December 19, 2013

Menristek Tetapkan Tiga Pusat Unggulan Iptek Baru

Untuk mendongkrak kesiapan teknologi hasil lembaga litbang dan meningkatkan jumlah teknologi yang dimanfaatkan oleh industri dan pelaku usaha, pada tahun 2011 Kementerian Riset dan Teknologi meluncurkan Program Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI). Melalui program ini, lembaga litbang didorong untuk menghasilkan produk dan teknologi yang dapat digunakan oleh industri dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saingnya.

Setelah Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek Kelapa Sawit pada tahun 2011 dan Puslit Kopi dan Kakao serta Lembaga Penyakit Tropis Unair masing-masing ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek Kakao (Puslitkoka) dan Pusat Unggulan Iptek Penyakit Tropis pada tahun 2012. Ketiga lembaga tersebut ditetapkan sebagai PUI karena capaian akademik dan kontribusinya terhadap pengembangan industri kelapa sawit, teknologi pengolahan kakao, dan industri kesehatan melalui pengembangan aneka produk vaksin serta riset stem cell untuk pengobatan penyakit degeneratif.

Pada penghujung tahun 2013 ini, Kementerian Ristek kembali menetapkan 3 lembaga litbang sebagai Pusat Unggulan Iptek. Dua di antaranya merupakan lembaga litbang baru, yaitu Pusat Kajian Hortikultura (PKHT) IPB dan Pusat Studi Biofarmaka (PSB) IPB. Sedangkan satu sisanya adalah lembaga litbang lama, yaitu Puslitkoka dengan pengembangan tema riset kopi. Penganugerahan Pusat Unggulan Iptek tahun 2013 diselenggarakan di auditorium BPPT pada hari Selasa, 17 Desember 2013, dan diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa beserta Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta.

Menurut Menko Bidang Perekonomian, tidak ada satupun negara di dunia ini yang negaranya menjadi maju tanpa menguasai keunggulan iptek. Salah satu ciri dari globalisasi saat ini, diantaranya adalah semakin dalamnya penetrasi sains dan teknologi kedalam perekonomian, yang berarti inovasi menjadi kata kunci dari sebuah keunggulan. “Tidak ada pilihan bagi kita, secepat mungkin mentransformasikan perekonomian kita berbasis inovasi. Kuncinya ada pada kemampuan riset dan pusat unggulan kita untuk menghasilkan knowledge, kemudian dikembangkan menjadi invention, dan kemudian menjadi inovasi”, ujar Hatta Rajasa.

Menurut Menristek, daya saing Indonesia berada pada peringkat 38 dari 148 negara. Dari indikator yang terkait dengan inovasi, Indonesia menduduki peringkat yang relatif cukup baik yaitu di urutan 33, namun dari aspek kesiapan teknologis (technological readiness) masih lemah yaitu berada di urutan 75. “Ini berarti hasil penelitian kita belum siap diproduksi secara massal. Pusat Unggulan Iptek kita harapkan mampu menjadi alat untuk meningkatkan nilai kesiapan teknologi kita”, ujar Menristek.

Di samping lima lembaga litbang yang telah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan iptek, masih ada 12 lembaga litbang lagi yang sedang dipersiapkan Kemenristek menjadi pusat unggulan Iptek, di antaranya Pusat Penelitian Karet, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN, Pusat Mikroelektronika ITB, Pusat Penelitian Pigmen Material Aktif Universitas Ma Chung, serta beberapa konsorsium lembaga riset dalam bidang pengembangan lahan suboptimal, teknologi reklamasi lahan, hutan tropis berkelanjutan, energi terbarukan, rumput laut, pariwisata, ruminansia besar, dan sagu yang masing-masing tersebar di enam Koridor Ekonomi MP3EI. Lembaga-lembaga litbang ini akan menjadi pusat unggulan di bidangnya masing-masing dan mendukung terwujudnya industri yang berdaya saing, meningkatkan produksi dan kualitas produk dalam rangka kemandirian dan ekspor.

Lembaga litbang yang dipersiapkan menjadi Pusat Unggulan Iptek akan terus bertambah jumlahnya sampai tercapai batas minimum (critical mass), sehingga dapat berkontribusi secara signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di tiap koridor ekonomi yang tinggi, inklusif dan berkelanjutan, meningkatkan konektivitas/infrastruktur antar koridor ekonomi dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan mewujudkan visi MP3EI yaitu menjadi 12 negara besar dunia pada tahun 2025 dan 7 negara besar dunia pada tahun 2050. (mwr/ humasristek)

December 16, 2013

Pengembangan Teknologi Peternakan Ruminansia Besar di Kalimantan Selatan


Program Nasional Swasembada Daging Sapi tahun 2014, merupakan salah satu program prioritas Pemerintah dalam lima tahun sejak tahun 2010, dimaksudkan untuk mewujudkan ketahanan pangan asal ternak berbasis sumberdaya lokal. Program ini dirancang dari hulu–hilir, didukung oleh kemampuan dalam penguasaan dan pemanfaatan Iptek dengan melibatkan paling tidak 10 kementerian dan 3 lembaga. Untuk mencapai swasembada daging pada tahun 2014 tersebut, diperlukan berbagai rumusan kebijakan dan strategi khusus, antara lain: (1) pembibitan dan pemuliabiakan sapi nasional; (2) terobosan peningkatan populasi sapi; dan (3) ketahanan pakan nasional.

Selain kebijakan dan strategi tersebut, dukungan penguasaan iptek terhadap swasembada dapat diwujudkan melalui : pertama, peningkatan kemampuan SDM termasuk juga kapasitas para peternak–petani; kedua, pengembangan teknologi untuk perbaikan mutu bakalan melalui metoda inseminasi buatan, embrio transfer atau rekayasa genetika; ketiga, pengembangan teknologi untuk menjamin ketersediaan pakan sepanjang tahun dengan teknologi pakan murah; dan keempat, pengembangan kawasan terpadu/klaster inovasi peternakan–pertanian sebagai wahana untuk mengintegrasikan dan mensinergikan aktivitas litbang dengan dunia usaha yang menghasilkan produk industri peternakan–pertanian, seperti industri daging dan turunannya; industri pakan; industri pupuk dan bahan bakar terbarukan, yang sering kali disebut dengan 4 F (food, feed, fertilizer, dan fuel).

Hal tersebut disampaikan Menristek, Gusti Muhammad Hatta saat berkunjung ke Balai Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan pada hari Senin, 16 Desember 2013. Kunjungan tersebut dalam rangka Program Kementerian Ristek yaitu Pengembangan Teknologi Peternakan Ruminansia Besar sebagai upaya mendukung Program Nasional Swasembada Daging Sapi tahun 2014. dalam Roadmap Program Swasembada tersebut, Kalimantan Selatan memang menjadi daerah prioritas pengembangan campuran Inseminasi Buatan dan Kawin Alam. “Konsumsi daging per kapita nasional kita masih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, padahal kita sudah punya ahlinya dan hasil penelitian terkait produktivitas ternak juga sudah banyak namun belum dimanfaatkan secara massal. Oleh karena itu, Kementerian Ristek mendorong penggunaan teknologi untuk meningkatkan produksi ternak”, ujar Menristek.

Program Kementerian Ristek tersebut dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan pelaksanaan inseminasi buatan pada sapi, pelatihan dan pembuatan pakan awetan, pelatihan dan pembuatan pakan konsentrat, pelatihan dan pembuatan silase, pelatihan dan pembuatan pupuk organik, serta pelatihan dan pembuatan bakso sebagai produk olahan daging. Tujuan akhir dari program ini adalah meningkatnya angka kelahiran ternak khususnya sapi di Kabupaten Tanah Laut dan sekitarnya sebagai daerah percontohan dan Kalimantan Selatan secara keseluruhan.

Di penghujung acara, Menristek bersama Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Resnawan meninjau pameran tersebut sekaligus menyerahkan sertifikat penghargaan kepada 10 inseminator terbaik, sertifikat alih teknologi IB Sexing dan sertifikat ISO 9001:2008 bagi Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) Banjar Baru. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Kementerian Ristek, Hari Purwanto; Plt Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, I Wayan Budiastra dan Staf Khusus Menristek Bidang Daerah dan Media Massa, Gusti Nurpansyah. (munawir)