Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan membahas topik yang sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap Muslim, yaitu bagaimana kita belajar untuk bisa berbahagia bersama Allah — yang dalam istilah syariat disebut dengan al-khalwat ma'allah, yakni berdua-duaan bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mengapa Kita Sulit Merasakan Kebahagiaan Hakiki?
Kita harus jujur mengakui bahwa kebanyakan waktu kita dihabiskan untuk berinteraksi dengan makhluk. Jika dibandingkan, waktu kita untuk berkhalwat dengan Allah sangatlah sedikit. Sebagian besar waktu kita justru habis untuk membicarakan manusia, mengomentari manusia, atau membaca komentar orang lain tentang orang lain.
Inilah sebab utama mengapa hati kita menjadi keras, sulit untuk khusyuk, dan sulit terenyuh ketika mendengar ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Salah seorang ulama Salaf, Abdullah bin Aun, pernah menyampaikan pernyataan yang sangat indah:
"Zikrunnasi daa'un, wa zikrullahi dawaa'un." "Menyebut-nyebut manusia adalah penyakit, dan mengingat Allah adalah obat."
Al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah, ketika menukil perkataan ini, berkata: "Demi Allah, sungguh benar pernyataan beliau. Dan yang menakjubkan dari kita adalah kebodohan kita sendiri — bagaimana kita justru meninggalkan obat yaitu zikir kepada Allah, lalu kita malah masuk ke dalam penyakit itu, yaitu sibuk membicarakan tentang manusia."
Zikir: Obat Hati yang Agung
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Ingatlah Aku, niscaya Aku akan ingat kalian." (QS. Al-Baqarah: 152)
Allah juga berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Syekh as-Sa'di rahimahullah, guru dari Syekh Utsaimin, pernah berkata: "Kalau seandainya zikir tidak memiliki faedah kecuali dua saja, maka sungguh zikir adalah ibadah yang sangat agung." Dua faedah tersebut adalah:
Pertama, dengan banyak berzikir kepada Allah, seorang akan menjadi cinta kepada Allah. Zikir adalah jalan yang mengantarkan seorang hamba menuju kecintaan kepada Allah.
Kedua, ketika seorang banyak berzikir, dia akan terhalangi dari gibah, namimah, dan perkataan-perkataan yang merusak agamanya.
Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan hal senada: "Manusia pasti berbicara. Jika dia tidak menyibukkan lisannya dengan zikir kepada Allah dan menyebut tentang perintah-perintah serta syariat-syariat Allah, maka dia akan berbicara dengan perkara-perkara yang haram — gibah, namimah, kedustaan, dan perkataan keji."
Ini adalah kenyataan yang kita saksikan sendiri, terutama di zaman sekarang. Musim komentar, musim membaca berita ini-itu, membicarakan orang ini-itu — semuanya hanya membuang umur dan mengotori hati, sehingga kita tidak sempat lagi berkhalwat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Obat Bagi Segala Penyakit Hati
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya 'Iddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin menyampaikan perkataan yang sangat dalam:
"Sesungguhnya dalam hati itu ada luka yang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan menuju kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Beliau merinci:
- Ada luka dalam hati — tidak bisa sembuh kecuali kembali kepada Allah.
- Ada keterasingan dan kekerasan dalam hati — tidak bisa hilang kecuali dengan kebersamaan bersama Allah dalam kesendirian.
- Ada kesedihan dalam hati — tidak bisa hilang kecuali dengan kegembiraan yang diraih melalui mengenal Allah dan jujur dalam bermuamalah dengan-Nya.
- Ada kegelisahan dalam hati — tidak bisa tenang kecuali dengan berlari dari maksiat menuju ketaatan kepada Allah.
- Ada api-api penyesalan dalam hati — tidak bisa dipadamkan kecuali dengan ridha terhadap perintah, larangan, dan keputusan Allah, serta dengan memeluk kesabaran hingga saat bertemu dengan-Nya.
Semua penyakit hati itu, apapun bentuknya, jalan keluarnya adalah khalwat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dari sinilah kita memahami mengapa seseorang yang rajin salat malam — meski hidupnya sulit, ekonominya susah, ada masalah dalam keluarganya — tetap bisa menjalani hidup dengan tenang. Sementara sebagian orang yang telah terpenuhi seluruh kebutuhan duniawinya justru hidup dalam kegelisahan. Mengapa? Karena yang pertama mencari kebahagiaan pada tempatnya, sedangkan yang kedua mencarinya di tempat yang salah.
Kesaksian Para Ulama tentang Nikmatnya Khalwat
Muslim bin Yasar berkata: "Tidaklah orang-orang berlezat-lezat seperti kelezatan bermunajat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Muhammad bin Yusuf berkata: "Siapa yang ingin nikmat disegerakan — kebahagiaan disegerakan — maka hendaknya dia memperbanyak bermunajat kepada Allah dalam khalwatnya."
Dan Ibnu Taimiyah rahimahullah — seorang ulama yang hidupnya penuh ujian, dipenjara berulang kali hingga delapan kali, dan akhirnya wafat di dalam penjara — pernah berkata:
"Di dunia ini ada surga. Siapa yang tidak masuk dalam kebahagiaan dunia, dia tidak akan mendapatkannya di akhirat kelak."
Beliau juga berkata: "Ma yaf'alu a'daa'i bi? — Apa yang tidak dilakukan oleh musuh-musuhku kepadaku?" Mereka penjarakan aku, mereka dzalimi aku. Namun beliau tetap merasakan kebahagiaan. Mengapa? Karena kebahagiaan itu ada di dalam hatinya, bersumber dari kedekatan dengan Allah.
Maka jangan sangka kebahagiaan hanya dimiliki oleh orang yang berjabatan tinggi atau berharta banyak. Kebahagiaan bisa diraih oleh siapa saja, caranya adalah khalwat dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Para Nabi pun Berkhalwat
Khalwat adalah ibadah yang telah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul.
Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebelum diangkat sebagai Nabi, berkhalwat di Gua Hira. Beliau ingin mengenal Allah lebih dekat namun belum tahu caranya karena wahyu belum turun. Di sana, di depan celah gua, pandangannya langsung mengarah ke Kabah. Beliau menyendiri, menghindar dari berbagai kemaksiatan yang merajalela di masyarakat Makkah ketika itu.
Setelah turun wahyu, Allah mengajarkan cara berkhalwat yang benar melalui surat Al-Muzzammil: "Hai orang yang berselimut, bangunlah di malam hari, kecuali sedikit darinya — yaitu seperduanya, atau kurangi dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu." (QS. Al-Muzzammil: 1-4)
Sejak itu Nabi tidak lagi perlu ke Gua Hira, karena Allah telah mengajarkan cara khalwat yang benar: salat malam.
Nabi Daud 'Alaihissalam pun demikian. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sebaik-baik salat adalah salatnya Nabi Daud — beliau tidur setengah malam, kemudian salat sepertiga malam, kemudian tidur lagi seperenam malam."
Nabi Musa 'Alaihissalam, ketika dipanggil oleh Allah untuk bermunajat, beliau justru datang lebih awal sebelum waktunya. Allah bertanya: "Mengapa engkau datang sebelum waktunya, wahai Musa?" Nabi Musa menjawab: "Aku bersegera menuju Engkau ya Allah, agar Engkau ridha kepadaku." Begitu merasakan kelezatan bermunajat dengan Allah, Nabi Musa meminta yang lebih: "Ya Rabbi, perlihatkan aku kepada-Mu." — saking rindunya.
Apa Itu Khalwat?
