Sebagian besar dari kita telah beberapa kali didatangi tamu mulia ini di tahun-tahun yang lalu. Namun perlu kita sadari, nikmat bertemu dengan Ramadhan bukanlah sesuatu yang bisa dijamin akan kita dapatkan setiap tahun. Betapa banyak saudara dan kerabat kita yang tahun ini telah dipanggil Allah sehingga tidak sempat lagi berjumpa dengan Ramadhan. Bahkan ada yang baru menjalani setengah Ramadhan lalu wafat. Ada pula yang sudah menyusun rencana indah — "aku akan melakukan ini dan itu di bulan Ramadhan" — namun ternyata ajal menjemputnya sebelum Ramadhan tiba.
Karena itulah, sudah semestinya kita merenung: bagaimana jika Ramadhan yang akan datang ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita? Dengan kesadaran seperti itu, kita akan menyambutnya dengan sepenuh jiwa. Berikut beberapa perenungan agar kita dapat menyambut tamu agung ini secara optimal dan maksimal.
Ramadhan adalah Bulan Penuh Keberkahan
Perkara pertama yang harus kita pahami adalah bahwa Ramadhan merupakan bulan penuh keberkahan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Atākum Ramadhānu syahrun mubārak" — telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Makna berkah adalah katsratul khair — banyaknya kebaikan — sekaligus tetap dan langgengnya kebaikan itu. Tidaklah sesuatu disebut berkah kecuali kebaikannya senantiasa bertambah-tambah.
Betapa banyak pintu kebaikan yang dibuka pada bulan ini. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga — isyarat bahwa masuk surga menjadi mudah, sampai-sampai pintunya telah dibuka menyambut orang-orang yang ingin memasukinya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dibukalah pintu-pintu langit, sebagai isyarat bahwa doa mudah dikabulkan dan amal shalih mudah diterima. Allah berfirman bahwa kepada-Nya-lah naik perkataan yang baik, dan amal shalih diangkat menembus langit hingga diterima oleh Allah (QS. Fathir: 10). Dalam riwayat lain lagi disebutkan dibukanya pintu-pintu rahmat, sehingga rahmat Allah bercucuran begitu deras kepada hamba-hamba-Nya.
Rasulullah ﷺ juga mengabarkan bahwa Allah membebaskan sejumlah hamba-Nya dari neraka, dan itu terjadi setiap malam di bulan Ramadhan. Ditambah lagi, setan-setan dibelenggu. Bahkan ada penyeru yang berseru: "Wahai pencari kebaikan, bersegeralah! Dan wahai pencari keburukan, berhentilah!" Semua kondisi ini menunjukkan betapa Allah "menyetel" bulan Ramadhan sedemikian rupa agar kita mudah kembali kepada-Nya dan bersemangat dalam beribadah.
Begitu Banyak Jalan Menuju Ampunan
Salah satu keistimewaan terbesar Ramadhan adalah begitu banyaknya jalan menuju ampunan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Sedemikian menjanjikannya bulan ini, hingga siapa yang berjumpa dengan Ramadhan lalu ternyata ia tidak diampuni, sungguh ia orang yang sangat merugi. Karena itulah Malaikat Jibril pernah berdoa dan Rasulullah ﷺ mengaminkannya: "Sungguh merugi (celaka) seseorang yang berjumpa dengan Ramadhan, namun Ramadhan berlalu dan ia belum diampuni."
Mengapa disebut sangat merugi? Karena kesempatan untuk diampuni di bulan ini demikian banyak dan beragam. Jika seseorang belum berhasil diampuni melalui puasanya, masih ada shalat malam dan tarawih — siapa yang menegakkannya dengan penuh keimanan dan pengharapan, akan diampuni dosa-dosanya. Jika shalat malamnya pun belum menjadikannya diampuni, masih ada Lailatul Qadar — siapa yang menghidupkannya dengan iman dan pengharapan, akan diampuni. Jika di malam pertama ia masih malas, masih ada malam kedua, ketiga, hingga malam ke-29 atau ke-30, sebab setiap malam Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka. Dan jika semua itu belum juga, ia masih bisa bersedekah dan memberi makan orang yang berbuka — sebab siapa yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu. Sungguh, jalannya begitu banyak.
