Pernahkah kita merasakan iman sedang di titik yang sangat rendah — salat terasa hambar, Al-Qur'an jarang tersentuh, hati terasa kering dan jauh dari Allah? Perasaan itu bukan sekadar bunga tidur. Itulah yang dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah disebut sebagai Al-Iman yazidu wa yanqusu — iman itu naik dan turun. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Ini bukan kelemahan pribadi semata — ini adalah sunnatullah yang harus kita pahami dan sikapi dengan serius.
Rasulullah ï·º telah mengabarkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ath-Thabarani: "Inna l-imana layahluu fi jaufikum kama yahluu ats-tsawbu, fas'alullaha an yujaddida l-imana fi qulubikum" — Sesungguhnya iman itu benar-benar menjadi usang dalam rongga dada kalian, sebagaimana pakaian yang usang. Oleh karena itu, mohonlah kepada Allah agar Dia memperbarui iman dalam hati kalian.
Betapa tepatnya perumpamaan itu. Pakaian yang terus dipakai tanpa pernah dicuci dan diperbaiki akan semakin kusam dan akhirnya tidak layak pakai. Begitu pula iman — jika tidak dirawat, tidak disiram, tidak diperbaharui, ia akan mengering dan kita semakin merasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terlebih di zaman kita ini: begitu banyak hal yang membuat iman cepat usang — jauh dari Al-Qur'an, larut dalam kesibukan dunia, terlalu banyak menyerap berita duniawi, dan terlalu mudah terpejam di hadapan kemaksiatan yang tersebar di mana-mana.
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri dalam Al-Qur'an memerintahkan kita untuk terus menambah iman. Dalam surat An-Nisa ayat 136, Allah berfirman: "Ya ayyuhalladzina amanu aminu billahi wa rasulih..." — Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah! Ada yang menarik secara bahasa: Allah menyebut "wahai orang yang beriman" kemudian memerintahkan lagi "berimanlah." Dalam kaidah bahasa Arab, ketika seseorang sedang mengerjakan sesuatu lalu diperintahkan untuk melakukan hal yang sama, itu berarti ia diperintahkan untuk menambah apa yang sudah ia lakukan. Seperti seseorang sedang makan, lalu dikatakan kepadanya "Makanlah!" — berarti ia diperintahkan menambah porsinya. Demikianlah kita — meskipun sudah beriman — diperintahkan untuk terus menambah dan memperbaharui keimanan.
Dua Pilar Utama
Secara umum, memperbarui dan menambah iman kembali kepada dua hal. Pertama: menjalankan ketaatan kepada Allah — semakin banyak ibadah dan amal saleh yang kita lakukan, semakin iman kita naik. Kedua: meninggalkan kemaksiatan — semakin jauh kita dari dosa, semakin iman kita terjaga dan terus bertambah.
Berbanding lurus sebaliknya: semakin kita malas beribadah, semakin cepat iman kita usang. Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, semakin cepat iman kita merosot. Dari dua prinsip inilah lahir berbagai kiat praktis yang bisa kita amalkan dalam keseharian.
Kiat Pertama: Perbanyak Zikir — Nutrisi Harian bagi Hati
Zikir adalah cara paling mudah dan paling efektif untuk memperbaharui iman. Rasulullah ï·º pernah ditanya oleh para sahabat: "Ya Rasulullah, bagaimana kami memperbaharui iman kami?" Beliau menjawab: "Perbanyaklah mengucapkan La ilaha illallah." Zikir tauhid — kalimat keesaan Allah — adalah penyubur iman yang paling utama.
Rasulullah ï·º bersabda dalam Shahih Bukhari: "Mitsalul ladzi yadzkurullaha wa ladzi la yadzkuruhu kamisalil hayyi wal mayyit" — Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati. Sungguh berbeda hati yang hidup dengan hati yang mati. Bahkan Rasulullah ï·º juga bersabda: rumah yang di dalamnya ada zikir kepada Allah berbeda dengan rumah yang tidak ada zikir — seperti perbedaan antara orang hidup dan orang mati.
Sebagian salaf berkata: "Mengingat manusia adalah penyakit hati — menumbuhkan hasad, dongkol, marah, gibah, namimah. Adapun mengingat Allah adalah obat bagi hati."
