Target Hidup Yang Tercapai

Tadi subuh, saya menemukan sebuah catatan lama.

Kertas itu sudah menguning, tulisannya masih dengan gaya anak SMA — tapi isinya cukup membuat saya terdiam sejenak: sebuah daftar rencana hidup, lengkap dengan target tahunnya. Dibuat sekitar 25 tahun lalu, oleh versi saya yang lebih muda dan rupanya cukup ambisius.

Saya baca satu per satu. Ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang sedikit tercenung.


Yang Tercapai — Meski Tidak Persis seperti Rencana

Target pertama: lulus UMPTN tahun 2001. Tercapai — tapi dengan sedikit plot twist. Saya masuk melalui pilihan kedua, Hubungan Internasional UNHAS, setelah gagal di pilihan pertama: Kedokteran. Kalau dipikir-pikir, mungkin memang ada korelasinya dengan rencana lain di catatan itu — menguasai MIPA di tahun 2000 — yang juga gagal total. Hahaha, konsisten rupanya.


Yang Tercapai Lebih Awal dari Target

Ini bagian yang paling saya syukuri.

Lulus S1 ditarget selesai tepat waktu, tapi alhamdulillah bisa rampung dalam 3,5 tahun dan wisuda Maret 2005. Di tahun yang sama saya sudah mulai bekerja. Dua tahun kemudian menikah. Dan setahun setelah menikah, sebelum usia saya genap 25 tahun, anak pertama lahir.

Beberapa hal dalam hidup memang datang lebih cepat dari yang kita rencanakan — dan untuk yang satu ini, saya tidak punya keluhan sama sekali.


Yang Tertunda

Kuliah S2 masuk dalam daftar ini.

Rencananya langsung setelah S1 selesai. Kenyataannya, baru terlaksana di tahun 2011 — enam tahun meleset dari rencana. Sebenarnya di tahun 2009 saya sudah diterima di Program Magister Perencanaan UI, tapi karena tidak mendapat beasiswa, saya urungkan. Dua tahun kemudian, akhirnya mulai kuliah di Magister Administrasi UI. Terlambat dari rencana, tapi toh sampai juga.


Yang Belum Terlaksana

Ini yang masih menggantung — dan jujur, masih sering saya pikirkan.

Sejak SMA, saya punya mimpi untuk tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama. Bukan sekadar kunjungan singkat, tapi benar-benar tinggal — hitungan tahun, merasakan ritme kehidupan sehari-hari di negeri orang. Dulu sempat membayangkan kuliah di Mesir. Pernah juga, di masa menunggu pengumuman UMPTN, ikut kursus bahasa Jepang yang katanya setelah selesai langsung ada penempatan kerja ke Jepang.

Keduanya tidak kesampaian.

Alhamdulillah, kalau sekadar short visit, sudah diberi rezeki mengunjungi 15 negara. Tapi itu bukan yang saya maksud. Yang saya inginkan adalah tinggal — yang lama, yang terasa seperti benar-benar hidup di sana.

Mimpi itu masih ada, masih tersimpan rapi di suatu sudut hati.

Mungkin nanti, kalau sudah pensiun dan masih diberi umur panjang, saya bisa mengajak salah satu anak menemani saya menetap sebentar di negeri orang. Siapa tahu. Aamiin... hehehe.





Posting Komentar

0 Komentar