini adalah Asy-Syamail An-Nabawiyyah wal Khasail Al-Muhammadiyyah — karya Imam Abu Isa At-Tirmidzi rahimahullah, yang juga dikenal sebagai penyusun Sunan At-Tirmidzi. Beliau adalah murid langsung Imam Al-Bukhari rahimahullah, dan sebagaimana gurunya, beliau berdiri tegak di atas akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Kitab ini terdiri dari 56 bab dengan total 415 hadits — mencakup hadits shahih maupun yang dhaif.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah memuji kitab ini: meskipun banyak ulama yang menulis tentang syamail Nabi ﷺ, baik tersendiri maupun digabungkan dengan bab-bab lain, yang paling bagus menulis tentang hal ini adalah Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi. Al-Munawi rahimahullah menyebutnya sebagai "kitab satu-satunya dalam pembahasannya" — sebuah inovasi yang belum pernah ada sebelumnya, tersusun dengan metode yang indah, menyeluruh, dan tersebar ke seluruh penjuru dunia Islam, dari timur hingga barat.
Karena adanya hadits-hadits dhaif di dalamnya, Imam Al-Albani rahimahullah kemudian meringkas kitab ini dalam karyanya Mukhtasar Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah. Beliau menghilangkan sanad-sanad yang panjang — cukup menyebut nama sahabat perawi — dan menyaring hadits-hadits yang shahih serta yang dhaifnya bisa dikuatkan melalui syawahid (riwayat dari sahabat lain yang semakna) maupun mutaba'at (riwayat dari jalur lain dengan sahabat yang sama). Hasilnya, dari 415 hadits asli, tersisa 352 hadits dalam mukhtasar — sekitar 63 hadits yang benar-benar dhaif dihilangkan.
Kajian seri ini akan berpedoman pada Mukhtasar Asy-Syamail ini, yang telah disyarah pula oleh Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari — pengajar di Masjid Nabawi, Masjidil Haram, dan Universitas Ummul Qura Mekah.
Bab Pertama: Mengenal Fisik Rasulullah ﷺ
Bab pertama kitab ini berjudul "Bab Maa Jaa'a fii Khalqi Rasulillah ﷺ". Perlu dicatat perbedaan dua istilah Arab yang mirip namun berbeda makna: khalq (خَلْق) berarti fisik atau penciptaan, sementara khuluq (خُلُق) berarti akhlak. Maka bab ini khusus membahas penampilan fisik Nabi ﷺ.
Anas bin Malik: Saksi yang Paling Dekat
Hadits pertama diriwayatkan oleh sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pembantu Nabi ﷺ selama kurang lebih sepuluh tahun. Ibunya, Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha, membawa Anas yang masih kecil — sekitar 9 atau 10 tahun — kepada Nabi ﷺ seraya berkata: "Wahai Rasulullah, ini Anas, ia akan menjadi pembantumu."
Ummu Sulaim memahami: tidak ada pendidikan terbaik bagi putranya melebihi kedekatan dengan Nabi ﷺ langsung. Rasulullah ﷺ pun mendoakan Anas:
"Ya Allah, panjangkanlah umurnya, banyakkanlah hartanya, banyakkanlah anaknya, dan berkahilah semuanya."
Doa itu dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sempurna. Anas bin Malik dikenal sebagai sahabat yang berumur panjang, berketurunan banyak, dan berharta berlimpah.
Ada hal menarik yang perlu dipahami: sebagian besar sahabat yang dewasa tidak sanggup menatap Nabi ﷺ dalam waktu lama karena begitu agung dan karismatiknya beliau. Dalam riwayat Bukhari dari Al-Mughirah bin Syu'bah, disebutkan bahwa para sahabat tidak mampu menajamkan pandangan mereka kepada Nabi ﷺ karena rasa mengagungkan yang begitu besar. Lalu bagaimana mereka bisa mensifati fisik Nabi ﷺ secara detail? Jawabannya: meskipun mereka tidak menatap lama, mereka sering bertemu dengan Nabi ﷺ — sedikit demi sedikit, pandangan itu terkumpul hingga mereka mampu menggambarkan sosok beliau.
