Kita melanjutkan kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua. Setelah kita memahami pelajaran awal tentang pentingnya kembali kepada Allah dan menyiapkan amal shaleh sejak saat lapang, kini kita menggali lebih dalam dari amal orang pertama — yaitu berbakti kepada orangtua dengan cara yang benar-benar luar biasa. Dan dari sana kita akan menemukan banyak pelajaran tentang bagaimana Islam menempatkan kedudukan orangtua dalam kehidupan seorang muslim.
Ringkasan Kisah: Doa Orang Pertama Dikabulkan
Orang pertama berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amalnya — bahwa ia selalu mendahulukan minuman untuk kedua orangtuanya yang sudah lansia sebelum memberikannya kepada siapapun, termasuk istri, anak, dan hamba sahayanya. Suatu malam ia pulang terlambat karena mencari kayu di tempat yang jauh, orangtuanya sudah tertidur, ia tidak mau membangunkan mereka, tidak mau memberikan minuman kepada siapapun sebelum mereka, lalu ia begadang semalaman sambil memegang gelas susu — menunggu sampai Subuh hingga orangtuanya terbangun sendiri.
Setelah berdoa dengan menyebutkan amal itu, batu besar yang menutup mulut gua bergerak sedikit — tapi belum cukup untuk mereka bisa keluar. Artinya doa itu dikabulkan, tapi masih perlu amal dari dua orang lainnya. Kisah ini akan dilanjutkan pada sesi-sesi berikutnya.
Pelajaran Pertama: Berbakti kepada Orangtua adalah Amal yang Sangat Mulia
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah dan para ulama mencatat: ketika Nabi ﷺ menceritakan kisah ini, amal pertama yang disebutkan adalah berbakti kepada orangtua. Ini bukan kebetulan. Ini isyarat dari Nabi ﷺ bahwa berbakti kepada orangtua adalah ibadah yang sangat mulia — begitu mulianya hingga dipilih untuk disebutkan pertama kali, sebelum dua amal luar biasa lainnya.
Allah berfirman dalam Surah an-Nisa ayat 36: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada orangtua."
Dan dalam Surah al-Isra ayat 23: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada orangtuamu."
Para ulama menjelaskan: Allah meletakkan perintah berbuat baik kepada orangtua tepat di samping perintah tauhid — tidak menyekutukan Allah — karena alasannya sangat sederhana namun sangat dalam: Allah yang menciptakan kita, dan orangtua adalah sarana yang melahirkan kita. Maka keduanya harus mendapat prioritas tertinggi setelah ibadah kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 14: "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku kamu akan kembali."
Pelajaran Kedua: Orangtua Diprioritaskan di Atas Istri dan Anak
Ini adalah pelajaran yang sangat penting yang bisa kita petik langsung dari kisah orang pertama. Ia memilih untuk tidak memberikan minuman kepada istri dan anak-anaknya sebelum orangtuanya — bahkan ketika anak-anaknya menangis semalaman minta minum, ia tidak bergeming.
Nabi ﷺ dalam hadits Abu Hurairah ditanya: siapakah yang paling berhak mendapat kebaikan kita? Nabi ﷺ menjawab: "Ibumu." Ditanya lagi: lalu siapa? "Ibumu." Lalu siapa? "Ibumu." Lalu siapa? "Ayahmu." — HR. Bukhari dan Muslim.
Ibu tiga kali, baru ayah. Dan keduanya sebelum istri dan anak-anak.
Namun para ulama mengingatkan: kaidah yang benar adalah menggabungkan semua dalil jika masih memungkinkan. Jangan jadikan prioritas orangtua sebagai senjata untuk mengabaikan kewajiban kepada istri dan anak. Berbuat baik kepada orangtua ada dalilnya, berbuat baik kepada istri ada dalilnya, berbuat baik kepada anak ada dalilnya — maka selama bisa dikerjakan semua, kerjakan semua.
Urutan prioritas ini baru menjadi relevan ketika tidak bisa menggabungkan keduanya — misalnya harus memilih satu. Dan dalam kondisi itulah orangtua didahulukan.
Ada satu pengecualian: bagi wanita yang sudah bersuami, suaminya lebih diprioritaskan dibanding orangtuanya. Ini adalah hukum yang khusus bagi wanita yang sudah menikah.
Jangan Jadikan Ini Alat Arogansi
Perlu ditegaskan: hukum prioritas orangtua ini bukan senjata bagi suami untuk menekan istri atau mengedepankan egonya. Ini bukan justifikasi untuk bersikap arogan. Seorang suami yang shaleh justru mendukung dan memfasilitasi istrinya untuk berbakti kepada orangtuanya — karena dengan demikian ia pun mendapat pahala berbakti.
Kehidupan kita diatur oleh Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar. Jika kita bersikap arogan kepada istri, Allah akan datangkan pihak lain yang lebih kuat yang akan bersikap arogan kepada kita — dan kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Ingat selalu: kehidupan kita di tangan Allah, bukan di tangan kita.
Teladan Para Ulama dalam Berbakti kepada Orangtua
Para ulama kita bukan hanya mengajarkan konsep ini — mereka mengamalkannya dengan sangat nyata.
