Bekerja Sambil Berkembang


Tadi malam saya ikut training online melalui Zoom tentang “To Work To Develop”, Bekerja dan Berkembang, yang dipandu oleh Kang Hasan. Pertemuan saya dengan Kang Hasan diawali beberapa tahun lalu saat saya nemenin pak Menteri menerima tamu dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) yang kebetulan Kang Hasan adalah manajernya. Sejak itu saya mengikuti tulisan-tulisan kang Hasan di Facebook, dan belakangan membeli beberapa buku yang diterbitkan Kang Hasan, lalu mengikuti training online yang beliau pandu. Ini adalah training online Kang Hasan kedua yang saya ikuti, setelah bulan lalu saya ikuti training tentang “7 Habits of Highly Effective People”. Kang Hasan di FB-nya menawarkan beberapa jenis mini-training, mulai dari pengembangan diri, parenting dan belakangan juga menawarkan topik terkait seksolologi, hehehe… ga percaya? cek saja di FB kang Hasanudin Abdurakhman

Materi training tadi malam membahas tentang bagaimana menjadikan Bekerja itu sebagai proses untuk mengembangkan diri dan mengembangkan orang lain. Training diawali Kang Hasan dengan mengingatkan agar jangan kerja seperti jongos, yang ciri-cirinya itu antara lain, bekerja mengikuti kemauan atasan/pemilik usaha (Asal Bos Senang/ABS), tanpa ada standar kerja, tidak ada rencana dan tidak ada aturan. Dalam kondisi seperti ini, pendapat bawahan tidak didengar dan idenya bahkan tidak dihargai. Karyawan juga tidak dilatih dan diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, sehingga karyawan tidak lain hanyalah pesuruh, yang melaksanakan kehendak atasan atau pemilik usaha. Dengan pola kerja seperti ini, organisasi dan individu di dalamnya tidak ada yang bisa berkembang. Saya pernah baca salah satu tulisan kang Hasan di FB yang judulnya “the value of saying NO” yang menceritakan pengalamannya “menolak” perintah presiden direkturnya. Bukan sekedar menolak, namun mencarikan solusi lain yang lebih efisien. Di situ kang Hasan menegaskan bahwa bekerja sebagai karyawan tidak membuat kita jadi jongos yang harus mematuhi semua perintah atasan, meskipun dia pemilik perusahaan sekalipun. Kita harus bekerja dengan prinsip-prinsip manajemen. 

Karena organisasi adalah sebuah perkumpulan dengan tujuan yang jelas, maka manajemen lah yang menjadi sistem kerja untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan organisasi harus diterjemahkan ke dalam rencana, dan rencana tersebut dikomunikasikan ke segenap elemen penyusun organisasi. Hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dibagi ke beberapa elemen organisasi  dengan porsi pembagian yang jelas. Setiap elemen organisasi yang yang bertugas menyelesaikan pekerjaan harus mempunyai ruang kebebasan untuk berkreasi dalam menyelesaikan pekerjaannya, bukan sekedar menuruti kehendak orang. Menurut Kang Hasan, tiga sisi yaitu Tugas, Tanggung Jawab dan Wewenang harus setara, dimana  setiap penambahan tugas harus diiringi dengan penambahan tanggung jawab dan wewenang. 

Kang Hasan juga menerangkan tentang siklus dalam manajemen, dimana sebuah rencana dikoordinasikan melalui mekanisme Command and Control. Command (perintah) dalam sistem manajemen adalah proses mengkomunikasikan rencana untuk dieksekusi guna mencapai tujuan. Terlebih dahulu memang harus dipastikan bahwa semua orang di dalam organisasi terlibat dalam pencapaian tujuan organisasi, oleh karena itu semua orang tentu saja sudah harus mengetahui apa tujuan yang ingin dicapai. Kadang-kadang Command ini tidak perlu diucapkan karena setiap orang dalam organisasi sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Saya termasuk atasan yang tidak terlalu suka untuk memberi perintah, karena prinsip saya semua bawahan saya harusnya sudah tahu pembagian tugas masing-masing dan harus secara sadar melakukan tugasnya tanpa harus menunggu untuk diperintah. Ibarat tim sepak bola, kita ga perlu menyuruh striker untuk menyerang dan meminta seorang kiper untuk menjaga gawangnya. 

