Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa ada orang yang hidupnya terasa sempit dan penuh kecemasan, padahal ia rajin beribadah, gemar bersedekah, dan tidak pernah meninggalkan shalat malam? Sebaliknya, mengapa ada orang yang hidupnya ditimpa berbagai ujian berat — kehilangan orang tercinta, menghadapi penyakit, bahkan kemiskinan — namun tampak begitu tenang dan lapang dadanya?
Jawabannya ada pada satu kesalahan mendasar yang sering kita buat tanpa kita sadari: kita salah menetapkan tujuan hidup. Kita mengejar bahagia, padahal Allah tidak pernah menjanjikan kebahagiaan di dunia. Yang Allah janjikan jauh lebih kuat dari itu — ketenangan dan kelapangan dada.
Kajian ini membahas sebuah tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: bukan soal bagaimana kita bahagia sepanjang umur, melainkan bagaimana kita meraih ketenangan dan kelapangan di sepanjang perjalanan hidup kita, dalam setiap takdir yang Allah tetapkan.
Tujuan Hidup Bukan Bahagia
Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup haruslah bahagia. Kita berlomba meraih kebahagiaan — karier yang bagus, keluarga yang harmonis, kesehatan yang prima. Dan ketika kebahagiaan itu tidak datang, kita kecewa. Bahkan, ada yang sampai marah kepada Allah.
Padahal, Allah tidak pernah berfirman demikian. Di dalam Al-Qur'an, Allah dengan tegas menyatakan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56)
Tujuan hidup bukan bahagia — tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah dengan menerima seluruh lintasan takdir yang terjadi pada kita. Inilah yang kerap kita lupakan.
Coba tanyakan kepada anak-anak dengan kondisi fisik yang tidak sempurna sejak lahir: apakah tujuan hidup mereka harus bahagia? Coba tanyakan kepada mereka yang menghadapi penyakit menahun, atau kepada orang tua yang merawat anak berkebutuhan khusus puluhan tahun lamanya. Terasa tidak adil bukan, jika standar hidup kita adalah harus bahagia?
Ada kisah nyata yang sangat menyentuh: seorang ibu yang dua orang anaknya mengalami cerebral palsy sejak lahir. Selama puluhan tahun, ia memandikan, menyuapi, dan merawat kedua anaknya itu dengan penuh keikhlasan. Ia pernah berkata kepada salah satu anaknya yang kemudian menjadi ustadz: "Tidak ada takdir yang cacat. Yang cacat itu cara kita membacanya." Dan di penghujung hidupnya, sore hari ia masih memandikan kedua anaknya — malamnya ia terserang serangan jantung, dan menjelang subuh ia kembali kepada Allah. Hidupnya bukan tentang bahagia. Hidupnya tentang ibadah.
Bahagia Mutlak Hanya Ada di Surga
Ada satu fakta Al-Qur'an yang sangat mengejutkan namun mencerahkan: Syekh Ali Mutawali Asy-Sya'rawi, seorang ulama besar, menyatakan bahwa dalam seluruh Al-Qur'an dari awal hingga akhir, kata bahagia hanya disebut satu kali oleh Allah — dan tempatnya bukan di dunia.
Allah berfirman:
وَاَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِى الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا
"Adapun orang-orang yang berbahagia, maka mereka berada di dalam surga, mereka kekal di dalamnya." (QS. Hud: 108)
Satu kali saja. Dan itu di surga.
Ini bukan berita buruk — ini adalah koreksi arah. Selama ini kita mengejar sesuatu yang memang tidak tersedia sepenuhnya di dunia. Kebahagiaan sejati yang mutlak, yang tidak dibayangi kesedihan, perpisahan, rasa sakit, dan kesulitan — itu hanya ada di surga. Adapun di dunia, kita pasti akan berjumpa dengan keempat bayangan itu: perpisahan, kesulitan, kesedihan, dan rasa sakit.
Rasulullah ﷺ sendiri merasakan ini. Ada satu tahun dalam sejarah Islam yang disebut 'Āmul Huzn — Tahun Kesedihan — ketika Khadijah radhiyallahu 'anha dan Abu Thalib wafat. Bahkan beliau ﷺ menangis ketika putranya Ibrahim meninggal dunia. Saat itu sahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu bertanya, "Apa ini, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab dengan indah:
"Innal 'uyūna tadma' wal qulūba tahzan, wa lā nardho illā biqodri Rabbinā." "Sesungguhnya mata boleh menangis, hati boleh bersedih, namun jiwa kami tetap rida kepada keputusan Allah."
