Ikut Diklatpim IV

Sudah beberapa kali saya berhasil mengelak — dengan alasan banyak pekerjaan, atau sedang kuliah. Tapi kali ini tidak ada lagi alasan yang bisa saya ajukan. Panggilan untuk mengikuti Diklatpim IV di Pusbangtendik Cinangka, Depok, akhirnya harus saya penuhi juga.

Diklat ini akan berlangsung kurang lebih 40 hari, mulai 3 September hingga 14 Oktober. Konsekuensinya cukup besar: Uqi, Lana, dan Umminya harus kembali "mengungsi" ke Makassar untuk sementara waktu, dan baru akan saya jemput setelah diklat selesai.

Satu hal lagi yang cukup memusingkan — hari pertama diklat kebetulan jatuh bersamaan dengan hari pertama kuliah Semester 3 di Pascasarjana UI. Jadi selama 40 hari ke depan, saya harus pintar-pintar membagi waktu antara keduanya. Kalau tidak ada materi diklat di malam hari, saya diizinkan pergi kuliah — meski itu berarti harus menempuh perjalanan jauh dari Cinangka sampai Cikini. Tidak dekat, tapi tidak ada pilihan lain.


Ternyata Ada Hikmahnya

Meski awalnya berat hati, belakangan saya justru bersyukur tidak menunda lebih lama.

Rupanya, angkatan saya ini adalah yang terakhir menggunakan kurikulum lama — yang disusun sejak tahun 2001. Tahun depan, Diklatpim akan beralih ke kurikulum baru yang kabarnya jauh lebih berat, dengan metode yang lebih menuntut dan durasi yang lebih panjang. Alhamdulillah, saya tidak kebagian kurikulum itu.


Kelas yang Ramai dan Penuh Warna

Satu hal yang langsung membuat suasana terasa menyenangkan adalah teman-teman sekelas.

Peserta diklat angkatan ini benar-benar mewakili penjuru Indonesia — ada yang datang dari Aceh, Medan, Riau, Palembang, Banjarmasin, Palangkaraya, Makassar, Denpasar, Ambon, Kupang, hingga Jayapura. Tidak didominasi peserta dari Jawa saja, dan itu membuat diskusi di kelas terasa jauh lebih kaya.

Yang lebih menghibur, di kelas ini ada beberapa "tokoh nasional" — versi kami sendiri, tentunya. Ada Pak Sutarlan dari ISI Yogyakarta yang kemiripannya dengan Pak SBY cukup mencolok. Ada Pak Andi Ikhsan dari UNM Makassar yang wajahnya mengingatkan saya pada Pak Andi Mallarangeng. Dan ada Pak Man dari Undana Kupang yang penampilannya sangat mirip Pak Timur Pradopo.

Rata-rata teman sekelas jauh lebih senior dari saya. Tapi sepertinya mereka belum menyadari bahwa saya adalah yang paling muda di kelas ini — dan masih di bawah 30 tahun.


Jadwal yang Ketat dan Target yang Ambisius

Kehidupan selama diklat sudah terjadwal dengan sangat rapi. Senam pagi pukul 05.30, jadwal makan yang teratur, jadwal salat, hingga sesi materi yang padat. Tidak banyak ruang untuk berleha-leha.

Tapi justru karena itu, saya melihat ini sebagai kesempatan. Dengan pola hidup yang lebih teratur dari biasanya, saya bertekad memanfaatkan 40 hari ini untuk serius menurunkan berat badan — target minimal turun ke 75 kg, lebih rendah dari itu tentu lebih baik. Senam aerobik setiap pagi dan pola makan yang lebih terkontrol mudah-mudahan bisa mewujudkan itu.

Bismillah. Aamiin.



Posting Komentar

0 Komentar