AM 11. Juraij, Anak Kecil yang Berbicara, dan Doa yang Mengubah Takdir

Ada sebuah kisah dari masa Bani Israil yang diabadikan dalam hadits shahih — kisah seorang ahli ibadah bernama Juraij yang hidupnya hancur berantakan bukan karena kemaksiatannya, melainkan karena ia tidak segera menjawab panggilan ibunya. Dan ada kisah lain tentang seorang anak yang baru bisa menyusu namun sudah mampu berbicara, membetulkan doa ibunya yang salah arah.

Kedua kisah ini bukan sekadar cerita — keduanya adalah pelajaran hidup tentang kekuatan luar biasa dari doa orang tua, tentang betapa satu doa yang lahir dari hati yang terluka bisa mengubah perjalanan hidup seseorang. Dan tentang bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa-doa itu — baik yang berisi kebaikan maupun keburukan.

Kajian sesi kesebelas Kitab Al-Adab Al-Mufrad bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. ini menghadirkan kisah-kisah yang menggugah, lengkap dengan pelajaran fiqih dan akidah yang sangat relevan untuk kehidupan kita hari ini.


Kisah Juraij: Ketika Salat Sunnah Mengalahkan Panggilan Ibu

Di antara anak-anak kecil yang bisa berbicara dalam sejarah umat manusia, Rasulullah ï·º menyebutkan tiga nama: Nabi Isa 'alaihissalam, Shahib Juraij (anak yang terkait dengan kisah Juraij), dan seorang anak lain yang akan disebutkan kemudian.

Siapakah Juraij, dan mengapa anak kecil yang terkait dengannya perlu berkata-kata?

Juraij adalah seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Dikisahkan bahwa ia adalah mantan pedagang yang suatu hari memutuskan untuk meninggalkan dunia dan mendirikan sebuah sauma'ah — semacam kuil atau tempat ibadah kecil di tempat yang tinggi — untuk fokus beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kemuliaannya dikenal luas hingga ke raja negeri tersebut.

Suatu hari, ibunya datang memanggilnya. Juraij sedang dalam shalat sunnah. Dalam batinnya, ia bergumam: "Ibuku... shalatku... mana yang harus kudahulukan?" Ia memilih meneruskan shalatnya. Ibunya pergi.

Keesokan harinya, sang ibu datang lagi, memanggil lagi. Juraij sedang shalat lagi. "Ibuku... shalatku..." Ia tetap meneruskan shalat. Ibunya pergi lagi.

Hari ketiga, hal yang sama berulang. Sampai akhirnya ibunya yang sudah tiga kali diabaikan itu marah dan berdoa:

"Ya Allah, jangan Engkau wafatkan Juraij sampai Engkau perlihatkan kepadanya wajah-wajah para wanita pezina!"

Inilah doa yang dikabulkan Allah — bukan karena ibunya menginginkan Juraij terjerumus dalam dosa, melainkan karena Juraij memang punya keengganan besar untuk melihat para wanita pezina. Ibunya yang masih punya rasa sayang kepada putranya ingin menghukumnya pada hal yang paling ia hindari, bukan menghancurkannya.

Singkat cerita: di bawah kuil Juraij ada seorang penggembala sapi yang biasa tidur di sana. Datanglah seorang wanita cantik yang sangat dikenal kecantikannya hingga dijadikan perumpamaan di negeri itu. Ia hendak menebus dendam orang-orang yang hasad kepada Juraij — mereka mengupahnya untuk menggoda sang ahli ibadah.

Wanita itu mencoba segala cara. Namun Juraij tidak menoleh sedikit pun. Ia tahu — jika melihat, ia bisa tergoda. Maka ia sama sekali tidak mau memandangnya. Wanita itu akhirnya menyerah dan beralih kepada si penggembala.

Dari hubungan terlarang dengan penggembala itulah ia mengandung. Namun ketika melahirkan, ia mengklaim kepada raja bahwa anak itu adalah hasil hubungannya dengan Juraij. Raja pun murka — memerintahkan penghancuran kuil Juraij, membawa Juraij ke hadapannya dalam keadaan terikat, dan dipukuli oleh masyarakat.

Di tengah penghinaan itu, Juraij meminta izin untuk shalat terlebih dahulu. Setelah shalat, ia mendatangi sang bayi yang masih kecil, menekan perutnya, dan bertanya: "Wahai anak kecil, siapakah ayahmu?"

Dengan izin Allah, bayi itu menjawab: "Ayahku adalah si penggembala."

