Ada orang yang hidupnya penuh ujian, namun tetap terlihat tenang dan bersyukur. Ada orang yang kehilangan banyak hal, namun justru semakin kuat dan bermartabat. Sebaliknya, ada orang yang hidupnya tampak sempurna dari luar — harta, jabatan, relasi — namun selalu gelisah dan tidak pernah merasa cukup.
Apa yang membedakan keduanya?
Rasulullah ï·º menjawabnya dalam hadits yang singkat namun sangat dalam, diriwayatkan oleh Shuhaib bin Sinan ar-Rumi radhiyallahu 'anhu:
"Menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan ini tidak terjadi pada siapa pun kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan lalu bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesulitan lalu bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)
Siapa Shuhaib ar-Rumi?
Sebelum menyelami isi hadits, ada baiknya kita mengenal siapa sosok yang meriwayatkannya. Shuhaib bin Sinan ar-Rumi radhiyallahu 'anhu bukan nama yang asing di kalangan para sahabat. Beliau tumbuh di tanah Romawi, namun akhirnya sampai di Makkah dan masuk Islam di hari yang sama dengan Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu — termasuk dalam gelombang pertama yang memeluk Islam.
Rasulullah ï·º bahkan menyebutnya sebagai perintis dari bangsa Romawi dalam sebuah hadits riwayat Thabarani: "Ada empat perintis: Aku adalah perintis bangsa Arab, Shuhaib perintis bangsa Romawi, Salman perintis bangsa Persia, dan Bilal perintis bangsa Etiopia."
Beliau dikenal sebagai salah satu pemanah terbaik di kalangan sahabat, berpendirian keras dalam kebenaran, dan mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah ï·º mulai dari Perang Badar. Dan kisah hijrahnya — sebagaimana telah kita bahas sebelumnya — adalah salah satu teladan paling indah tentang arti "menjual diri kepada Allah": melepas seluruh harta demi bisa bersama Rasulullah ï·º, dan disambut beliau dengan salam kemenangan: "Robahat-Shuhaib! — Shuhaib telah mendapat keuntungan besar!"
Hidup Hanya Dua Kondisi — dan Keduanya Baik bagi Mukmin
Para ulama menjelaskan bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya hanya berputar di antara dua kondisi: kelapangan atau kesempitan, senang atau susah, sehat atau sakit, kaya atau kekurangan. Tidak ada kondisi ketiga. Kita tidak mungkin selamanya dalam satu keadaan saja.
Yang membuat hadits ini luar biasa adalah pernyataan Rasulullah ï·º bahwa kedua kondisi itu sama-sama baik bagi seorang mukmin — dengan syarat: bersyukur saat lapang, dan bersabar saat sempit.
Namun beliau juga menegaskan bahwa keistimewaan ini tidak dimiliki oleh semua orang — hanya oleh seorang mukmin. Karena hanya imanlah yang memberi seseorang kemampuan untuk merespon kedua kondisi itu dengan cara yang tepat.
Hanya Iman yang Bisa Menjawab Seluruh Tantangan Hidup
Kecerdasan bisa membuka pintu kampus terbaik di dunia, tetapi tidak bisa membuat seseorang tenang saat kehilangan. Kekayaan bisa membeli fasilitas terbaik, tetapi tidak bisa membeli kedamaian hati di tengah ujian. Popularitas bisa menghadirkan banyak perhatian, tetapi tidak bisa menyelamatkan seseorang dari kekosongan di dalam jiwa.
Hanya iman — iman kepada Allah dengan segala dimensinya: kepada rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kepada malaikat, kepada Al-Qur'an, kepada para nabi dan rasul, kepada hari kiamat, dan kepada takdir-Nya — hanya iman inilah yang mampu membuat seseorang tampil menakjubkan dalam kondisi apa pun.
Inilah mengapa Rasulullah ï·º menyebut perkara mukmin sebagai sesuatu yang 'ajaban — menakjubkan. Karena tidak ada sistem nilai lain di dunia ini yang bisa membuat seseorang benar-benar baik-baik saja di semua keadaan, kecuali keimanan yang tertancap kuat di dalam hati.
Iman Bukan Berarti Meninggalkan Dunia
Penting untuk meluruskan kesalahpahaman yang sering muncul: beriman bukan berarti hanya duduk di masjid, tidak bekerja, dan tidak berjuang. Justru sebaliknya.
Di dalam iman ada perintah untuk bersungguh-sungguh. Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sempurna." Di dalam iman ada firman Allah yang memerintahkan untuk menepati janji dan komitmen. Di dalam iman ada semangat untuk berjuang, berikhtiar, dan memberikan yang terbaik.
Iman itu komprehensif — mencakup keyakinan dalam hati, ucapan yang benar, dan perbuatan yang selaras dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Iman sebagai Pondasi dalam Setiap Aspek Kehidupan
Ketika kita membangun rumah tangga, pastikan iman menjadi landasannya. Bukan hanya mencari pasangan yang tampan atau cantik, cerdas atau kaya — tetapi yang beriman. Karena hanya dengan iman, kehidupan rumah tangga akan melahirkan cerita-cerita yang menakjubkan.
Ketika kita mendidik anak, pastikan iman menjadi prioritasnya. Memfasilitasi kecerdasan anak itu baik, menyekolahkan mereka di tempat terbaik itu penting — tetapi jangan sampai keimanan terlupakan. Karena anak yang cerdas tanpa iman akan menjadi beban, sementara anak yang beriman akan menjadi penyejuk hati.
Ketika kita menjalin persahabatan, carilah sahabat yang beriman. Karena persahabatan yang dibangun di atas iman akan melahirkan saling menguatkan, bukan saling menggelincirkan.
Dan ketika kita menjalankan usaha dan pekerjaan, jadikan iman sebagai kompas. Jangan tinggalkan shalat di tengah kesibukan, jangan jauhkan diri dari majelis ilmu yang menguatkan keimanan, karena dari sanalah datang keberkahan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.
Hidup ini terus berputar antara lapang dan sempit, antara suka dan duka. Tidak ada yang bisa menghentikan putaran itu. Tetapi ada satu hal yang bisa membuat kita baik-baik saja di kedua kondisi itu — bahkan membuat hidup kita menakjubkan di mata Allah dan manusia.
Satu hal itu adalah iman.
Maka rawatlah iman ini. Perkuatlah ia dengan ilmu, amal, dan doa. Karena itulah satu-satunya bekal yang benar-benar cukup untuk menghadapi semua warna kehidupan.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 78. MUKMIN MENAKJUBKAN | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar