Cemas & Kurang Berkah? Mengapa "Sibuk" Saja Tidak Cukup untuk Menjemput Bahagia



Pernahkah Anda merasa sudah bekerja sangat keras, 24 jam sehari terasa kurang, namun di akhir hari Anda merasa tidak menghasilkan apa-apa? Kita sering merasa burnout, lelah, tapi anehnya, kita seperti sedang mengayuh perahu yang bocor—tenaga habis, tapi posisi tidak berpindah.

Dalam bincang-bincang di podcast Suara Berkelas, Ustadz Abdurrahman Zahir membedah mengapa fenomena ini terjadi dan bagaimana cara kita mengatasinya.

1. Ketika Waktu Kehilangan "Barakah"-nya

Banyak dari kita mengeluh waktu terasa sangat singkat. Ustadz Abdurrahman menjelaskan bahwa ini adalah salah satu tanda akhir zaman, di mana waktu semakin berdekatan namun keberkahannya dicabut.

  • Penyebabnya? Sering kali karena dosa dan maksiat yang kita lakukan tanpa sadar.
  • Efeknya: Kita punya alat tercanggih (AI, teknologi, informasi cepat), tapi justru makin tidak produktif. Kita terjebak dalam doom-scrolling di media sosial yang menghabiskan berjam-jam waktu tanpa sisa manfaat yang bisa diingat.

2. Mengisi "Emptiness" (Ruang Kosong) di Hati

Ada sebuah ruang hampa di dalam hati manusia yang menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah tidak akan pernah bisa diisi oleh kenikmatan duniawi.

  • Bukan Materi: Uang, jabatan, atau liburan mewah (healing) hanya memanjakan fisik, bukan hati.
  • Hidayah sebagai Pengisi: Ruang kosong itu hanya bisa diisi dengan mengenal Sang Pencipta. Inilah mengapa ada orang yang fisiknya terbatas (lumpuh atau buta), namun ia menjadi manusia paling bahagia di bumi karena "pemimpin" tubuhnya—yaitu hatinya—telah damai.

3. Re-definisi Rezeki: Ibadah adalah "Cuan" Terbesar

Bagi Anda yang sering merasa cemas soal masa depan finansial, konsep rezeki ini mungkin akan mengubah cara pandang Anda:

"Dahulu aku shalat Dhuha agar rezekiku lancar. Setelah belajar rezeki, ternyata bisa shalat Dhuha itu sendiri adalah rezeki yang lebih besar daripada permintaanku."

Rezeki bukan sekadar angka di rekening. Kemampuan Anda untuk sujud, kesehatan orang tua, dan teman-teman yang mendukung kebaikan adalah rezeki yang tidak dijual di marketplace mana pun. Ingatlah, selama Anda masih punya jatah usia, jatah rezeki Anda di langit tidak akan pernah tertukar atau diputus oleh manusia.

4. Seni Menjaga Jarak yang Elegan (Hajrun Jamil)

Hidup di lingkungan yang penuh intimidasi atau drama keluarga? Islam mengajarkan konsep Hajrun Jamil—meninggalkan atau menjaga jarak dengan cara yang berkelas.

  • Preventif, Bukan Benci: Menjaga jarak diperlukan agar "pohon" diri kita bisa tumbuh maksimal tanpa gesekan yang melukai.
  • Fokus pada Respon: Kita tidak bisa mengatur angin (intimidasi orang), tapi kita bisa memperkokoh akar (iman). Allah tidak akan bertanya mengapa orang zalim kepada kita, tapi Allah akan bertanya bagaimana respon kita terhadap kezaliman tersebut.

5. Ramadan: Kesempatan Emas "Akselerasi Diri"

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar, melainkan sebuah sekolah (Madrasah). Allah telah mengkondisikan lingkungan—pintu surga dibuka, setan dibelenggu—agar kita mudah berbuat baik.

Jika dalam 30 hari di lingkungan yang sudah "disetting" mudah ini kita masih gagal memperbaiki diri, maka akan jauh lebih sulit di 11 bulan lainnya. Jadikan Ramadan sebagai tantangan 30 hari untuk membentuk habit baru yang lebih berkelas.

Penutup: Hati adalah Navigasi

Kebahagiaan tidak ditemukan dengan memanjakan fisik terus-menerus, melainkan dengan memperbaiki navigasi hati. Ketika hati sudah tenang bersama Allah, dunia yang bising pun tidak akan mampu mengusik kedamaian Anda.



Posting Komentar

0 Komentar