Bekerja Sambil Berkembang


Tadi malam saya mengikuti training online melalui Zoom bertajuk "To Work To Develop" — Bekerja dan Berkembang — yang dipandu oleh Kang Hasan, atau lengkapnya Hasanudin Abdurakhman.

Perkenalan saya dengan Kang Hasan bermula beberapa tahun lalu, saat saya menemani Pak Menteri menerima tamu dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) — dan Kang Hasan kebetulan adalah manajernya. Sejak pertemuan singkat itu, saya mulai mengikuti tulisan-tulisannya di Facebook, lalu membeli beberapa bukunya, dan kini rutin mengikuti training online yang beliau pandu. Ini sudah yang kedua kalinya — sebelumnya saya mengikuti sesi tentang 7 Habits of Highly Effective People. Topik-topik yang Kang Hasan tawarkan cukup beragam: pengembangan diri, parenting, hingga — percaya atau tidak — seksologi. Kalau penasaran, cek saja langsung di Facebook-nya.


Jangan Kerja seperti Jongos

Kang Hasan membuka sesi dengan sebuah peringatan yang langsung mengena: jangan kerja seperti jongos.

Ciri-cirinya? Bekerja semata mengikuti kemauan atasan — prinsip ABS, Asal Bos Senang. Tidak ada standar kerja, tidak ada rencana, tidak ada aturan yang jelas. Pendapat bawahan tidak didengar, idenya tidak dihargai, dan kesempatan untuk berkembang hampir tidak pernah ada. Dalam ekosistem seperti ini, karyawan tidak lebih dari sekadar pesuruh — dan organisasinya pun stagnan, tidak ke mana-mana.

Kang Hasan pernah menulis di Facebook tentang pengalamannya menolak perintah presiden direkturnya — bukan sekadar menolak, tapi menawarkan solusi yang lebih efisien. Pesannya jelas: menjadi karyawan tidak berarti menjadi jongos. Kita bekerja dengan prinsip manajemen, bukan dengan prinsip kepatuhan buta.


Organisasi Bukan Kerumunan, tapi Sistem

Organisasi adalah kumpulan orang dengan tujuan yang jelas — dan manajemen adalah sistem untuk mencapai tujuan itu. Tujuan organisasi harus diterjemahkan menjadi rencana, dikomunikasikan kepada semua elemen, lalu dibagi dengan porsi yang jelas.

Yang penting untuk dipahami: setiap orang yang menerima tugas bukan sekadar penerima perintah. Ia adalah pemegang tanggung jawab yang sepaket dengan wewenang untuk berkreasi. Kang Hasan menekankan bahwa tugas, tanggung jawab, dan wewenang harus setara — setiap penambahan tugas harus selalu diiringi dengan penambahan wewenang dan tanggung jawab yang sepadan.

Ini sangat relevan bagi saya secara pribadi. Saya bukan tipe atasan yang gemar memberi perintah. Prinsip saya sederhana: semua anggota tim seharusnya sudah tahu pembagian tugas masing-masing dan menjalankannya secara sadar — tanpa perlu menunggu diingatkan. Seperti tim sepak bola: kita tidak perlu menyuruh striker untuk menyerang, atau meminta kiper untuk menjaga gawangnya.

Saya juga sangat terbuka terhadap masukan dari bawahan. Selama rasional dan berbasis kepentingan bersama, saya selalu siap mendiskusikannya. Saya lebih suka suasana kerja yang terasa seperti teamwork — bukan hierarki yang kaku.


Bekerja adalah Proses Mengembangkan Diri

Inilah inti dari seluruh sesi malam ini.

Kang Hasan menegaskan: bekerja pada dasarnya adalah proses belajar. Skill dasar yang kita miliki, ditambah dengan pengalaman, ide, informasi, dan know-how yang kita kumpulkan selama bekerja, seharusnya terus membentuk skill baru. Seseorang dianggap gagal bukan karena tidak naik jabatan — tapi karena dari pekerjaannya ia tidak membuat kemajuan apa pun. Tidak belajar. Jalan di tempat.

Mindset yang harus dibangun adalah ini: tugas tambahan adalah kesempatan belajar lebih banyak, dan tugas baru adalah kesempatan mempelajari hal yang belum pernah kita sentuh.

Dari pengalaman saya sendiri — saat diberi tugas tambahan sebagai Manajer Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik di Tim Reformasi Birokrasi Kemenristekdikti, saya mendapat banyak pengetahuan baru yang tidak akan saya dapatkan kalau hanya mengerjakan tugas pokok saya. Begitu juga saat menjadi penanggung jawab tim SPADA di LLDIKTI IX — karena tidak berkaitan langsung dengan tugas struktural saya, saya terpaksa belajar lebih dalam tentang pembelajaran daring, dan akhirnya bisa memahaminya cukup baik bahkan untuk dibagikan kepada orang lain.

Saya selalu teringat ucapan Om Peter F. Gontha dalam talkshow Deddy Corbuzier: "Kalau kita mendapatkan tugas, lakukanlah lebih dari apa yang diharapkan. Dari situ kita mendapat tugas tambahan, dan dari tugas tambahan itulah kita sebetulnya maju dalam hidup."


Mulai dari Akhir: Rencanakan Kariermu Sekarang

Kang Hasan juga mengaitkan materi ini dengan kebiasaan efektif kedua dari 7 Habits: mulai dari akhir. Tetapkan tujuan terlebih dahulu, lalu berpikir dan bertindaklah berbasis pada tujuan tersebut.

Dalam konteks karier, ini berarti: dari sekarang kita sudah bisa memproyeksikan di mana kita ingin berada lima atau sepuluh tahun ke depan. Tetapkan targetnya, identifikasi kompetensi yang dibutuhkan di setiap jenjang, lalu susun development plan — rencana belajar yang konkret.

Kang Hasan mencontohkan pendekatan berbasis portofolio: rancang portofolio lima tahun ke depan, lalu mundur — apa yang harus dipelajari? Di mana bisa didapatkan? Lewat pengalaman kerja, pelatihan kantor, kursus, atau belajar mandiri?

Saya bisa memberikan contoh nyata untuk ASN. Untuk menduduki jabatan Eselon II misalnya, ada standar kompetensi yang sudah diatur secara rinci dalam Permen PANRB Nomor 38 Tahun 2017 — mencakup kompetensi manajerial seperti integritas, komunikasi, orientasi pada hasil, pengambilan keputusan, hingga kompetensi kultural sebagai perekat bangsa. Artinya, bagi ASN yang bercita-cita hingga Eselon II bahkan Eselon I, roadmap-nya sudah tersedia — tinggal kita yang mau belajar dan mempersiapkan diri dari sekarang.


Kembangkan Dirimu, lalu Kembangkan Orang Lain

Kang Hasan menutup sesi dengan pesan yang tidak kalah pentingnya: selain mengembangkan diri sendiri, jangan lupa mengembangkan orang-orang di sekitar kita.

Caranya? Berikan ruang kepada bawahan untuk berkreasi dan belajar. Bagikan ilmu dan skill yang kita miliki. Ketika kemampuan bawahan bertambah, kita bisa mendelegasikan lebih banyak pekerjaan — dan waktu yang terbebas itu bisa kita gunakan untuk terus belajar hal-hal yang lebih strategis.

Delegate to develop — delegasikan untuk berkembang, bukan untuk lepas tangan.

Bagian ini menjadi AHA moment bagi saya. Saya menyadari bahwa selama ini saya masih sering mengambil porsi pekerjaan yang sebenarnya bisa — dan seharusnya — didelegasikan kepada bawahan, seperti drafting surat. Padahal seorang pemimpin seharusnya lebih banyak mencurahkan energinya pada hal-hal yang lebih strategis: membangun konsep, memperkuat visi, dan menggerakkan organisasi ke arah yang benar.


Terima kasih, Kang Hasan, atas ilmu dan inspirasinya malam ini. Tidak sabar menunggu sesi berikutnya.


Posting Komentar

0 Komentar