Cek Mata di JEC Menteng

Sudah seminggu ini mata kiri saya terasa kabur.

Awalnya hanya sensitif terhadap cahaya — setiap kali ada sinar yang masuk, mata kiri langsung terasa silau. Yang aneh, mata kanan tidak mengalami keluhan yang sama sama sekali. Saya sempat berharap ini hanya efek samping dari demam yang sedang saya derita, dan akan membaik sendiri setelah sembuh.

Tapi demam berlalu, mata kiri tetap kabur. Paling terasa saat menonton televisi — subtitle yang biasanya terbaca dengan mudah kini sudah tidak bisa saya baca lagi.


Dugaan pertama saya: ukuran silinder bertambah. Memang sejak empat tahun lalu saya sudah didiagnosis silinder, meski masih di bawah satu sehingga jarang benar-benar memakai kacamata. Tapi rasanya aneh kalau pertambahan silinder bisa terjadi sedrastis ini dalam waktu singkat. Ada sesuatu yang berbeda kali ini.

Hari ini saya memutuskan untuk periksa ke dokter mata. Pilihan jatuh ke Jakarta Eye Center (JEC) Menteng — almarhum Abba dulu pernah kontrol dan menjalani operasi mata di klinik ini, jadi reputasinya sudah tidak perlu diragukan lagi.


Di BDR: Sebelum Bertemu Dokter

Antrean cukup panjang. Saya kebagian diperiksa oleh Dr. Elvioza — tapi sebelum masuk ke ruangannya, ada serangkaian pemeriksaan awal di BDR (Basic Diagnostic Room) terlebih dahulu.

Di sana, ukuran mata dicek menggunakan komputer, tekanan bola mata diukur dengan alat yang menyemburkan angin ke mata, lalu dilanjutkan pemeriksaan manual membaca huruf dan angka di layar. Untuk ukuran yang kecil, saya sudah tidak sanggup membacanya tanpa bantuan kacamata.

Karena dokter yang menangani saya adalah Dr. Elvioza yang spesialis kornea, mata saya perlu ditetesi obat tetes khusus terlebih dahulu — cukup perih, dan membuat penglihatan jarak dekat menjadi kabur sementara selama sekitar tiga jam.


Di Ruangan Dr. Elvioza

Pemeriksaan dilanjutkan di ruangan Dr. Elvioza dengan komputer yang berbeda — kali ini kedua mata disorot dengan cahaya yang cukup menyilaukan.

Setelah semua pemeriksaan selesai, dokter menyampaikan kabar yang cukup melegakan: tidak ada masalah serius pada mata saya. Keluhan yang saya rasakan seminggu ini semata-mata karena ukuran silinder yang bertambah — dan solusinya sederhana: saya harus kembali memakai kacamata secara konsisten. Kacamata lama saya memang sudah lama tidak terpakai karena lensanya copot. Dan seperti kacamata-kacamata saya sebelumnya, umurnya tidak panjang — beberapa bahkan tidak selamat dari tangan Uqi.

Dokter memberikan resep tetes mata yang bisa ditebus di apotek JEC, digunakan empat kali sehari selama sebulan, dengan harga Rp80.000.


Rincian Biaya

Untuk biaya pemeriksaan, total yang saya keluarkan adalah Rp277.500, terdiri dari:

  • Biaya konsultasi dokter
  • Autoref dan administrasi pasien baru: Rp52.500
  • Tonometri non-contact: Rp15.000

Angka ini persis sesuai dengan yang diinformasikan oleh CS JEC saat saya hubungi melalui Yahoo Messenger sebelum berangkat — tidak ada biaya kejutan sama sekali.

Untuk kacamata, saya langsung memesan di optik JEC yang ada di lobi. Kebetulan sedang ada diskon 20 persen untuk frame, sehingga total kacamata baru saya sekitar Rp990.000.


Mudah-mudahan kacamata yang baru ini bisa lebih tahan lama dari pendahulu-pendahulunya. Dan yang paling penting — mudah-mudahan kali ini selamat dari tangan Uqi. 🙂

Posting Komentar

0 Komentar