Sepanjang sejarah, para filosof dan cendekiawan telah menghabiskan seluruh hidup mereka untuk menjawab satu pertanyaan besar: apa tujuan hidup manusia? Mereka menyelami berbagai agama, filsafat, dan pandangan dunia — namun sering kali justru berakhir dengan kebingungan yang lebih dalam dari sebelumnya.
Namun Al-Qur'an hadir dengan jawaban yang jernih, padat, dan transformatif. Satu ayat saja mampu memotong seluruh kompleksitas itu dan menerangi makna keberadaan kita di muka bumi. Ayat ini bukan sekadar teologi — ia adalah cetak biru kehidupan yang, ketika benar-benar dipahami dan diamalkan, mengubah cara kita menetapkan prioritas, mengambil keputusan, membangun hubungan, dan menghadapi setiap ujian.
Ayat yang dimaksud adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Adz-Dzariyat:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْاِÙ†ْسَ اِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُÙˆْÙ†ِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini adalah fondasi. Bukan hanya bagi seorang laki-laki, bukan hanya bagi kaum Muslimin — melainkan bagi seluruh makhluk ciptaan Allah, yang dikenal maupun yang tidak kita kenal. Semuanya diciptakan untuk satu tujuan: ibadah.
Tujuan yang Berbeda dari Dunia
Di berbagai komunitas pengembangan diri pria — baik yang bersifat positif maupun yang sekadar tren — selalu ada satu titik awal yang ditekankan: jadilah orang yang punya tujuan hidup. Nasihat ini tidak sepenuhnya salah. Namun persoalannya ada pada apa yang dijadikan jangkar dari tujuan tersebut.
Ketika seorang pria non-Muslim berkata, "Tujuan hidupku adalah menjadi suami yang baik, ayah yang bertanggung jawab, dan pria yang terhormat" — semua itu terdengar mulia. Tetapi apa yang mendasarinya? Nilai-nilai budaya? Warisan leluhur? Filosofi yang dibangun di atas fondasi manusiawi semata? Fondasi seperti ini rapuh — karena ia tidak memiliki akar yang menjangkau lebih dalam dari diri manusia itu sendiri.
Seorang Muslim memiliki jawaban yang berbeda dan jauh lebih kokoh: tujuan hidupku adalah beribadah kepada Allah, dan segala yang aku lakukan adalah manifestasi dari ibadah itu. Aku bekerja keras untuk ibadah. Aku menikah untuk ibadah. Aku menjaga kesehatan untuk ibadah. Ini bukan hanya tentang menjadi baik — ini tentang untuk siapa kebaikan itu dipersembahkan. Dan jawabannya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tiga Hikmah di Balik Penciptaan
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami mengapa Allah menciptakan kita. Setidaknya ada tiga hikmah besar yang dapat kita petik.
Pertama, untuk mewujudkan ibadah yang terbaik. Allah tidak menciptakan kita sekadar agar kita shalat lima waktu secara mekanis tanpa ruh. Ia menghendaki keunggulan dalam ibadah. Allah berfirman bahwa Dia menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kita yang paling baik amalnya (QS. Al-Mulk: 2). Seorang laki-laki yang memahami ini tidak berpuas diri dengan ibadah yang biasa-biasa saja. Ia terus berjuang memperbaiki niat, memperdalam kekhusyukan, dan menjadikan seluruh hidupnya sebagai bentuk penghambaan yang tulus.
Kedua, untuk diuji. Allah menciptakan segala peristiwa yang mengelilingi hidup kita — bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai ujian. Apakah kita sabar ketika diberi cobaan? Apakah kita bersyukur ketika mendapat nikmat? Apakah kita tetap adil ketika marah? Rasulullah ï·º mengajarkan bahwa kesabaran terbagi tiga: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar atas takdir Allah. Sebuah perceraian yang menyakitkan, seorang anak yang lahir dengan keterbatasan, rencana yang gagal total — semua itu adalah ujian. Dan ujian selalu ada jawaban yang benar, yaitu kembali kepada Allah.
