Cerita Dari Pesawat

Tulisan ini saya ketik di dalam kabin Lion Air JT 0783 rute Ujungpandang–Jakarta, yang berangkat pukul 19.50 WITA. Malam ini saya terbang kembali ke Jakarta, setelah lima hari menghabiskan waktu bersama anak-anak dan istri tercinta di Makassar.

Ada banyak yang ingin saya ceritakan tentang perjalanan kali ini — dan semuanya bermula dari sebuah Senin yang tidak terduga.


Senin yang Tidak Beres

31 Januari 2011. Sejak pagi badan sudah terasa lemas, tapi saya paksakan tetap berangkat ke kantor. Di dalam KRL, kondisi makin menurun — tapi tekad untuk bekerja masih lebih kuat dari rasa tidak enak badan. Begitu tiba di kantor, wajah saya rupanya sudah cukup pucat untuk membuat atasan saya, Ibu Anny, langsung meminta Mas Budi — pengemudi kantor — untuk mengantar saya pulang via Balai Kesehatan Puspiptek.

Di Balkes, Dr. Esti memeriksa dan menemukan bahwa tekanan darah saya anjlok ke angka 90/60. Beliau memberikan enam jenis obat sekaligus, dengan instruksi yang cukup tegas: bedrest tiga hari, kepala harus benar-benar diistirahatkan dari pikiran pekerjaan.

Saya tanya, apakah boleh istirahat sambil duduk di depan komputer.

Jawaban Dr. Esti singkat dan jelas: tidak.


Dua Hari Istirahat

Mas Budi mengantar saya pulang, dengan mampir terlebih dahulu ke Pondok Asinan Muncul untuk membeli makan siang. Rumah sedang kosong — Thia dan anak-anak masih di Makassar — jadi urusan makan harus dipikirkan dari awal. Untungnya Pondok Asinan punya layanan pesan antar, sehingga setiap jam makan saya tinggal angkat telepon dan tidak sampai 20 menit makanan sudah di depan pintu. Ditambah tayangan STAR WORLD yang sedang bagus-bagusnya, istirahat di rumah tidak terlalu membosankan — meski tetap saja ada yang kurang tanpa keramaian teman-teman di kantor.

Hari pertama badan demam tinggi, kepala pusing, tidur terasa antara sadar dan tidak. Baru di malam harinya, setelah keringat mengucur deras, kondisi mulai membaik. Keesokan harinya (Selasa), badan sudah terasa jauh lebih fit. Siangnya saya bahkan sempat keluar sebentar mengawasi petugas PLN yang memperbaiki sambungan listrik yang rusak.

Dan di malam harinya — saya melanggar pesan Dr. Esti.

Dengan asyiknya saya mengutak-atik presentasi yang rencananya akan dibawakan pada rapat kerja Biro Hukum dan Humas di Pondok Layung Anyer keesokan harinya. Sudah sehat, kok, pikir saya.


Rabu: Keputusan yang Terlalu Terburu-buru

Setelah salat Subuh, saya langsung mandi. Badan terasa segar — meski ada sedikit rasa lemas yang belum sepenuhnya hilang. Tapi semangat untuk kembali berkumpul dengan teman-teman di acara raker sudah mengalahkan segalanya.

Dengan hati riang, saya packing, menunggu Bu Anny dan Mas Budi yang sudah berbaik hati menjemput di rumah. Pukul 08.00 saya sudah tiba di kantor dan langsung beraktivitas seperti biasa.

Mba Yenni sempat bilang wajah saya masih terlihat pucat. Saya menganggap itu berlebihan.

Ternyata tidak.

Begitu saya keluar dari lift di lantai 7, pandangan tiba-tiba gelap. Kaki langsung lemas, badan menggigil. Secara refleks saya berteriak meminta tolong kepada Tyas yang kebetulan sedang bersama saya. Untungnya di dekat situ ada sofa — jadi saya tidak langsung jatuh ke lantai. Bayangkan saja kalau tubuh seberat 84 kg menghantam lantai keras. Hehehe.

Dalam kondisi setengah sadar, mulut saya terus beristighfar. Saya meminta air kepada Tyas, lalu memintanya memanggil orang-orang di lantai 7 untuk membawa saya ke rumah sakit. Karena belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya — saya panik bukan kepalang.


Di UGD RS Jakarta

Amir dan Nisa, rekan lama dari Asdep PRI, dengan sigap mengantar saya ke RS Jakarta menggunakan taksi. Di dalam taksi, kepanikan semakin memuncak — tangan makin pucat dan dingin, rasa ingin pingsan terus datang dan pergi. Alhamdulillah, kurang dari 20 menit kami sudah tiba di RS Jakarta yang letaknya di samping Universitas Atmajaya.



RS jakarta

Dokter jaga langsung memeriksa tekanan darah dan kadar gula darah saya. Tekanan darah sudah naik ke 100/80, dan hasil GDS bagus — kemungkinan hipoglikemi langsung dicoret. Saya diminta menunggu hasil tes Widal sekitar satu jam, untuk memastikan apakah ini tipes atau bukan.

Selama menunggu, pikiran melayang ke mana-mana. Tiga tahun lalu saya pernah dirawat karena tipes — saat Uqi masih bayi dan Thia tidak mungkin meninggalkan Makassar. Sekarang kondisinya nyaris sama: Lana baru berusia tiga minggu, jauh terlalu rentan untuk dibawa ke Jakarta. Kalau harus rawat inap, saya akan kembali melewatinya sendirian.

Tapi ternyata hasil Widal negatif. Tidak ada tipes. Tidak ada kelainan dalam hasil darah. Dokter menduga saya hampir pingsan akibat tekanan darah yang tidak stabil, yang menyebabkan pasokan darah ke kepala sempat berkurang drastis. Beliau menyarankan rawat inap untuk observasi lebih lanjut.

Di situlah saya mulai berhitung. RS Jakarta tidak menerima ASKES. Asuransi Manulife saya sudah kedaluwarsa. Tidak ada yang bisa menjaga saya selama dirawat. Dan kalau saya istirahat di rumah pun, saya tetap sendirian — dan tidak ada yang bisa menolong kalau kondisi tiba-tiba memburuk.

Satu pikiran kemudian muncul: pulang ke Makassar.

Saya sampaikan ide itu kepada dokter, sekaligus meminta pendapatnya. Beliau menyatakan kondisi saya cukup aman untuk terbang — dengan catatan, setiba di Makassar sebaiknya langsung rawat inap, atau minimal bedrest ketat dan segera kembali ke rumah sakit bila kondisi memburuk. Dokter juga berpesan agar saya selalu berpikir positif — dan beliau benar. Saya tahu, bertemu anak-anak dan istri di Makassar akan menjadi obat yang tidak bisa ditebus di apotek manapun.

Deal.


Bertemu Daeng Nuntung di Bandara

Bersama teman-teman Humas yang sudah lebih dulu menyusul ke rumah sakit, saya kembali ke kantor untuk salat dan mengambil tas, lalu langsung diantar ke bandara. Sayangnya penerbangan pukul 16.00 dan 18.15 menuju Makassar sudah penuh. Saya terpaksa menunggu penerbangan pukul 20.20.

Masa tunggu itu tidak terasa membosankan — karena saya bertemu Daeng Nuntung, rekan sesama Blogger Makassar yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Unhas. Kami ngobrol cukup lama, dan di antara obrolan itu beliau mengingatkan tentang satu hal yang sering kita lupakan di tengah kesibukan: pentingnya menjaga kesehatan, apalagi ketika kita sudah punya anak-anak kecil yang bergantung kepada kita.

Benar sekali. Tidak ada dari kita yang menyangka almarhum Adjie Massaid akan pergi di usia semuda itu, meninggalkan tiga anak yang masih kecil-kecil. Maut memang sepenuhnya rahasia Allah — tapi menjaga kesehatan adalah ikhtiar yang sepenuhnya ada di tangan kita.


Mohon Doa untuk Lana

Berbicara soal kesehatan, ada satu hal yang juga ingin saya titipkan kepada teman-teman.

Ahad kemarin, putri kecil saya Lana — yang baru berusia tiga minggu — menjalani pemeriksaan echocardiography. Umminya Lana sudah beberapa kali memperhatikan Lana kerap menahan napas seusai menyusu, dan itu yang mendorong kami untuk memeriksanya lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya Patent Foramen Ovale (PFO) di jantung Lana, berukuran sekitar 2,8 mm. PFO adalah lubang kecil yang memang lazim ditemukan pada janin, dan seharusnya menutup secara alami begitu bayi lahir. Menurut Dokter Burhan, kelahiran Lana yang prematur kemungkinan menjadi penyebab lubang itu belum menutup.

Tiga bulan dari sekarang, Lana akan kembali menjalani echo untuk melihat perkembangannya. Dokter mengatakan kondisi ini cukup umum — bahkan disebutkan terjadi pada satu dari lima kelahiran — tapi sebagai orang tua, tentu saja kekhawatiran itu tetap ada.

Mohon doa teman-teman, semoga Lana diberi yang terbaik oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.



lana
Lana lagi Echocardiography

Posting Komentar

0 Komentar