Tidak ada keyakinan yang benar-benar kuat kecuali yang telah teruji oleh ujian. Dan ujian terberat bagi seorang ulama bukan datang dari musuh yang terang-terangan — melainkan dari fitnah yang datang dari kalangan sesama Ahlussunnah, dari kesalahpahaman yang disebarkan oleh orang-orang yang ingin memecah barisan.
Imam Al-Bukhari rahimahullah merasakannya sendiri. Di penghujung hidupnya, beliau harus menanggung tuduhan yang tidak pernah beliau ucapkan, terusir dari kota kelahirannya, dan menghabiskan hari-hari terakhir dalam kesepian. Namun di tengah semua itu, beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih abadi dari nama dan kedudukan: sebuah pernyataan aqidah yang beliau kumpulkan selama 46 tahun bersama lebih dari 1.000 ulama dari seluruh penjuru dunia Islam.
Sesi ketiga kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. ini menjadi penutup mukaddimah sebelum kita memasuki isi kitab — mengisahkan ujian berat Imam Bukhari, sebab wafatnya beliau, dan aqidah yang beliau wariskan kepada umat.
Fitnah Al-Qur'an Makhluk: Ujian Terberat Sepanjang Zaman
Untuk memahami ujian yang menimpa Imam Bukhari, kita perlu memahami latar belakangnya terlebih dahulu.
Di masa itu, penguasa Abbasiyah — dimulai dari Khalifah Al-Ma'mun, kemudian Al-Mu'tashim, dan Al-Watsiq — berada di bawah pengaruh kuat kaum Mu'tazilah dan Jahmiyah. Salah satu pokok pemikiran mereka yang paling berbahaya adalah keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Mereka tidak hanya menyebarkan pemikiran ini — mereka memaksakan dan menghukum siapa saja yang menolaknya.
Guru Imam Bukhari, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, adalah sosok yang paling gigih menolak pemikiran sesat ini. Beliau ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa oleh tiga khalifah berturut-turut — namun tetap tegar tidak mau mengucapkan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk.
Aqidah Ahlussunnah dalam masalah ini sesungguhnya sangat jelas dan logis: Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Al-Khaliq — Sang Pencipta. Dan seluruh sifat-sifat Allah bukanlah makhluk, karena sifat adalah bagian dari Dzat-Nya yang Azali. Di antara sifat Allah adalah Al-Kalam — kemampuan berbicara dan berfirman. Maka firman Allah, termasuk Al-Qur'an, bukanlah makhluk — karena ia adalah sifat Allah, bukan ciptaan-Nya.
Ustadz Firanda memberikan analogi yang sangat membantu untuk memahami hal ini. Ketika seseorang membacakan syair Imam Syafi'i rahimahullah, "Jika engkau memiliki hati yang qana'ah, maka engkau dan raja adalah sama saja" — yang berbicara memang orang tersebut, suaranya memang miliknya. Namun konten dari syair itu tetap milik Imam Syafi'i, bukan milik si pembaca. Demikian pula Al-Qur'an: suara pembacanya memang makhluk, tetapi isi dan kandungannya adalah Firman Allah yang bukan makhluk — itulah yang dimaksud sebagai kalamullah.
Dari logika inilah kaum Jahmiyah melancarkan jebakan. Mereka memancing para ulama dengan pertanyaan: "Apakah pelafalanmu ketika membaca Al-Qur'an itu makhluk atau bukan?" Pertanyaan ini sengaja dibuat ambigu. Jika seorang ulama menjawab "makhluk", mereka simpulkan bahwa ulama itu setuju Al-Qur'an adalah makhluk. Jika menjawab "bukan makhluk", mereka tuduh ulama itu berlebihan. Imam Ahmad rahimahullah menolak menjawab pertanyaan model ini sama sekali karena menilainya sebagai bid'ah — pertanyaan jebakan yang tidak pernah ada di masa Nabi ï·º dan para sahabat.
