Mengejar Bahan Tesis hingga ke Kampus UNJ

emua ini bermula dari proposal tesis yang belum juga di-ACC.

Prof. Azhar Kasim, dosen pembimbing saya, meminta agar saya mengganti paradigma penelitian — dari pendekatan kualitatif menjadi positivis atau post-positivis. Saya pun mulai berburu referensi: mencari karya ilmiah lain dengan topik serupa, yaitu evaluasi program sosialisasi menggunakan model CIPP dengan pendekatan positivis.

Beberapa referensi berhasil saya temukan, tapi hati ini belum sreg juga. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah berita di Antara — bahwa bulan Maret lalu, Ibu Andi Nurpati baru saja menyelesaikan promosi Doktor di UNJ dengan disertasi tentang evaluasi program sosialisasi Pemilu 2009 di KPU, menggunakan model CIPP dengan pembahasan deskriptif analitis.

Rasanya seperti musafir yang menemukan oase di tengah padang pasir.

Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi Ibu Andi Nurpati via SMS dan Twitter, meminta salinan disertasi beliau. Alhamdulillah, beliau membalas dan meminta alamat email saya — lalu menginformasikan bahwa disertasinya juga bisa diakses di UPT Perpustakaan UNJ dan Perpustakaan Pascasarjana UNJ. Saya maklum; dengan kesibukan beliau yang luar biasa padat, mengirim file lewat email tentu tidak bisa langsung dilakukan.

Maka keesokan harinya, saya putuskan untuk datang langsung ke UNJ.


Petualangan Transportasi

Kantong masih tipis di awal bulan, jadi pilihan jatuh ke transportasi umum. Sebelum berangkat, saya sempat menghubungi Pak Wandi — rekan sesama peserta Diklatpim tahun lalu yang kini bertugas sebagai Kasubbag Umum di FT UNJ — berharap bisa sekalian bersilaturrahim.

Pukul 09.45, saya naik Kopaja 502 dari perempatan Kebon Sirih menuju Kampung Melayu, lalu turun di perempatan Matraman. Sebelum turun, saya tanya ke kenek soal rute ke UNJ. Jawabannya: naik Metro Mini 49.

Saya ikuti sarannya. Bus datang tidak lama kemudian — tapi ada yang aneh: tidak ada kenek yang nagih ongkos sepanjang perjalanan. Ternyata bayarnya langsung ke supir. Untung buat pak supir, pikir saya.

Sayangnya, bus 49 itu malah berputar balik di Utan Kayu. Saya turun di dekat halte Transjakarta — dan baru sadar bahwa dari Utan Kayu ke UNJ sebenarnya bisa ditempuh langsung dengan Transjakarta. Harusnya saya naik dari Matraman tadi. Ya sudahlah.

Kurang dari 10 menit kemudian, saya sudah tiba di kampus UNJ.

Di halte Transjakarta, ada satu hal yang menarik perhatian: layar informasi kedatangan bus lengkap dengan posisi real-time-nya. Konsepnya bagus — tapi sayangnya, akurasinya masih perlu dipertanyakan. Bus dari arah Matraman yang katanya tiba satu menit lagi tidak kunjung muncul, sementara bus dari arah sebaliknya malah sudah tiba padahal layar menunjukkan masih enam menit lagi. Ya maklum sajalah.


Di Kampus UNJ

Baru pertama kali saya menginjakkan kaki di kampus UNJ. Suasananya terasa berbeda dari UNHAS dan UI yang luas dengan banyak pohon dan danau — di sini terasa lebih padat dan crowded.

Saya langsung menuju UPT Perpustakaan. Koleksi disertasi tersimpan di lantai 6. Untuk pengunjung dari luar civitas akademika UNJ, dikenakan biaya masuk tiga ribu rupiah — tanpa kwitansi bernomor seri, entah masuk ke mana uangnya.

Di lantai 6, petugas mempersilakan saya menelusuri katalog terlebih dahulu. Satu hal yang cukup mengejutkan: aplikasi katalognya masih berbasis DOS — sepenuhnya mouseless, tanpa antarmuka grafis sama sekali. Setelah saya telusuri dengan sabar, disertasi Ibu Andi Nurpati tidak ditemukan. Kemungkinan besar karena masih terlalu baru untuk masuk ke koleksi perpustakaan.

Saya pun bergeser ke Perpustakaan Pascasarjana UNJ.

Di sana, kabar kurang mengenakkan sudah menunggu: pengunjung dari luar harus membawa surat pengantar dari kantor untuk bisa mengakses koleksi. Dan kalaupun bisa masuk, disertasi hanya boleh dibaca di tempat — tidak bisa difotokopi atau dipinjam. Ditambah lagi, disertasi Ibu Andi Nurpati ternyata belum terindeks karena masih terlalu baru.

Jalan buntu di mana-mana.


Pulang dengan Tangan Kosong

Sebelum pulang, saya mampir ke FT UNJ untuk menemui Pak Wandi — tapi beliau masih rapat. Beliau berjanji akan membantu memfotokopikan disertasi itu begitu sudah masuk koleksi perpustakaan. Tapi entah kapan itu terjadi.

Pukul 11.15, saya naik Transjakarta menuju Dukuh Atas, pindah ke Koridor 1, dan turun di Sarinah. Pukul 12.00 tepat saya sudah kembali di kantor — dan alhamdulillah, tidak ketinggalan salat Jumat.


Hikmah Naik Transportasi Umum

Perjalanan hari ini memang berakhir tanpa hasil yang diharapkan. Tapi setidaknya ada satu hal yang bisa saya simpulkan: naik transportasi umum di Jakarta ternyata tidak selalu menyebalkan. Bahkan ada beberapa keuntungannya.

Cepat. Dari UNJ ke kantor di Thamrin hanya butuh 45 menit naik Transjakarta. Kalau menyetir sendiri atau naik taksi di jam sibuk, saya tidak berani membayangkan berapa lama.

Murah. Total ongkos pulang-pergi dari Thamrin ke Rawamangun hanya Rp11.000 — dan Rp2.000 di antaranya karena saya salah naik bus tadi. Kalau naik taksi, Rp11.000 mungkin hanya cukup sampai Tugu Tani.

Lumayan menyehatkan. Pindah koridor di Dukuh Atas itu... sesuatu. Jarak antara Halte Dukuh Atas 2 dan Halte Dukuh Atas lumayan untuk membakar kalori. Bagi yang jarang jalan kaki seperti saya, betis bisa langsung protes begitu duduk di dalam bus.

Cukup nyaman — setidaknya di Transjakarta yang tidak terlalu penuh. Sebagian besar tulisan ini justru saya ketik di BlackBerry selama perjalanan dari UNJ ke Sarinah. Yang tidak nyaman tentu saja Kopaja dan Metro Mini tadi: tanpa AC, penuh keringat, dan soal keamanan pun masih perlu diwaspadai. Tahun 2010 lalu, BlackBerry saya pernah dicopet di Kopaja 502 yang sama.


Misi hari ini gagal. Tapi perjalanannya sendiri cukup mengobati kangen untuk kembali menulis.

Sampai di tulisan berikutnya. 🙂


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Seru juga tuh ngeblog di busway sambil ngejar tesis lagi di kampus UNJ Rawamangun, hebat, komentar juga ya ke blog saya myfamilylifestyle.blogspot.com

    BalasHapus