Lalu, kapan dan bagaimana berzikir? Kita perlu membuat jadwal — sama seperti kita menjadwalkan urusan dunia. Beberapa zikir yang dianjurkan:
Zikir pagi petang — di antaranya: "Asbahtu 'ala fitratil-Islam wa kalimatil-ikhlas wa 'ala millatin-nabiyyina Muhammadin ï·º wa 'ala millati abina Ibrahima hanifan wa ana minal mushrikin." Dengan zikir ini, kita menegaskan di pagi hari bahwa kita berada di atas fitrah Islam dan kalimat ikhlas — tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah. Juga: "Radhitu billahi rabban wa bil-islami dinan wa bimuhammadin ï·º nabiyyan wa rasulan" — Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ï·º sebagai nabiku. Bukan sekadar hafalan — ini adalah pernyataan jiwa yang bila dihayati, benar-benar menambah keimanan.
Zikir sebelum tidur — di antaranya: "Allahumma qini 'adhabaka yauma tab'athu 'ibadak" — Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu tatkala Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu. Atau doa yang sangat indah: "Subhanakallahumma wa bihamdika, bika wadha'tu wajhi wa bika arfa'u, in amsakta nafsi faghfirha, wa in arsaltaha fahfazha bima tahfazu bihi 'ibadakas salihin" — Mahasuci Engkau ya Allah, dengan-Mu aku meletakkan (tidur), dan dengan-Mu aku mengangkat diri kembali. Jika Engkau menahan ruhku, ampunilah ia. Dan jika Engkau mengembalikannya, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh. Adapun zikir mutlak yang bisa dilakukan kapan saja: "Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar", istigfar, La hawla wa la quwwata illa billah (simpanan dari simpanan-simpanan surga), dan shalawat kepada Nabi ï·º.
Al-Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan kriteria zikir terbaik: diucapkan dengan lisan, sinkron dengan hati, dipahami maknanya, dan dilakukan dalam kondisi sedang beribadah. Inilah puncak zikir yang benar-benar menambah iman. Bukan zikir yang diucapkan tergesa-gesa tanpa penghayatan — itulah mengapa banyak yang berzikir namun imannya tidak terasa bertambah. Bacalah zikir pelan-pelan, nikmati setiap kalimatnya, resapi maknanya — di situlah zikir terasa lezat dan benar-benar menyegarkan hati.
Kiat Kedua: Baca Al-Qur'an dengan Tadabur
Semakin kita jauh dari Al-Qur'an, semakin iman kita melemah. Allah berfirman: "Ma anzalna 'alayka l-qurana litashqa" (QS. Ta-Ha: 2) — Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu agar kamu sengsara. Para ulama menafsirkan: justru Al-Qur'an adalah sumber kebahagiaan. Allah juga berfirman: "Wa nunazzilu minal qur'ani ma huwa syifa'un wa rahmatun lil mu'minin" (QS. Al-Isra: 82) — Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur'an adalah syifa' — obat untuk penyakit hati.
Allah memperingatkan tentang bahaya menjauh dari Al-Qur'an dalam surat Al-Hadid ayat 16: "Alam ya'ni lilladhina amanu an takhsha'a qulubuhum lidhikrillah... wa la yakunu kalladhina utul kitaba min qablu fa'ala 'alayhimul amadu faqasat qulubuhum" — Belumkah saatnya bagi orang beriman untuk khusyuk hatinya karena mengingat Allah? Janganlah mereka menjadi seperti Ahlul Kitab yang hati mereka akhirnya menjadi keras karena jauh dari kitab suci mereka. Kaum Yahudi tidak membaca Taurat, tidak mentadaburinya, tidak mengamalkannya — dan hati mereka pun mengeras.
Allah mendorong kita: "Kitabun anzalnahu ilayka mubarakun liyatadabbaru ayatih" (QS. Shad: 29) — Kitab yang penuh berkah, agar mereka mentadaburi ayat-ayatnya. Dan: "Afala yatadabbarunal qurana am 'ala qulubin aqfaluha" (QS. Muhammad: 24) — Mengapa mereka tidak mentadaburi Al-Qur'an? Ataukah hati-hati mereka ada gemboknya?
Lihatlah Nabi ï·º — terutama di bulan Ramadan, beliau membaca Al-Qur'an bersama Jibril 'alaihissalam. Setiap melewati ayat tentang surga, tentang neraka, tentang hisab dan sirat — hati beliau semakin bergetar. Inilah yang menjadikan beliau semakin dermawan di bulan Ramadan, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Maka bacalah Al-Qur'an setiap hari — buat target sederhana, walau satu halaman. Jangan sekadar membaca tanpa memahami. Pelajari terjemahannya, sempatkan mempelajari tafsirnya. Beda sekali antara orang yang membaca Al-Fatihah sambil memahami artinya dengan yang tidak. Beda lagi orang yang tahu tafsirnya. Semakin dalam pemahaman kita, semakin kuat iman yang bertambah setiap kita membacanya.