Itulah lapang. Menangis, namun rida. Bersedih, namun tidak memberontak kepada Allah.
Yang Benar Bukan Bahagia, Tapi Tenang dan Lapang
Jika tujuan hidup bukan bahagia, lalu apa yang seharusnya kita kejar? Jawabannya ada dalam Al-Qur'an: ketenangan (sakinah) dan kelapangan (syarh al-shadr).
Perhatikan bagaimana Allah menghibur Nabi-Nya yang paling Ia cintai di dalam surah Al-Insyirah. Allah tidak berfirman, "Bukankah Aku telah membahagiakan kamu, wahai Muhammad?" Tidak. Allah berfirman:
"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?" (QS. Al-Insyirah: 1)
Abu Jahal masih hidup saat itu. Para pembenci Nabi masih aktif memusuhi. Khadijah dan Abu Thalib telah tiada. Namun Allah tidak menjanjikan hilangnya ujian — Allah menjanjikan lapangnya dada dalam menghadapi ujian itu.
Hal yang sama kita temukan pada doa Nabi Musa 'alaihissalam ketika menghadapi Fir'aun — musuh terbesar di zamannya. Beliau tidak berdoa, "Ya Allah, matikan Fir'aun." Beliau berdoa:
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْۙ
"Ya Rabbi, lapangkanlah dadaku." (QS. Thaha: 25)
Begitulah cara para nabi menghadapi beban besar: bukan dengan meminta masalah dihilangkan, melainkan dengan meminta hati dilapangkan. Sebab selama hati lapang, sebesar apapun masalah tidak akan menghancurkan kita.
Allah pun mengajarkan hal yang sama melalui kisah ibunda Maryam 'alaihassalam. Dalam kondisi hamil tanpa suami, seorang diri, ia mengeluh kelelahan di bawah pohon kurma. Allah tidak langsung menghilangkan ujiannya. Yang Allah lakukan adalah menenangkannya: makan, minum, dan tenangkan jiwamu. (QS. Maryam: 26) Allah memiliki seribu cara untuk menenangkan hamba-Nya — dan cara-Nya selalu indah, bahkan ketika tampak sederhana.
Mengapa Kita Gagal Mendapat Ketenangan dan Kelapangan
Ada tiga perkara yang membuat seseorang sulit mendapatkan ketenangan dan kelapangan dalam hidupnya. Pada kesempatan ini, kita akan membahas yang pertama dan paling mendasar.
Pertama: Menyakiti dan Menzalimi Orang Lain.
Sesaleh apapun kita — rajin tahajud, rutin sedekah, hafal Al-Qur'an — jika kita pernah menyakiti orang lain dan belum meminta maaf atau mengembalikan haknya, demi Allah kita tidak akan pernah benar-benar tenang dan lapang.
Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan kisah nyata yang sangat kuat: seorang pembesar yang merampas ikan nelayan dan memukulnya dengan kasar. Malamnya, ketika makan, jarinya tertancap duri ikan. Dalam hitungan hari, infeksi menjalar begitu cepat — jauh lebih cepat dari yang mungkin secara medis — hingga tangannya harus diamputasi satu persatu. Seorang ulama yang menyaksikan hal itu langsung mengenali penyebabnya: doa orang yang dizalimi. Ketika si nelayan diminta memaafkan, ia berkata bahwa doa yang ia panjatkan adalah: "Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu atas orang yang telah menzalimiku."
Kisah ini bukan sekadar cerita dramatis. Ini adalah peringatan keras: doa orang yang terzalimi langsung naik kepada Allah, tidak terhalang apapun.
Rasulullah ﷺ sendiri, seratus hari sebelum wafat, mengumpulkan seluruh sahabatnya dan bertanya: "Siapa di antara kalian yang pernah aku sakiti? Balaslah kepadaku sebelum datangnya hari ketika harta dan nyawa tidak lagi bermanfaat." Beliau ingin pulang kepada Allah dalam keadaan bersih dari hak-hak manusia.
Sunah Nabi ﷺ sangat kaya dengan pengaturan yang tujuannya satu: jangan menyakiti orang. Mengetuk pintu hanya tiga kali agar tidak mengganggu tuan rumah. Tidak berdiri tepat di depan pintu agar privasi tetap terjaga. Tidak makan bawang saat berkumpul agar bau mulut tidak mengganggu. Bahkan ketika masak daging pun, Nabi menganjurkan untuk memperbanyak kuah, supaya tetangga yang hanya mencium aromanya tidak merasa tersiksa.
