Kisah anak muda dalam hadits Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu 'anhu sampai pada puncaknya yang paling menggetarkan. Setelah dua kali lolos dari eksekusi — pertama di puncak gunung, kedua di tengah lautan — anak muda itu kembali sendiri menghadap sang raja. Dan kali ini, ia yang menentukan alur ceritanya sendiri.
Dua Kali Lolos, Dua Kali Kembali
Ketika tim eksekutor pertama jatuh dari gunung dan anak muda selamat sendirian, ia tidak kabur. Ia kembali ke hadapan raja.
Ketika kapal terbalik di tengah lautan dan seluruh tim eksekutor tenggelam, ia tidak lari mencari tempat persembunyian. Ia kembali ke hadapan raja.
Setiap kali ditanya apa yang terjadi, jawabannya sama: "Allah melindungiku dari mereka."
Bukan: "Ada gempa." Bukan: "Ada ombak besar." Melainkan langsung kepada intinya — Allah yang melindungi. Inilah tauhid yang hidup, tauhid yang bukan sekadar kata-kata di bibir melainkan keyakinan yang mengalir dalam setiap napas dan setiap ucapan.
Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada pasukannya: "Kalian tidak ditolong karena banyaknya jumlah kalian atau kuatnya persenjataan kalian. Kalian ditolong dari atas langit."
Kalimat itu beliau ucapkan justru ketika pasukan Islam sedang dalam kondisi kuat. Karena itulah ujian terbesar — mempertahankan iman bahwa kemenangan datang dari Allah, bukan dari kekuatan diri, justru ketika kekuatan itu sedang ada.
Strategi yang Mengubah Segalanya
Anak muda itu sadar bahwa ia tidak akan bisa hidup selamanya. Namun ia juga tahu bahwa kematiannya bisa bermakna. Maka ia berkata kepada sang raja:
"Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mengikuti apa yang aku perintahkan."
Raja yang bingung, marah, dan terpukul bertanya: "Apa itu?"
Anak muda memberikan instruksi langkah demi langkah: kumpulkan seluruh rakyat di satu tempat yang luas, salibkan aku di batang pohon kurma, ambil anak panah dari kantongku, letakkan di busur, lalu ucapkan: "Bismillah Rabbil Ghulam — Dengan menyebut nama Allah, Rabb anak muda ini" — baru lepaskan anak panah itu ke arahku.
Raja mengikuti semua instruksi itu. Anak panah itu meluncur. Anak muda itu wafat.
Ketika Pembunuhan Menjadi Dakwah
Namun inilah yang tidak diperhitungkan sang raja: semua langkah itu disaksikan oleh seluruh rakyat. Dan ketika anak muda itu wafat, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Dari lisan rakyat yang menyaksikan, meluncur kalimat:
"Kami beriman dengan Rabb-nya anak muda ini!"
Sang raja terpukul keras. Justru dengan cara yang ia rancang untuk menghancurkan anak muda ini, ia malah mempertontonkan kepada seluruh rakyatnya bahwa tidak ada yang bisa membunuh anak muda itu — kecuali hanya dengan menyebut nama Allah. Itu berarti Allah-lah Rabb yang sesungguhnya, bukan dia.
Tanpa ia sadari, ia sedang menelanjangi kelemahannya sendiri di hadapan seluruh rakyatnya. Allah membalas makarnya — wamakaru wamakarallah, wallahu khairul maakirin (QS. Ali Imran: 54) — dan seluruh bangunan kesombongan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam satu hari.
Iman, Keikhlasan, dan Keberanian yang Bersatu
Sebagian ulama memasukkan kisah ini dalam pembahasan tentang keikhlasan — di samping kesabaran — karena hanya orang yang benar-benar ikhlas yang berani mengorbankan dirinya demi kebaikan orang lain.
Anak muda ini bukan sekadar menerima kematian secara pasif. Ia merancang kematiannya agar menjadi dakwah. Ia kembali kepada raja bukan karena tidak bisa kabur — ia bisa. Tetapi tujuannya bukan menyelamatkan diri. Tujuannya adalah agar manusia beriman kepada Allah.
Imam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullahu ta'ala menjelaskan bahwa anak muda ini berpikir: "Aku pasti akan mati. Pilihan ada dua — aku mati dan kematianku membuat seluruh rakyat beriman kepada Allah, atau aku mati dan hanya mendapat tangisan. Opsi pertama lebih baik."
Inilah yang disebut "intashdukillah yasdukak" — jika engkau jujur kepada Allah, Allah akan mewujudkan cita-citamu. Anak muda ini jujur kepada Allah, dan Allah mewujudkan cita-citanya: seluruh rakyat beriman.
Pertolongan Terbaik Ada di Akhir
Ada satu pelajaran besar yang perlu kita renungkan dari seluruh kisah ini: pertolongan Allah yang terbaik adalah Khusnul Khatimah — kematian yang indah dan diridhoi Allah.
Sang rahib dibelah dengan gergaji, tapi imannya tidak terbelah. Penasehat raja disiksa lalu digergaji, tapi ia mati dalam keimanan. Anak muda itu akhirnya wafat oleh anak panah, tapi wafatnya mengislamkan seluruh rakyat sebuah negeri.
Dari sudut pandang duniawi, mereka "kalah." Dari sudut pandang iman, mereka menang — dengan kemenangan yang tidak bisa dihitung nilainya.
Kita tidak akan selamat dari kematian selamanya. Kullu nafsin dzaiqatul maut — setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Yang bisa kita pilih adalah: kematian yang seperti apa. Dan anak muda dalam kisah ini mengajarkan bahwa kematian yang paling indah adalah kematian yang membawa manfaat abadi bagi orang lain.
Kisah ini belum selesai. Sang raja yang murka karena seluruh rakyatnya beriman, mengambil keputusan yang akan dikenang oleh sejarah. Namun dari apa yang sudah kita pelajari hari ini, ada satu hal yang harus kita bawa pulang:
Bismillah Rabbil Ghulam — hanya dengan menyebut nama Allah, Rabb yang sesungguhnya, segalanya bisa berubah. Anak panah yang merenggut nyawa justru menjadi peluru dakwah yang menembus hati ribuan orang.
Karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan keikhlasan hamba-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 86. HANYA DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar