June 24, 2017

Happy Eid ul-Fitr 1438 H

Wishing each other on Eid, strengthens the bond of love and brotherhood and hugging reflects forgiveness.

A very blessed Eid ul-Fitr 1438 H to all of you.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

May Allah accept our fasting and prayers, forgive our shortcomings and allow us to see another Ramadhan.

Munawir Razak & fams

January 21, 2017

Pengalaman Mengurus STNK Baru di Kantor Samsat BSD

Selama ini pengurusan BPKB dan STNK saya percayakan kepada mas Juli, rekan di Gedung BPPT. Seharusnya perpanjangan STNK mobil saya hari ini juga diurus oleh Mas Juli,  namun karena dia sedang tugas keluar kota,  dia menyarankan saya untuk mengurus sendiri perpanjangan STNK saya di Kantor Samsat BSD. Dia berpesan untuk mempersiapkan BPKB,  STNK,  dan KTP asli berikut copynya. Karena hari ini adalah deadlinenya,  mau tidak mau saya pun mengurusnya sendiri. 

Tiba di halaman Kantor Samsat BSD,  saya langsung memfoto kopi KTP,  STNK dan BPKB, biaya yg dipatok untuk fotokopinya lima ribu rupiah.  Saya lalu menuju teras kantor Samsat BSD untuk pengambilan nomer antrian.  Karena plat nomer saya sudah 5 tahun,  petugas meminta saya terlebih dahulu ke Loket Cek Fisik yang ada di bagian belakang kantor Samsat, untuk mengambil sticker cek fisik.  Setelah itu ada petugas yang meminta saya membuka kap mesin mobil untuk mengecek nomer mesin dan nomer rangkanya. Saya kemudian kembali ke Loket Cek Fisik, disana berkas saya dicek lagi,  kemudian petugasnya meminta saya membawa berkas ke Loket Arsip yang terletak di sebelahnya.  Di Loket Arsip,  berkas saya diverifikasi dan ditandatangani oleh petugas yang kemudian meminta saya untuk kembali ke Loket Pengambilan Nomer Antrian.  Proses di kedua loket ini memakan waktu sekitar 15 menit. Agak lama karena petugas cek fisik sempat kewalahan mencari nomer mesin mobil saya yang letaknya tersembunyi.

Di loket pengambilan nomer,  petugas mengarahkan saya masuk ke Loket 1. Petugas di loket 1 mengambil seluruh berkas,  kecuali BPKB asli dan meminta saya duduk menunggu panggilan ke loket pembayaran. Sekitar 30 menit menunggu saya dipanggil ke loket pembayaran dan membayar biaya PKB,  SWDKLLJ,  bea adm STNK dan bea adm TNKB. Di loket 1 memang ada pengumuman bahwa standar waktu pelayanan perpanjangan STNK maksimal 90 menit. 

Setelah melakukan pembayaran,  petugas di loket pembayaran meminta saya duduk kembali menunggu dipanggil oleh petugas di loket sebelah,  yaitu loket pengesahan dan penyerahan.  di loket ini ada pengumuman bahwa standar waktu pelayanan pengesahan STNK maksimal 40 menit. Namun kurang dari 30 menit saya sudah dipanggil ke loket untuk penyerahan STNK baru. Oleh petugas, saya diminta menuju loket Pengambilan Plat Nomor yang ada di belakang kantor Samsat BSD, persis di samping loket Arsip. Di loket ini ada informasi bahwa maksimal plat nomor siap diambil dalam waktu 20 menit, dan terbukti dalam 8 menit plat nomor mobil saya sudah siap.

Alhamdulillah,  akhirnya selesai juga mengurus STNK. Pengalaman baru bagi saya bisa mengurus sendiri STNK di Samsat BSD.  Secara keseluruhan pelayanan yang diberikan sudah baik,  petugas cukup ramah dan informatif,  serta standar waktu pelayanan yang transparan. Memang belum ada maklumat Pelayanan yang terpasang di ruangan Samsat BSD ini,  namun saya sebagai warga Tangsel cukup puas dengan pelayanan yang diberikan. 

Selama mengurus STNK hari ini,  saya tidak melihat ada calo yang berkeliaran. Memang di berbagai sudut kantor Samsat BSD, banyak spanduk yang menghimbau agar warga menghindari calo dan mengurus sendiri karena prosesnya cukup mudah. Saya sarankan agar jangan malas mengurus sendiri, kalaupun berhalangan di hari kerja seperti saya,  kita bisa mengurus STNK di hari Sabtu,  karena kantor Samsat BSD hari Sabtu ini sampai dengan pukul 10.30. Total waktu yang saya butuhkan untuk pengurusan STNK baru ini kurang dari 2 jam.

