Mukadimah: Masuk Surga dengan Rahmat Allah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Tidaklah seorang dari kalian masuk surga dengan amalnya."
Para sahabat bertanya, "Apakah engkau juga demikian, ya Rasulullah?" Beliau menjawab:
"Saya pun masuk surga bukan dengan amal saya, melainkan karena Allah meliputi saya dengan rahmat-Nya."
Dari sini para ulama merumuskan sebuah kaidah penting:
- Selamat dari neraka → dengan ampunan Allah
- Masuk surga → dengan rahmat Allah
- Level di surga → ditentukan oleh amal
Jadi amal kita bukan "tiket beli surga" — karena amal kita tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan surga yang sempurna dan abadi. Dua rakaat shalat sebelum Subuh saja pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya. Maka amal adalah sebab datangnya rahmat Allah, dan rahmat itulah yang memasukkan kita ke surga.
Urgensi meraih rahmat Allah sangat besar. Bahkan di hari kiamat yang paling dahsyat sekalipun — ketika bumi hancur, langit dilipat, matahari dilemparkan, manusia dibangkitkan dalam kepanikan — Allah tetap menampilkan nama Ar-Rahman. Allah berfirman: "Semua yang di langit dan di bumi akan datang kepada Ar-Rahman sebagai hamba." (QS. Maryam: 93)
Siapa yang dirahmati Allah pada hari itu, dialah yang selamat.
Dan satu hal lagi yang perlu diingat: tidak ada yang mewajibkan Allah untuk merahmati makhluk-Nya. Namun Allah mewajibkan diri-Nya sendiri untuk bersifat rahmat. Ia menulis di atas 'Arsy: "Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku." Maka ketika Allah merahmati seseorang, itu murni karena kebaikan-Nya yang tiada tara.
Lima Belas Amalan yang Mendatangkan Rahmat Allah
1. Bertakwa kepada Allah
Allah berfirman (QS. Al-A'raf: 156):
"Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu... dan Aku akan tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa."
Ada dua jenis rahmat Allah: rahmat 'ammah (umum) yang meliputi semua makhluk termasuk orang kafir, dan rahmat khassah (khusus) yang akan terus berlanjut hingga akhirat dan berujung pada masuknya seseorang ke surga. Rahmat khusus inilah yang hanya Allah berikan kepada orang-orang bertakwa.
Takwa secara bahasa berarti penghalang — menghalangi diri dari maksiat. Thalq bin Habib mendefinisikannya: "Engkau beramal dengan ketaatan berdasarkan dalil, berharap pahala dari Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat karena takut akan azab Allah."
Yang perlu diperhatikan: jangan meremehkan dosa kecil. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
"Seorang mukmin melihat dosa-dosanya seperti duduk di bawah gunung batu yang sewaktu-waktu bisa menimpanya. Sementara orang munafik melihat dosanya seperti lalat yang lewat di depan wajahnya — ia usir begitu saja."
Ibnu Qayyim menjelaskan: seseorang yang waspada terhadap dosa kecil akan terus waspada. Namun yang menggampangkan dosa kecil, lama-lama akan terjerumus yang lebih besar — ibarat berjalan di jalan berlumpur, membiarkan kaki sedikit kotor hingga akhirnya jatuh tersungkur sekalian.
2. Membaca Al-Quran dan Mengamalkannya
Allah berfirman (QS. Al-An'am: 155):
"Dan ini adalah Al-Quran yang Kami turunkan, penuh dengan berkah. Maka ikutilah dan bertakwalah, agar kalian dirahmati."
Di ayat lain, Allah menyebut Al-Quran sebagai mau'izhah (nasihat), syifa' (penyembuh penyakit hati), huda (petunjuk), dan rahmat bagi orang beriman.
Menariknya, ketika Allah menyebutkan sifat Ar-Rahman, hal pertama yang disebut adalah Al-Quran: "Ar-Rahman — allamal Quran" (QS. Ar-Rahman: 1-2). Seolah Allah ingin mengatakan: salah satu wujud kasih sayang-Ku yang paling nyata adalah Aku mengajarkan Al-Quran kepada kalian.
Semakin banyak kita bergaul dengan Al-Quran, semakin banyak rahmat Allah yang turun kepada kita.
3. Mendengarkan Al-Quran dengan Saksama
Allah berfirman (QS. Al-A'raf: 204):
"Apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan simaklah dengan sungguh-sungguh, agar kalian dirahmati."
Ada tiga tingkatan dalam mendengar:
- Sami' — sekadar mendengar suara masuk ke telinga
- Ijtima' — menyimak dengan lebih perhatian
- Insat — berusaha memahami dan meresapi maknanya
Yang Allah perintahkan adalah fastami'u wa ansitu — dengarkan dan simaklah. Bukan sekadar telinga yang menangkap suara, tetapi hati yang aktif merespons.
Ketika Al-Quran dibacakan di sebuah acara dan orang-orang malah sibuk dengan ponselnya — itu adalah bentuk mengabaikan firman Allah. Sebaliknya, setiap kali kita benar-benar menyimak dengan sungguh-sungguh, rahmat Allah turun kepada kita.
4. Memperbanyak Istighfar
Allah mengabadikan ucapan Nabi Shalih kepada kaumnya (QS. An-Naml: 46):
"Mengapa kalian tidak beristighfar kepada Allah, agar kalian dirahmati?"
Setiap istighfar mendatangkan rahmat Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sungguh beruntung orang yang mendapati dalam catatan amalnya istighfar yang banyak."
Para sahabat pernah menghitung istighfar Nabi dalam satu majelis: 100 kali. Beliau yang sudah dijamin surga, yang dosanya sudah diampuni, tetap beristighfar sebanyak itu. Karena beliau tahu setiap istighfar adalah pintu rahmat Allah.
Jadikan istighfar sebagai kebiasaan di setiap kesempatan: di perjalanan, di antrean, di waktu-waktu senggang. Astagfirullah... astagfirullah... Waktu terbaik untuk beristighfar adalah waktu sahur. Allah sendiri memuji orang-orang yang beristighfar di waktu sahur, dan disebutkan dalam dua ayat Al-Quran.
5. Mendirikan Shalat, Membayar Zakat, dan Taat kepada Rasulullah
Allah berfirman (QS. An-Nur: 56):
"Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasulullah — agar kalian dirahmati."
Ketaatan kepada Rasulullah mencakup menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Banyak perintah Nabi yang bertentangan dengan hawa nafsu kita — namun justru di situlah rahmat Allah tersimpan.
Allah mengingatkan:
"Seandainya Rasulullah mengikuti keinginan kalian dalam banyak perkara, tentu kalian akan susah."
Artinya, aturan dari Rasulullah justru dirancang untuk kebaikan kita — bukan untuk menyusahkan.
6. Mendamaikan dan Suka Berdamai
Allah berfirman (QS. Al-Hujurat: 10):
"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah di antara saudara-saudara kalian, dan bertakwalah — agar kalian dirahmati."
Ada sebuah kisah yang sangat menggugah: Rasulullah pernah keluar hendak mengabarkan kepada para sahabat kapan malam Lailatul Qadar, namun beliau mendapati dua orang sedang bertengkar. Akibatnya, Allah mencabut ilmu tersebut dari beliau. Rasulullah bersabda: "Mungkin itu lebih baik — namun itu adalah musibah."
Pertengkaran menghalangi turunnya rahmat Allah.
Untuk bisa berdamai, seringkali kita harus menjatuhkan sebagian hak kita. Bukan karena kita kalah, tapi karena kita memilih rahmat Allah di atas ego kita. Nabi menyebutkan salah satu ciri wanita penghuni surga adalah yang selalu kembali kepada suaminya meski ia yang dizalimi, dan berkata: "Saya tidak bisa tidur sampai engkau ridha kepadaku."
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam pertengkaran. Ngalah dalam urusan dunia untuk mendapatkan rahmat Allah — itu pilihan orang yang cerdas.
7. Ihsan dalam Beribadah kepada Allah
Allah berfirman (QS. Al-A'raf: 56):
"Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan."