Islam bukan hanya tentang ibadah ritual — Islam sangat serius dalam menjaga perasaan sesama manusia.
Di sisi lain, kebaikan yang kita lakukan kepada orang — sekecil apapun — juga tidak akan hilang begitu saja. Sebuah kebaikan memberi jalan kepada kebaikan yang lain. Ada kisah tentang pengalaman di pintu tol: memberi kesempatan satu kendaraan untuk masuk antrian, ternyata di lain hari, dalam situasi yang tertukar, ada orang lain yang memberikan kelapangan serupa. Bukan kebetulan — inilah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan.
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ"Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri." (QS. Al-Isra: 7)
هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ
"Bukankah balasan kebaikan itu adalah kebaikan pula?" (QS. Ar-Rahman: 60)
Dua penyebab lainnya yang turut merampas ketenangan dan kelapangan adalah jarang berdoa dan banyak melakukan dosa dan maksiat. Keduanya akan dibahas lebih dalam pada kesempatan berikutnya.
Hidup Ini Adalah Perjalanan Pulang
Salah satu cara paling indah untuk memahami kematian — dan dengan begitu memahami hidup — adalah dengan analogi dua bayi di dalam rahim. Bayangkan dua bayi yang sedang bercakap di dalam rahim ibunya. Satu bertanya kepada yang lain, "Katanya ada kehidupan setelah rahim ini. Tapi bukankah di sana ada kejahatan, kesulitan, dan rasa sakit?"
Yang satu lagi menjawab, "Betul. Tapi di sana ada seorang wanita yang mencintai kita melebihi kita mencintai diri sendiri — kita akan memanggilnya ibu. Dan ada seorang laki-laki yang siap melindungi kita — kita akan memanggilnya ayah. Ada sungai, lautan, buah-buahan... semuanya jauh lebih indah dari rahim ini. Kita hanya perlu melewati sempitnya jalan keluar terlebih dahulu."
Dan tidak ada bayi yang pernah ingin kembali ke rahim ibunya setelah lahir.
Demikianlah seharusnya kita memandang kematian. Allah pun tidak menyebutnya dengan kata mati yang berat. Di dalam surah Al-Fajr, Allah menggunakan diksi yang penuh kehangatan:
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ
"Pulanglah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida lagi diridai." (QS. Al-Fajr: 28)
Allah memakai kata pulang. Bukan mati. Bukan pergi. Pulang — kata yang menawarkan kehangatan dan kerinduan. Seperti seorang anak kecil yang semangat mendengar kabar "hari ini pulang pagi" — ada rasa gembira menyambutnya.
Orang yang berprasangka baik kepada Allah adalah orang yang bergembira saat berjumpa dengan-Nya. Dan semakin panjang umur yang kita isi dengan ketaatan, semakin kita mengenal Allah, semakin kita tidak takut menghadapi kepulangan itu.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Kalau aku bisa memilih, aku ingin sekali diwafatkan dalam kondisi tua, agar aku banyak belajar dari setiap lintasan takdir yang Allah berikan."
Kesimpulan
Hidup bukan tentang mengejar kebahagiaan yang tak ada ujungnya. Kebahagiaan sejati — yang abadi, tanpa bayangan duka — hanya ada di surga. Adapun di dunia, yang bisa kita kejar dan raih adalah ketenangan dan kelapangan dada.
Mulailah dengan memperbaiki hubungan kita dengan sesama: periksa siapa yang pernah kita sakiti, siapa yang pernah kita zalimi, siapa yang hartanya pernah kita ambil tanpa hak. Minta maaflah sebelum kaki tidak lagi mampu melangkah dan tangan tidak lagi mampu berjabat. Karena selama ada hamba Allah yang mengadukan kita di hadapan-Nya, tidak akan ada ketenangan yang benar-benar hinggap di hati kita.
Kemudian jadikanlah setiap takdir — manis maupun pahit — sebagai ladang ibadah. Sebab kita bukan hamba yang beribadah hanya ketika keadaan baik. Kita adalah hamba yang tetap lapang dada, tetap rida, tetap berbaik sangka kepada Allah — dalam setiap kondisi yang Ia pilihkan untuk kita.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kajian "Sebuah Seni Menikmati Kehidupan" oleh Abu Bassam Oemar Mita — Oemar Mita Syameela YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=jL1V6HgP8ms
0 Komentar