Amal yang Dilipatgandakan secara Kuantitas dan Kualitas
Keistimewaan lain yang luar biasa adalah bahwa setiap ibadah di bulan Ramadhan dilipatgandakan oleh Allah, baik secara kuantitas maupun kualitas. Beribadah di bulan Ramadhan tidak sama dengan beribadah di bulan-bulan lainnya.
Buktinya, Rasulullah ﷺ bersabda: "Umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji bersamaku." Padahal umrah hanya dikerjakan dalam hitungan jam, sementara haji berlangsung berhari-hari. Namun ketika umrah dilakukan di bulan yang penuh berkah ini, pahalanya menyamai haji.
Contoh lain adalah Lailatul Qadar. Allah berfirman bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3) — seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Bayangkan, jika seseorang diberi taufik untuk beribadah pada satu malam saja di antara malam-malam ganjil itu, maka ibadahnya semalam itu bernilai lebih dari 83 tahun. Sebagian salaf bahkan mengatakan bahwa satu tasbih di bulan Ramadhan seperti seribu tasbih di luar Ramadhan. Inilah saat Allah "mengobral" ampunan, mengobral pahala, dan memudahkan jalan menuju surga.
Betapa besar nikmat ini terlihat dari sebuah kisah masyhur tentang dua orang yang sama-sama masuk Islam dan berhijrah ke Madinah. Yang satu lebih bersemangat beribadah, dan ia wafat lebih dahulu sebagai syahid. Yang kedua hidup setahun lebih lama, baru kemudian wafat. Ketika seorang sahabat bermimpi melihat keduanya di surga, ternyata orang kedua — yang kurang semangat ibadahnya — justru menempati kedudukan yang lebih tinggi. Ketika hal ini disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bertanya: "Bukankah ia hidup setahun lebih lama? Bukankah ia sempat berjumpa dengan Ramadhan lalu berpuasa, dan ia mengerjakan sekian banyak shalat?" Maka jarak antara keduanya, kata beliau, lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi. Subhanallah — hanya karena berkesempatan menjumpai satu Ramadhan lebih banyak.
Inilah karunia Allah agar umat ini, yang usianya relatif pendek — Rasulullah ﷺ menyebut umur umatnya berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit yang melampauinya — tetap bisa mengungguli umat-umat terdahulu yang berusia jauh lebih panjang. Bayangkan jika sepanjang sepuluh tahun kita senantiasa mendapatkan Lailatul Qadar; berapa besar "bonus" umur ibadah yang kita peroleh.
Menyadari Betapa Banyak Kekurangan dan Dosa Kita
Agar kita benar-benar menghadirkan besarnya nikmat Ramadhan, kita perlu merenungkan betapa banyak kekurangan kita selama setahun terakhir. Betapa sering kita kalah oleh godaan setan dan tertawan oleh hawa nafsu.
Coba renungkan: betapa banyak pandangan haram yang telah kita lepaskan — aurat yang terbuka di media sosial, atau berjam-jam menonton tayangan yang menampilkan lawan jenis yang memikat hati. Betapa banyak lisan kita menggunjing orang lain sepanjang tahun, sampai kita sendiri lupa berapa banyak orang yang telah kita bicarakan keburukannya. Betapa sering kita merendahkan orang lain — melalui perkataan, tulisan, maupun isyarat. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah seseorang dikatakan buruk apabila ia merendahkan saudaranya sesama muslim."
Belum lagi penyakit-penyakit hati. Betapa sering kita hasad (dengki) melihat orang lain mendapat nikmat — membeli mobil baru, membangun rumah, atau bahkan sekadar melihat majelis pengajian orang lain lebih ramai. Betapa sering kita berburuk sangka tanpa dalil, dan betapa sering kesombongan menyelinap dalam hati padahal Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski hanya sebesar dzarrah.
Kita pun kerap melalaikan hak-hak orang terdekat. Sudahkah kita menunaikan hak istri — bukan sekadar memberi nafkah, tetapi juga mengajak berbincang, memberi perhatian, dan mendidiknya? Allah memerintahkan: "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6). Sudahkah kita mendidik anak-anak, berbakti kepada orang tua, dan menunaikan hak tetangga? Terlalu banyak jika kita menghitung dosa dan kelalaian kita. Justru karena itulah kita semua — bukan hanya para pelaku maksiat besar — membutuhkan rahmat dan ampunan di bulan Ramadhan.
Setan adalah Musuh yang Nyata
Salah satu hikmah besar dibelenggunya setan di bulan Ramadhan baru bisa kita hayati jika kita menyadari betapa gigihnya permusuhan setan terhadap kita. Allah berfirman bahwa setan adalah musuh yang nyata (innahu lakum 'aduwwun mubīn). Pertanyaannya, apakah selama ini kita benar-benar memperlakukannya sebagai musuh yang nyata, ataukah kita hanya membaca ayat tanpa merenunginya?
Setan telah bersumpah di hadapan Allah untuk menghadang manusia dari segala arah — dari depan, belakang, kanan, dan kiri (QS. Al-A'raf: 16-17). Dalam hadits, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa setan menghadang anak Adam di setiap jalan kebaikan yang hendak ia tempuh: ketika hendak ke masjid, ketika hendak bersedekah, ketika hendak membaca Al-Qur'an, dan ketika hendak shalat Dhuha. Bahkan setan memiliki "spesialisasi" — ada setan bernama Khinzab yang bertugas khusus mengganggu kekhusyukan orang yang sedang shalat, membuatnya lupa dan memikirkan dunia hingga tak sadar apa yang dibaca imam. Ada pula setan yang bertugas menimbulkan keraguan seolah-olah seseorang telah batal wudhunya.
Setan juga bersumpah akan menghiasi kemaksiatan agar tampak indah (QS. Al-Hijr: 39). Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda bahwa wanita (bagi lelaki asing) datang dan pergi dalam rupa yang dihiasi setan — maksudnya, setan membisikkan dan menghiasi pandangan sehingga yang haram tampak lebih menarik. Kelemahan ini sudah dikenali setan sejak awal penciptaan manusia. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa ketika Allah membentuk Adam dari tanah dan membiarkannya sebelum meniupkan roh, iblis mengelilinginya dan mendapati bahwa Adam berongga. Iblis pun berkata bahwa ini adalah makhluk yang tidak kokoh — mudah dibisiki dan lemah menghadapi syahwat.
Lebih dari itu, iblis mengerahkan pasukannya untuk menyerang manusia. Allah mengisahkan tantangan-Nya kepada iblis: silakan kerahkan pasukan berkuda dan pasukan jalan kakimu, dan sertailah mereka dalam urusan harta dan anak-anak (QS. Al-Isra: 64). Saking seriusnya setan bekerja, ia bahkan tidak tidur siang — karena itu Rasulullah ﷺ menganjurkan kita tidur siang (qailulah), sebab setan tidak melakukannya. Dan setan pun memiliki semacam "kontrol mutu": iblis meletakkan singgasananya di atas lautan lalu mengirim pasukannya, dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi iblis adalah setan yang paling besar menimbulkan fitnah. Ketika seorang setan melapor telah berhasil memecah-belah pasangan suami-istri hingga bercerai, iblis memujinya sebagai yang terbaik — sebab di balik satu perceraian terbentang banyak musibah lain.