Kiat Ketiga: Salat yang Serius — Pertemuan Langsung dengan Allah
Salat adalah ibadah yang paling dicintai Allah — begitu agungnya hingga ketika Nabi ï·º mi'raj, Allah menetapkan salat 50 waktu sehari. Setelah Nabi ï·º berkali-kali memohon keringanan, barulah menjadi 5 waktu. Mengapa 50 awalnya? Karena salat adalah ibadah yang paling mudah menambah keimanan.
Namun salat yang menambah iman adalah salat yang serius — bukan yang asal-asalan, tergesa-gesa, dan pikiran melayang ke mana-mana. Allah berfirman: "Alladzi yaraka hina taqum wa taqallubaka fis sajidin" (QS. Asy-Syu'ara: 218-219) — Allah melihatmu ketika kamu berdiri salat, dan melihat perubahan gerakanmu di antara orang-orang yang sujud. Allah sedang memandang kita saat salat. Menyadari hal ini seharusnya mengubah segalanya.
Dan Allah pun merespons setiap bacaan kita. Dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim: ketika hambaku membaca "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin", Allah berkata: "Hamidani 'abdi" — hambaku sedang memuji-Ku. Ketika membaca "Arrahmanirrahim", Allah berkata: "Athnaa 'alayya 'abdi" — hambaku sedang menyanjung-Ku. Ketika membaca "Maliki yaumiddin", Allah berkata: "Majjadani 'abdi" — hambaku sedang mengagungkan-Ku.
Kita sedang berbincang langsung dengan Allah! Rasulullah ï·º bersabda: "Inna ahadakum idha kana fis salati fa-innahu yunaji rabbahu" — Sesungguhnya salah seorang dari kalian ketika sedang salat, ia sedang berbincang-bincang dengan Rabbnya. Maka shalatlah seolah kita berhadapan langsung dengan Allah. Nikmati setiap bacaan, hayati setiap gerakan.
Nabi ï·º pernah bersabda kepada Bilal radhiyallahu 'anhu: "Ya Bilal, arih'na biha" — Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengannya (salat). Salat adalah istirahat, bukan beban. Beliau juga bersabda: "Waj'ulat qurrata 'ayni fis salat" — Dijadikan penyejuk hatiku pada salat. Bahkan Imam Ahmad rahimahullah di masa sehatnya melaksanakan 300 rakaat sehari — di antara salat fardu dan berbagai salat sunah. Begitulah kecintaan para salaf kepada salat.
Untuk kita: shalatlah sebelum waktunya habis, berwudu dengan tenang, hadiri salat berjamaah di masjid, nikmati salat qabliyah. Anggaplah setiap salat adalah salat terakhir kita — itulah yang akan membuat kita benar-benar khusyuk dan serius dalam setiap rakaatnya.
Kiat Keempat: Hadir di Majelis Ilmu
Majelis ilmu adalah cara yang terlihat sederhana namun pengaruhnya besar terhadap keimanan. Malaikat Allah mencari majelis-majelis zikir — termasuk majelis ilmu. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa seseorang yang hadir di majelis ilmu — meskipun tidak berniat untuk menuntut ilmu atau berzikir — tetap akan mendapat cipratan keberkahan dari orang-orang yang hadir. Begitu murahnya Allah dalam memberikan berkah kepada siapa pun yang duduk bersama orang-orang saleh.
Di zaman kita, kajian online memang mudah diakses. Tapi ada keberkahan yang berbeda ketika kita benar-benar hadir secara fisik — membawa anak dan istri menuju masjid, duduk bersama saudara-saudara seiman antara Maghrib dan Isya, fokus mendengar kajian dengan hati yang hadir. Setiap ilmu baru yang kita pelajari — tentang akhirat, tentang iman kepada malaikat, tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah — menambah wawasan keimanan yang nyata.
Kiat Kelima: Renungkan Akhirat — Obat untuk Hati yang Terlalu Duniawi
Rasulullah ï·º bersabda: "Aktsiru min dzikri hadzimil ladhdhat" — Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. Di zaman kita yang penuh dengan konten kemewahan dunia — influencer yang memamerkan mobil mewah, jam tangan branded, dan gaya hidup menggiurkan — hati kita tanpa sadar terus terisi dengan kecintaan dunia. Dan ketika dunia memenuhi hati, akhirat tergeser.
Ada sebuah ungkapan yang tepat: dunia dan akhirat bagaikan dua madrah yang saling cemburu. Siapa yang semakin banyak memikirkan dunia, akhirat semakin tergeser. Siapa yang mengisi hatinya dengan akhirat, kecintaan dunia akan mereda dengan sendirinya.
Maka renungilah kondisi akhirat secara nyata: kematian — kapan ia datang, sudahkah kita siap? Pertanyaan Munkar dan Nakir di dalam kubur. Hari hisab — ketika Allah membuka catatan amal, apa isinya? Apakah berita politik yang kita ikuti setiap hari? Drama Korea yang kita tonton episode demi episode? Atau ayat-ayat Al-Qur'an, istigfar, dan amal-amal yang kita investasikan untuk akhirat?
Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mendefinisikan taqwa dalam empat hal: rasa takut kepada Allah, mengamalkan Al-Qur'an, merasa cukup dengan yang sedikit, dan persiapan untuk hari kematian. Unsur keempat itulah yang sering paling kita abaikan.
Dahulu disebutkan bahwa penduduk kota Madinah ketika sudah mencapai usia 40 tahun mulai mengurangi urusan dunia dan semakin fokus kepada ibadah. Kita terkadang justru terbalik — umur 40 semakin ambisius dalam karier dan dunia. Tidak ada yang salah dengan bekerja dan berkarier — tapi jangan sampai akhirat terlupakan. Berapa banyak tabungan kita di akhirat? Siapkah kita kalau Allah membuka buku catatan amal kita hari ini?
Salah satu amalan yang dianjurkan Rasulullah ï·º adalah ziarah kubur: "Zuru l-qubura fa-innaha tudhakkirukum bil-akhirat" — Ziarahilah kuburan, karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat. Ketika kita melihat orang-orang yang kita cintai telah pergi dipanggil Allah — terkadang lebih muda, terkadang lebih saleh dari kita — kita seharusnya terbangun: kapan giliran kita?
Duduklah di penghujung malam, berzikir dan merenungi akhirat hingga air mata mengalir — di situlah kebahagiaan yang hakiki dan ketenangan yang sejati hadir, serta iman kembali segar dan bertambah.
Kiat Keenam: Jauhi Seluruh Maksiat — Besar Maupun Kecil
Rasulullah ï·º memberikan contoh yang sederhana namun sangat menggugah: masalah menundukkan pandangan. Allah berfirman dalam surat An-Nur ayat 30: "Qul lil mu'minina yaghuddhu min absharihim wa yahfazhu furujahum, dzalika azka lahum" — Katakanlah kepada laki-laki mukmin untuk menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Hal itu lebih suci bagi hati mereka. Dan dalam ayat 35 surat yang sama, Allah berfirman: "Allahu nuurus samawati wal ardh..." — Allahlah Cahaya langit dan bumi. Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan: siapa yang menundukkan pandangannya, Allah berikan cahaya dalam hatinya — Allah tambah imannya. Sebaliknya, mengumbar pandangan kepada yang haram membuat iman merosot — dan jika dibiarkan terus, bisa berlanjut dari pandangan ke percakapan, ke pertemuan, dan seterusnya.
Rasulullah ï·º bersabda dalam sebuah hadis: "Man dhamina li sittan admantu lahu al-jannah..." — Barang siapa yang menjaminkan enam (atau tujuh) perkara kepadaku, aku jaminkan surga baginya. Di antara perkara yang disebutkan adalah: tundukkan pandangan kalian. Subhanallah — menundukkan pandangan adalah sebab masuk surga.
Secara umum: setiap ketaatan yang kita lakukan menambah iman, dan setiap maksiat yang kita kerjakan mengurangi iman. Jangan pernah meremehkan dosa-dosa kecil. Jangan mudah bergibah, jangan mudah berbohong, jangan mudah berbuat namimah. Jika tergelincir, segera istigfar — astagfirullah astagfirullah astagfirullah. Rasulullah ï·º bersabda: beruntunglah orang yang mendapati dalam catatan amalnya banyak istigfar. Istigfar pun menambah iman dan menghapus dosa.
Semua kiat ini — berzikir, membaca Al-Qur'an, salat yang serius, hadir di majelis ilmu, merenungi akhirat, dan menjauhi maksiat — bukan sekadar teori yang indah didengar. Ia butuh jadwal, butuh komitmen, dan butuh tindakan nyata setiap hari. Kita begitu rajin menjadwalkan urusan dunia — mengapa tidak kita jadwalkan urusan yang jauh lebih penting: urusan keimanan dan kebahagiaan abadi kita?
Ingatlah, umur kita terus berkurang — meskipun angkanya terlihat bertambah: 44, 45, 46 tahun. Hakikatnya, jatah hidup kita semakin sedikit, dan setiap hari adalah kesempatan yang tidak akan kembali. Semoga Allah memudahkan kita untuk terus memperbaharui iman, menerima amal-amal kita, dan mempertemukan kita dengan-Nya dalam keadaan iman yang sebaik-baiknya. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: https://youtu.be/iZKRi9HicxQ?si=3CaZv3eofN8n-1vS
0 Komentar