Kuliah (lagi)

Alhamdulillah, akhirnya ada kesempatan untuk mengisi blog ini kembali — setelah berbulan-bulan terbengkalai tanpa satu pun tulisan.

Banyak hal yang terjadi selama masa absen itu. Terlalu banyak untuk dirangkum dalam satu paragraf. Tapi ada dua kabar yang paling ingin saya bagi di sini.


Kepergian Abba

Yang pertama adalah kabar yang berat.

Abba telah berpulang ke rahmatullah — pergi untuk selamanya, seminggu sebelum Ramadan 1432 H. Hari itu Ahad, 24 Juli 2011. Abba meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah terjatuh akibat serangan jantung — sesaat seusai bertanding tenis di halaman kantornya di Kendari.

Kepergian beliau terasa sangat mendadak bagi seluruh keluarga. Bahkan di pagi harinya, Abba masih sempat membuka turnamen tenis antar warga pengadilan — masih sehat, masih bersemangat. Tidak ada yang menyangka itu menjadi hari terakhirnya.

Semoga Allah merahmati dan memuliakan beliau. Al-Fatihah.


Kembali ke Bangku Kuliah

Kabar kedua terasa lebih ringan untuk diceritakan: saya kuliah lagi.

Setelah enam tahun sibuk mencari nafkah, alhamdulillah saya mendapat beasiswa dari kantor untuk melanjutkan studi di Universitas Indonesia — jurusan Administrasi Kebijakan Publik. Kelas eksekutif, masuk malam hari, sudah berjalan sekitar sebulan.

Kedengarannya menyenangkan. Kenyataannya? Kepala rasanya mau pecah.

Para dosen tidak henti-hentinya memberi tugas, sementara pekerjaan di kantor bukannya berkurang — malah makin menumpuk. Kuliah rata-rata dimulai setelah Maghrib dan selesai sekitar pukul 21.00. Pulang di jam segitu berarti ketinggalan kereta pukul 21.15, dan harus menunggu kereta berikutnya yang baru berangkat pukul 23.15.

Saya akhirnya memutuskan untuk membawa kendaraan sendiri setiap hari — ke kantor sekaligus ke kampus. Tapi lama-lama mulai terasa di kantong juga. Dalam sehari saja bisa keluar puluhan ribu hanya untuk bensin, tol, dan parkir. Belum lagi kelelahan fisik karena harus menyetir bolak-balik Jakarta–Serpong yang kalau macet bisa memakan waktu hampir dua jam.


Tapi insya Allah tidak akan lama lagi. Saya sedang berencana pindah kontrakan ke area belakang kantor — supaya tidak perlu lagi terlambat masuk kerja di pagi hari, dan bisa lebih cepat sampai di rumah setelah kuliah malam. Kalau dihitung-hitung, biaya kontrakan kurang lebih setara dengan pengeluaran transportasi per bulan sekarang. Jadi secara finansial tidak terlalu berbeda — tapi tenaga dan waktu yang bisa dihemat tentu jauh lebih berharga.

Bismillah, semoga semuanya berjalan lancar. Doakan ya.


Posting Komentar

0 Komentar