Ketika Imam Bukhari Difitnah oleh Teman Sejawatnya
Ujian bagi Imam Bukhari bermula di kota Naisabur. Di sana ada seorang ulama Ahlussunnah yang mulia bernama Muhammad bin Yahya Az-Zuhli rahimahullah — yang pada sesi sebelumnya telah kita kenal sebagai salah satu guru sekaligus teman sejawat Imam Bukhari.
Ketika Imam Bukhari tiba di Naisabur, Muhammad bin Yahya az-Zuhli sendiri yang menyambut dan memuliakan kedatangan beliau. Ia menyeru murid-muridnya: "Pergilah kalian kepada orang ini — dia adalah ulama yang alim dan saleh. Dengarkanlah ilmu darinya." Bahkan beliau berkata akan menyambut Imam Bukhari secara langsung. Maka berbondong-bondonglah masyarakat mendatangi majelis Imam Bukhari, hingga masjid penuh sesak dan orang-orang bahkan naik ke atas atap untuk mendengarkan.
Namun justru di saat majelis Imam Bukhari ramai itulah, majelis Muhammad bin Yahya az-Zuhli mulai sepi. Dan di sinilah ujian itu dimulai.
Muhammad bin Yahya az-Zuhli sebenarnya telah memperingatkan murid-muridnya lebih awal: "Jangan kalian bertanya kepada Imam Bukhari tentang masalah ilmu kalam — terutama soal Al-Qur'an makhluk atau bukan. Jika jawabannya berbeda dari keyakinan kita, akan timbul perselisihan di antara kita dan dia. Dan jika kita berselisih, yang paling bergembira adalah seluruh Khawarij, Rafidhah, dan Jahmiyah di Khurasan." Peringatan yang bijak — namun tidak diindahkan oleh semua orang.
Pada suatu hari majelis, seorang penanya bangkit dan bertanya kepada Imam Bukhari: "Apa pendapatmu tentang pelafalan Al-Qur'an — makhluk atau bukan?" Imam Bukhari diam. Pertanyaan kedua — beliau tetap diam. Pertanyaan ketiga — barulah beliau merasa terpaksa menjawab.
Jawaban Imam Bukhari sebenarnya sangat cerdas dan hati-hati. Beliau berkata: "Al-Qur'an adalah kalamullah, bukan makhluk. Adapun perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk." Beliau tidak menggunakan lafal yang ambigu. Beliau membedakan dengan jelas: konten Al-Qur'an adalah Firman Allah yang bukan makhluk, sementara suara dan perbuatan manusia ketika membacanya memang makhluk.
Namun sang penanya menyimpulkan dengan keliru — atau sengaja keliru. Ia menafsirkan jawaban Imam Bukhari sebagai: "Bukhari berkata bahwa pelafalan Al-Qur'an adalah makhluk." Dan fitnah inilah yang kemudian ia sampaikan kepada Muhammad bin Yahya az-Zuhli.
Mendengar laporan itu, Muhammad bin Yahya az-Zuhli mengumumkan kepada seluruh muridnya: "Barang siapa yang berpendapat bahwa pelafalan Al-Qur'an adalah makhluk, maka jangan duduk bersama kami. Dan barang siapa yang mendatangi majelis Bukhari, tidak halal baginya untuk meriwayatkan dari kami."
Seketika, majelis Imam Bukhari yang tadinya penuh hingga atap pun kosong. Semua orang pergi — meninggalkan beliau. Kecuali dua orang: Imam Muslim bin Al-Hajjaj dan Ahmad bin Salamah rahimahumallah.
Imam Muslim — yang kelak menjadi salah satu imam hadits terbesar dalam sejarah Islam — berdiri dari majelis Muhammad bin Yahya az-Zuhli, mengenakan sorbannya, dan keluar. Beliau bahkan mengembalikan seluruh riwayat yang pernah ia tulis dari Muhammad bin Yahya az-Zuhli, diletakkan di atas untanya dan dikembalikan. Sebagai bentuk pembelaan terhadap gurunya, Imam Bukhari, beliau tidak meriwayatkan dari keduanya — tidak dari Imam Bukhari dalam masalah ini, dan tidak pula dari Muhammad bin Yahya az-Zuhli.
