Syamail Al-Muhammadiyah #5: Akhlak Nabi ﷺ — Lembut kepada Semua, Marah hanya karena Allah

Seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah — Kajian Ustadz Firanda Andirja

Pendahuluan

Selama empat episode sebelumnya, kita telah menyelami gambaran fisik Nabi Muhammad ﷺ dengan sangat terperinci — dari tinggi badan, warna kulit, bentuk rambut, hingga lekukan alis dan kilau giginya. Kini, hadits Hind bin Abi Halah radhiyallahu 'anhu mengajak kita untuk beralih ke sesuatu yang lebih dalam: akhlak Nabi ﷺ.

Jika fisik beliau membuat para sahabat kagum saat memandang, maka akhlak beliaulah yang membuat siapa pun yang mengenalnya tidak bisa tidak mencintainya. Karena keindahan fisik mungkin memudar dan terlupakan, tetapi keindahan akhlak meninggalkan bekas yang tak terhapus dalam jiwa setiap orang yang pernah bersentuhan dengannya.

Hind bin Abi Halah — seorang sahabat yang tumbuh bersama Nabi ﷺ sebagai anak tiri beliau, yang dikenal sangat mahir mensifati — menggambarkan akhlak Nabi ﷺ dengan detail yang tak kalah indah dari gambaran fisiknya. Mari kita telusuri satu per satu.


Lembut kepada Semua, Bermartabat pada Semua: Damit

Hind bin Abi Halah mensifati Nabi ﷺ sebagai seorang yang damit — mudah didekati, lembut dalam bergaul, dan tidak kaku. Namun di sisi lain, beliau juga laisa bil mahin — tidak pernah direndahkan dan tidak pula merendahkan orang lain. Dua sisi ini berjalan bersama: kelembutan yang tidak kehilangan martabat, dan keterbukaan yang tidak kehilangan wibawa.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan sebuah kisah yang menggambarkan sifat ini dengan sangat kuat: suatu ketika, seorang budak wanita dari kota Madinah datang dan mengambil tangan Nabi ﷺ — lalu membawanya pergi ke mana pun ia mau. Dan Nabi ﷺ membiarkannya. Beliau tidak menolak, tidak merasa terlalu mulia, tidak merasa direndahkan. Beliau dengan tenang mengikuti budak wanita itu ke mana pun ia pergi.

Ini bukan sesuatu yang mudah. Untuk bisa bersikap seperti itu kepada semua lapisan manusia — dari pembesar hingga budak, dari orang kaya hingga orang miskin — dibutuhkan apa yang disebut para ulama sebagai ashabun nufusil kibar: jiwa yang besar, hati yang lapang. Orang dengan jiwa sempit hanya mampu lembut kepada yang setara atau yang lebih tinggi darinya. Orang dengan jiwa besar mampu lembut kepada siapa saja — termasuk kepada mereka yang dianggap paling rendah oleh masyarakat.

Itulah Nabi ﷺ. Semua orang, dari semua lapisan, bisa mendatangi beliau dan mendapati beliau dalam keadaan yang sama: lembut, terbuka, dan hadir sepenuhnya. Tanpa kekakuan, tanpa keangkuhan, tanpa jarak.


Mengagungkan Setiap Nikmat, Sekecil Apapun

Hind bin Abi Halah juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ senantiasa yu'azzimun ni'mah — mengagungkan setiap nikmat dari Allah, bahkan nikmat yang dalam pandangan manusia tampak kecil dan biasa. Ini adalah sifat yang menjadi ciri khas para nabi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut Nabi Ibrahim 'alaihissalam sebagai "shakiran li an'umih" — senantiasa bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. (QS. An-Nahl: 121) Para ulama mencatat: kata yang digunakan adalah an'umih, yang merupakan bentuk jamak sedikit (jam' qillah) — bermakna bahwa Ibrahim 'alaihissalam bersyukur bahkan atas nikmat-nikmat yang sedikit dan tampak kecil. Ia tidak menunggu nikmat besar untuk bersyukur.

Dan Nabi Nuh 'alaihissalam digambarkan Allah sebagai "'abdan syakura" — hamba yang sangat pandai bersyukur. Dikisahkan bahwa setiap kali Nuh 'alaihissalam makan, ia berucap: "Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makan; andai Allah berkehendak, tentu Ia menjadikanku lapar." Setiap kali minum, setiap kali mengenakan pakaian, bahkan setiap kali mengenakan sandal — ia bersyukur dan mengakui bahwa itu semua adalah karunia yang bisa saja tidak ada.

Bandingkan dengan kita. Ada satu nikmat yang kita gunakan setiap hari — bahkan setiap jam — tanpa pernah sejenak pun menyadarinya: sendi-sendi tubuh kita. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap sendi dalam tubuh manusia memiliki hak untuk disedekahkan setiap harinya. Bayangkan — jutaan gerakan yang kita lakukan setiap hari, dari bangun tidur hingga tidur kembali, semuanya bergantung pada sendi-sendi yang bekerja dengan sempurna. Orang yang pernah mengalami nyeri sendi parah tahu betapa mahalnya nikmat itu. Namun mereka yang sehat tak pernah menghitungnya.