Godaan setan bahkan tidak berhenti sampai ajal menjelang. Menjelang wafat, Imam Ahmad rahimahullah sempat berkata sambil mengibaskan tangannya, "Belum... belum..." Ketika ditanya, beliau menjelaskan bahwa iblis datang membisikkan, "Kau telah lolos dariku, wahai Ahmad!" — iblis ingin agar beliau merasa bangga dan ujub. Maka Imam Ahmad menjawab, "Belum, selama aku belum benar-benar wafat." Inilah sebabnya di antara doa Nabi ﷺ adalah memohon perlindungan agar tidak digoda setan saat menjelang kematian. Maka betapa besar nikmat dibelenggunya setan di bulan Ramadhan, yang menjadikan kita lebih leluasa beribadah dan lebih mudah meraih ampunan.
Menghayati Dahsyatnya Neraka
Kita sering mendengar imam membaca doa: "Rabbanā ātinā fid dunyā hasanah wa fil ākhirati hasanah wa qinā 'adzāban nār" — Ya Rabb kami, jauhkanlah kami dari azab neraka. Namun sering kali kita kurang menghayati betapa dahsyatnya neraka yang kita minta perlindungan darinya.
Perlu diingat bahwa neraka bukan hanya diperuntukkan bagi orang-orang kafir. Meskipun Allah menyiapkannya bagi orang kafir, banyak dalil menunjukkan bahwa kaum muslimin yang berbuat dosa besar — memakan riba, meninggalkan shalat, berzina, atau memakan harta anak yatim secara zalim — juga terancam neraka jika Allah tidak mengampuni mereka.
Betapa mengerikannya neraka itu. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa api dunia yang biasa kita gunakan hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam. Mendengar itu, para sahabat berkata bahwa api dunia saja sudah cukup untuk membakar mereka. Ada kisah seorang pemuda yang tergoda hendak berbuat zina, lalu ia menyalakan api dan membakar jarinya satu per satu; ternyata ia tak sanggup menahan panas api dunia yang begitu kecil, hingga akhirnya ia mengurungkan niat buruknya. Jika api dunia saja tak tertahankan, bagaimana dengan api yang tujuh puluh kali lipat lebih dahsyat?
Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah seseorang yang memakai dua sandal dari api — dan hanya karena panas sandal itu, otaknya sampai mendidih. Allah menyebutkan bahwa api neraka langsung menjangkau ke jantung (nārullāhil mūqadatullatī taththali'u 'alal af'idah) — berbeda dengan api dunia yang membakar dari luar terlebih dahulu. Neraka pun memiliki nama-nama yang menggambarkan kengeriannya: talazhzha (yang menyala-nyala), sa'īr (yang dinyalakan sejak lama), hāmiyah (yang dipanaskan), dan saqar — yang apabila membakar, tidak menyisakan daging maupun tulang.
Karena itulah para 'Ibādurrahman — hamba-hamba pilihan Ar-Rahman yang berjalan di muka bumi dengan penuh ketawadhuan — pun senantiasa berdoa memohon perlindungan dari neraka: "Ya Rabb kami, jauhkanlah azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya membinasakan. Sungguh, Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap." (QS. Al-Furqan: 65-66). Jika mereka yang begitu tinggi derajatnya saja takut, tentu kita yang penuh dosa lebih layak untuk takut dan bersungguh-sungguh berdoa memohon keselamatan darinya.
Memperbanyak Interaksi dengan Allah
Selama sebelas bulan, kita begitu sibuk berinteraksi dengan urusan dunia dan sesama manusia. Ramadhan adalah kesempatan untuk lebih intensif berinteraksi dengan Allah. Ini bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali — para sahabat pun tetap bekerja, dan Rasulullah ﷺ baru benar-benar memfokuskan diri secara penuh pada sepuluh hari terakhir melalui iktikaf — melainkan berusaha lebih dekat kepada Allah sejak awal Ramadhan.
Maka mulailah membaca Al-Qur'an dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, dengan bacaan yang berkualitas dan disertai tadabbur (perenungan makna). Jika memungkinkan, lakukanlah iktikaf, dan seriuslah dalam berzikir serta menegakkan shalat malam. Jangan pernah menjauh dari Allah, apa pun kondisi dan dosa yang pernah kita lakukan, sebab Allah sangat mencintai hamba yang senantiasa kembali kepada-Nya (munīb) — yaitu hamba yang, apa pun yang melintas dan menimpanya, pertama kali yang ia ingat dan ia jadikan sandaran adalah Allah.