Adapun Anas bin Malik yang masih kecil ketika pertama kali mengabdi — anak itu belum memiliki rasa kagum "sebesar" para sahabat dewasa. Ia masih wajar bermain-main, bahkan pernah menolak perintah Nabi ﷺ dengan bercanda, sambil dalam hatinya ia memang berniat untuk melakukannya. Kedekatan dan kewajaran inilah yang membuatnya bisa mensifati Nabi ﷺ dengan sangat rinci dan akurat, dari berbagai sisi.
Penggambaran Fisik Nabi ﷺ
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:
"Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang tingginya menonjol, dan juga bukan orang yang pendek. Beliau tidak sangat putih (hingga seperti orang albino), dan juga tidak gelap pekat. Rambutnya tidak terlalu keriting, dan tidak pula terurai lurus. Beliau diutus (menjadi Nabi) pada usia empat puluh tahun. Kemudian beliau tinggal di Mekah sepuluh tahun dan di Madinah sepuluh tahun. Beliau wafat pada usia enam puluh tahun, dan tidak ada di kepala maupun jenggotnya dua puluh helai uban pun."
Mari kita telusuri satu per satu:
Tinggi badan: Nabi ﷺ bertubuh tinggi, namun tingginya tidak mencolok. Jika beliau berdiri di antara para sahabat, tinggi beliau tidak membuat beliau tampak jauh berbeda dari yang lain. Bukan dari golongan yang pendek, namun juga bukan yang paling jangkung dan paling menonjol di antara orang banyak.
Warna kulit: Nabi ﷺ berkulit putih kemerahan (abyadh yad'u ilal humrah) — bukan putih pucat seperti orang albino, dan bukan pula cokelat gelap. Warna kulit beliau adalah putih dengan semburat merah yang hangat — khas orang Arab dengan kompleksi yang cerah namun tidak terlalu terang.
Rambut: Rambut Nabi ﷺ tidak keriting seperti rambut bergelombang ketat, dan tidak pula lurus terurai seperti rambut yang halus dan panjang menjuntai. Rambutnya berada di antara keduanya — sedikit bergelombang. Dalam riwayat lain disebutkan panjangnya sampai di bawah daun telinga.
Usia dan masa dakwah: Anas menyebut angka yang dibulatkan mengikuti kebiasaan bahasa Arab. Sesungguhnya Nabi ﷺ berdakwah di Mekah selama 13 tahun, bukan 10. Dan beliau wafat pada usia 63 tahun, bukan 60. Anas membulatkan bilangan dengan menghilangkan angka satuan, sebuah gaya bahasa yang lazim dalam bahasa Arab.
Uban: Ini adalah detail yang sangat penting. Rambut dan jenggot Nabi ﷺ secara keseluruhan berwarna hitam. Uban beliau sangat sedikit — dalam berbagai riwayat disebutkan jumlahnya: ada yang menyebut 11 helai, 17 helai, atau 18 helai — namun semuanya tidak sampai 20 helai. Ini berarti siapa pun yang mengklaim melihat Nabi ﷺ dalam mimpi dengan rambut dan jenggot yang sudah memutih seluruhnya — itu bukan Nabi ﷺ.
Kesimpulan
Perjalanan mengenal Nabi ﷺ melalui Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah bukan sekadar perjalanan menambah pengetahuan — ia adalah perjalanan menumbuhkan dan menyuburkan cinta. Sebab semakin kita mengenal seseorang yang mulia, semakin dalam rasa sayang yang tumbuh di hati.
Dan cinta kepada Nabi ﷺ bukan urusan yang remeh. Ia adalah syarat kesempurnaan iman. Ia adalah jalan untuk bisa bersama beliau kelak di surga. Ia adalah motivasi terdalam untuk benar-benar mengikuti sunnah dan meninggalkan larangan — bukan karena terpaksa, tapi karena kita mencintai sosok yang mewariskan tuntunan itu.
Semoga dengan mengkaji syamail Nabi ﷺ — fisiknya, akhlaknya, kebiasaan-kebiasaannya, dan seluruh pribadinya — kita bisa semakin dekat, semakin cinta, dan semakin rindu kepadanya. Karena pada hari kita bertemu Allah Subhanahu wa Ta'ala kelak, kita akan bersama orang yang paling kita cintai.
Wallahu ta'ala a'lam.
Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.
Sumber video: Kitab As-Syamail Al Muhammadiah #1: Mukadimah
0 Komentar