Khalwat secara umum artinya seorang bersendirian — menjauhkan diri dari pandangan manusia dan dari interaksi dengan makhluk — kemudian dalam kesendirian itu dia menampakkan kerendahan dan kehinaannya di hadapan Allah, menyampaikan kegelisahannya, atau mengingat keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah ketika membahas i'tikaf berkata: "Hakikat i'tikaf adalah memutuskan seluruh relasi dengan makhluk, kemudian menyambung dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala." Itulah pula hakikat khalwat.
Khalwat ada dua macam:
1. Khalwat Hati Yaitu hati yang selalu ingat kepada Allah, bahkan di tengah keramaian sekalipun. Inilah khalwat yang paling utama. Seorang yang telah terbiasa dengan khalwat hati bisa berkhalwat di bandara, di pesawat, di mana pun — hatinya fokus kepada Allah, tidak berharap dan tidak takut kecuali kepada-Nya.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan: "Yang dimaksud dengan 'sendirian' (khalian) adalah kosong dari menengok kepada selain Allah — yaitu hati yang fokus kepada Allah — meskipun dia berada di depan banyak orang."
2. Khalwat Jasad Yaitu secara fisik menjauhkan diri dari pandangan manusia. Ini juga penting karena mendukung khalwat hati. Ketika seorang bersendirian dan tidak ada yang melihatnya, dia bisa lebih konsentrasi bermunajat kepada Allah tanpa ada kekhawatiran riya.
Cara-Cara Berkhalwat dengan Allah
1. Salat Malam
Ini adalah bentuk khalwat yang bisa kita lakukan setiap hari. Utamanya di sepertiga malam terakhir, di mana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Rabb kita Allah Subhanahu wa Ta'ala turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir, kemudian Allah berfirman: 'Adakah dari hamba-Ku yang berdoa? Akan Aku kabulkan. Adakah orang yang meminta ampun? Akan Aku ampuni. Adakah orang yang memohon kepada-Ku? Akan Aku kabulkan permohonannya.'"
Allah Yang Maha Kaya menawarkan kemuliaannya, rahmat dan berkah-Nya kepada hamba-hamba yang mau bangun di malam hari. Saatnya kita "cari muka" kepada Allah. Sudah terlalu sering kita cari muka kepada manusia — kini saatnya malam hari kita setor wajah kepada Allah, sementara semua orang sedang tidur.
Paksa diri. Nyalakan alarm — kalau perlu pasang tiga: satu di atas lemari, satu di dekat telinga, satu lagi yang akan membangunkan istri kita. Pelan-pelan akan terbiasa. Tidak usah panjang — setengah jam atau satu jam sudah sangat baik. Dan satu pesan penting: jangan bikin status "lagi salat malam". Khalwat artinya berdua-duaan dengan Allah, bukan untuk dilihat orang.
2. Membaca Al-Qur'an dengan Tadabbur
Membaca Al-Qur'an — terutama dengan tadabbur — adalah bentuk khalwat yang luar biasa. Allah berfirman:
"Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an?" (QS. Muhammad: 24)
"Al-Qur'an diturunkan agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya." (QS. Shad: 29)
Jangan hanya mengejar pahala angka huruf semata. Tujuan yang lebih utama adalah tadabbur — merenungi maknanya, memahami isinya, lalu mengamalkannya. Baca pelan-pelan, baca terjemahannya, manfaatkan aplikasi tafsir, atau simak kajian tafsir sebelum membaca. Ketika membaca Al-Qur'an, matikan HP — karena khalwat artinya berdua-duaan dengan Allah, bukan sambil cek notifikasi.
3. Zikir Pagi Setelah Subuh Hingga Syuruk
Bagi para lelaki, di antara bentuk khalwat yang bisa dibiasakan adalah duduk berzikir setelah salat Subuh hingga terbit matahari, kemudian salat Duha. Ini adalah kebiasaan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Sebagian ulama dan teman-teman di Madinah sudah membiasakan hal ini — tidak keluar rumah atau masjid kecuali setelah waktu syuruk. Memang berat di awal, tapi luar biasa hasilnya.
4. Berkhalwat Setelah Asar Hari Jumat
Di hari Jumat, ada waktu yang mustajab untuk berdoa. Salah satu pendapat ulama menyebutkan waktunya adalah setelah Asar hingga terbenam matahari. Sebagian ulama dan orang-orang shalih memiliki kebiasaan indah: setelah salat Asar hari Jumat, mereka tidak keluar dari masjid hingga Magrib — sibuk berzikir, membaca Al-Qur'an, bershalawat, dan berdoa. Ada yang sudah menjalankan kebiasaan ini selama 40 tahun!
5. I'tikaf
I'tikaf — khususnya di sepuluh malam terakhir Ramadan — adalah salah satu bentuk khalwat terbaik. Tanyakan kepada orang-orang yang pernah i'tikaf dengan sungguh-sungguh, mereka pasti merasakan kebahagiaan yang luar biasa, meski fisiknya lelah dan meninggalkan kenyamanan tidur.
Namun i'tikaf harus dilakukan dengan benar. Hakikat i'tikaf adalah memutuskan segala relasi dengan makhluk dan menyambung sepenuhnya dengan Allah. Jangan i'tikaf di masjid tapi HP tidak berhenti digunakan untuk baca berita politik, lihat konten-konten yang melalaikan, atau terus-menerus berkomunikasi dengan orang lain tanpa keperluan mendesak. I'tikaf seperti itu hasilnya akan sangat sedikit.
6. Tadabbur atas Keagungan Ciptaan Allah
Bentuk khalwat lainnya adalah merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta dan pada diri kita sendiri. Allah berfirman:
"Dan pada diri kalian sendiri, apakah kalian tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Allah bahkan berbicara tentang air mani — hal yang tampaknya sepele — untuk mengingatkan bahwa kitalah yang tidak bisa mengendalikannya. Yang menciptakan, yang menentukan laki atau perempuan, yang menentukan sifat dan bentuknya, adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Belum lagi keajaiban langit, bumi, pergantian siang dan malam — semua ini ketika direnungkan akan menambah keimanan kepada Allah secara luar biasa.
Satu Catatan Penting: Bukan Khalwat Bid'ah
Yang dimaksud khalwat di sini adalah khalwat yang syar'i, bukan khalwat yang dibuat-buat oleh sebagian kaum Sufi ekstrem — seperti masuk goa selama 40 hari tidak kena cahaya, tidak boleh makan kecuali nasi putih, tidak buang air selama berminggu-minggu, hingga tidak salat Jumat dan tidak salat berjamaah.
Khalwat yang benar adalah seorang yang tetap menjalani kehidupan normalnya — mengurusi anak dan istri, berinteraksi dengan masyarakat, salat berjamaah — namun menyisihkan waktu khusus untuk berdua-duaan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Penutup
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Orang yang beriman yang sering mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti bahagia." Perkataan ini diucapkan oleh seorang ulama yang dipenjara berulang kali, dimusuhi, dan dituduh dengan tuduhan yang tidak benar — bukan oleh orang yang hidup dalam kemewahan. Namun beliau merasakan kebahagiaan yang nyata, karena kebahagiaan itu ada di dalam hatinya.
Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata: "Sungguh ujian-ujian zaman tidak pernah putus." Dan kita tidak bisa menghadapi ujian-ujian itu dengan baik kecuali dengan khalwat bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Maka marilah kita sama-sama menyisihkan waktu untuk berkhalwat dengan Allah. Paksa diri kita. Kurangi waktu kita membicarakan dan mengomentari manusia. Perbanyak waktu kita bersama Allah — dengan salat malam, tadabbur Al-Qur'an, zikir, dan doa.
Karena sesungguhnya, tidak ada kebahagiaan yang hakiki kecuali bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber: Kajian "Hidup Bahagia Bersama Allah" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. Tonton videonya di: https://www.youtube.com/watch?v=9rJopwuZXa4
0 Komentar