Yang menarik, di dekat loket cek fisik ada spanduk yang menghimbau kita untuk tidak memberikan uang tip kepada petugas Samsat. Jadi tidak perlu khawatir ada pungli ya,  karena memberi tip saja sudah dilarang.

January 10, 2017

Pengalaman Merawat Anak yang Terkena DBD

Anak terkena Demam Berdarah pasti menjadi mimpi buruk bagi semua orang tua. Dalam sepekan ini saya lumayan stress karena anak sulung saya, Syauqi, positif terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) Grade II menuju III dan harus dirawat di Rumah Sakit Awal Bros Makassar. Saat saya posting tulisan ini, Syauqi masih dirawat di rumah sakit namun alhamdulillah kondisinya sudah mulai membaik. Selama Syauqi dirawat, saya banyak membaca blog yang menceritakan pengalaman pasien DBD maupun para orang tua yang anaknya terkena DBD. Tulisan-tulisan tersebut banyak memberikan pemahaman dan menenangkan saya yang lumayan panik saat kondisi Syauqi semakin drop. Saya pun ingin membagi pengalaman saya selama sepekan ini, semoga bermanfaat bagi para orang tua yang mengalami keadaan yang sama.

hari ke-1 sd hari ke-3:
Setelah sholat Maghrib, mendadak Syauqi mengalami demam dan tubuhnya lemas. Di siang hari kondisinya agak membaik namun di malam hari kembali demam tinggi. Pada hari ketiga saya memutuskan untuk membawa Syauqi ke rumah sakit karena melihat gejala-gejala DBD, seperti tubuh yang lemas, nafsu makan berkurang dan muncul bintik-bintik merah (petechiae) yang tidak hilang saat kulit direnggangkan. Karena saya sekeluarga menggunakan ASKES (BPJS Kesehatan), saya langsung membawa Syauqi ke UGD Rumah Sakit Awal Bros Makassar. Setelah cek darah, trombosit Syauqi menunjukkan angka 180 ribu, padahal normalnya untuk anak seumur Syauqi adalah 181.000 sd 521.000. Dokter jaga di UGD menyarankan Syauqi dirawat inap karena kondisinya yang lemah dan terindikasi dehidrasi. Saya setuju dengan usulan Dokter agar kondisi Syauqi bisa dipantau lebih baik.
hari ketiga: masuk RS

hari ke-4:
Kalau berdasarkan teori tentang DBD yang selama ini banyak dipahami masyarakat, pada hari keempat dan kelima biasanya pasien sudah tidak demam namun kondisi ini bisa menipu karena pada masa inilah masuk fase kritis dimana jumlah trombosit  menurun drastis. Kondisi Syauqi pada hari keempat makin melemah, lemas dan tidak nafsu makan walau demamnya sudah turun. Kebetulan Dokter yang menangani Syauqi (dr. Syuli Mamahit, Sp.A.) tidak mau terlalu sering mengambil darah pasien untuk diperiksa, sehingga saya tidak tahu kadar trombosit Syauqi di hari keempat ini.

hari ke-5:
Pada sore hari, hasil pemeriksaan darah Syauqi menunjukkan penurunan trombosit yang cukup drastis hingga ke angka 43 ribu. Syauqi sudah mulai mengeluhkan nyeri di perut . Syauqi juga sempat mimisan namun tidak banyak. Sejak kecil memang Syauqi sering mimisan jadi saat itu saya tidak terlalu khawatir.

hari kelima 

hari ke-6:
Saya berharap pada hari keenam kondisi Syauqi sudah membaik namun ternyata makin lemah. Dokter Syuli meminta agar Syauqi banyak minum air karena trombosit yang rendah hanya bisa diganti dengan memperbanyak cairan. Yang membuat saya lumayan panik karena Syauqi tidak mau banyak minum, dengan alasan perutnya makin nyeri bila minum. Khawatir kondisinya makin memburuk, saya sampai harus memaksa Syauqi untuk banyak minum. Namun semakin dipaksa untuk minum, semakin Syauqi menolak. Berbagai cara sudah saya coba untuk membujuk Syauqi banyak minum, dari memohon baik-baik sampai memaksa dengan tampang galak, namun tetap tidak mempan.

Setau saya sampai sekarang memang belum ada obat untuk penyakit DBD ini, jadi memperbanyak asupan cairan adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan kadar trombosit di dalam darah. Seandainya ada obat khusus DBD, berapapun harganya pasti orang tua akan mengusahakan untuk anaknya. Saya sudah mulai paranoid membayangkan kondisi Syauqi akan semakin memburuk karena tidak mau banyak minum. Untung ada mama yang menemani saya menjaga Syauqi malam itu dan menasehati agar saya tawakkal bahwa apapun yang terjadi nanti adalah pilihan yang terbaik dari Allah SWT karena kita sudah maksimal berupaya. Saya pun memantau kondisi Syauqi yang lemas agar jangan sampai shock atau pendarahan (mimisan, gusi berdarah, dll). Kalau sudah terjadi shock atau pendarahan maka pasien DBD harus lebih intensif dirawat, mendapatkan transfusi trombosit dan kemungkinan besar dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit) . Perawat secara berkala memeriksa tanda-tanda vital, seperti tekanan darah dan denyut nadi untuk mengantisipasi terjadinya shock.

hari keenam: puncak masa kritis

hari ke-7:
Pada pagi hari, kadar trombosit dalam darah Syauqi sangat rendah yaitu 17 ribu. Dokter memerintahkan agar memasang regulator agar cairan infus yang masuk terkontrol dan dosisnya dinaikkan menjadi 90 ml perjam. Namun secara kasat mata, kondisi Syauqi pada hari ini lebih baik daripada kemarin, karena keluhan nyeri perutnya sudah berkurang, pipisnya sudah mulai lancar, sudah mau makan dan minum walau badannya masih terlihat lemas. Saya berfikir kemungkinan kadar trombosit Syauqi sehari sebelumnya lebih rendah dari 17 ribu dan pada hari ketujuh ini jumlah trombositnya sudah mulai meningkat, dengan berasumsi pada kondisi fisik Syauqi yang lebih baik dari kemarin. Namun ini hanya sekedar asumsi karena pada hari keenam, darah Syauqi tidak diperiksa sehingga saya tidak pernah tahu berapa kadar trombosit Syauqi yang sesungguhnya.

Dokter Syuli menginformasikan bahwa sekarang terjadi pergeseran dimana masa kritis DBD tidak musti pada hari kelima dan keenam, namun dari beberapa pengalaman pasiennya ada yang shock pada hari ketujuh. Oleh karena itu Dokter tetap meminta semua waspada dan menjaga kondisi Syauqi agar tidak shock dan terjadi pendarahan, karena di wajah, tangan dan kaki Syauqi masih terdapat beberapa petechiae yang mengindikasikan terjadinya kebocoran pembuluh darah. Syauqi pada hari ini sudah lebih kooperatif untuk minum obat Cina Fufang Ejiao Jiang dan Sari Kurma yang katanya dapat meningkatkan kadar trombosit dengan cepat. Dengan kondisi itu, saya menghibur diri bahwa hari ini masa kritis Syauqi sudah berlalu.

hari ketujuh: mulai membaik

hari ke-8:
Dokter mengabarkan bahwa hasil pemeriksaan darah Syauqi di pagi hari menunjukkan peningkatan signifikan kadar trombosit menjadi 53 ribu. Alhamdulillah, lega rasanya. Pada hari ini kondisi Syauqi semakin membaik. Kalau hari-hari sebelumnya masih harus dipaksa untuk makan dan minum, hari ini Syauqi sendiri yang meminta makan dan minum. Kalau nafsu makan sudah membaik, ini merupakan tanda pasien DBD sudah mulai masuk tahap pemulihan.  Mudah-mudahan besok trombositnya bisa menembus angka 100 ribu, sehingga sudah bisa diizinkan dokter pulang ke rumah.


hari kedelapan: nafsu makan mulai stabil

Sekali lagi alhamdulillah, setelah sepekan perasaan tidak menentu, sekarang sudah agak tenang karena kondisi Syauqi sudah mulai membaik. Saya ingin berpesan agar para orang tua tidak perlu panik berlebihan bila anaknya terkena DBD. Khawatir boleh namun jangan sampai seperti saya yang panik dan paranoid sampai tidak rasional. Lebih baik perbanyak doa, tawakkal dan berbaik sangka kepada Allah SWT bahwa keadaan ini merupakan cobaan dari-Nya dan apapun yang terjadi adalah pilihan yang terbaik bagi kita. Yang terpenting orang tua yang menjaga anaknya di rumah sakit harus senantiasa menjaga kondisi kesehatannya, karena sudah pasti pola istirahat dan pola makan jadi berantakan dalam kondisi tersebut.

Sebenarnya ada cara yang baru dalam mengendalikan pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti yang membaca virus DBD, yaitu dengan membiakkan nyamuk yang mengandung Wolbachia dan disebarkan agar kawin dengan nyamuk sehingga pada akhirnya seluruh nyamuk tidak lagi membawa virus DBD. upaya ini sudah mulai dilakukan di Jogjakarta melalui Eliminate Dengue Project, oleh para peneliti UGM didanai oleh Yayasan Tahija, dan terbukti menurunkan jumlah kasus DBD di Jogjakarta. Kebetulan saya pernah datang ke labnya dan berinteraksi langsung dengan para penelitinya di Jogjakarta. Insya Allah project ini sudah didukung oleh Kemenristekdikti dan segera akan diaplikasikan di kota-kota lainnya. Informasi lebih lengkap tentang project ini bisa dilihat melalui website http://www.eliminatedengue.com/id

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mereview Rumah Sakit Awal Bros Makassar tempat Syauqi dirawat. Secara umum, pelayanan yang diberikan dokter, perawat, dan karyawan lain seperti bagian gizi dan cleaning service sudah baik. Mereka sangat kooperatif, informatif dan ramah kepada saya, walau saya bukan pasien umum. Hanya pelayanan di loket BPJS yang rada bikin bete karena petugasnya kurang ramah. Syauqi dirawat di Kelas I, walau dua hari pertama ditempatkan di Kelas II karena kelas I penuh. pada hari ketiga baru dipindahkan ke kelas I. Dengan akreditasi yang paripurna, peraturan ditegakkan dengan baik di RS ini. Saya agak kerepotan juga selama menjaga Syauqi disini karena harus berbagi jadwal dengan umminya Syauqi. Peraturan di RS anak kecil dibawah 10 tahun tidak bisa masuk ke ruang perawatan (kecuali hari Minggu) sehingga Lana dan Athirah (anak kedua dan ketiga saya) hanya bisa berada di lantai 1 dan 2. Saya pernah sekali bandel untuk menyelundupkan Athirah ke kamar Syauqi di lantai 6, namun kurang dari lima menit petugas security datang ke kamar meminta agar Athirah kembali dibawa turun. Ternyata upaya penyelundupan saya terlihat melalui CCTV dan mereka tidak bisa memberikan diskresi karena mereka juga akan dapat teguran kalau membiarkan Athirah tetap di kamar. Saya mengalah karena memang saya yang salah. hehehe.

October 5, 2016

STS Forum Menyambut Era Society 5.0

Science and Technology in Society Forum (STS forum) merupakan lembaga nirlaba internasional yang dibentuk pada tahun 2004 di Jepang, yang bertujuan untuk memajukan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di dunia, serta mengembangkan jejaring antara pemangku kepentingan iptek dari sektor bisnis, politik, akademisi, pemerintah dan media massa.

Setiap tahun STS forum menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri sekitar 1200 peserta dari lebih 100 negara.

Tahun ini pertemuan STS Forum diadakan di Kyoto International Conference Center, Jepang pada tanggal 1-4 Oktober 2016, dibuka langsung oleh Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe dan dihadiri Perdana Menteri Slovenia, Wakil Perdana Menteri Rusia dan 16 orang Menteri terkait Iptek dari negara-negara mitra STS Forum.

Dalam sambutannya, PM Abe menyampaikan bahwa perkembangan iptek yang demikian pesat akan membawa manusia masuk ke dalam era “Society 5.0”, dimana iptek mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh manusia khususnya dalam bidang kesehatan.

PM Abe menjelaskan lompatan dalam sejarah manusia dimana masa berburu adalah era “Society 1.0”, dan “Society 2.0” adalah era dimana manusia mulai bertani sedangkan “Society 3.0” adalah era industrialisasi. Saat ini kita sedang bersiap-siap meninggalkan era “Society 4.0” yaitu era teknologi informasi menuju “Society 5.0”. “Dalam era Society 5.0 seluruh teknologi penginderaan, robotika, komunikasi, BIG data, dan komputasi awan akan menyatu menjadi solusi untuk berbagai masalah kita yang sebelumnya dianggap tidak dapat terpecahkan,” ujar PM Abe.

Delegasi Indonesia yang hadir pada Forum STS tersebut adalah Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti Muhammad Dimyati; Kepala BPPT, Unggul Priyanto; dan Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain. Muhammad Dimyati mewakili Menristekdikti dalam pertemuan para Menteri terkait Iptek dari negara-negara mitra STS Forum.

Sedangkan Kepala BPPT dan Kepala LIPI masing-masing menjadi pembicara pada sesi tematik “Collaboration among Academia, Industries and Government” dan  “Industrial Innovation”.

Delegasi Indonesia pada forum ini bertukar pengalaman dan informasi dengan delegasi negara lain tentang kondisi pencapaian iptek masing-masing negara.

Di sela-sela forum STS, delegasi Indonesia secara khusus diundang oleh pendiri sekaligus pemimpin STS Forum, Koji Omi untuk membicarakan peluang untuk meningkatkan kerjasama antara Jepang dengan Indonesia di bidang Iptek dan inovasi.

