RS 16. Ternyata "Hijrah" Sudah Tidak Ada — Hadits Ketiga Riyadhus Shalihin

Judul di atas mungkin membuat kita terkejut. Bukankah kampanye hijrah begitu gencar didengungkan di mana-mana? Tapi inilah yang disabdakan Nabi ﷺ secara jelas dalam hadits ketiga Riyadhus Shalihin. Mari kita pahami maknanya — karena di balik pernyataan yang mengejutkan ini tersimpan pelajaran yang sangat berharga tentang niat dan keikhlasan.


Hadits Ketiga: Tidak Ada Hijrah Setelah Pembukaan Kota Mekkah

Dari Aisyah radhiyallahu ta'ala anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada hijrah lagi setelah pembukaan kota Mekkah. Namun yang ada adalah jihad dan niat. Dan apabila engkau ditugaskan untuk maju ke medan perang oleh pemimpinmu, maka berangkatlah." — HR. Bukhari dan Muslim


Apa Maksudnya "Tidak Ada Hijrah"?

Banyak orang mungkin bertanya: apakah ini berarti kita salah selama ini mengkampanyekan hijrah? Apakah gerakan hijrah yang banyak digaungkan itu keliru?

Jawabannya: tidak. Hijrah dalam makna yang lebih luas masih tetap ada dan masih berlaku. Yang ditiadakan Nabi ﷺ dalam hadits ini adalah hijrah dalam konteks yang sangat spesifik: yaitu berpindah dari kota Mekkah ke kota Madinah atau ke Habasyah (Ethiopia) sebagai cara untuk menyelamatkan dan mengamalkan keimanan.

Para ulama besar seperti Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan hal ini dengan panjang lebar.


Mengapa Ada Hijrah dari Mekkah Sebelumnya?

Sebelum pembukaan kota Mekkah di tahun 8 Hijriah, kondisi di Mekkah sangat tidak kondusif bagi umat Islam. Para sahabat disiksa, diboikot, bahkan dibunuh. Bilal bin Rabah disiksa di padang pasir yang panas terik. Mushab bin Umair diboikot oleh keluarganya sendiri. Yasir dan istrinya syahid karena iman mereka. Bahkan Nabi ﷺ sendiri — ketika terpaksa meninggalkan kota yang paling beliau cintai itu — berkata kepada Mekkah: "Engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu kecuali karena kaummu yang mengusirku."

Dalam kondisi seperti itu, hijrah dari Mekkah adalah wajib — sebagai jalan satu-satunya untuk bisa mengamalkan agama dengan bebas dan aman. Inilah yang mengantarkan para sahabat meraih gelar yang sangat prestisius: Al-Muhajirin — orang-orang yang berhijrah.

Allah memuji mereka dalam Surah Ali Imran ayat 195: "Orang-orang yang berhijrah dan diusir dari rumah mereka, serta disiksa di jalan-Ku dan mereka berperang dan terbunuh — akan Aku ampuni seluruh dosa mereka dan Aku masukkan mereka ke dalam surga."

Dan dalam Surah at-Taubah ayat 100, Allah menyebut mereka sebagai "as-sabiqunal awwalun minal Muhajirin wal Anshar" — orang-orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar — dan Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.


Lalu Apa yang Terjadi Setelah Pembukaan Mekkah?

Ketika Nabi ﷺ dan para sahabat menaklukkan kota Mekkah di tahun 8 Hijriah, kota itu kembali menjadi tanah kaum muslimin. Tidak ada lagi penindasan. Umat Islam bebas beribadah di sana. Maka tidak ada lagi alasan untuk keluar dari Mekkah demi menyelamatkan keimanan.

Dan Nabi ﷺ pun menegaskan: tidak ada lagi hijrah dari Mekkah setelah ini.

Namun ini bukan berarti hijrah dalam makna yang lebih luas menjadi tidak ada. Nabi ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan dihasankan oleh banyak ulama: "Hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima. Dan taubat tidak akan terputus sampai matahari terbit dari barat."

Artinya, selama taubat masih diterima — dan itu akan terus demikian sampai hari kiamat — maka hijrah dalam makna yang lebih luas masih berlaku. Campaign "ayo berhijrah" yang kita kenal hari ini bukanlah sesuatu yang keliru.


Tiga Jenis Hijrah yang Masih Berlaku

Para ulama menjelaskan bahwa hijrah yang masih berlaku sampai hari ini ada tiga jenis.

Pertama, hijrah tempat — yaitu berpindah dari negeri di mana seseorang tidak bisa menjalankan agamanya ke negeri di mana ia bisa mengamalkan agamanya. Ini masih berlaku, kecuali dalam konteks khusus hijrah dari Mekkah seperti yang telah dijelaskan.

Kedua, hijrah dari perbuatan dosa dan maksiat — sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan dosa dan kesalahan." Inilah jenis hijrah yang paling banyak dikenal dan dikampanyekan hari ini.

Ketiga, hijrah dari orang-orang yang memberikan pengaruh buruk — menjauh dari lingkungan atau orang-orang yang mengajak kepada kemaksiatan. Ini dikuatkan oleh hadits Aisyah yang kita bahas sebelumnya, tentang orang-orang yang ikut bersama rombongan zalim dan terkena azab bersama mereka.