Kedekatan dengan Allah inilah yang akan tampak dalam kondisi-kondisi tak terduga. Ada kisah menarik tentang seorang lelaki yang tiga hari berturut-turut dikabarkan Rasulullah ﷺ sebagai penghuni surga. Abdullah bin 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhuma penasaran dan menginap di rumahnya untuk mengamati amalannya. Ternyata lelaki itu tidak mengerjakan amalan yang istimewa — tidak berpuasa sunnah dan tidak banyak shalat malam. Rahasianya hanya satu: ia tidak pernah menyimpan hasad atau perasaan dongkol kepada siapa pun atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Dan setiap kali terbangun dari tidur, yang pertama ia lakukan adalah mengingat Allah. Abdullah bin 'Amr pun mengakui bahwa amalan hati seperti itulah yang berat untuk dicapai.
Ada pula pelajaran dari seorang dokter anestesi yang menangani pasien-pasien koma. Ia menuturkan bahwa pasien koma yang masih bisa berbicara akan mengucapkan sesuatu yang paling ia sukai dan geluti semasa sadarnya — ada yang membaca Al-Qur'an, ada yang berbicara tentang dakwah dan shalat, namun ada pula yang justru mengigaukan kemaksiatan. Apa yang selama ini kita dekati dan geluti, itulah yang akan terungkap ketika kesadaran kita melemah. Maka bagaimana mungkin kita akan selalu mengingat Allah di saat-saat genting jika kita tidak membiasakan diri dekat dengan-Nya? Allah berfirman dalam hadits Qudsi: "Siapa yang mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta." Siapa yang berusaha mendekat, Allah akan menyambutnya dengan kedekatan yang lebih besar.
Memberi Asupan bagi Ruh
Ramadhan adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kualitas hati dan ruh kita, sebab ruh pun membutuhkan asupan sebagaimana fisik membutuhkannya. Jika tubuh butuh makan dan minum, maka ruh butuh asupan berupa bacaan Al-Qur'an, shalat malam, mendengarkan kajian, dan sedekah yang melembutkan hati.
Menariknya, di bulan Ramadhan Allah justru mengajari kita untuk sementara meninggalkan asupan fisik — makan, minum, dan syahwat — di siang hari. Ini seolah mengingatkan bahwa hidup ini bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan jasmani, dan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada fisik, melainkan pada ruh. Betapa sering selama ini kita hanya sibuk memenuhi kebutuhan jasmani sambil melupakan bahwa ruh kita kelaparan.
Perhatikanlah kapan kita merasakan ketenangan. Setelah membaca Al-Qur'an, hati terasa nyaman — itu tanda ruh sedang mendapat asupan. Setelah shalat malam, jiwa terasa tenteram. Setelah bersedekah dengan ikhlas, hati menjadi lembut. Maka jadikanlah Ramadhan sebagai momentum memperbaiki hati, memberi asupan kepada ruh, agar kita lebih berbahagia — dan berusaha menjaga kebahagiaan itu bahkan setelah Ramadhan berlalu.
Menghargai Setiap Detik Umur
Di antara hal yang membantu kita optimal di bulan Ramadhan adalah menghargai umur, dengan tidak membiarkan satu pun waktu berlalu sia-sia. Sebab setiap detik yang kita lewati di bulan ini memiliki nilai yang berlipat ganda, dan setiap detik itu memiliki pengaruh terhadap nasib kita di alam berikutnya.
Karena itu, jadilah orang yang "pelit" terhadap waktu. Jangan membiarkan obrolan berlarut-larut tanpa tujuan hingga waktu terbuang dan hati menjadi keras. Ingatlah bahwa umur akan ditanya kelak. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara — di antaranya tentang umurnya, ke mana ia habiskan. Maka sebelum menghabiskan waktu untuk sesuatu, tanyakan pada diri: apakah ini bermanfaat bagi akhiratku? Jika Allah bertanya kelak, "Mengapa engkau menghabiskan waktumu untuk ini di bulan Ramadhan?", sanggupkah aku menjawabnya?
Kuncinya adalah menghadirkan niat pada setiap aktivitas, sehingga tidak ada satu napas pun yang berlalu tanpa pahala. Berbincang dengan istri diniatkan untuk menyenangkan hatinya karena Allah. Tersenyum kepada saudara diniatkan sebagai sedekah, sebab senyum kepada saudara adalah sedekah. Menelepon keluarga diniatkan sebagai silaturahmi. Berkunjung ke tetangga diniatkan sebagai berbuat baik. Berolahraga ringan diniatkan agar kuat menegakkan tarawih dan shalat malam. Bahkan tidur pun diniatkan agar kuat beribadah — sebagaimana Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu yang berkata bahwa ia mengharap pahala pada tidurnya sebagaimana ia mengharap pahala pada shalat malamnya.
Sertai semua itu dengan evaluasi diri setiap hari: "Mengapa tadi aku terlalu lama melihat berita? Mengapa tadi aku hanya melamun tanpa berzikir? Mengapa aku membaca Al-Qur'an sambil mengantuk? Mengapa aku mempublikasikan amal shalihku — apakah ini masih ikhlas?" Isilah waktu-waktu kosong dengan zikir: subhānallāh, alhamdulillāh, lā ilāha illallāh, Allāhu akbar, dan istighfar. Buatlah kesibukan yang bermanfaat — mengadakan buka puasa bersama keluarga, menyusun jadwal belajar tahsin selepas Subuh, atau menggelar pengajian. Koordinasikan semuanya dengan niat karena Allah.
Dan waspadalah terhadap dua waktu yang paling istimewa namun paling sering disia-siakan: waktu berbuka dan waktu sahur. Syekh Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa doa paling mudah dikabulkan adalah menjelang berbuka — sebab saat itu berkumpul puncak lapar, puncak dahaga, dan puncak pengharapan di penghujung ibadah. Adapun waktu sahur adalah waktu turunnya Allah ke langit dunia, ketika Dia berfirman: "Adakah yang berdoa, akan Aku kabulkan? Adakah yang memohon ampun, akan Aku ampuni?" Sungguh merugi jika kedua waktu premium ini justru habis hanya untuk mengurusi makanan atau menonton tayangan yang melalaikan.
Kesimpulan
Andai kita benar-benar menyadari bahwa Ramadhan yang akan datang mungkin adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita, tentu kita tidak akan menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Kita akan menghadirkan dalam hati betapa agungnya nikmat berjumpa dengan bulan yang penuh berkah ini — bulan yang pintunya menuju ampunan terbuka lebar dari berbagai arah, yang amal-amalnya dilipatgandakan, dan yang setan-setannya dibelenggu.
Marilah kita menyambut tamu agung ini dengan penuh kesadaran: menyadari betapa banyak dosa dan kekurangan kita yang perlu diampuni, mewaspadai musuh nyata kita yaitu setan, menghayati dahsyatnya neraka yang harus kita hindari, memperbanyak interaksi dan kedekatan dengan Allah, memberi asupan yang cukup bagi ruh kita, dan menghargai setiap detik umur agar tidak ada satu pun yang berlalu sia-sia.
Segala kondisi ini Allah persiapkan bukan untuk kepentingan-Nya, melainkan untuk kebaikan kita sendiri. Allah berfirman bahwa siapa yang berbuat baik, kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Maka jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan, memampukan kita mengisinya dengan ibadah yang diterima, dan menyelamatkan kita dari api neraka.
"Allāhumma sallimnā li Ramadhān, wa sallim Ramadhāna lanā, wa tasallamhu minnā mutaqabbalā." "Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadhan, sampaikanlah Ramadhan kepada kami, dan terimalah amal kami di dalamnya."
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: "Andai Ini Ramadhan Terakhirku" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=LPJ59nmJikw
0 Komentar