Ihsan dalam beribadah adalah beribadah seakan-akan melihat Allah, atau minimal yakin bahwa Allah melihatmu. Rasulullah bersabda:
"An ta'budallaha ka'annaka tarahu, fa in lam takun tarahu fa innahu yaraka." (Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu demikian, maka sesungguhnya Allah melihatmu.)
Ketika seseorang shalat sambil menghayati bahwa Allah sedang menyaksikannya — membaca Al-Fatihah sambil menyadari bahwa Allah merespons setiap ayatnya — maka shalat itu pasti ikhlas dan pasti khusyuk.
Ketika seseorang hendak mentransfer sedekah dan merasakan "Allah sedang melihat jari saya mengetik angka ini" — ia tidak butuh pujian dari siapa pun. Allah sudah melihat, dan itu sudah cukup.
Ketika seseorang sedang marah kepada istrinya lalu menghadirkan "Allah sedang melihatku sekarang" — amarah itu reda dengan sendirinya.
Kapan kita menghadirkan rasa ini? Itulah ihsan. Dan itulah yang mendatangkan rahmat Allah.
8. Ihsan kepada Sesama Manusia
Ihsan yang kedua adalah berbuat baik kepada orang lain dalam segala bentuknya. Kepada pembantu, sopir, pegawai, tetangga — siapa pun yang kita temui, tanyakan pada diri sendiri: "Apa yang bisa aku berikan kepada orang ini?"
Dari ihsan kepada sesama ini, lahirlah satu cabang yang sangat penting: merahmati sesama makhluk. Rasulullah bersabda:
"Arrahimuna yarhamur rahman. Siapa yang merahmati, ia akan dirahmati oleh Ar-Rahman."
"Irhamu man fil ardh yarhamkum man fis sama'. Rahmatilah penghuni bumi, maka yang di langit akan merahmatimu."
Rahmat ini bersifat universal: kepada manusia, kepada anak-anak, kepada orang miskin, bahkan kepada hewan. Ada seorang wanita yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Seorang laki-laki yang hendak menyembelih kambing dan merasa iba kepada hewan itu pun mendapat rahmat Allah.
Tumbuhkan kepekaan rasa kasihan. Meski tidak mampu membantu secara materi, rasa kasihan itu sendiri sudah mendatangkan rahmat Allah.
9. Berhijrah dan Berjihad di Jalan Allah
Allah berfirman (QS. Al-Baqarah: 218):
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah — merekalah yang mengharapkan rahmat Allah."
Hijrah memiliki dua makna: meninggalkan tempat yang penuh maksiat demi lingkungan yang lebih baik, dan meninggalkan maksiat itu sendiri. Rasulullah bersabda:
"Al-muhajiru man hajara ma nahallahu 'anh — Muhajir yang sesungguhnya adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang."
Yang perlu diingat: hijrah tidak selalu berarti langsung nyaman. Para sahabat berhijrah dan menjadi miskin mendadak. Mereka tinggal di suffah masjid, makan kurma jatah setiap hari, kelaparan. Namun mereka tetap berhijrah karena Allah.
Jangan hijrah setengah-setengah. Jangan cari "ustaz yang fleksibel" agar tidak perlu benar-benar berkorban. Hijrah yang sungguh-sungguh, dengan segala pengorbanannya, itulah yang mendatangkan rahmat Allah.
10. Kerja Sama Shalat Malam Bersama Pasangan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu shalat, kemudian membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, ia percikkan air di wajahnya."
Dan berlaku pula sebaliknya untuk seorang istri yang membangunkan suaminya.
Ini adalah sebab utama kebahagiaan rumah tangga. Suami istri yang saling membangunkan untuk shalat malam, berdoa bersama, menangis bersama di hadapan Allah — rumah tangga seperti ini pasti diberkahi. Meski mobil tidak mewah, meski rumah sempit, rahmat Allah yang turun itu jauh lebih berharga dari segala kemewahan dunia.
11. Shalat Empat Rakaat Sebelum Ashar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar."
Shalat ini bukan termasuk rawatib yang wajib dijaga konsistensinya, namun kapan ada kesempatan dan semangat, kerjakanlah. Bisa dilakukan dengan dua salam dua rakaat, atau empat rakaat sekaligus dengan dua tasyahud seperti shalat Ashar.
12. Mendengar Hadits Nabi dan Menyampaikannya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Semoga Allah merahmati seseorang yang mendengar hadits dariku, menghafalnya, lalu menyampaikannya kepada orang lain."
Setiap hadits yang didengar, dihafal, dan disampaikan mendatangkan rahmat Allah. Bayangkan para muhaddits seperti Imam Ahmad yang menghafal satu juta hadits, atau Imam Bukhari yang menghafal 100.000 hadits sahih — betapa rahmat Allah tercurah deras kepada mereka.
13. Mengucapkan Kebaikan atau Diam
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Semoga Allah merahmati seorang hamba yang mengucapkan kebaikan sehingga ia mendapat pahala, atau diam dari keburukan sehingga ia selamat."
Sebelum berbicara, tanyakan: "Apakah ini baik untuk diucapkan?" Sebelum mengetik komentar di media sosial: "Apakah ini bermanfaat?" Kapan kita menahan lisan dari keburukan — baik dalam ucapan langsung maupun tulisan di dunia maya — rahmat Allah turun kepada kita.
Betapa banyak orang yang "terbunuh" oleh lisannya — di dunia maupun di akhirat. Jangan bangga dengan kefasihan berbicara jika tidak diimbangi dengan kebijaksanaan dalam memilih kata.
14. Mudah dalam Jual Beli, Menagih, dan Membayar Hutang
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Allah merahmati orang yang mudah ketika menjual, mudah ketika membeli, mudah ketika menagih, dan mudah ketika membayar hutang."
Mudah membeli berarti tidak menawar secara berlebihan, tidak mempersulit penjual yang sudah menetapkan harga wajar. Para ulama bahkan menyebut membeli tanpa menawar dengan niat bersedekah sebagai sedekah yang tidak diketahui tangan kiri.
Mudah menjual berarti tidak bersikeras pada harga hingga menyusahkan pembeli, apalagi untuk urusan-urusan kecil.
Mudah menagih berarti ketika menagih hutang dan orang yang berhutang belum mampu, kita memberi kelonggaran dengan ikhlas.
Mudah membayar hutang berarti menunaikannya tepat waktu atau bahkan lebih awal. Rasulullah bersabda: "Menunda-nunda bayar hutang bagi yang mampu adalah kezaliman."
15. Mudah Memaafkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Semoga Allah merahmati seorang hamba yang dizalimi oleh saudaranya — terkait harga diri atau hartanya — lalu saudaranya itu datang meminta dihalalkan, dan ia pun memaafkannya sebelum datang hari di mana tidak ada lagi dinar dan dirham."
Yang lebih utama lagi: memaafkan bahkan sebelum yang bersalah datang meminta maaf. Itulah puncak dari akhlak mulia.
Hidup lebih tenang dengan memaafkan. Hati lebih lapang. Rahmat Allah lebih banyak turun. Sementara menyimpan dendam hanya menyiksa diri sendiri dan membuang energi yang seharusnya digunakan untuk hal yang lebih bermakna.
Penutup
Dari kelima belas amalan ini, kita melihat satu benang merah yang indah: rahmat Allah bisa didatangkan dari berbagai pintu — dari ibadah ritual seperti shalat dan membaca Al-Quran, dari akhlak kepada sesama seperti memaafkan dan berdamai, dari cara berbisnis yang jujur, dari lisan yang terjaga, hingga dari kerja sama suami istri di sepertiga malam.
Doa para pemuda Ashabul Kahfi mengajarkan kita urutan yang tepat:
"Rabbana atina min ladunka rahmah, wa hayyi' lana min amrina rasyadaa." (Ya Rabb kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu, dan mudahkanlah urusan kami.)
Minta rahmat dulu. Urusan lainnya akan mengikuti.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala merahmati kita semua, di dunia ini maupun di akhirat kelak. Aamiin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sumber: — Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
Berdasarkan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. "Amalan Menambah Kasih Sayang Allah"
Sumber: youtube.com/watch?v=Ah-mA5q576A
0 Komentar