Pengganti Hijrah dari Mekkah: Jihad dan Niat

Inilah inti dari hadits ketiga ini yang sangat penting bagi kita. Ketika satu pintu pahala yang sangat besar — yaitu hijrah dari Mekkah — ditutup, Nabi ﷺ tidak membiarkan umatnya tanpa alternatif. Beliau bersabda: "Namun yang ada adalah jihad dan niat."

Tentang jihad, ada pembahasan tersendiri yang panjang dan memerlukan pemahaman mendalam dari para ulama. Yang perlu dicatat di sini adalah sabda Nabi ﷺ di akhir hadits: jihad itu dilakukan bersama pemimpin kaum muslimin yang sah — "apabila engkau ditugaskan oleh pemimpinmu, maka berangkatlah."

Namun yang menjadi fokus pembahasan kita hari ini adalah: niat. Dan inilah mengapa Imam an-Nawawi meletakkan hadits ini dalam bab ikhlas — karena niat adalah pengganti hijrah dari Mekkah yang luar biasa nilainya.


Betapa Dahsyatnya Nilai Niat

Nabi ﷺ menyebutkan niat sebagai pengganti hijrah dari Mekkah. Coba kita renungkan ini: hijrah dari Mekkah adalah amalan yang membuat para sahabat mendapatkan gelar Al-Muhajirin, mendapatkan jaminan surga, menjadi rujukan umat sampai hari kiamat.

Dan Nabi ﷺ bersabda bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang bisa menyamai pahala para sahabat — bahkan kalau kita berinfak emas sebesar Gunung Uhud pun tidak akan menyamai pahala infak mereka walau hanya satu mud.

Tapi Nabi ﷺ memberikan alternatif yang bisa dikejar oleh semua orang: niat yang ikhlas.

Ingat kembali ayat yang kita bahas sebelumnya — Surah al-Baqarah ayat 261, bahwa infak di jalan Allah dilipatgandakan sampai 700 kali lipat. Dan para ulama tafsir menjelaskan penutup ayat itu — "Allah lipatgandakan bagi yang Dia kehendaki" — maknanya adalah: Allah lipatgandakan sesuai dengan kualitas keikhlasan orang tersebut saat beramal.

Itulah mengapa satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham — karena keikhlasan orang yang menyedekahkan satu dirham itu jauh lebih dalam. Ia menyedekahkan 50% dari seluruh hartanya, sedangkan yang seratus ribu dirham mungkin hanya 0,1% dari hartanya.


Siapa yang Bisa Meraih Pahala Ini?

Inilah kabar gembiranya. Tidak seperti jika Nabi ﷺ mengatakan pengganti hijrah adalah "berinfak 200 miliar" — yang hanya bisa dilakukan segelintir orang. Tidak seperti jika pengganti hijrah adalah "hafal Al-Qur'an 30 juz dan baca al-Baqarah dan Ali Imran setiap hari" — yang hanya mampu dilakukan sebagian orang.

Nabi ﷺ mengatakan: niat. Dan niat bisa dilakukan oleh siapa saja.

Yang kaya bisa. Yang miskin bisa. Yang sehat bisa. Yang sakit bisa. Yang bisa berpuasa bisa. Wanita yang sedang haid atau nifas sehingga tidak bisa berpuasa — bisa juga, cukup mainkan niatnya. Yang bisa tahajud bisa. Yang hafalannya lemah dan hanya bisa baca surat-surat pendek — bisa juga, asal ikhlasnya tinggi.

Di hari-hari yang sulit ini, ketika banyak dari kita terbatas dalam beramal secara fisik, terbatas dalam bersedekah karena penghasilan menurun — mainkan niat. Jaga keikhlasan. Karena Imam Yahya bin Abi Katsir berkata: "Pelajarilah niat, karena niat itu seringkali lebih cepat sampai kepada tujuan daripada amalan itu sendiri."


Penutup: Jangan Sia-siakan Peluang Ini

Ada orang yang hidup 40, 50 tahun tanpa pernah memaksimalkan niatnya. Padahal niat adalah pengganti hijrah dari Mekkah yang telah ditutup pintunya. Betapa besar kerugian itu.

Mulailah dari sekarang. Setiap langkah kaki menuju masjid — niatkan. Setiap nafkah yang diberikan kepada keluarga — niatkan karena Allah. Setiap kesabaran dalam menghadapi cobaan hari ini — niatkan sebagai ibadah. Setiap kebaikan sekecil apapun — niatkan ikhlas karena Allah.

Karena Nabi ﷺ menjanjikan: "Bersungguh-sungguhlah dalam mengerjakan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah." Dan niat yang ikhlas adalah termasuk yang paling bermanfaat — bahkan ia adalah pengganti hijrah dari Mekkah yang pahalanya begitu luar biasa.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjaga dan memurnikan niat-niat kita, melipat gandakan pahala amalan kita, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang ikhlas di surga-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 16: Ternyata "Hijrah" Sudah Tidak Ada Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=hTvUNUHyR4g



Posting Komentar

0 Komentar