Kisah anak muda dalam hadits Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu 'anhu akhirnya sampai pada penutupannya yang paling menggetarkan. Setelah anak muda itu wafat dengan cara yang ia rancang sendiri — dan kematiannya menjadi sebab beriman ribuan orang — sang raja yang murka membuat keputusan terakhir yang mengerikan: menggali parit-parit, menyalakan api yang menyala-nyala, dan melemparkan siapa pun yang tidak mau kembali meninggalkan imannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Buruj:
"Mereka dicelakakan karena para pembuatnya yang duduk-duduk menyaksikannya. Dan tidaklah mereka melakukan itu kepada orang-orang beriman kecuali hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." (QS. Al-Buruj: 4-8)
Satu-satunya alasan mereka dilempar ke dalam api itu adalah karena mereka beriman kepada Allah. Tidak ada tuduhan lain. Tidak ada kejahatan lain. Hanya iman. Dan iman itu ternyata justru membuat mereka tidak gentar.
Tujuh Puluh Ribu Jiwa yang Tidak Mundur
Dalam riwayat yang ada, disebutkan bahwa jumlah orang yang dibakar pada hari itu mencapai puluhan ribu jiwa. Satu per satu mereka memasuki kobaran api itu — bukan karena dipaksa tanpa sadar, melainkan karena mereka diberi pilihan: kembali kepada agama lama atau dilempar ke dalam api. Dan mereka memilih api.
Renungkan ini: mereka baru saja beriman pada hari itu, saat menyaksikan anak muda itu wafat dengan menyebut nama Allah. Mereka belum pernah ikut pengajian bertahun-tahun. Mereka belum hafal banyak ayat. Tapi keikhlasan dan keberanian anak muda itu merasuki jiwa mereka begitu dalam, sehingga dalam sekejap iman mereka langsung sekuat batu karang.
Inilah yang membuat kita harus berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: kita yang sudah bertahun-tahun belajar, mengapa dampak dakwah kita kepada orang-orang terdekat masih terasa begitu lambat?
Jawabannya mungkin bukan pada keras-kerasnya hati mereka. Mungkin jawabannya ada pada keikhlasan dan keberanian berkorban kita — atau ketiadaan keduanya.
Ujian dari Arah yang Paling Mencintai
Di antara ribuan jiwa yang antri menuju api itu, ada seorang ibu yang berjalan bersama anaknya yang masih bayi. Seorang ibu yang sangat mencintai anak kandungnya — yang ia kandung selama sembilan bulan, yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa.
Dan hari itu, ia harus mengantarkan anaknya bersama dirinya menuju kobaran api.
Para ulama menjelaskan bahwa sang ibu sempat ragu-ragu. Jiwa keibuannya berteriak. Ia bukan ragu tentang imannya kepada Allah — ia ragu tentang anaknya. Seandainya ia sendiri, mungkin akan jauh lebih mudah. Tetapi ini adalah anaknya — darah dagingnya, cintanya yang paling tulus di dunia.
Inilah pola ujian yang paling berat: kita diuji dari arah yang paling kita cintai. Bukan musuh yang datang menyerang. Melainkan orang yang paling kita sayang, yang kehadirannya justru membuat langkah kaki kita melambat di ambang kebenaran.
Ketika Bayi Berbicara
Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan pertolongan dari arah yang tidak pernah terbayangkan: bayinya tiba-tiba berbicara.
Sang bayi mengucapkan kalimat yang singkat namun mengubah segalanya:
"Yaa Ummah, isbiri. Fa innaki 'alal haqq — Wahai Ibuku, sabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran."
Hilang sudah seluruh keraguan. Mantaplah langkah sang ibu. Dengan penuh keyakinan dan ketenangan, ia melangkah masuk ke dalam kobaran api bersama buah hatinya.
Allah berfirman dalam Surah Ath-Thalaq ayat 3:
"...Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka."
Rizki apa yang lebih besar dari diteguhkannya iman di saat paling genting? Di saat ajal sudah di depan mata, di saat kobaran api sudah terasa panasnya — Allah mengutus pertolongan-Nya melalui lisan seorang bayi kecil yang belum genap bisa bicara.
Perkenalkan Dirimu kepada Allah Saat Lapang
Mengapa Allah memberikan pertolongan yang begitu luar biasa kepada sang ibu di saat paling kritisnya? Karena ia telah menjaga dirinya dan imannya di saat-saat lapang.
Rasulullah ï·º bersabda: "Perkenalkan dirimu kepada Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalmu di waktu sempit."
Kita sering berharap pertolongan Allah hadir saat kita sedang susah, padahal kita lalai saat kita sedang lapang. Kita ingin Allah ingat kepada kita di saat krisis, padahal kita tidak mengingat-Nya di saat normal. Ini adalah pola yang terbalik.
Sang ibu dalam kisah ini bisa mendapat pertolongan yang luar biasa di saat paling gelap justru karena ia sudah membangun hubungan yang kuat dengan Allah jauh sebelum hari itu. Imannya sudah kokoh, ibadahnya sudah terjaga — maka ketika ujian terbesar datang, Allah tidak meninggalkannya.
Penutup Kisah: Ikhlas, Sabar, dan Berani Berkorban
Dengan berakhirnya kisah anak muda ini, Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala menutup salah satu hadits terpanjang dan terkaya dalam Bab Sabar. Dari seluruh rangkaian kisah ini, ada tiga pelajaran besar yang terus berulang:
Pertama, keikhlasan. Anak muda itu tidak bekerja untuk dirinya sendiri. Ia berkorban demi orang lain mendapatkan hidayah. Dan itulah yang membuat seluruh tindakannya menembus hati puluhan ribu orang dalam satu hari — sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan bertahun-tahun dakwah tanpa keikhlasan.
Kedua, kesabaran. Dari awal kisah hingga akhirnya, seluruh tokoh dalam kisah ini — sang rahib, penasehat raja, anak muda, sang ibu — semuanya memilih bersabar di atas keimanan, walaupun harganya adalah jiwa mereka.
Ketiga, keberanian berkorban. Bukan harta saja, bukan waktu saja, melainkan diri mereka sendiri. Dan Allah tidak menyia-nyiakan pengorbanan itu — fainnallaha la yudhi'u ajral muhsinin — Allah tidak pernah menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat baik.
Kisah ini sudah selesai. Tapi pesan dari sang bayi kecil itu masih bergema:
"Sabarlah, Bunda. Engkau berada di atas kebenaran."
Dan pesan itu bukan hanya untuk sang ibu di zaman itu. Ia adalah pesan untuk kita semua — di setiap momen ketika kaki kita melambat di ambang kebenaran, di setiap saat ketika cinta kepada dunia mencoba menghentikan langkah kita menuju Allah.
Sabarlah. Karena engkau berada di atas kebenaran.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 87. SABARLAH BUNDA | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar