January 10, 2017

Pengalaman Merawat Anak yang Terkena DBD

Anak terkena Demam Berdarah pasti menjadi mimpi buruk bagi semua orang tua. Dalam sepekan ini saya lumayan stress karena anak sulung saya, Syauqi, positif terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) Grade II menuju III dan harus dirawat di Rumah Sakit Awal Bros Makassar. Saat saya posting tulisan ini, Syauqi masih dirawat di rumah sakit namun alhamdulillah kondisinya sudah mulai membaik. Selama Syauqi dirawat, saya banyak membaca blog yang menceritakan pengalaman pasien DBD maupun para orang tua yang anaknya terkena DBD. Tulisan-tulisan tersebut banyak memberikan pemahaman dan menenangkan saya yang lumayan panik saat kondisi Syauqi semakin drop. Saya pun ingin membagi pengalaman saya selama sepekan ini, semoga bermanfaat bagi para orang tua yang mengalami keadaan yang sama.

hari ke-1 sd hari ke-3:
Setelah sholat Maghrib, mendadak Syauqi mengalami demam dan tubuhnya lemas. Di siang hari kondisinya agak membaik namun di malam hari kembali demam tinggi. Pada hari ketiga saya memutuskan untuk membawa Syauqi ke rumah sakit karena melihat gejala-gejala DBD, seperti tubuh yang lemas, nafsu makan berkurang dan muncul bintik-bintik merah (petechiae) yang tidak hilang saat kulit direnggangkan. Karena saya sekeluarga menggunakan ASKES (BPJS Kesehatan), saya langsung membawa Syauqi ke UGD Rumah Sakit Awal Bros Makassar. Setelah cek darah, trombosit Syauqi menunjukkan angka 180 ribu, padahal normalnya untuk anak seumur Syauqi adalah 181.000 sd 521.000. Dokter jaga di UGD menyarankan Syauqi dirawat inap karena kondisinya yang lemah dan terindikasi dehidrasi. Saya setuju dengan usulan Dokter agar kondisi Syauqi bisa dipantau lebih baik.
hari ketiga: masuk RS

hari ke-4:
Kalau berdasarkan teori tentang DBD yang selama ini banyak dipahami masyarakat, pada hari keempat dan kelima biasanya pasien sudah tidak demam namun kondisi ini bisa menipu karena pada masa inilah masuk fase kritis dimana jumlah trombosit  menurun drastis. Kondisi Syauqi pada hari keempat makin melemah, lemas dan tidak nafsu makan walau demamnya sudah turun. Kebetulan Dokter yang menangani Syauqi (dr. Syuli Mamahit, Sp.A.) tidak mau terlalu sering mengambil darah pasien untuk diperiksa, sehingga saya tidak tahu kadar trombosit Syauqi di hari keempat ini.

hari ke-5:
Pada sore hari, hasil pemeriksaan darah Syauqi menunjukkan penurunan trombosit yang cukup drastis hingga ke angka 43 ribu. Syauqi sudah mulai mengeluhkan nyeri di perut . Syauqi juga sempat mimisan namun tidak banyak. Sejak kecil memang Syauqi sering mimisan jadi saat itu saya tidak terlalu khawatir.

hari kelima 

hari ke-6:
Saya berharap pada hari keenam kondisi Syauqi sudah membaik namun ternyata makin lemah. Dokter Syuli meminta agar Syauqi banyak minum air karena trombosit yang rendah hanya bisa diganti dengan memperbanyak cairan. Yang membuat saya lumayan panik karena Syauqi tidak mau banyak minum, dengan alasan perutnya makin nyeri bila minum. Khawatir kondisinya makin memburuk, saya sampai harus memaksa Syauqi untuk banyak minum. Namun semakin dipaksa untuk minum, semakin Syauqi menolak. Berbagai cara sudah saya coba untuk membujuk Syauqi banyak minum, dari memohon baik-baik sampai memaksa dengan tampang galak, namun tetap tidak mempan.

Setau saya sampai sekarang memang belum ada obat untuk penyakit DBD ini, jadi memperbanyak asupan cairan adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan kadar trombosit di dalam darah. Seandainya ada obat khusus DBD, berapapun harganya pasti orang tua akan mengusahakan untuk anaknya. Saya sudah mulai paranoid membayangkan kondisi Syauqi akan semakin memburuk karena tidak mau banyak minum. Untung ada mama yang menemani saya menjaga Syauqi malam itu dan menasehati agar saya tawakkal bahwa apapun yang terjadi nanti adalah pilihan yang terbaik dari Allah SWT karena kita sudah maksimal berupaya. Saya pun memantau kondisi Syauqi yang lemas agar jangan sampai shock atau pendarahan (mimisan, gusi berdarah, dll). Kalau sudah terjadi shock atau pendarahan maka pasien DBD harus lebih intensif dirawat, mendapatkan transfusi trombosit dan kemungkinan besar dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit) . Perawat secara berkala memeriksa tanda-tanda vital, seperti tekanan darah dan denyut nadi untuk mengantisipasi terjadinya shock.

hari keenam: puncak masa kritis

hari ke-7:
Pada pagi hari, kadar trombosit dalam darah Syauqi sangat rendah yaitu 17 ribu. Dokter memerintahkan agar memasang regulator agar cairan infus yang masuk terkontrol dan dosisnya dinaikkan menjadi 90 ml perjam. Namun secara kasat mata, kondisi Syauqi pada hari ini lebih baik daripada kemarin, karena keluhan nyeri perutnya sudah berkurang, pipisnya sudah mulai lancar, sudah mau makan dan minum walau badannya masih terlihat lemas. Saya berfikir kemungkinan kadar trombosit Syauqi sehari sebelumnya lebih rendah dari 17 ribu dan pada hari ketujuh ini jumlah trombositnya sudah mulai meningkat, dengan berasumsi pada kondisi fisik Syauqi yang lebih baik dari kemarin. Namun ini hanya sekedar asumsi karena pada hari keenam, darah Syauqi tidak diperiksa sehingga saya tidak pernah tahu berapa kadar trombosit Syauqi yang sesungguhnya.

Dokter Syuli menginformasikan bahwa sekarang terjadi pergeseran dimana masa kritis DBD tidak musti pada hari kelima dan keenam, namun dari beberapa pengalaman pasiennya ada yang shock pada hari ketujuh. Oleh karena itu Dokter tetap meminta semua waspada dan menjaga kondisi Syauqi agar tidak shock dan terjadi pendarahan, karena di wajah, tangan dan kaki Syauqi masih terdapat beberapa petechiae yang mengindikasikan terjadinya kebocoran pembuluh darah. Syauqi pada hari ini sudah lebih kooperatif untuk minum obat Cina Fufang Ejiao Jiang dan Sari Kurma yang katanya dapat meningkatkan kadar trombosit dengan cepat. Dengan kondisi itu, saya menghibur diri bahwa hari ini masa kritis Syauqi sudah berlalu.

hari ketujuh: mulai membaik

hari ke-8:
Dokter mengabarkan bahwa hasil pemeriksaan darah Syauqi di pagi hari menunjukkan peningkatan signifikan kadar trombosit menjadi 53 ribu. Alhamdulillah, lega rasanya. Pada hari ini kondisi Syauqi semakin membaik. Kalau hari-hari sebelumnya masih harus dipaksa untuk makan dan minum, hari ini Syauqi sendiri yang meminta makan dan minum. Kalau nafsu makan sudah membaik, ini merupakan tanda pasien DBD sudah mulai masuk tahap pemulihan.  Mudah-mudahan besok trombositnya bisa menembus angka 100 ribu, sehingga sudah bisa diizinkan dokter pulang ke rumah.


hari kedelapan: nafsu makan mulai stabil

Sekali lagi alhamdulillah, setelah sepekan perasaan tidak menentu, sekarang sudah agak tenang karena kondisi Syauqi sudah mulai membaik. Saya ingin berpesan agar para orang tua tidak perlu panik berlebihan bila anaknya terkena DBD. Khawatir boleh namun jangan sampai seperti saya yang panik dan paranoid sampai tidak rasional. Lebih baik perbanyak doa, tawakkal dan berbaik sangka kepada Allah SWT bahwa keadaan ini merupakan cobaan dari-Nya dan apapun yang terjadi adalah pilihan yang terbaik bagi kita. Yang terpenting orang tua yang menjaga anaknya di rumah sakit harus senantiasa menjaga kondisi kesehatannya, karena sudah pasti pola istirahat dan pola makan jadi berantakan dalam kondisi tersebut.

Sebenarnya ada cara yang baru dalam mengendalikan pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti yang membaca virus DBD, yaitu dengan membiakkan nyamuk yang mengandung Wolbachia dan disebarkan agar kawin dengan nyamuk sehingga pada akhirnya seluruh nyamuk tidak lagi membawa virus DBD. upaya ini sudah mulai dilakukan di Jogjakarta melalui Eliminate Dengue Project, oleh para peneliti UGM didanai oleh Yayasan Tahija, dan terbukti menurunkan jumlah kasus DBD di Jogjakarta. Kebetulan saya pernah datang ke labnya dan berinteraksi langsung dengan para penelitinya di Jogjakarta. Insya Allah project ini sudah didukung oleh Kemenristekdikti dan segera akan diaplikasikan di kota-kota lainnya. Informasi lebih lengkap tentang project ini bisa dilihat melalui website http://www.eliminatedengue.com/id

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mereview Rumah Sakit Awal Bros Makassar tempat Syauqi dirawat. Secara umum, pelayanan yang diberikan dokter, perawat, dan karyawan lain seperti bagian gizi dan cleaning service sudah baik. Mereka sangat kooperatif, informatif dan ramah kepada saya, walau saya bukan pasien umum. Hanya pelayanan di loket BPJS yang rada bikin bete karena petugasnya kurang ramah. Syauqi dirawat di Kelas I, walau dua hari pertama ditempatkan di Kelas II karena kelas I penuh. pada hari ketiga baru dipindahkan ke kelas I. Dengan akreditasi yang paripurna, peraturan ditegakkan dengan baik di RS ini. Saya agak kerepotan juga selama menjaga Syauqi disini karena harus berbagi jadwal dengan umminya Syauqi. Peraturan di RS anak kecil dibawah 10 tahun tidak bisa masuk ke ruang perawatan (kecuali hari Minggu) sehingga Lana dan Athirah (anak kedua dan ketiga saya) hanya bisa berada di lantai 1 dan 2. Saya pernah sekali bandel untuk menyelundupkan Athirah ke kamar Syauqi di lantai 6, namun kurang dari lima menit petugas security datang ke kamar meminta agar Athirah kembali dibawa turun. Ternyata upaya penyelundupan saya terlihat melalui CCTV dan mereka tidak bisa memberikan diskresi karena mereka juga akan dapat teguran kalau membiarkan Athirah tetap di kamar. Saya mengalah karena memang saya yang salah. hehehe.

0 comments: