Pembuka: Ilmu Tanpa Keberkahan Seperti Mendung Tanpa Hujan
Di zaman ini, ilmu agama tersebar di mana-mana. Majelis taklim bertebaran. YouTube penuh dengan kajian. Dalam satu jam kita bisa menyerap banyak pengetahuan hanya dari layar ponsel.
Namun ada sesuatu yang hilang.
"Yang hilang hari ini bukan ilmunya. Yang hilang bukan penyampaian ayatnya dan hadisnya. Yang hilang adalah keberkahannya."
Tiga puluh tahun lalu, ilmu jarang, akses terbatas, ustadz langka. Namun kehidupan terasa lebih hangat, lebih damai, tidak ada polarisasi seperti sekarang. Hari ini ilmu berlimpah, tapi kejahatan sudah di luar batas normal — ada anak yang rajin ngaji tapi membenci orang tuanya, ada suami yang aktif kajian tapi istrinya tidak merasakan perubahan apa pun.
Ilmu tanpa keberkahan itu seperti mendung tanpa hujan — hanya menggelapkan, tidak memberi kesegaran.
Lalu apa yang menjadi penyebab hilangnya keberkahan itu? Salah satu yang paling dominan — dan inilah tema kajian ini — adalah sikap kita terhadap harta.
Harta dan Keluarga: Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan
Hubungan antara harta dan keluarga seperti bawang merah dan bawang putih dalam nasi goreng — tidak bisa dipisahkan. Keberkahan keluarga sangat dipengaruhi oleh kebersihan harta yang masuk ke dalamnya.
Ustadz Abu Bassam menceritakan kisah nyata yang telah menjadi kisah legenda dalam sejarah Islam:
Kisah Penjual Susu di Zaman Umar bin Khattab
Suatu malam, Umar bin Khattab sedang berkeliling. Ia mendengar dialog antara seorang ibu dan putrinya — seorang penjual susu. Sang ibu menyuruh putrinya mencampurkan air ke dalam susu agar untung lebih banyak. Putrinya menjawab dengan tenang:
"Ibu, kalau kita mencampurkan air, Umar bin Khattab akan menghukum kita kalau mengetahuinya."
Sang ibu berkilah: Umar tidak akan tahu.
Putrinya menjawab:
"Kalau Umar tidak tahu, bagaimana dengan Rabb-nya Umar dan Rabb kita? Allah pasti mengetahui apa yang kita lakukan."
Jawaban itu menggetarkan hati Umar bin Khattab yang mendengarnya dari luar. Pagi harinya, ia memerintahkan salah satu putranya untuk menikahi perempuan itu. Dan dari pernikahan itulah lahir salah satu keturunan yang namanya harum sepanjang sejarah: Umar bin Abdul Aziz — khalifah yang begitu adil hingga pada masanya tidak ada orang yang mau menerima zakat, dan serigala pun tidak menerkam domba karena begitu meluasnya keberkahan.
"Kebersihan harta yang dijaga oleh seorang wanita membawa dampak kualitas luar biasa pada anak keturunan yang dia miliki."
Sebaliknya, harta haram memisahkan dua orang yang telah disatukan Allah. Banyak pertengkaran rumah tangga yang tidak ada ujungnya, bukan karena tidak ada cinta, tapi karena ada harta haram yang masuk dan mencemari kehidupan keluarga itu.
Inti Kajian: Empat Perbedaan antara Dunia dan Rezeki
Banyak dari kita tidak bisa membedakan antara dunia dan rezeki — dua kata yang terlihat mirip namun maknanya sangat berbeda.
Ustadz Abu Bassam selalu berdoa:
"Ya Allah, sederhanakanlah duniaku, tetapi lapangkanlah rezekiku selapang-lapangnya."
Mengapa demikian? Karena setelah dipelajari dengan mendalam, keduanya sangat berbeda.
Perbedaan Pertama: Makna Kata
Dunia — setiap kali Allah menyebut kata dunia dalam Al-Quran, selalu dalam konteks yang negatif. Allah berfirman (QS. Al-Hadid: 20):
"Wa garratkumul hayatud dunya — dan kehidupan dunia telah memperdaya kalian."
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah meminta dunia dalam satu pun zikirnya. Beliau tidak pernah berdoa minta dinar, minta dirham, minta rumah. Karena dunia hanya disebut dalam makna yang negatif.
Rezeki — sebaliknya, selalu disebut Allah dalam konteks yang positif. Bahkan surga pun Allah sebut dengan kata rezeki. Allah berfirman (QS. At-Thalaq: 11):
"Qad ahsanallahu lahu rizqo — sungguh Allah telah memberikan rezeki terbaik untuknya."
Ayat ini berbicara tentang siapa yang dimasukkan ke surga. Allah menutupnya dengan kata rezeki — bukan dunia. Karena surga adalah puncak rezeki, dan kata dunia tidak layak untuk disandingkan dengan surga.
Zikir Nabi setiap pagi sebelum matahari terbit adalah:
"Allahumma inni as'aluka ilman nafi'an wa rizqon thayyiban — Ya Allah, aku memohon ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang baik."
Nabi meminta rezeki. Nabi tidak meminta dunia.
Maka mulai sekarang, ubah doa kita. Jangan minta dilapangkan dunianya — mintalah dilapangkan rezekinya. Doa untuk suami: "Ya Allah, lapangkan rezekinya." Doa untuk anak: "Ya Allah, mudahkan ia menjemput setiap rezeki-Mu."
Perbedaan Kedua: Sifatnya
Dunia tidak pernah memberi rasa cukup. Semakin dikejar, semakin haus. Seperti gula — semakin dikonsumsi, semakin mengidam. Seperti air laut — semakin diminum, semakin dahaga.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (HR. Baihaqi):
"Man kana hammuhud dunya, ja'alallahu faqrahu baina 'ainaihi — siapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, Allah akan meletakkan kacamata kekurangan tepat di pelupuk matanya."
Berapapun yang ia dapat, tidak pernah terasa cukup. Terus dikejar, terus diuber, sampai ajal memotong perjalanannya.
Rezeki menghadirkan rasa cukup. Kata rezeki identik dengan kata kafaf — mencukupi. Orang yang mendapat rezeki tahu kapan harus berhenti, tahu ada kewajiban lain selain mencari harta: salat, zikir, mendidik anak, berbakti kepada orang tua.
Kisah dunia yang tidak pernah memberi cukup diabadikan dengan indah dalam kisah Nabi Isa alaihissalam. Tiga orang menemukan emas. Setan datang kepada setiap hati mereka, memancingnya untuk membunuh yang lain demi mendapat seluruh emas. Akhirnya keempat orang yang terlibat mati sia-sia — tiga orang itu ditambah satu orang yang dibunuh sebelumnya. Nabi Isa melewati tempat itu dan menyaksikan empat bangkai di samping emas yang tidak bisa dibawa siapa pun. Beliau berkata:
"Hakadza taf'alud dunya bi ahliha — beginilah cara kerja dunia memperlakukan para pemburuknya."
Perbedaan Ketiga: Cara Mendapatkannya
Dunia ditetapkan berdasarkan takdir yang telah dituliskan Allah 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Sudah segitu yang ditetapkan — tidak akan bertambah karena dikejar-kejar.
Ini penting untuk diluruskan dari kalimat yang sering viral: "Proses tidak mengkhianati hasil." Allah berfirman (QS. Al-Isra: 18):
"Man kana yuridul 'ajilata 'ajjalna lahu fiha ma nasya'u liman nurid — barang siapa menghendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki."
Perhatikan: liman nurid — bagi yang Kami kehendaki. Tidak semua orang yang mengejar dunia akan mendapatkan dunia. Ada orang bekerja dari sebelum subuh hingga tengah malam, tapi hidupnya segitu-segitu saja. Ada orang yang hanya pasang iklan setengah hari, tapi ordernya membludak. Itulah kehendak Allah.
Rezeki ditetapkan berdasarkan proses ketaatan. Anak yang saleh itu rezeki — didapat karena ketaatan orang tuanya dalam mendidik. Ketenangan hati itu rezeki — datang karena proses ngaji dan dzikir. Ilmu yang bermanfaat itu rezeki — diperoleh karena usaha yang ikhlas.
Maka jangan katakan kepada anak: "Ayo cari dunia, Nak." Katakan: "Ayo jemput rezeki, Nak." Karena rezeki dibukakan Allah dengan tambahan yang dunia tidak bisa berikan.
Perbedaan Keempat: Konsekuensi di Akhirat
Dunia akan dihisab dengan hisab yang panjang. Setiap yang didapat dari jalan yang salah, setiap yang digunakan untuk kemaksiatan, semua akan dipertanggungjawabkan. Allah berfirman (QS. Al-Ahqaf: 20): pada hari kiamat, orang yang menghabiskan hidupnya untuk dunia akan ditanya: "Mana dunia yang kalian kejar-kejar itu? Mana?"
Rezeki justru meringankan hisab. Anak yang saleh akan mendoakan orang tuanya. Ilmu yang disebarkan akan terus mengalir pahalanya. Harta yang digunakan di jalan Allah akan menjadi pembela di hari kiamat.
Bukan Berarti Dilarang Kaya — Justru Harus Menjemput Rezeki
Memahami perbedaan ini bukan berarti kita harus miskin atau menjauhi harta. Justru sebaliknya — kita diperintahkan menjemput rezeki.
Allah berfirman (QS. Al-Jumu'ah: 10):
"Faidza qudiyatis shalatu fantasyiru fil ardhi wabtaghu min fadhlillah — kalau shalat sudah selesai, keluarlah dan carilah karunia Allah di muka bumi."
Allah sendiri yang menyuruh kita keluar dan mencari. Rezeki itu turun dari Allah — dan Allah ingin kita menjemputnya, bukan berpangku tangan.
Ustadz Abu Bassam menegaskan dengan filosofi Sunan Kudus: Gus Jigang — bagus ngajinya, bagus juga dagangnya. Pintar beribadah, pintar juga berbisnis. Karena keduanya tidak bertentangan.
Dan yang paling penting: rezeki di tangan orang saleh membawa banyak kebaikan. Kisah Imam Malik yang kaya raya membiayai perjalanan ilmu Imam Syafi'i ke Baghdad menjadi bukti. Kisah Abu Hasan Asy-Syaibani yang menghitung dinarnya sambil berkata kepada Imam Syafi'i: "Kalau dinar ini dipegang orang zalim dan pendosa, betapa banyak kerusakan yang terjadi. Biarlah ia di tangan kita, agar banyak madrasah terbangun dan banyak orang saleh terbantu" — itu juga bukti.
"Mencari dunia identik dengan jalannya setan. Tapi mencari rezeki identik dengan jalannya orang beriman."
Syukur: Kunci yang Sering Disalahpahami
Di awal kajian, Ustadz Abu Bassam juga meluruskan makna syukur yang sering dipahami keliru.
Banyak orang mengira syukur berarti harta akan bertambah secara kuantitas — dari motor jadi mobil, dari satu menjadi dua. Padahal bukan itu yang dimaksud Allah dalam firman-Nya (QS. Ibrahim: 7):
"La'in syakartum la'azidannakum — jika kalian bersyukur, sungguh Aku akan menambah."
Para ahli tafsir menjelaskan: la'azidannakum berarti Allah memberikan sukacita pada setiap karunia yang kamu miliki, meskipun karunia itu sudah lama kamu peroleh.
Mobil yang sudah tujuh tahun — rasa bahagianya tetap sama seperti pertama kali beli. Rumah yang sudah tujuh belas tahun — tetap terasa sebagai rumah yang penuh syukur. Pernikahan yang sudah sepuluh tahun — tetap hangat seperti hari pertama.
"Syukur tidak menjanjikan bertambahnya apa yang kita miliki. Syukur menjadikan yang sudah kita miliki tetap terasa berharga dan membahagiakan."
Itulah kekayaan yang tidak bisa dibeli uang.
Penutup: Mulailah Mengubah Cara Kita Berbicara
Satu perubahan kecil yang bisa dimulai hari ini: ganti kata "dunia" dengan "rezeki" dalam doa-doa kita.
- Bukan "Ya Allah, lapangkan dunia suamiku" — tapi "Ya Allah, lapangkan rezekinya."
- Bukan "Cari dunia dulu, Nak" — tapi "Jemput rezeki Allah, Nak."
- Bukan "Semoga dunianya lancar" — tapi "Semoga rezekinya berkah dan mencukupi."
Karena dari perubahan cara bicara, akan berubah pula cara kita memandang harta, cara kita bekerja, dan cara kita membangun keluarga.
Rezeki itu turun dari langit — "Wafis sama'i rizqukum wa ma tu'adun" (QS. Adz-Dzariyat: 22). Dan Allah ingin kita menjemputnya dengan tangan yang bersih, hati yang ikhlas, dan jiwa yang tahu kapan harus berhenti.
Semoga Allah memberkahi harta kita, membersihkan rezeki kita, dan menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Berdasarkan kajian Ustadz Abu Bassam Oemar Mita
Sumber: youtube.com/watch?v=NKHIuLJgHw8
0 Komentar