Nabi ﷺ mengagungkan setiap nikmat Allah — dan di sinilah bedanya dengan kita yang sering melupakan bahkan nikmat yang paling besar.


Tidak Memuji, Tidak Mencela: Sikap Nabi ﷺ terhadap Makanan

Sifat berikutnya yang disebut Hind bin Abi Halah: Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan atau minuman apapun, dan juga tidak pernah memujinya. Jika beliau suka, beliau makan. Jika tidak suka, beliau tinggalkan — tanpa komentar.

Banyak di antara kita yang sudah tahu bahwa Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan. Namun belum tentu kita menyadari bahwa beliau pun tidak pernah memuji-muji makanan. Tidak ada dalam hadits manapun riwayat Nabi ﷺ berkata: "Wah, makanan ini enak sekali!" atau membicarakan cita rasa dengan antusias.

Bagi Nabi ﷺ, makanan adalah ghidha' — gizi, bahan bakar untuk tubuh agar bisa kuat beribadah, berdakwah, dan menjalankan perintah Allah. Bukan sesuatu yang patut dirayakan berlebihan, bukan pula sesuatu yang patut dikeluhkan. Kesibukan beliau bukan untuk urusan perut, melainkan untuk urusan yang jauh lebih besar. Dan dalam kesederhanaan sikapnya terhadap makanan itu, tersembunyi sebuah kebebasan jiwa yang luar biasa — jiwa yang tidak diperbudak oleh selera dan kenikmatan duniawi.


Amarah yang Hanya untuk Allah

Ini adalah salah satu sifat akhlak Nabi ﷺ yang paling menakjubkan: beliau tidak pernah marah karena urusan dunia. Tidak pernah. Semua kemarahan beliau adalah kemarahan karena Allah — ketika larangan Allah dilanggar, ketika kebenaran diinjak-injak, ketika hak-hak yang seharusnya dijaga diabaikan.

Adapun hak pribadinya sendiri? Nabi ﷺ tidak pernah menuntutnya. Tidak pernah marah karenanya.

Satu peristiwa yang menggambarkan ini dengan sangat kuat: ketika Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah untuk menaklukkannya, beliau datang dengan pasukan 10.000 orang yang membuat seluruh Quraisy bergetar. Ini adalah momen kemenangan terbesar dalam hidupnya. Seseorang bertanya: "Ya Rasulullah, besok ketika kita memasuki Makkah, apakah kita akan tinggal di rumahmu?"

Maksudnya adalah rumah Khadijah radhiyallahu 'anha — rumah kenangan beliau, tempat wahyu pertama turun, tempat beliau menghabiskan 25 tahun pernikahan dengan istri tercinta. Rumah yang ditinggalkan ketika beliau berhijrah, kemudian diambil dan dijual oleh Aqil bin Abi Thalib.

Jawaban Nabi ﷺ? Tanpa ragu, tanpa jejak kepahitan: "Wa hal taraka lana Aqilun min ribaa'in?""Apakah Aqil masih meninggalkan sesuatu untuk kita?"

Selesai. Tidak ada klaim. Tidak ada rencana untuk mengambil kembali. Tidak ada marah. Tidak ada dendam. Rumah yang sarat kenangan, yang dulu menjadi tempat paling berharga dalam hidupnya, kini hanya disebutnya dengan satu kalimat santai — lalu dilupakan.

Berapa banyak di antara kita yang pernah putus hubungan dengan saudara, bermusuhan dengan tetangga, atau memendam sakit hati bertahun-tahun hanya karena urusan harta atau properti yang jauh lebih kecil dari itu? Sementara Nabi ﷺ — yang kehilangan rumahnya di kota asalnya, yang tersalib dari tempat kelahirannya — melewatinya tanpa satu pun kata keluhan.


Berbicara dengan Tangan: Isyarat yang Penuh Makna

Hind bin Abi Halah juga mengabadikan detail yang sangat hidup tentang cara Nabi ﷺ berkomunikasi. Ketika memberi isyarat, beliau menggunakan seluruh tangannya — bukan sekadar satu jari atau gerakan pergelangan yang kecil. Tangannya bergerak secara penuh dan tegas.

Ketika beliau terkejut atau takjub, beliau membalikkan telapak tangannya — sebuah gerakan yang spontan dan alami, tanpa perlu kata-kata.

Dan ketika beliau berbicara, tangannya ikut bergerak mengikuti pembicaraan. Ada kalanya beliau memukulkan telapak tangan kanannya ke bagian dalam ibu jari kirinya — gerakan yang menurut para ulama digunakan untuk menegaskan atau memperingatkan. Ini bukan sekadar kebiasaan biasa — komunikasi yang melibatkan gestur tangan terbukti lebih menarik perhatian dan lebih mudah diingat oleh pendengar. Dan Nabi ﷺ, sebagai komunikator terbaik yang pernah ada, melakukannya secara alami.


