RS 56. Hari Terbaik dalam Hidup Kita — Kisah Ka'ab bin Malik (Bagian 13)

Lima puluh hari keheningan itu akhirnya berakhir. Taubat Ka'ab bin Malik, Murar bin ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah telah diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Kabar gembira itu diumumkan oleh Nabi ﷺ seusai shalat subuh, dan seluruh Madinah pun bergerak. Kini Ka'ab melangkah menuju satu tujuan: Rasulullah ﷺ.


Sujud Syukur: Sunnah yang Banyak Dilupakan

Ketika kabar gembira itu sampai, hal pertama yang Ka'ab lakukan adalah sujud. Ia sujud syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala — karena taubatnya diterima.

Dari sinilah al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah dan para ulama menyatakan disunahkannya sujud syukur ketika seseorang mendapatkan nikmat yang nyata dan jelas. Caranya sederhana: bertakbir, lalu sujud, lalu bangkit kembali. Dan para ulama menjelaskan bahwa sujud syukur diperbolehkan walau dalam kondisi tidak berwudhu — karena sujud syukur bukan shalat, sehingga tidak dipersyaratkan syarat-syarat shalat.

Tapi ada pelajaran besar di sini yang perlu kita camkan: sujud syukur bukan hanya untuk nikmat dunia. Nikmat yang diterima Ka'ab pada hari itu bukan berupa kenaikan jabatan, bukan keuntungan bisnis, bukan kabar kelulusan anaknya. Yang diterimanya adalah taubat — dan itulah yang membuatnya sujud.

Pernahkah kita sujud syukur ketika berhasil melewati ujian iman? Ketika berhasil melunasi hutang kepada Allah — meninggalkan maksiat yang bertahun-tahun kita lakukan? Ketika mendapat kabar bahwa amal ibadah kita diterima? Inilah nikmat yang sesungguhnya jauh lebih besar dari nikmat dunia manapun — dan inilah yang paling layak disambut dengan sujud.


Sepanjang Jalan Menuju Masjid: Ucapan Selamat yang Bergelombang

Ka'ab bergegas meminjam baju — karena dua bajunya sudah ia hadiahkan kepada pembawa kabar gembira — lalu melangkah menuju Rasulullah ﷺ. Dan sepanjang perjalanan menuju masjid, orang-orang datang bergelombang menyambutnya.

Orang-orang yang sama persis yang selama 50 hari mendiamkannya. Orang-orang yang sama yang tidak menjawab salamnya, yang berpaling ketika bertemu di pasar, yang tidak mau berbicara apapun dengannya — kini berdatangan dengan wajah-wajah bahagia, mengucapkan selamat:

"Selamat ya Ka'ab! Taubatmu diterima oleh Allah!"

Dan ini bukan kemunafikan. Ini bukan pura-pura. Selama 50 hari mereka mendiamkan Ka'ab bukan karena benci — mereka mendiamkannya karena itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan begitu perintah itu berakhir, kecintaan mereka kepada Ka'ab meluap tanpa bisa ditahan.

Inilah persahabatan yang sesungguhnya. Persahabatan yang landasannya bukan kepentingan dunia, bukan kesenangan semata, tapi ketaatan kepada Allah. Mereka rela menyakiti Ka'ab dengan hukuman itu — bukan karena ingin menyakiti, tapi karena itulah cara terbaik untuk menolong Ka'ab memurnikan taubatnya.


Thalhah bin Ubaidillah: Sahabat yang Bangkit Berlari

Ketika Ka'ab memasuki masjid, Nabi ﷺ sedang duduk dikelilingi para sahabat. Di saat itulah, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu — salah satu sahabat Muhajirin yang dipersaudarakan dengan Ka'ab — bangkit berdiri dan berlari-lari kecil mendekati Ka'ab, menyambutnya dan mengucapkan selamat.

Ka'ab berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan itu selama-lamanya."

Satu sikap sederhana — bangkit dan berjalan cepat mendekati — tapi membekas seumur hidup. Thalhah tidak hanya mengucapkan selamat dari tempat duduknya. Ia berdiri, ia bergerak, ia mendekat. Dan itu berarti segalanya bagi Ka'ab di hari yang paling emosional dalam hidupnya.

Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Sebuah senyum, sebuah sapaan, sebuah ucapan selamat, sebuah doa yang tulus — bisa menjadi sesuatu yang tidak pernah dilupakan oleh orang yang menerimanya seumur hidupnya. Ka'ab bin Malik, lima belas abad yang lalu, mengingat satu langkah kecil Thalhah bin Ubaidillah hingga akhir hayatnya.


Wajah Nabi ﷺ yang Berseri-seri

Ka'ab mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Dan beliau menceritakan: "Wajah Nabi ﷺ begitu berseri-seri karena kegembiraan beliau."

Inilah jawaban atas 50 hari penantian yang menyiksa itu. Di hari-hari pemboikotan, Ka'ab mencuri-curi pandang kepada Nabi ﷺ saat shalat — dan Nabi berpaling. Ka'ab merasa tidak diperhatikan, tidak direspon. Tapi hari ini ia melihat sendiri: wajah Nabi ﷺ bercahaya karena kegembiraan yang sesungguhnya.

Dan Nabi ﷺ pun bersabda: "Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau lewati semenjak hari engkau dilahirkan dari rahim ibumu."

Para ulama — termasuk al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Munawi rahimahumallah — menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah hari terbaik setelah hari keislaman seseorang. Karena taubat adalah penyempurna keislaman. Taubat menggugurkan seluruh kekeliruan yang lalu. Dan hari seseorang taubatnya diterima oleh Allah — setelah perjuangan panjang yang penuh air mata — adalah hari yang tidak tertandingi oleh nikmat dunia manapun.


Pertanyaan Ka'ab yang Menggugah

Ka'ab kemudian bertanya kepada Nabi ﷺ: "Ya Rasulullah, apakah kabar gembira ini berasal dari engkau, ataukah berasal dari sisi Allah?"

Pertanyaan yang sangat dalam. Karena bagi Ka'ab, kegembiraan hari itu belum terasa sempurna sampai ia tahu: dari mana datangnya pengampunan ini.

Nabi ﷺ menjawab: "Bukan dari saya, Ka'ab. Tapi dari sisi Allah Azza wa Jalla."

Subhanallah. Tiga kata yang mengguncang segalanya. Dari sisi Allah.

Dari sisi Allah yang punya surga. Dari sisi Allah yang punya neraka. Dari sisi Allah yang menjadi Malik Yaumiddin — Raja di hari pembalasan. Dari sisi Allah yang menentukan apa yang terjadi di alam kubur. Dari sisi Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bukan pengampunan dari manusia yang bisa keliru. Bukan pemaafan yang bisa dicabut kembali. Tapi dari Allah — dan pengampunan dari Allah adalah final, sempurna, dan abadi.


Hari Terbaik dalam Hidup: Hari Taubat Diterima

Nabi ﷺ menyebut hari penerimaan taubat itu sebagai hari terbaik dalam hidup Ka'ab sejak ia dilahirkan. Dan ini mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri: adakah hari seperti ini dalam hidup kita?

Masih ingatkah kita hari ketika kita benar-benar bertaubat kepada Allah — dengan air mata yang tulus, dengan hati yang hancur menyesal, dengan tekad yang bulat untuk tidak kembali? Hari ketika kita pertama kali sujud kepada Allah dengan kesadaran penuh? Hari ketika kita membaca Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu anni di sepuluh malam terakhir Ramadhan dan air mata mengalir tanpa bisa ditahan?

Momen-momen pertaubatan itu tidak ada duanya. Bukan karena hotel bintang lima saat haji. Bukan karena pemandangan indah di Arafah. Tapi karena di sana, kita benar-benar kembali kepada Allah — dan itu adalah seindah-indah pengalaman yang bisa dirasakan seorang hamba.

Ka'ab bin Malik, lima belas abad setelah peristiwa itu, masih bisa merasakan keindahan pagi hari ke-50 itu ketika ia menceritakannya kepada anaknya Abdullah. Dan kita yang mendengar kisahnya hari ini pun masih bisa merasakan getaran keindahan itu.


Syarat Merasakan Nikmatnya Taubat

Tapi ada syarat untuk bisa merasakan keindahan taubat seperti yang dirasakan Ka'ab. Nabi ﷺ bersabda tentang tiga perkara yang membuat seseorang merasakan manisnya iman — salah satunya adalah: "Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya."

Itulah yang kita saksikan dalam diri Ka'ab bin Malik. Begitu kabar taubatnya diterima, hal pertama yang ia cari bukan istrinya yang sudah 10 hari tidak ia temui. Tapi Rasulullah ﷺ. Ia pinjam baju, ia bergegas ke masjid, ia menuju Nabi ﷺ.

Apabila kita ingin merasakan lezatnya ibadah, indahnya taubat, dan manisnya iman — maka letakkanlah Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Di atas kepentingan dunia kita. Di atas kenyamanan kita. Di atas ego kita. Karena di sanalah pintu menuju keindahan yang Ka'ab rasakan di pagi hari ke-50 itu.


Penutup: Kisah Hampir Selesai

Ka'ab bin Malik sudah berdiri di hadapan Nabi ﷺ. Wajah Nabi berseri-seri. Kabar gembira sudah tersampaikan. Dan taubat sudah dinyatakan berasal dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala.

Di seri berikutnya, kita akan mendengar detik-detik terakhir dari kisah yang luar biasa ini — termasuk pelajaran-pelajaran akhir yang Ka'ab ambil dari perjalanan hidupnya yang menginspirasi jutaan orang.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita orang-orang yang merasakan keindahan taubat yang sesungguhnya, dan memberikan kita hari terbaik dalam hidup kita — hari ketika kita kembali kepada-Nya dengan sepenuh hati.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Riyadhus Shalihin — Sesi 56: Hari Terbaik dalam Hidup Kita Muhammad Nuzul Dzikri https://www.youtube.com/watch?v=O4Uoc14QOEA



Posting Komentar

0 Komentar