Keajaiban itu membungkam semua orang. Raja pun tunduk — menawarkan untuk membangun kembali kuil Juraij dari emas, lalu dari perak. Juraij menolak keduanya. Ia hanya ingin kuilnya dibangun kembali dari tanah, seperti semula.

Ketika orang-orang bertanya mengapa ia tersenyum melihat para wanita pezina di kerumunan itu, Juraij menjawab: "Karena itulah yang menjadi sebab cobaan yang menimpaku — doa ibuku yang dikabulkan."


Pelajaran Fiqih: Shalat Sunnah vs Panggilan Ibu

Dari kisah Juraij, para ulama mengambil sebuah pelajaran fiqih yang penting: melanjutkan shalat sunnah hukumnya sunnah, sedangkan memenuhi panggilan ibu hukumnya wajib. Maka ketika keduanya bertabrakan, yang wajib harus didahulukan.

Juraij melakukan kesalahan dalam hal ini — bukan karena ia bermaksiat, melainkan karena kurang tepat dalam memahami prioritas. Salat sunnah boleh dibatalkan di tengah jalan; bukan hal yang tercela. Justru membiarkan ibu memanggil tiga kali tanpa respons adalah yang bermasalah.

Adapun shalat fardhu, ketentuannya lebih ketat — ia tidak boleh dibatalkan kecuali dalam kondisi darurat yang sangat mendesak.

Ustadz Firanda menambahkan: ada dua tipe orang tua. Ada yang mudah memberi uzur — cukup diberi tanda bahwa anaknya sedang shalat, mereka memaklumi. Dan ada yang tidak mudah memberi uzur — dalam kondisi seperti ini, lebih baik batalkan shalat sunnah dan penuhi panggilannya, karena mempersilakan ibu menunggu tanpa respons bisa berujung pada kemurkaan yang tidak kita kehendaki.


Tiga Anak Kecil yang Bisa Berbicara

Rasulullah ï·º menyebut tiga bayi yang bisa berbicara di luar kemampuan lazim anak seusianya:

Pertama, Nabi Isa 'alaihissalam. Ketika Maryam pulang kampung membawa bayi tanpa suami, kaumnya hendak menghukumnya. Tidak ada bukti yang bisa membebaskan Maryam kecuali mukjizat dari Allah. Maka bayi Isa pun berbicara:

"Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia telah memberiku Al-Kitab dan menjadikanku seorang nabi. Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkahi di mana pun aku berada..."

Mukjizat ini — yang tidak tercantum dalam keempat Injil yang diakui saat ini — justru merupakan mukjizat yang harus ada secara logis. Karena hukum rajam berlaku di Bani Israil, dan tidak ada cara lain untuk membebaskan Maryam dari tuduhan berzina kecuali lewat kesaksian Isa sendiri.

Kedua, Shahib Juraij — bayi penggembala yang sudah kita kisahkan di atas, yang berkata satu kalimat namun membalikkan seluruh tuduhan.

Ketiga, seorang bayi yang sedang menyusu dari ibunya. Tiba-tiba lewat seorang lelaki kaya berkuda dengan penampilan yang sangat memukau. Sang ibu berdoa: "Ya Allah, jadikanlah anakku seperti orang itu." Si bayi melepas puting susu ibunya, menatap lelaki itu, lalu berdoa: "Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia."

Kemudian lewat seorang budak wanita yang sedang dipukuli orang banyak, dituduh mencuri dan berzina. Ibunya berdoa: "Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia." Si bayi kembali melepas puting susu ibunya, menatap wanita itu, lalu berdoa: "Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia."

Ibunya kebingungan dan memprotes. Sang anak — dengan ilham dari Allah — menjelaskan: "Lelaki berkuda itu adalah orang yang zalim dan sewenang-wenang. Maka aku berdoa agar tidak dijadikan seperti dia. Adapun wanita yang dipukulin itu, mereka menuduhnya mencuri padahal ia tidak mencuri, menuduhnya berzina padahal ia tidak berzina. Maka aku berdoa agar dijadikan seperti dia."

Kisah ini mengajarkan sebuah prinsip yang sangat dalam: apa yang tampak mulia di mata manusia belum tentu mulia di sisi Allah. Dan apa yang tampak hina di mata manusia belum tentu hina di sisi-Nya. Seorang yang dihina, dituduh, dipermalukan — bisa jadi ia lebih mulia di hadapan Allah daripada orang yang dipuja-puja masyarakat.


Doa Orang Tua: Antara Kebaikan dan Keburukan

Dari seluruh kisah yang dihadirkan dalam kajian ini, satu benang merah yang tidak boleh kita lewatkan adalah kekuatan doa orang tua — yang sudah disebutkan Rasulullah ï·º sebagai salah satu dari tiga doa yang pasti dikabulkan.

Doa orang tua untuk kebaikan anaknya mudah dikabulkan — karena tidak ada yang mendoakan seseorang dengan lebih tulus daripada orang tuanya. Dan doa orang tua untuk keburukan anaknya pun mudah dikabulkan — karena tidak ada orang tua yang mendoakan keburukan bagi anaknya kecuali hatinya sudah sangat terluka.

Kisah Juraij adalah buktinya. Ibunya tidak berniat menghancurkan Juraij — ia mendoakan sesuatu yang tampaknya ringan namun ternyata membawa cobaan besar. Bayangkan jika ibunya berdoa dengan sesuatu yang lebih berat — dampaknya bisa jauh lebih dahsyat.

Maka dua nasihat praktis yang penting:

Sebagai anak: Jangan pernah membuat orang tua sampai pada titik di mana mereka mendoakan keburukan bagi kita. Penuhi panggilan mereka, jaga perasaan mereka, dan jangan biarkan kejengkelan mereka menumpuk tanpa penyelesaian.

Sebagai orang tua: Berhati-hatilah dengan lisan ketika marah. Jangan mendoakan keburukan bagi anak-anak kita meskipun mereka menyebalkan, karena doa itu bisa dikabulkan. Biasakanlah lisan untuk mendoakan kebaikan — "Ya Allah, berilah hidayah kepada anakku" — bahkan di saat kita paling marah.


Mendakwahi Orang Tua yang Non-Muslim: Kesabaran Abu Hurairah

Kajian ini ditutup dengan sebuah pelajaran yang sangat relevan bagi siapa saja yang memiliki anggota keluarga yang belum memeluk Islam.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu selama bertahun-tahun mendakwahi ibunya yang masih musyrik. Sang ibu tidak hanya menolak — ia bahkan berani mencela Nabi ï·º di hadapan putranya. Abu Hurairah tidak membalas, tidak marah, tidak putus asa. Ia justru mendatangi Rasulullah ï·º dengan air mata: "Ya Rasulullah, doakanlah ibuku agar Allah memberi hidayah kepadanya."

Nabi ï·º berdoa. Dan Abu Hurairah bergegas pulang dengan hati penuh harapan. Sesampainya di depan rumah, pintu tertutup. Ia mendengar suara air. Ibunya memanggil dari dalam: "Tunggu di situ, jangan masuk dulu." Tidak lama kemudian, sang ibu keluar dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Abu Hurairah menangis — kali ini karena kegembiraan yang meluap-luap.

Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah dalam mendakwahi orang tua yang belum Muslim. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa mereka tidak bisa berubah hanya karena usia sudah tua atau keyakinan mereka sudah lama tertanam. Ada orang yang baru menemukan jalan Islam di usia 90-an tahun. Ada yang bersyahadat hanya tiga hari sebelum meninggal. Allah bisa membuka hati siapa pun, kapan pun, dengan cara yang tidak kita duga-duga.

Yang paling penting: sambil terus berdakwah dengan penuh kelembutan dan kesabaran, perbanyak doa. Mintalah pertolongan Allah untuk membuka hati orang tua kita. Dan ingatlah bahwa mendakwahi mereka adalah salah satu bentuk bakti tertinggi yang bisa kita berikan — karena tidak ada hadiah lebih berharga dari hidayah Islam yang kita sampaikan kepada mereka.


Kesimpulan

Dari kisah Juraij, kita belajar bahwa satu momen kelalaian dalam memenuhi panggilan orang tua bisa membawa cobaan yang tidak terduga — bukan karena Allah membenci Juraij, melainkan karena doa seorang ibu yang tersakiti memiliki kekuatan yang tidak bisa kita sepelekan.

Dari kisah bayi yang berbicara, kita belajar bahwa pandangan manusia dan pandangan Allah bisa sangat berbeda — dan yang berharga adalah bagaimana Allah menilai kita, bukan bagaimana manusia menilai kita.

Dan dari kisah Abu Hurairah, kita belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk mendakwahi orang tua — dan bahwa ketekunan dalam berdoa dan bersabar adalah kunci yang bisa membuka pintu hidayah yang tampaknya terkunci rapat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga lisan orang tua kita agar selalu mendoakan kebaikan bagi kita, menjaga hati kita agar tidak pernah membuat mereka terluka, dan menganugerahi kita dan orang tua kita hidayah serta keteguhan di atas Islam hingga akhir hayat. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. — https://www.youtube.com/watch?v=1vRSBZ2sNls



Posting Komentar

0 Komentar