Marah dengan Berpaling, Gembira dengan Menunduk

Dua sifat yang disebutkan Hind bin Abi Halah selanjutnya mengungkap bagaimana Nabi ﷺ mengelola dua emosi yang paling kuat: amarah dan kegembiraan.

Ketika marah, Nabi ﷺ berpaling — memalingkan wajahnya dari sumber kemarahannya. Ini bukan sikap pengecut atau menghindar. Ini adalah kebijaksanaan. Para ulama mengajarkan: menatap terus pada sumber kemarahan cenderung memperbesar amarah. Dengan berpaling, seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk menenangkan hati. Dan Nabi ﷺ — yang jiwa dan emosinya paling terjaga — mengajarkan hal ini melalui perbuatannya sendiri.

Ketika gembira, Nabi ﷺ justru menundukkan pandangannya. Bukan menengadah dengan bangga, bukan berdiri tegak dengan dada membusung. Para ulama menjelaskan: ini adalah tawadu' lil mun'im — merendahkan diri di hadapan sang Pemberi karunia. Nabi ﷺ adalah 'Abdul Mun'im — hamba sang Pemberi nikmat — bukan 'abdu ni'mah — hamba dari kenikmatan itu sendiri. Ketika nikmat datang, beliau tidak terbuai olehnya. Pandangannya justru menunduk, hatinya justru kembali kepada Allah yang memberi.

Gambar paling memukau dari sifat ini adalah momen Fathu Makkah. Di atas untanya, di puncak kemenangan terbesar kaum Muslimin, Rasulullah ﷺ tidak berdiri gagah menengadah ke langit. Beliau menundukkan kepalanya begitu dalam hingga janggutnya menyentuh pelana untanya. Di saat seharusnya beliau paling berhak untuk bangga — beliau justru paling merendah.


Senyuman Purnama: Cara Nabi ﷺ Tertawa

Hind bin Abi Halah menutup gambaran akhlaknya dengan sesuatu yang indah: cara Nabi ﷺ tertawa.

Mayoritas "tawa" Nabi ﷺ adalah tabassum — senyuman tanpa suara. Wajah berseri-seri, sudut bibir terangkat, mungkin gigi sedikit terlihat — namun tanpa suara yang keluar. Ini berbeda dengan dahik (tawa bersuara) dan jauh dari qahqahah (tawa terbahak-bahak).

Bahkan ketika Nabi ﷺ mencapai puncak kelucuan yang membuat beliau tertawa lebih dari biasanya, beliau tetap tidak terbahak-bahak. Pada titik itu, terkadang gigi geraham beliau (adras) sedikit terlihat. Para ulama mengumpulkan riwayat-riwayat dan mendapati bahwa ini hanya terjadi sekitar sepuluh hingga belasan kali sepanjang hidup beliau ﷺ. Selebihnya, beliau tersenyum — dengan tenang, dengan karisma yang tetap terjaga.

Dan ketika beliau tersenyum sehingga gigi-giginya terlihat? Hind bin Abi Halah menggambarkannya dengan perumpamaan yang sangat puitis: gigi-gigi Nabi ﷺ tampak seperti barad — biji-biji es kecil yang jatuh dari awan. Putih bersih, berkilat, menyegarkan dipandang.

Di tanah Arab yang panas, barad (hujan es) adalah sesuatu yang istimewa dan langka — putih, dingin, dan murni. Memilih perumpamaan ini untuk menggambarkan gigi Nabi ﷺ adalah pilihan yang sangat tepat: putih yang tidak biasa, bersih yang memukau, dan menyenangkan bagi siapa yang memandang.


Kesimpulan

Dari satu hadits Hind bin Abi Halah, kita mendapat lukisan akhlak Nabi ﷺ yang begitu menyeluruh: lembut kepada semua tanpa kehilangan wibawa, mensyukuri setiap nikmat sekecil apapun, tidak diperbudak oleh urusan makanan, tidak pernah marah karena dunia, berbicara dengan penuh ekspresi, mengelola emosi dengan bijak, dan tertawa dengan cara yang tetap menjaga kemuliaan.

Setiap sifat ini bukan sekadar kebiasaan pribadi — melainkan cermin dari jiwa yang benar-benar bersih, hati yang benar-benar luas, dan ruh yang benar-benar bebas dari perbudakan dunia.

Tak mengherankan jika setiap sahabat yang pernah bergaul dengan beliau selalu berkata hal yang sama: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang seperti Rasulullah ﷺ." Bukan hanya dari sisi fisik — tetapi dari seluruh keberadaannya yang memancarkan keindahan yang tak tertandingi.

Semoga kita bisa menjadikan akhlak-akhlak ini sebagai cermin untuk diri kita sendiri — dan semoga semakin mengenal beliau, semakin besar cinta dan rindu kita kepadanya.

Wallahu ta'ala a'lam.


Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.

Sumber video: Kitab As-Syamail Al-Muhammadiah #5: Akhlak Nabi Muhammad ﷺ



Posting Komentar

0 Komentar