Pada pertemuan tersebut disepakati untuk menyelenggarakan simposium pada bulan April 2017 di Indonesia yang akan dihadiri oleh para pemangku kepentingan iptek dari kedua negara yang berasal dari sektor pemerintah, akademisi dan industri. (MWR)


October 1, 2016

Reformasi Regulasi untuk Riset yang Lebih Baik


Untuk mendorong kontribusi Iptek dalam pembangunan nasional, Kemenristekdikti pada tahun ini menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Rencana Induk tersebut akan memandu seluruh program dan aktivitas riset di dalam negeri agar membawa peran yang signifikan dan terukur dalam pembangunan nasional hingga tahun 2045. Bila menggunakan indikator Multi Factor Productivity (MFP) yang mengukur seberapa dominan Iptek mewarnai pembangunan nasional, Indonesia saat ini masih berada di angka 16,7 persen yang menunjukkan bahwa masih banyak aspek pembangunan yang belum mendapatkan nilai tambah teknologi. Apabila RIRN konsisten diimplementasikan, pada tahun 2045, MFP Indonesia diprediksi bisa mencapai angka 70 persen.

Hal tersebut diungkapkan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati di hadapan ratusan mahasiswa Indonesia pada acara puncak Tokyo Tech Indonesian Commitment Award (TICA) 2016 yang digelar di kampus Ookayama, Tokyo Institute of Technology (Tokodai), Sabtu, 1 Oktober 2016. Dimyati mengapresiasi mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Tokodai yang selama 6 tahun konsisten menyelenggarakan kegiatan ilmiah ini.

“Saya sangat mengapresiasi seluruh panitia dan mahasiswa Indonesia di Tokodai yg senantiasa menjadikan riset sebagai nafas dari aktivitas kalian di kampus ini,” ujar Dimyati.

TICA 2016 yang tahun ini mengangkat tema “Sustainable Development in Indonesia” adalah kompetisi paper yang rutin diadakan setiap tahun untuk meningkatkan minat riset pada mahasiswa S1 tingkat akhir atau yang baru saja lulus. Sebanyak 326 paper masuk ke meja panitia tahun ini dan yang terbaik diundang langsung ke Tokyo untuk menerima penghargaan. Pemenang tahun ini untuk Cluster Science & Engineering adalah Fadhli Dzil Ikram dari Institut Teknologi Bandung; untuk _Cluster Management & Social, Sultan Kurnia AB dari Universitas Gadjah Mada; dan untuk Cluster Creativity Enhancement dimenangkan oleh Bintang Alfian Nur Rachman, mahasiswa Institut Teknologi Bandung.

Mengakhiri sambutannya, Dimyati menegaskan bahwa pemerintah saat ini sedang berupaya keras menciptakan iklim riset yang kondusif. Berbagai upaya dilakukan seperti memudahkan laporan pertanggungjawaban penelitian yang berbasis output melalui PMK 106 Tahun 2016 dan upaya revisi Perpres 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang Jasa yang memungkinkan penelitian dilakukan secara Multi Years, serta mendorong penyelesaian UU Paten.

“Kesemua upaya tersebut merupakan bagian dari reformasi regulasi untuk menciptakan kondusifitas riset di dalam negeri,” tegas Dimyati. (MWR)

June 11, 2015

Wapres Buka ISES 2015

Menristekdikti, Bapak Mohamad Nasir, mendampingi Wakil Presiden RI, Bapak Jusuf Kalla membuka secara resmi acara International Student Energy Summit (ISES) 2015 di Bali Nusa Dua Convention Center, pada Rabu, 10 Juni 2015. Acara ini dihadiri oleh 660 delegasi mahasiswa dari 100 negara dan menghadirkan 70 pembicara ahli dari sektor energi dan lingkungan hidup internasional dan nasional.

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menekankan pentingnya Indonesia untuk meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan agar tidak lagi bergantung kepada sumber energi yang berasal dari fosil seperti batu bara dan minyak bumi. Menurut Jusuf Kalla, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, berupa energi hidro dan panas bumi, namun belum termanfaatkan dengan optimal. “Kita baru menggunakan energi terbarukan sebanyak dua belas persen. Masih dibutuhkan 20 ribu megawatt pada 10 tahun mendatang melalui renewable energy yaitu geothermal, wind power, hidro turbine dan solar cell”, ujar Jusuf Kalla.

Wapres Jusuf Kalla berharap melalui penyelenggaraan ISES ini dapat dipikirkan mengenai gagasan tentang bagaimana penggunaan energi di masa mendatang dapat menghasilkan energi yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga lebih murah, baik, dan cepat. Para delegasi juga diharapkan dapat bertukar pikiran dan informasi mengenai pengembangan energi di negara masing-masing. "Ini adalah tantangan kalian para generasi muda apa solusinya, energi seperti apa yang lebih baik, lebih cepat. Inilah tugas kalian dalam dua sampai tiga tahun ke depan karena kalian akan menjadi ilmuwan," tambah Jusuf Kalla.

Tema ISES 2015 adalah "Connecting the Unconnected" dengan dasar pemikiran adanya kesenjangan dalam pemanfaatan serta pengembangan energi antara negara maju dan negara berkembang. , ISES 2015 ini akan diselenggarakan selama 4 (empat) hari dengan kegiatan yang terdiri dari konferensi, kompetisi studi kasus,  field trip dan berbagai kegiatan sosial. Presiden RI, Bapak Jokowi diagendakan menutup konferensi ini pada hari Sabtu, 13 Juni 2015.

June 8, 2015

Menristekdikti Serahkan SK CPNS Kemenristekdikti Angkatan 2015

Untuk mencapai good governance atau tata kelola pemerintahan yang baik, ada empat unsur yang selalu harus diperhatikan. Unsur pertama adalah transparency, yang kedua adalah fairness, unsur ketiga adalah accountability dan yang terakhir adalah responsibility. Keempat unsur ini apabila senantiasa dipegang oleh Pegawai Negeri Sipil akan meningkatkan kinerja dan integritasnya.

Hal tersebut disampaikan Menristekdikti, Bapak Mohamad Nasir saat memberikan pengarahan kepada puluhan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kemenristekdikti angkatan 2015 pada hari Senin, 8 Juni 2015 di Ruang Komisi Utama Gedung BPPT. Dalam arahan tersebut, Menristekdikti menekankan pentingnya para CPNS untuk memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dalam melakukan pekerjaan, agar menghasilkan kinerja yang baik. "Bila dalam setahun ini para CPNS ini menunjukkan kinerja yang baik, maka bisa diusulkan untuk mengikuti diklat Prajabatan," ujar Menristekdikti.

Mohamad Nasir juga berpesan agar para CPNS sudah mempunyai proyeksi akan karir dan kompetensi yang akan dimiliki di masa depan. Bila CPNS tidak punya mimpi seperti itu maka sulit untuk berkembang, "Kalian harus sudah punya gambaran dalam 20 tahun ke depan apa yang akan kalian capai, misalnya kalian sudah menjadi Doktor atau sudah menguasai beberapa bahasa asing, atau bahkan kalian sudah berada pada posisi jabatan tertentu," ujar M Nasir.

Yang tidak kalah penting, menurut M. Nasir, para CPNS harus bekerja dengan sepenuh hati, bukan bekerja karena tekanan, namun bekerja karena mencintai pekerjaan. Selain itu CPNS juga harus bisa melakukan inovasi dalam pekerjaan, agar hasil yang dicapai lebih optimal. Acara diakhiri dengan penyerahan Surat Keputusan Menristekdikti tentang pengangkatan CPNS secara simbolis kepada 4 orang perwakilan CPNS angkatan 2015. Turut hadir dalam acara tersebut, Sekjen Kemenristekdikti; Ainun Na'im, Deputi Menristek Bidang Kelembagaan Iptek, Mulyanto; dan Kepala Biro Umum, Mohammad Ilmi. (mwr/humasristek)

June 1, 2015

Menristekdikti Kunjungi Provinsi NTT

Menristekdikti, Mohamad Nasir, mengawali aktivitas di bulan Juni 2015 dengan berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lokasi yang pertama kali dikunjungi Menristekdikti adalah Desa Fatuteta, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang (1/6). Didampingi Wagub NTT, Beny A. Litelnoni dan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, Menristekdikti berdialog langsung dengan penduduk setempat yang berprofesi sebagai petani dan peternak.

Dalam dialog ini Menristekdikti menghimbau para petani dan peternak untuk menggunakan benih hasil riset untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan peternakan mereka. Menristekdikti melihat potensi sektor peternakan dan pertanian di daerah ini dapat terus dikembangkan sehingga NTT bisa menjadi provinsi yang menyukseskan program swasembada pangan. Dalam kesempatan tersebut Menristekdikti memperkenalkan benih padi Sidenuk hasil inovasi para peneliti BATAN yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. "Bila selama ini hasil panen petani lokal di bawah 5 ton per hektar, maka dengan benih padi sidenuk dapat ditingkatkan hasilnya menjadi 11 ton per hektar," ujar M. Nasir.