Ketiga, untuk mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah menciptakan langit dan bumi, mengatur segala peristiwa di dalamnya, agar kita sampai pada kesimpulan: Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah meliputi segalanya (QS. Ath-Thalaq: 12). Ketika kita menyaksikan kelahiran seorang bayi setelah beberapa kali keguguran, kita mengenal Ar-Rahman. Ketika kita diampuni setelah banyak berbuat dosa, kita mengenal Al-Ghaffar. Inilah salah satu hikmah terbesar penciptaan — mengenal Allah melalui pengalaman hidup.
Kenapa Allah Menciptakan Kita, Padahal Ia Tidak Membutuhkan Kita?
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul dan harus dijawab dengan benar, karena salah memahaminya bisa membawa pada kesimpulan yang keliru.
Ketika manusia melakukan sesuatu, biasanya ada dua alasan: memenuhi kebutuhan, atau sekadar iseng tanpa tujuan. Namun Allah tidak tunduk pada logika ini. Allah tidak memiliki kebutuhan. Dia adalah Ar-Razzaq — Yang Maha Memberi Rezeki. Sang Pemberi tidak butuh diberi. Dia adalah Al-Qadir — Yang Maha Kuasa. Kekuasaan-Nya tidak bergantung pada siapa pun.
Allah sendiri menegaskan dalam ayat berikutnya dari Surah Adz-Dzariyat: "Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh." (QS. Adz-Dzariyat: 57-58)
Jadi Allah menciptakan kita bukan karena butuh, melainkan karena kehendak-Nya yang penuh hikmah. Dan hikmah itu sepenuhnya untuk kebaikan makhluk-Nya. Ketidaktahuan kita tentang mengapa sesuatu terjadi bukanlah bukti bahwa tidak ada hikmah di baliknya. Kita adalah makhluk yang terbatas — bahkan kapasitas otak yang kita gunakan pun tidak sepenuhnya termanfaatkan. Kerendahan hati ilmiah yang sejati adalah mengakui bahwa ada hal-hal yang berada di luar jangkauan pemahaman kita, namun tetap berada dalam lingkup kebijaksanaan Allah.
Tiga Pilar: Fondasi, Manifestasi, dan Pemisah
Ayat tentang tujuan hidup ini mengandung tiga pilar yang saling berkaitan erat.
Fondasi: Iman yang Mengakar
Pilar pertama adalah fondasi, yaitu iman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kata iman sendiri dalam bahasa Arab berasal dari akar kata yang berarti keamanan dan ketenangan. Semakin kuat iman seseorang, semakin kokoh rasa amannya — bukan karena dunia menjamin segalanya, tetapi karena ia tahu bahwa Allah yang mengendalikan segalanya.
Fondasi ini dimulai dari kalimat syahadat: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad ï·º adalah utusan-Nya. Ini bukan sekadar lafaz di bibir — ini adalah pernyataan penuh tentang dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kepada siapa kita akan kembali.
Ketika seorang laki-laki memahami bahwa ia diciptakan oleh Allah, bahwa segala yang ada di sekelilingnya pun diciptakan oleh Allah, maka ia tidak akan merasa bahwa dunia ini sepenuhnya ada dalam genggamannya. Inilah yang membuat seorang Muslim berbeda dari konsep stoicism atau self-help yang mengklaim bahwa manusia adalah penentu mutlak takdirnya. Kita memiliki pilihan dan tanggung jawab, namun Allah-lah yang memegang kendali akhir atas segala sesuatu.
Manifestasi: Mengaktifkan Iman dalam Kehidupan
Pilar kedua adalah manifestasi — bagaimana iman itu diwujudkan dalam keseharian. Banyak Muslim yang memiliki keyakinan kepada Allah, namun pertanyaannya: apakah iman itu aktif?
Kunci dari manifestasi iman adalah ikhlas — ketulusan niat yang murni karena Allah. Allah berfirman:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus."
Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh menikah karena tertarik kepada seseorang, atau tidak boleh bekerja karena menginginkan penghasilan. Islam tidak menafikan fitrah manusia. Namun ada lapisan yang lebih dalam: motivasi utama dari semua itu haruslah Allah. Aku menikah karena aku ingin membangun keluarga yang taat kepada-Nya. Aku bekerja keras karena aku ingin menjaga amanah nafkah yang Allah titipkan padaku.
Obat untuk menjaga ketulusan ini adalah dzikrullah — mengingat Allah. Membaca Al-Qur'an adalah bentuk dzikir terbaik. Seorang laki-laki yang membiasakan diri shalat berjamaah bersama keluarganya, membaca Al-Qur'an setiap hari, dan menjaga hatinya dari syubhat (kerancuan pemikiran) dan syahwat (dorongan hawa nafsu) — ia sedang secara aktif memanifestasikan imannya.
Kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam adalah teladan yang paling gamblang. Ketika istri Al-Aziz menguncinya dalam ruangan tertutup dan mengajaknya berbuat keji, Nabi Yusuf berlari menjauh. Bukan karena tidak ada peluang — justru secara situasional semua peluang ada. Tetapi rasa takut kepada Allah lebih kuat dari segala dorongan yang lain. Itu adalah manifestasi iman yang sejati.
Pemisah: Identitas yang Terbentuk dari Konsistensi
Pilar ketiga adalah pemisah — bahwa ketika seseorang secara konsisten memanifestasikan imannya, ia akan secara alami teridentifikasi dan terpisah dari mereka yang tidak menempuh jalan yang sama.
Ini bukan pemisahan yang penuh kebencian atau eksklusivitas yang sombong. Ini adalah identitas yang terbentuk dari konsistensi amal. Ketika seorang Muslim di tempat kerja selalu menyempatkan shalat Dhuhur meskipun hanya lima menit, rekan-rekannya akan mengenalinya. Ketika ia ditanya, "Kamu dari agama apa?" — itulah momen dakwah yang lahir dari konsistensi ibadah, bukan dari ceramah panjang.
Para ulama menyebut tiga pilar ini sebagai inti dari taqwa: iman (fondasi), ikhlas (manifestasi), dan mutaba'ah — mengikuti Sunnah Nabi Muhammad ï·º (kepatuhan yang menghasilkan pemisahan). Aisyah radhiyallahu 'anha menggambarkan Rasulullah ï·º sebagai "Al-Qur'an yang berjalan" — seseorang yang begitu konsisten mengamalkan wahyu Allah sehingga seluruh kepribadiannya menjadi cermin dari ajaran-Nya.
Relevansi di Tengah Krisis Identitas Laki-Laki
Di era ini, kita menyaksikan krisis yang nyata. Angka perceraian meningkat, bahkan di kalangan Muslim. Konsep gender semakin kabur. Para pemuda kehilangan arah — tidak tahu siapa mereka dan untuk apa mereka hidup.
Ini bukan fenomena yang tiba-tiba muncul. Sejak Revolusi Industri, para ayah ditarik keluar dari rumah menuju pabrik. Peran dan identitas laki-laki dalam keluarga mulai kabur. Tanpa fondasi yang jelas, generasi demi generasi mencari pengganti identitas di tempat yang salah.
Islam memberikan jawaban yang utuh: identitas seorang laki-laki Muslim berakar pada imannya, tumbuh dari ketulusannya, dan tampak nyata dalam ketaatannya kepada Allah dan Sunnah Nabi-Nya ï·º. Inilah yang membedakan seorang Muslim dari berbagai gerakan "maskulinitas" yang menawarkan deskripsi yang baik, namun dengan resep yang keliru. Mereka benar bahwa seorang pria harus punya tujuan — tetapi tujuan tanpa Allah adalah bangunan tanpa pondasi.
Kesimpulan
Ayat 56 dari Surah Adz-Dzariyat bukan sekadar ayat tentang ibadah ritual. Ia adalah deklarasi total tentang siapa kita, mengapa kita ada, dan bagaimana seharusnya kita menjalani setiap momen kehidupan.
Fondasi yang kokoh dimulai dari iman yang benar kepada Allah. Iman itu kemudian diaktifkan melalui ikhlas — ketulusan niat dalam setiap tindakan, besar maupun kecil. Dan dari konsistensi ketulusan itu, terbentuklah identitas yang membedakan seorang Muslim dari yang lainnya — bukan dengan arogansi, melainkan dengan kejelasan.
Ketika seorang laki-laki benar-benar memahami ayat ini dan menjadikannya kompas hidupnya, maka setiap peran yang ia emban — sebagai suami, ayah, anak, rekan kerja, warga masyarakat — akan dijalani dengan arah yang jelas dan motivasi yang benar. Dan dari sanalah segala kebaikan lainnya akan mengalir, dengan izin dan berkah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: ceramah Syaikh Abdullah Oduro, "The Purpose Of A Man's Life In One Verse" — tonton di sini
0 Komentar