Imam Bukhari, ketika ditanya tentang sikap Muhammad bin Yahya az-Zuhli, hanya berkata dengan tenang — menyerahkan urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau pun akhirnya meninggalkan Naisabur dan kembali ke kota kelahirannya, Bukhara.
Ujian Kedua: Antara Ilmu dan Kekuasaan
Setibanya di Bukhara, ujian beliau belum berakhir. Sang Amir (penguasa) kota Bukhara mengutus seseorang untuk meminta Imam Bukhari datang ke istana dan mengajarkan Shahih Bukhari serta Tarikh Al-Kabir khusus untuk anak-anaknya.
Imam Bukhari menolak dengan tegas. Jawabannya kepada sang utusan terukir indah dalam sejarah:
"Aku tidak akan menghinakan ilmu, dan aku tidak akan membawa ilmu ke pintu-pintu raja. Jika sang penguasa menginginkan ilmu, hendaklah ia hadir di majelisku — di rumahku atau di masjid. Jika ia tidak suka dengan sikapku ini, maka itu adalah kekuasaannya untuk melarangku menyampaikan ilmu — dan itu akan menjadi uzurku di hadapan Allah."
Keputusan ini berbeda dari yang umumnya kita bayangkan tentang seorang ulama yang mungkin akan berkompromi demi keselamatan. Imam Bukhari memilih prinsip meski harus menanggung akibatnya. Dan akibatnya memang datang — beliau pun diusir dari Bukhara oleh sang Amir.
Di penghujung hayatnya, Imam Bukhari yang diusir itu pindah ke sebuah daerah kecil bernama Khartank, tidak jauh dari Bukhara. Di sanalah beliau menghabiskan hari-hari terakhirnya dalam kesendirian.
Wafatnya Sang Imam: Dengan Keharuman Misik
Suatu malam, orang-orang mendengar Imam Bukhari berdoa dengan penuh kerendahan hati:
"Ya Allah, bumi yang begitu luas ini terasa sempit bagiku. Cabutlah nyawaku kepada-Mu."
Tidak sampai sebulan setelah doa itu, pada malam Idul Fitri setelah shalat Isya, tahun 256 Hijriyah, Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari rahimahullah meninggal dunia. Usia beliau sekitar 62 tahun.
Ketika jasad beliau dikuburkan, diriwayatkan bahwa dari liang lahat beliau keluar aroma yang sangat harum seperti misik — dan aroma itu bertahan selama berhari-hari lamanya. Sebuah tanda dari Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi hamba-Nya yang mulia.
Dan ada sebuah mimpi yang sangat mengharukan. Seorang ulama bernama Abdul Wahid bin Adam bercerita bahwa sebelum Imam Bukhari wafat, ia bermimpi melihat Rasulullah ï·º berdiri bersama sekelompok sahabatnya di suatu tempat, seakan menunggu seseorang. Ketika Abdul Wahid bertanya kepada Nabi ï·º, "Mengapa engkau berdiam di sini wahai Rasulullah?", beliau ï·º menjawab: "Aku sedang menunggu Muhammad bin Ismail." Beberapa hari kemudian, tibalah kabar bahwa Imam Bukhari telah wafat — pada waktu yang sama persis dengan waktu mimpi itu.
Aqidah Imam Bukhari: Bukan Karangan Sendiri, tapi Warisan Seribu Ulama
Di penghujung hidupnya, Imam Bukhari menuliskan pernyataan aqidahnya. Catatan ini diriwayatkan dengan sanad yang dinyatakan shahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari, dan dinukil dalam berbagai kitab terpercaya seperti Syarh Ushul I'tiqad Ahlissunnah wal Jama'ah karya Al-Lalaka'i, Tarikh Ibnu Asakir, dan Siyar A'lam An-Nubala' karya Adz-Dzahabi.
Yang membuat pernyataan ini begitu berharga bukan sekadar karena ia berasal dari Imam Bukhari — melainkan karena bukan akidah Imam Bukhari semata. Beliau sendiri yang menjelaskan:
"Aqidah ini aku kumpulkan dari lebih dari 1.000 ulama — dari Hijaz, dari Mekah, dari Madinah, dari Kufah, dari Bashrah, dari Wasith, dari Baghdad, dari Khurasan, dari negeri Syam, dari Mesir, dan dari Jazirah. Aku bertemu dengan mereka selama 46 tahun, dari generasi ke generasi. Dan tidak seorang pun dari mereka yang berselisih dalam perkara-perkara berikut ini."
Lalu beliau menyebutkan pokok-pokok aqidah yang mereka semua sepakati: bahwa iman mencakup perkataan, perbuatan, dan keyakinan hati — membantah Murji'ah yang menyempitkan iman hanya pada keyakinan batin. Bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah, bukan makhluk. Bahwa kebaikan dan keburukan semuanya dengan takdir Allah — membantah Qadariyah. Bahwa tidak boleh mengkafirkan seorang pun dari Ahlul kiblat hanya karena dosa kecuali syirik — membantah Khawarij. Bahwa para sahabat Nabi ï·º tidak boleh direndahkan — membantah Rafidhah. Dan bahwa bid'ah wajib dijauhi, serta tidak boleh memberontak kepada penguasa yang sah.
Inilah aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang sejati — aqidah yang tidak lahir dari ruang diskusi para filosof, tidak pula dari spekulasi ilmu kalam, melainkan dari Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat yang diwariskan secara bersanad dari generasi ke generasi.
Manhaj Imam Bukhari dalam Aqidah
Ustadz Firanda merangkum manhaj Imam Bukhari dalam aqidah dengan sangat jelas:
Pertama, selalu bersandar kepada Al-Qur'an dan Sunnah — tanpa tergoda oleh filsafat maupun ilmu kalam. Dalam Kitab Tauhid yang beliau tulis dalam Shahih Bukhari, beliau menyebutkan sifat-sifat Allah secara langsung — sifat wajah, sifat tangan, dan sifat-sifat lainnya — tanpa ta'wil dan tanpa penyimpangan.
Kedua, mengagungkan perkataan para Salaf. Ketika menafsirkan sifat-sifat Allah, Imam Bukhari merujuk kepada tafsiran para sahabat, bukan kepada pendapat para mutakallimin.
Ketiga, membantah Ahlul bid'ah dengan hadits-hadits Nabi ï·º, termasuk hadits ahad — bukan dengan argumentasi filosofis.
Siapa saja yang membuka Shahih Bukhari dan mencermati Kitab Al-Iman, Kitab Al-Fitan, Kitab Al-Ahkam, dan Kitab At-Tauhid, akan melihat dengan jelas bagaimana Imam Bukhari secara sistematis membantah Murji'ah, Khawarij, Rafidhah, Jahmiyah, dan Qadariyah — semuanya dengan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa satu pun rujukan kepada filsafat atau ilmu kalam.
Kesimpulan
Perjalanan hidup Imam Al-Bukhari mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran aqidah tidak selalu berjalan mulus di atas permadani. Ia seringkali harus melewati lorong-lorong yang sempit, bahkan pengkhianatan dan kesalahpahaman dari kalangan yang seharusnya menjadi kawan.
Namun Imam Bukhari tidak goyah. Beliau meninggal dunia di atas aqidah yang sama yang telah beliau kumpulkan selama 46 tahun dari lebih dari seribu ulama — aqidah yang bersanad bersih dari Nabi ï·º kepada para sahabat, dari para sahabat kepada para tabi'in, dan dari para tabi'in kepada para imam yang datang setelah mereka.
Kini giliran kita untuk menerima dan menjaga warisan itu. Bukan sekadar menghafal nama-nama kitabnya, tetapi benar-benar menjadikan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai landasan hidup — sebagaimana Imam Bukhari menjadikannya sebagai landasan ilmu, amal, dan kematiannya.
Semoga Allah merahmati Imam Al-Bukhari, mempertemukan kita dengannya di surga-Nya, dan menjadikan kita orang-orang yang konsisten di atas aqidah yang hak hingga akhir hayat kita. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. — https://www.youtube.com/watch?v=j4cUkO2IjWg
0 Komentar