Selain menyerahkan benih padi Sidenuk, Menristekdikti juga memberikan benih padi Gogo hasil inovasi para peneliti LIPI yang dapat menghasilkan padi sampai dengan 6 ton per hektar saat musim kemarau."Jenis padi gogo ini cocok dengan iklim di NTT yang cukup panas," tambah M. Nasir

Di sektor peternakan, pada awalnya sapi NTT dapat berbobot lebih dari 1 ton, namun saat ini bobot sapi NTT hanya kurang dari 400 kg karena kesalahan dalam proses pengembangbiakan. Oleh karena itu, Menristekdikti menggandeng LIPI dan PT Karya Anugerah Rumpin akan konsisten mengembangkan sapi lokal yang unggul melalui teknik inseminasi buatan. "Saya berharap teknologi inseminasi buatan dapat mengembalikan kejayaan Provinsi NTT sebagai lumbung ternak sapi nasional. Oleh karena itu saya membawa para ahli dari LIPI dan PT KAR yang telah berhasil mengembangkan sapi lokal hingga berbobot 800-900 kg," ujar Menristekdikti.

di penghujung acara tersebut, Menristekdikti melakukan inseminasi buatan terhadap sapi lokal, dan juga menanam sorgum dan pohon jati di sekitar lokasi tersebut. Dalam kunjungan ke Fatuteta tersebut, Menristekdikti didampingi Deputi Bidang Pendayagunaan Iptek, Pariatmono Sukamdo; Direktur Kelembagaan Dikti, Hermawan Kresno Dipojono; Direktur Belmawa Dikti, Illah Sailah dan Kepala Biro Hukum dan Humas, Agus Sediadi.  (mwr/humasristek)

May 15, 2015

Lulusan Politeknik Harus Kompeten dan Siap Kerja

Untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan sumber daya manusia yang siap untuk diserap oleh dunia kerja. Salah satu pendidikan yang mampu menyiapkan sumber daya manusia yang siap bekerja adalah Politeknik. Untuk meningkatkan kualitas lulusan Politeknik, Kementerian Ristek Dikti akan merubah sistem pendidikan dengan memperpanjang masa magang mahasiswa di dunia usaha. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kompetensi lulusan Politeknik agar siap bekerja begitu menyelesaikan pendidikannya selama tiga tahun.

Hal tersebut disampaikan Menristekdikti, Bapak Mohamad Nasir saat memberi pengarahan di depan civitas akademika Politeknik Negeri Madiun, pada Jumat 15 Mei 2015. Dalam arahannya tersebut, Menristekdikti memaparkan rencananya memadatkan 3 semester kuliah dalam 1 tahun. "Kalau itu dilakukan, maka teori akan habis dalam 2 tahun. Maka setahun sisanya mahasiswa dapat melakukan praktikum di dunia usaha, agar begitu lulus langsung memiliki kompetensi sesuai bidangnya", ujar Nasir.

Menristekdikti juga menyoroti Politeknik yang terlalu banyak membuka program studi ilmu sosial. Menurut Menristekdikti, sebaiknya Politeknik memfokuskan pada program studi perekayasaan yang sesuai dengan kondisi dan potensi di wilayah tersebut. "Politeknik negeri harus punya konsentrasi, jangan terlalu banyak ilmu sosial. Di Madiun ada PT. INKA, industri kereta api, maka sebaiknya program studi di Politeknik Negeri Madiun diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia usaha di eks karesidenan Madiun", tegas Menristekdikti.

Pada kesempatan tersebut, Menristekdikti juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid di Kampus Politeknik Negeri Madiun. Dalam kunjungannya, Menristekdikti didampingi Sesditjen Dikti, Patdono Suwignjo; Asdep Iptek IKM, Hadirin Suryanegara; dan Kepala Biro Hukum dan Humas, Agus Sediadi. (humasristek)

May 14, 2015

Pemanfaatan Iptek untuk Pertanian dan Peternakan

Pemanfaatan Iptek dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dapat memberikan nilai tambah dan manfaat yang besar secara ekonomi. Sektor pertanian dan peternakan yang menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakat di Indonesia sudah tersentuh teknologi dan telah terbukti memberi dampak yang signifikan pada peningkatan produktivitas pada kedua sektor tersebut.

Hal itu disampaikan Menristekdikti, Bapak Mohamad Nasir saat berdialog dengan warga dan santri Pondok Pesantren Arba’i Qohhar, di Paron, Ngawi pada Kamis, 14 Mei 2015. Menurut Menristekdikti, salah satu contoh aplikasi teknologi pada bidang pertanian adalah benih padi Sidenuk yang merupakan hasil radiasi nuklir yang dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional. “Benih pani yang lain saat dipanen hanya menghasilkan 6-7 ton per hektar, sedangkan benih padi Sidenuk dapat menghasilkan sampai 12 ton per hektar”, ujar Nasir

Di sektor peternakan, Menristekdikti memperkenalkan berbagai teknologi yang sudah diterapkan, salah satunya  perbanyakan bibit dengan IB Sexing  dan embrio transfer. Menristekdikti bahkan mengajak langsung dua orang pelaku usaha di bidang pertanian dan peternakan yang menjadi mitra Kementerian Ristekdikti, yaitu Bapak Karnadi Winaga, Direktur PT. Karya Anugerah Rumpin yang bergerak di bidang peternakan dan Bapak Sucipto, Pimpinan PP Kerja yang bergerak di bidang produksi benih unggul. Kedua pengusaha tersebut juta berbagi ilmu dan pengalaman kepada para warga dan santri di lokasi tersebut.

Turut hadir mendampingi Menristekdikti dalam kunjungan tersebut, Bupati Ngawi, Budi Sulistyono; Asdep Iptek IKM, Hadirin Suryanegara; dan Kepala Biro Hukum dan Humas, Agus Sediadi. (humasristek)


March 30, 2015

Menanti Kelahiran Anak ketiga

Pukul 2 pagi, saya terbangun karena mendengar Thia memanggil saya. Kaget minta ampun begitu melihat Thia sudah  berdiri di luar kamar dan lantai sudah basah dengan air ketuban bercampur darah. Saat diperiksa dokter Sabtu pagi kemarin, usia kehamilan baru 36 minggu, dan operasi SC dijadwalkan tanggal 14 April 2015. Makanya lumayan panik melihat air ketuban campur darah sudah keluar sebelum waktunya.

Kita pun bergegas ke rumah sakit. Uqi dan Lana yang masih tertidur pun saya gendong ke mobil. Awalnya saya kepikiran untuk langsung ke IGD RS Hermina yang lokasinya persis di depan komplek rumah. Tapi karena kondisi Thia masih baik, maka saya terus ke RS Bunda DaLima di Sektor XIV BSD. Sebenarnya  Thia belum pernah kontrol dengan Dokter kandungan di RS ini. Sebelumnya tiap bulan Thia kontrol dengan Dokter Hera di RSIA Permata Sarana Husada di Pamulang, namun minggu lalu Dokter Hera resign dan RS tersebut mulai 1 April tidak lagi bekerjasama dengan BPJS. Jadi kami memutuskan untuk pindah ke RS Bunda DaLima. Bahkan hari Sabtu malam kami sudah datang survey dan memutuskan untuk kontrol dengan Dokter Julita yang praktek hari Kamis besok.

Namun, ternyata Allah merencanakan lain. Blum sempat kontrol dengan Dokter Julita, Thia  harus masuk IGD. Di IGD diterima seorang petugas laki-laki (entah dokter atau perawat) yang langsung mengarahkan kami ke ruang tindakan kebidanan. Saya kembali ke mobil untuk jemput Uqi dan Lana, namun begitu tiba di ruang kebidanan, Thia masih duduk menunggu sementara perawatnya masih sibuk nelpon cari kamar yang kosong setelah tahu kami pasien BPJS. Dengan agak kesal saya tegur perawatnya agar terlebih dahulu memeriksa keadaan Thia ketimbang cari-cari kamar.

Begitu diperiksa, alhamdulillah air ketuban masih ada dan suara degup jantung janin terdengar dengan baik. Namun lagi-lagi perawatnya beralasan sebaiknya Thia dirawat di RS Permata Sarana Husada karena sejak awal kontrol disana. Mereka beralasan ada IUD yg masih tertinggal di dalam rahim, sedangkan Dokter Kandungan nanti langsung bertemu Thia di ruang tindakan operasi dan tidak sempat lagi untuk pemeriksaan. Alasan yang cukup aneh bagi saya, namun saya hanya menjawab mustahil saya bawa kembali Thia ke RS Permata Sarana Husada dalam kondisi emergency seperti ini. Saya lagi-lagi menegur perawatnya agar jangan berasumsi sebelum menghubungi dokter terlebih dahulu. Saya tidak mau berburuk sangka bila perlakuan ini karena saya adalah peserta BPJS, namun seandainya benar karena itu, saya tidak keberatan bila membayar semua biaya tindakan seperti pasien umum lainnya, yang penting Thia cepat ditangani dengan profesional.

Alhamdulillah, dokter Daniel Richard yang dihubungi bersedia melakukan SC jam 6 pagi, namun karena kondisi janin masih 36 minggu maka perlu diberi penguat paru-paru terlebih dahulu sehingga operasi ditunda ke jam 1 siang. Perawat yang tadinya kurang welcome kini jadi ramah. Saya pun menghubungi mama-mama di Makassar untuk mengabarkan kondisi Thia . Insya Allah pagi ini jam 11 Mama Ima  tiba di jakarta.

Mohon doanya ya supaya proses kelahiran anak saya yang ketiga lancar.