TS 03. Di Balik Akhlak Para Ulama: Adab sebagai Fondasi Ilmu yang Berkah

Pernahkah kita bertanya-tama, mengapa sebagian orang yang berilmu justru semakin angkuh, sementara yang lain semakin rendah hati dan lembut? Jawabannya sering kali bukan pada seberapa banyak ilmu yang mereka miliki, melainkan pada seberapa kokoh adab yang menopang ilmu tersebut.

Dalam kajian kitab Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim karya Imam Ibnul Jama'ah, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri mengajak kita menyelami tradisi mulia para ulama — tradisi yang tidak hanya mewarisi ilmu, tetapi juga mewariskan karakter. Kitab yang agung ini dibuka oleh penulisnya dengan pujian kepada Allah dan selawat kepada Nabi Muhammad ï·º. Bukan sekadar formalitas pembuka, melainkan sebuah sikap yang berakar dari kesadaran mendalam: ilmu yang tidak dibersamai rahmat Allah tidak akan pernah benar-benar bermanfaat.

Imam As-Sakhawi dalam kitab Al-Qaulul Badi' menganjurkan tradisi ini kepada para ulama. Sebab bagi manusia, selawat kepada Nabi ï·º bermakna permohonan rahmat kepada Allah. Para ulama ingin agar setiap huruf yang mereka tuliskan disinari cahaya ilahi, bukan sekadar meninggalkan warisan intelektual semata.

Masa Muda: Investasi Terbaik untuk Adab

Imam Ibnul Jama'ah menegaskan bahwa adab adalah hal yang paling layak diprioritaskan oleh orang-orang yang berakal sehat — dan secara khusus, beliau menyebut para pemuda. Mengapa pemuda?

Karena masa muda adalah tanah yang paling subur untuk menanamkan karakter. Di usia inilah jiwa masih lentur, kebiasaan mudah dibentuk, dan hati belum terlalu penuh oleh beban urusan duniawi. Jika adab ditanamkan sejak dini, ia akan tumbuh menjadi fondasi yang kokoh sebelum kesibukan hidup datang menghimpit dari segala penjuru.

Sebaliknya, ilmu yang datang tanpa adab ibarat bangunan megah yang berdiri di atas pasir. Imam Ibnul Jama'ah memandang bahwa ilmu tanpa adab tidak hanya kehilangan keberkahannya, tetapi bisa berbalik menjadi bahaya bagi pemiliknya sendiri — menjadi sumber kesombongan, perselisihan, atau bahkan kesesatan.

Adab Bukan Hadiah, Melainkan Hasil Perjuangan

Salah satu poin yang paling perlu direnungkan dalam kajian ini adalah bahwa adab dan akhlak mulia bukanlah sesuatu yang datang secara instan. Ia bukan bawaan lahir semata, bukan pula hasil membaca satu-dua buku dalam semalam.

Dibutuhkan kerja keras, kelelahan, dan kesabaran yang panjang dalam proses menempa diri. Seorang penuntut ilmu harus terus-menerus mengawasi hatinya — apakah niatnya masih lurus? Apakah perilakunya masih selaras dengan tuntunan syariat? Pengawasan ini bukan dilakukan sekali lalu selesai, melainkan menjadi kegiatan seumur hidup.

Inilah yang membedakan para ulama sejati dari sekadar orang yang memiliki banyak pengetahuan. Mereka tidak berhenti di tataran teori. Mereka berkeringat, bersusah payah, dan terus bermuhasabah hingga ilmu itu benar-benar menyatu dengan karakter mereka.

Syukur: Kunci Menjaga dan Menambah Ilmu

Setiap kali mendapatkan pemahaman baru dalam agama, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri menekankan pentingnya bersyukur. Bukan syukur yang hanya di bibir, melainkan syukur yang tulus dari dalam hati.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini adalah jaminan ilahi. Syukur atas ilmu yang kita terima hari ini adalah pintu bagi ilmu yang lebih dalam esok hari. Sebaliknya, keangkuhan dan rasa cukup diri adalah tembok yang menghalangi bertambahnya pemahaman.

Lebih jauh, Ustadz juga mengutip firman Allah:

"Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.'" (QS. Yunus: 58)

Kegembiraan sejati seorang mukmin seharusnya berpusat pada karunia Al-Qur'an dan ilmu agama — sesuatu yang nilainya jauh melampaui harta benda, jabatan, atau kesenangan duniawi apa pun.

Profil Penuntut Ilmu yang Ideal

Kajian ini juga merinci sifat-sifat yang seharusnya menghiasi diri seorang penuntut ilmu. Tiga di antaranya sangat mendasar.

Pertama, tawadhu (rendah hati). Seorang penuntut ilmu yang sejati tidak memiliki keinginan untuk menonjolkan diri atau mencari panggung. Hatinya merasa kecil di hadapan kebesaran Allah, sehingga semakin ia belajar, semakin ia menyadari betapa sedikit yang ia ketahui.

Kedua, ikhlas. Seluruh aktivitas menuntut ilmunya ditujukan hanya untuk meraih rida Allah — bukan untuk mendapat pujian manusia, bukan untuk mengejar gelar duniawi, dan bukan pula untuk sekadar dipandang alim oleh orang sekitar. Ikhlas adalah ruh dari setiap amal, termasuk amal menuntut ilmu.

Ketiga, pengendalian diri. Salah satu tanda ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah kemampuan seseorang mengendalikan amarahnya. Semakin dalam ilmu agama yang dimiliki, seharusnya seseorang semakin bijak, semakin tenang, dan semakin mampu menahan diri di saat emosi bergejolak. Jika ilmu justru membuat seseorang mudah marah dan keras hati, itu pertanda ada yang tidak beres dalam perjalanan menuntut ilmunya.

Ilmu yang Mengubah Karakter

Pada akhirnya, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri mengingatkan bahwa ilmu agama bukan sekadar wawasan yang mengisi kepala. Ia adalah alat transformasi karakter — sesuatu yang seharusnya mengubah cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain.

Proses ini terjadi secara bertahap. Dengan rutin mendengarkan ayat-ayat Allah dan hadits Nabi ï·º, hati yang tadinya keras perlahan akan melunak. Perilaku yang kasar akan berangsur-angsur berganti menjadi kesantunan. Amarah yang mudah meledak akan terkikis oleh ketenangan yang tumbuh dari pemahaman.

Inilah yang dimaksud dengan ilmu yang berkah — ilmu yang tidak berhenti di akal, tetapi turun ke hati dan terwujud dalam akhlak.

Kesimpulan

Adab bukan pelengkap ilmu. Ia adalah fondasi ilmu itu sendiri. Para ulama yang kita kagumi bukan hanya karena mereka menghafal banyak teks atau menguasai banyak disiplin ilmu. Mereka dikagumi karena ilmu itu telah mengubah mereka menjadi manusia yang lebih baik — lebih rendah hati, lebih ikhlas, lebih terkendali, dan lebih dekat kepada Allah.

Semoga kita termasuk dalam golongan penuntut ilmu yang tidak hanya sibuk mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga sungguh-sungguh menempa karakter. Karena di situlah letak keberkahan ilmu yang sesungguhnya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri — Sesi 03: Di Balik Akhlak Para Ulama (Syarah Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim) | Tonton di YouTube



Posting Komentar

0 Komentar