Yang harus diperhatikan dalam organisasi adalah, isi dari command atau perintah merupakan rencana yang menjadi bagian dari keputusan manajemen, bukan selera pemberi perintah. Oleh karena itu penerima pemerintah bukan pesuruh yang harus tunduk begitu saja. Dia adalah penerima tugas yang sepaket dengan wewenang dan tanggung jawab. Dia bebas berkreasi di dalam ruang wewenang-tanggung jawab itu. Saya sebagai atasan sangat senang kalau melihat bawahan yang proaktif, punya inisiatif dan berani memberi feedback kepada saya. Saya bukan tipe atasan yang gensi apabila diberi masukan oleh bawahan saya. Asalkan rasional pasti saya terbuka untuk mendiskusikannya. Yang bawahan saya perlu pahami, bahwa perintah dari saya itu tujuannya untuk kepentingan bersama, yaitu pencapaian tujuan organisasi. Selama ini pun saya senantiasa berusaha agar perintah dari saya kepada bawahan tersampaikan dengan baik, bahkan sering menggunakan kata “tolong” dan “mohon”, dengan harapan agar bawahan saya melakukan tugasnya tanpa harus merasa diperintah. Hubungan kerja tidak ingin saya buat vertikal, tapi lebih baik kalau suasananya lebih seperti team work, masing-masing elemen organisasi memahami tugas, berikut wewenang dan tanggung jawabnya.

Kang Hasan kemudian masuk ke inti materi, bahwa bekerja itu pada prinsipnya adalah mengembangkan diri. Skill dasar yang kita miliki sekarang ditambah dengan pengalaman, ide, informasi, perasaan dan knowhow yang kita dapatkan selama bekerja seharusnya bisa membuat kita memiliki skill baru. intinya seseorang dianggap gagal apabila dari pekerjaanya dia tidak membuat progress bagi dirinya sama sekali, alias dia tidak belajar dari pekerjannya (jalan di tempat). Mindset yang harus ditumbuhkan adalah bahwa tugas tambahan adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak dan tugas baru adalah kesempatan untuk mempelajari hal baru, sehingga kita tidak menolak tugas tambahan dan tugas baru. Dari pengalaman saya sendiri misalnya, saat diberikan tugas tambahan menjadi Manajer Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik di Tim RB Kemenristekdikti 3 tahun yang lalu, disitu saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang seluk-beluk pelayanan publik. Begitu juga saat saya mendapatkan tugas menjadi penanggung jawab tim SPADA LLDIKTI IX, karena tidak terkait langsung dengan tugas struktural saya, saya harus banyak belajar tentang pembelajaran daring dan akhirnya bisa mulai paham dan bahkan bisa sharing pemahaman saya tersebut ke orang lain. Saya selalu teringat ucapan om Peter F. Gontha saat di talkshownya Deddy Corbuzier, “Apabila kita mendapatkan tugas, lakukanlah lebih dari apa yang diharapkan. kalau kita melakukan lebih dari apa yang diharapkan, maka kita bisa mendapatkan tugas tambahan, dan dari tugas tambahan itu kita sebetulnya maju dalam hidup kita, dianggap orang dan kita bisa lebih sukses”.

Dalam sesi training sebelumnya tentang 7 Habits, Kang Hasan menjelaskan tentang kebiasaan efektif kedua, yaitu Mulai Dari Akhir. Tetapkan tujuan, lalu berpikir dan bertindaklah berbasis pada tujuan tersebut. Tujuan itu yang menjadi pemandu bagi kita terkait apa harus kita lakukan. Tujuan diterjemahkan dengan rencana, lalu rencana tersebut dieksekusi. Eksekusi tersebut kemudian dikontrol hasilnya, untuk memastikan setiap tindakan mendekatkan kita pada tujuan. Begitu juga dengan rencana karir. Dari sekarang kita sudah bisa memproyeksikan karir kita beberapa tahun ke depan. Tetapkan target karir yang diinginkan, lalu identifikasi syarat skill/kompetensi dari setiap jenjang karir yang akan dilalui. Dari pengetahuan tentang syarat skill/kompetensi itu, kita bisa tahu apa saja yang harus kita kuasai. Dari situlah kemudian kita membuat development plan (rencana belajar). 

Contoh yang diberikan kang Hasan misalnya berbasis pada portofolio. Buat rancangan portofolio kita misalnya untuk 5 tahun ke depan. Dari situ menjadi jelas apa yang harus kita pelajari, skill apa yang harus kita latihkan. Lalu kita harus mengidentifikasi, di mana kita bisa belajar, apakah skill dan ilmunya kita didapatkan melalui pengalaman melakukan pekerjaan, atau melalui training dari kantor/perusahaan, atau mungkin bisa juga kita cari sendiri melalui kursus atau belajar mandiri. Saya berikan contoh misalnya untuk jenjang karir sebagai ASN, karena beberapa bulan lalu saya pernah mengikuti seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama (Eselon II). Mungkin belum banyak yang tahu bahwa  untuk menduduki jabatan Eselon II itu harus menguasai kompetensi tertentu yang sudah diatur di dalam Permen PANRB Nomor 38 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan Aparatur Sipil Negara. Di Permen tersebut mengatur bahwa seorang pejabat Eselon II harus memiliki kompetensi manajerial yang lebih tinggi dibandingkan pejabat Eselon III dalam aspek Integritas, Kerjasama, Komunikasi, Orientasi pada Hasil, Pelayanan Publik, Pengembangan Diri dan Orang Lain, Mengelola Perubahan dan Pengambilan Keputusan, ditambah dengan kompetensi Kultural yaitu sebagai Perekat Bangsa. Jadi bagi ASN yang bercita-cita karirnya sampaii Eselon II bahkan Eselon I dari sekarang sudah bisa belajar untuk menguasai kompetensi yang disyarakatkan didalam Permen PANRB tersebut. Dari pengalaman mengikuti dua kali seleksi tersebut, konsultan SDM yang digunakan Panitia Seleksi secara cermat melakukan asesmen untuk mengetahui apakah kita telah memenuhi kualifikasi dan kompetensi jabatan yang kita inginkan. Asesmen tidak hanya dilakukan secara tertulis, namun juga melalui proses wawancara, diskusi dan studi kasus. 

Training ditutup kang Hasan dengan mengingatkan agar selain mengembangkan diri kita sendiri, kita juga tidak lupa untuk mengembangkan bawahan kita. Dengan menerapkan prinsip manajemen, kita memberikan kesempatan pada bawahan untuk berkreasi dan belajar. Selain mendorong bawahan kita untuk belajar, kita juga harus membagi ilmu dan skill kita kepada bawahan. Apabila skill bawahan kita bertambah, kita bisa mendelegasikan beberapa pekerjaan kepada bawahan, sehingga otomatis waktu kita juga bisa lebih luang. Waktu luang tersebut bisa kita gunakan untuk belajar dan mengembangkan skill. Ciptakan waktu belajar sebanyak mungkin dengan mendelegasikan pekerjaan. Intinya jangan pernah berhenti untuk belajar. Poin ini yang menjadi AHA moment bagi saya karena saya sadar selama ini memang saya masih sering mengambil porsi pekerjaan bawahan yang sebenarnya bisa didelegasikan, misalnya drafting surat. Padahal pimpinan harusnya lebih fokus kepada membangun konsep, visi dan hal-hal yang lebih strategis lainnya. 

Terima kasih kang Hasan atas sharing ilmunya, tidak sabar untuk ikut training sesi berikutnya.

0 Komentar