Ramadhan adalah tamu agung yang selalu dinantikan oleh setiap Muslim. Ia datang membawa janji ampunan bagi yang berlumur dosa, harapan bagi para pencari surga, dan peluang bagi siapa saja yang ingin meraih kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-nya. Namun, pernahkah terdetik di hati kita, "Bagaimana jika ini adalah Ramadhan terakhirku?"
Kesadaran akan kematian yang bisa datang kapan saja seharusnya membuat kita lebih optimal dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Berikut adalah beberapa poin perenungan agar Ramadhan kali ini menjadi lebih bermakna dan berkualitas.
1. Memahami Hakikat Keberkahan Ramadhan
Ramadhan disebut sebagai Syahrun Mubarak (bulan yang penuh berkah). Berkah berarti kasratul khair, yakni banyaknya kebaikan yang terus bertambah. Di bulan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
Allah mengkondisikan bulan ini sedemikian rupa agar kita mudah melakukan ketaatan. Ada begitu banyak "jalur" ampunan yang ditawarkan:
- Puasa: Menghapus dosa yang telah lalu jika dilakukan dengan iman dan harap pahala.
- Shalat Tarawih: Menjadi penggugur dosa bagi mereka yang menghidupkan malam-malamnya.
- Lailatul Qadar: Malam yang lebih baik dari 1000 bulan, setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun.
2. Mengakui Kekurangan dan Dosa Diri
Sebelum memasuki Ramadhan, penting bagi kita untuk berkaca pada diri sendiri. Seberapa banyak pandangan haram, lisan yang menggibah, hingga penyakit hati seperti hasad dan sombong yang telah kita kumpulkan selama setahun terakhir? Ramadhan adalah kesempatan "obral" ampunan. Sungguh merugi seseorang yang bertemu Ramadhan, namun hingga bulan itu berlalu, ia belum juga diampuni oleh Allah.
3. Memanfaatkan Waktu-Waktu "Premium"
Banyak dari kita yang justru membuang waktu di saat-saat doa paling mustajab dikabulkan, yaitu:
- Saat Berbuka: Doa saat menjelang berbuka sangat mudah dikabulkan karena itu adalah puncak kepasrahan seorang hamba.
- Waktu Sahur: Di sepertiga malam terakhir, Allah turun ke langit dunia dan menawarkan ampunan serta pengabulan doa. Jangan sampai waktu ini habis hanya untuk urusan teknis makanan semata.
4. Menghargai Setiap Detik Umur
Umur adalah nikmat yang akan dipertanggungjawabkan. Di bulan Ramadhan, setiap tasbih dan amal shaleh dilipatgandakan nilainya. Oleh karena itu, kita harus "pelit" terhadap waktu. Hindari obrolan sia-sia atau tenggelam dalam berita dan media sosial yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Niatkan setiap aktivitas—bahkan tidur dan bercengkrama dengan keluarga—sebagai ibadah agar setiap nafas kita membuahkan pahala.
5. Memberi Nutrisi pada Ruhani
Selama 11 bulan kita sibuk memberi asupan pada fisik. Ramadhan adalah saatnya memberi asupan pada ruh. Melalui bacaan Al-Qur'an yang ditadaburi, dzikir yang khusyuk, dan sedekah yang tulus, kita sedang membangun kebahagiaan sejati di dalam hati. Ketenangan yang kita rasakan setelah beribadah adalah tanda bahwa ruh kita sedang mendapatkan asupannya.
Penutup
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk benar-benar kembali kepada Allah (Inabah). Kita tidak tahu apakah tahun depan nama kita masih ada dalam daftar mereka yang menjumpai Ramadhan. Maka, beribadahlah seolah-olah ini adalah kesempatan terakhir kita untuk bersimpuh di hadapan-Nya.
Semoga Allah menyampaikan kita ke bulan Ramadhan dan menerima seluruh amal ibadah kita. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Disarikan dari ceramah Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
Video lengkap dapat disaksikan di sini:
0 Komentar