Al-Imam Ibnu Asakir pernah terlambat berangkat ke Ashbahan untuk menuntut ilmu karena menunggu izin dari orangtuanya. Bukan karena malas — tapi karena izin orangtuanya terlambat keluar. Begitu mendapat izin, barulah ia berangkat. Di mata sebagian orang mungkin itu terlihat seperti "anak mama" — tapi bagi para ulama, itu adalah kebanggaan.
Misal bin Kishom, seorang ulama besar yang sangat berwibawa, suatu malam ibunya meminta diambilkan air. Ia bangkit menyiapkan air dan membawanya ke kamar ibunya. Ketika sampai, ibunya sudah tertidur. Ia tidak mau membangunkan ibunya, tapi juga tidak mau meninggalkan posisinya — karena khawatir ibunya bangun dan tidak menemukan beliau. Maka ia berdiri semalaman di sisi ibunya sambil memegang air itu, menunggu ibunya terbangun sendiri. Dan ketika ibunya bangun di pagi hari, barulah ia memberikan air itu.
Wibawanya luar biasa — banyak orang tidak berani bertanya langsung kepada beliau karena begitu sungkan. Tapi kepada ibunya, ia berdiri semalaman hanya untuk menyiapkan segelas air.
Al-Imam Haiwah suatu hari sedang mengisi kajian di masjid — memberikan ilmu kepada banyak manusia. Tiba-tiba dari pintu masjid terdengar suara keras memanggil namanya, tanpa embel-embel "Ustadz" atau "Syaikh": "Haiwah, berdirilah! Pergi beri makan ayam-ayam kita!"
Ternyata ibunya. Dan beliau? Langsung bangkit, meninggalkan kajian, dan pergi memberi makan ayam sesuai permintaan ibunya. Tanpa mengeluh. Tanpa malu. Tanpa komplin.
Kenapa? Karena beliau paham: menaati perintah orangtua itu fardhu ain — wajib bagi setiap individu. Sedangkan kajian itu fardhu kifayah — kewajiban kolektif yang bisa digantikan orang lain. Fardhu ain lebih diutamakan dari fardhu kifayah.
Kapan Kita Tidak Boleh Taat kepada Orangtua?
Hanya satu kondisi: ketika orangtua mengajak kepada kemaksiatan atau kesyirikan. Dalam hal ini, kita tidak boleh taat.
Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 15: "Dan apabila keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya."
Mushab bin Umair adalah contohnya — ketika ibunya memintanya kembali kepada kesyirikan, ia tidak mau taat. Tapi perhatikan kelanjutan ayat itu: "Dan bergaullah dengan keduanya di dunia dengan cara yang baik."
Jadi tidak taat dalam hal maksiat, tapi tetap bergaul dengan baik. Bukan putus hubungan, bukan kasar, bukan tidak peduli. Tetap dengan cara yang santun dan penuh hormat.
Berbakti kepada Orangtua di Kondisi Pandemi
Di hari-hari yang membatasi pertemuan fisik ini, berbakti kepada orangtua tidak harus selalu dengan kehadiran fisik. Ada banyak cara: telepon rutin, video call, kiriman makanan, mengirimkan kebutuhan mereka, memastikan mereka aman dan sehat.
Bahkan jika orangtua kita sudah sepuh dan rentan, menjaga jarak fisik dari mereka bisa menjadi salah satu bentuk berbakti — karena kita tidak mau menularkan penyakit kepada mereka. Yang penting komunikasi tetap berjalan, perhatian tetap tercurahkan, dan kebutuhan mereka tetap terpenuhi.
Jangan jadikan pandemi sebagai alasan untuk tidak berbakti. Justru sebaliknya — di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, ini adalah momentum terbaik untuk memaksimalkan bakti kita kepada orangtua.
Berbakti kepada Orangtua yang Sudah Wafat
Bagi yang orangtuanya sudah meninggal, pintu berbakti belum tertutup. Nabi ﷺ bersabda: "Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya."
Cara terbaik berbakti kepada orangtua yang sudah wafat adalah menjadi anak yang shaleh. Karena doa anak shaleh itulah yang dikabulkan oleh Allah untuk orangtuanya. Jadikan wafatnya orangtua sebagai cambuk untuk semakin meningkatkan ketaatan — bukan sebagai alasan untuk berhenti berbakti.
Kita juga bisa mendoakan mereka, bersedekah atas nama mereka, bahkan menunaikan haji atau umrah atas nama mereka jika mereka semasa hidupnya tidak sempat melaksanakannya.
Penutup: Amal Shaleh Hari Ini adalah Penyelamat Hari Esok
Kisah orang pertama dalam gua mengajarkan kita: amal yang ia kerjakan dengan tulus di saat lapang menjadi penyelamatnya di saat paling genting dalam hidupnya. Batu besar itu bergerak bukan karena kekuatan fisik — tapi karena satu malam begadang demi orangtua yang sudah tua.
Maka jangan tunggu sampai terpojok untuk mulai berbakti. Jangan tunggu sampai terjepit untuk mulai beramal shaleh. Mulai sekarang, dari yang kita bisa, dengan niat yang ikhlas karena Allah.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita anak-anak yang shaleh bagi orangtua kita, dan semoga Allah merahmati orangtua kita baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 27: Prioritaskan Orangtua Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=-Gd2Xu8abeU
0 Komentar