AM 68. Sedekah Setiap Sendi dan Bahaya Lisan yang Tak Terjaga

Sesi 68 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Tahukah kita bahwa dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, dan setiap satu darinya wajib disedekahkan setiap hari? Ternyata sedekah tidak selalu berbentuk uang—sepatah kata baik, seteguk air yang diberikan, bahkan menyingkirkan duri dari jalan pun terhitung sedekah. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab saqyul ma' (sedekah air minum), dilanjutkan dengan beberapa bab tentang bahaya saling mencaci maki dan menuduh kekafiran atau kefasikan.

360 Sendi, 360 Sedekah Setiap Hari

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:

"Pada setiap anak Adam terdapat 360 persendian. Wajib bagi setiap sendi itu, setiap harinya, untuk disedekahkan. Setiap kata yang baik adalah sedekah, membantu saudaramu adalah sedekah, seteguk air yang engkau berikan kepadanya adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kelenturan sendi yang kita rasakan setiap hari adalah nikmat besar yang jarang disadari—baru terasa nilainya ketika seseorang mengalami nyeri sendi, rematik, atau asam urat. Setiap nikmat, sebagaimana ditegaskan Allah subhanahu wa ta'ala, akan ditanyakan pada hari kiamat, dan bukti syukur atasnya adalah dengan menggunakannya untuk beribadah. Beliau menguraikan bahwa hadis ini mengajarkan makna sedekah yang jauh lebih luas dari sekadar materi: kata-kata baik, bantuan kepada sesama, dan bahkan salat Dhuha dua rakaat disebutkan dalam riwayat lain sebagai pengganti seluruh kewajiban sedekah atas 360 sendi tersebut.

Ustadz Firanda menekankan pentingnya air sebagai kebutuhan mendasar manusia setelah udara—bahkan lebih vital daripada makanan, sebagaimana dibuktikan oleh praktik water fasting yang memungkinkan seseorang bertahan berhari-hari tanpa makan namun tetap minum. Beliau menceritakan pengalamannya bertemu Syekh Albani rahimahullah yang pernah berpuasa 40 hari hanya dengan minum air sebagai metode pengobatan tradisional Arab (himyah). Karena betapa pentingnya air bagi kehidupan, sedekah berupa air minum—seperti keran umum yang sering dijumpai di masjid-masjid dan rumah-rumah di Arab Saudi—menjadi sedekah yang sangat mulia.

Kata-kata Baik sebagai Sedekah: Renungkan Sebelum Berbicara

Ustadz Firanda menyoroti bahwa hadis ini sengaja disandingkan dengan pembahasan sebelumnya tentang saling mencela, sebagai isyarat bahwa sebelum membalas cacian atau berbicara sembarangan, seseorang hendaknya berpikir dan memilih kata-kata terbaik—karena itu bernilai sedekah. Beliau mengutip firman Allah, "Ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik," dan mengingatkan bahwa setan senantiasa siap "menggoreng" ucapan yang keliru untuk mengadu domba. Beliau mendorong jamaah untuk membiasakan lisan berkata baik terutama kepada orang-orang terdekat—pasangan, anak, kerabat—karena merekalah yang paling berhak menerima "sedekah lisan" ini, bukan justru ucapan ceplas-ceplos tanpa pertimbangan.

Dua Orang Saling Mencaci: Dosa Kembali kepada yang Memulai

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab al-mustabbani (dua orang yang saling mencaci), dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:

"Dua orang yang saling mencaci maki, maka dosa dari apa yang mereka ucapkan kembali kepada yang memulai, selama pihak yang dizalimi tidak melampaui batas." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa Islam membolehkan balasan yang setimpal, namun mengingatkan bahwa manusia hampir selalu kesulitan membalas secara benar-benar proporsional—kecenderungan alaminya adalah membalas lebih dari yang diterima. Karena itulah memaafkan dan menahan diri jauh lebih aman dan lebih besar pahalanya, sebagaimana firman Allah bahwa siapa yang memaafkan dan berbuat baik, pahalanya ditanggung langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Namimah: Adu Domba yang Merusak dalam Sekejap

Al-Imam Bukhari membawakan hadis tentang bahaya menukil pembicaraan dari satu pihak ke pihak lain dengan tujuan mengadu domba (namimah)—sebuah perbuatan yang meski disampaikan dengan kata-kata jujur, tetap dilarang keras karena bertujuan merusak. Ustadz Firanda mengaitkan hal ini dengan definisi ghibah yang juga bersifat jujur namun tetap berdosa: "Menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai; jika benar itulah ghibah, jika tidak benar maka itu fitnah." Beliau menegaskan bahwa namimah bahkan lebih berbahaya daripada sihir dalam merusak hubungan, karena sihir membutuhkan waktu lama untuk menghancurkan ikatan pernikahan atau persahabatan, sementara adu domba bisa menghancurkannya dalam sekejap.

Beliau mengaitkan larangan ini dengan hadis tentang tawadhu, di mana Rasulullah ï·º bersabda bahwa Allah mewahyukan kepadanya agar umat manusia saling tawadhu, agar tidak ada yang menzalimi yang lain. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kesombonganlah yang seringkali menjadi akar dari kata-kata kasar—seseorang berbicara ceplas-ceplos kepada bawahan, pembantu, atau pasangan karena tidak menganggap mereka layak dihormati, padahal ketawadhuan sejati akan membuat seseorang senantiasa memilih kata-kata terbaik kepada siapa pun.

Dua Orang yang Saling Mencaci adalah Dua Setan

Al-Imam Bukhari membawakan hadis dari Iyadh bin Himar radhiyallahu 'anhu, ketika ia bertanya kepada Rasulullah ï·º apakah boleh membalas seseorang yang mencacinya di hadapan orang-orang yang berkedudukan lebih rendah darinya. Rasulullah ï·º menjawab:

"Dua orang yang saling mencaci maki adalah dua setan yang bicaranya ngelantur dan saling mendustakan." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kemarahan yang meluap membuat seseorang kehilangan kendali diri sepenuhnya—inilah yang dimaksud "kesetanan", karena dalam kondisi tersebut seseorang cenderung membalas jauh melampaui batas kewajaran. Beliau memberikan ilustrasi tragis: seorang penjual bensin yang tewas dibunuh hanya karena ucapan penghinaan seketika dari pembelinya—bukti nyata betapa berbahayanya emosi yang tidak terkendali.

Mencaci Muslim adalah Kefasikan, Memeranginya adalah Kekufuran

Al-Imam Bukhari membawakan hadis penting dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:

"Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kata "kekufuran" di sini merujuk pada kufur ashghar (kufur kecil)—dosa besar yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, berbeda dari kufur akbar yang membatalkan keislaman secara total. Beliau menegaskan bahwa mencaci maki seorang muslim tergolong dosa besar karena menjatuhkan harga diri seseorang, dan luka akibat lisan seringkali lebih sulit sembuh dibandingkan luka fisik. Rasulullah ï·º sendiri, sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, tidak pernah berkata keji, melaknat, atau mencela—jika hendak menegur, beliau hanya berkata, "Mengapa dia begitu?" tanpa kata-kata yang menjatuhkan.

Bahaya Menuduh Fasik dan Kafir tanpa Dasar

Kajian ditutup dengan hadis dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:

"Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, kecuali tuduhan itu akan kembali kepadanya jika ternyata yang dituduh tidak demikian." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menegaskan bahwa mengkafirkan seorang muslim tanpa dasar yang jelas adalah dosa besar yang sangat berbahaya, sebagaimana dicontohkan oleh kaum Khawarij yang gemar mengkafirkan sesama muslim di luar golongan mereka meski rajin beribadah, sehingga Rasulullah ï·º menyebut mereka sebagai "anjing-anjing penghuni neraka." Beliau menyinggung fenomena kelompok-kelompok kontemporer yang mengkafirkan siapa pun yang tidak berbaiat kepada "imam" mereka sendiri, sebuah praktik yang sangat berbahaya karena menggantungkan keimanan dan kekufuran seseorang bukan pada dalil syar'i, melainkan pada loyalitas kepada figur tertentu. Beliau mengingatkan bahwa perbuatan seseorang bisa saja tergolong kekufuran, namun memvonis pelakunya sebagai kafir memerlukan tahapan dan syarat yang ketat—bukan perkara yang boleh diucapkan sembarangan.

Penutup

Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa sedekah memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar harta—setiap kata baik, setiap bantuan kecil, bahkan seteguk air yang diberikan kepada sesama adalah bentuk syukur atas nikmat 360 sendi yang Allah anugerahkan. Di sisi lain, lisan yang tidak terjaga—baik dalam bentuk cacian, adu domba, maupun tuduhan kekafiran tanpa dasar—dapat menjerumuskan seseorang ke dalam dosa besar yang mengerikan, bahkan menyeret pelakunya ke dalam "kesetanan" yang membutakan akal sehat. Kunci dari semua ini adalah ketawadhuan hati, yang akan menuntun lisan untuk senantiasa memilih kata-kata terbaik kepada siapa pun yang kita temui.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menjadikan setiap kata dan perbuatan kita sebagai sedekah yang bermanfaat, serta dijauhkan dari kesombongan yang membuat lisan kita melukai sesama. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar