Banyak dari kita memasuki bulan Ramadhan dengan semangat tinggi, namun seiring berjalannya waktu, fokus dalam ibadah—terutama shalat—mulai memudar. Sering kali kita terjebak pada target kuantitas: berapa banyak rakaat yang dikerjakan atau berapa halaman Al-Qur'an yang dikhatamkan. Namun, ada satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar angka, yaitu khusyuk.
Berikut adalah intisari dari rahasia mencapai kekhusyukan sejati dalam shalat, terutama di bulan suci ini.
Apa Itu Khusyuk?
Khusyuk bukan sekadar ketenangan fisik, melainkan kondisi hati yang melunak, rendah diri, dan fokus sepenuhnya karena cinta dan takut kepada Allah. Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya (Al-Mu'minun: 2).
Shalat tanpa khusyuk akan terasa seperti beban yang berat, membosankan, dan melelahkan. Bahkan, Rasulullah SAW pernah menegur seseorang yang shalatnya terburu-buru dengan mengatakan, "Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat".
Tiga Langkah Menuju Khusyuk Sejati
Agar shalat kita tidak hanya menjadi gerakan "aerobik" atau rutinitas belaka, ada tiga langkah praktis yang bisa kita terapkan:
1. Ingatlah Akhirat (Kehidupan Setelah Mati)
Orang yang merasakan manisnya shalat adalah mereka yang selalu mengingat bahwa ada kehidupan kedua setelah ini. Setiap kali kita berdiri dalam shalat, ingatlah bahwa suatu hari nanti kita akan benar-benar berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban.
- Anggaplah shalat saat ini sebagai "latihan" untuk hari kiamat.
- Saat mendengar adzan, bayangkan itu sebagai panggilan final menuju padang Mahsyar yang tidak bisa kita tolak.
2. Pahami Makna Bacaan Shalat
Sungguh disayangkan jika seseorang telah shalat selama puluhan tahun namun tidak tahu arti dari Subhana Rabbiyal 'Adzim atau Alhamdulillah. Semakin kita memahami apa yang kita ucapkan, semakin besar dampak bacaan tersebut meresap ke dalam hati.
- Jangan biarkan lidah bergerak tanpa melibatkan pikiran. Jika kita menemui pejabat penting, kita pasti mencari penerjemah agar pesan kita sampai. Mengapa kita tidak melakukan hal yang sama saat berbicara dengan Sang Pencipta?.
3. Perlambat Gerakan (Tumakninah)
Salah satu kesalahan umum di bulan Ramadhan adalah mencari "Imam Turbo" yang bisa menyelesaikan Tarawih dalam waktu sangat singkat. Khusyuk mustahil dicapai jika kita terburu-buru.
- Rasulullah SAW mencontohkan shalat yang lambat dan tenang. Beliau berdiri, ruku, dan sujud dalam waktu yang lama hingga para sahabat mengira beliau tidak akan berpindah posisi.
- Hindari shalat yang menyerupai "ayam mematuk bumi"—cepat, tanpa dzikir, dan tanpa kesadaran.
Penutup
Kualitas shalat kita adalah hal pertama yang akan ditanyakan di hari kiamat. Allah tidak hanya bertanya "apakah kamu shalat?", tapi juga bagaimana kualitasnya, berapa banyak air mata yang menetes karena takut kepada-Nya, dan seberapa besar cinta yang hadir saat itu.
Ramadhan hanya datang selama 30 hari. Jangan biarkan waktu yang terbatas ini terbuang tanpa merasakan manisnya hubungan dengan Allah. Perlambat gerakanmu, pahami ucapanmu, dan ingatlah pertemuan terakhirmu dengan-Nya.
Disarikan dari penjelasan Hisham Abu Yusuf.

0 Komentar