AM 77. Dari Pandangan yang Lepas hingga Hamba yang Menzalimi Diri: Jalan Keluar Itu Bernama Takwa

Al-Adab Al-Mufrad, Sesi 77, disarikan dari kajian Ustadz Firanda Andirja

Kajian kali ini masih melanjutkan bab az-zulmu zulumātun yaumal qiyāmah, bahwa kezaliman adalah kegelapan yang bertubi-tubi pada hari kiamat. Imam Bukhari rahimahullah membawakan dua hadits panjang yang tampak berbeda: yang pertama tentang pertemuan dua tabiin dan nasihat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, yang kedua sebuah hadits qudsi dari Abu Dzar. Namun benang merahnya sama, yaitu bahwa dosa dan kezaliman pertama-tama menimpa diri pelakunya sendiri. Di saat yang sama, pintu keluar dari semua kegelapan itu selalu terbuka bagi siapa pun yang kembali kepada Allah.

Dua Tabiin di Sebuah Masjid

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Dhuha bahwa dua tabiin, Masruq dan Syutair, berkumpul di sebuah masjid. Keduanya murid Ibnu Mas'ud dan sama-sama meriwayatkan hadits darinya. Masjid itu luas dan penuh halaqah. Ada yang belajar tajwid dan tahsin, ada yang bermudzakarah ilmu, ada yang mengulang hafalan.

Begitu orang-orang tahu kedua ulama itu hadir, halaqah-halaqah itu bubar dan semua bergerak menuju mereka. Itu bentuk penghormatan kepada ulama. Masruq pun berkata kepada Syutair bahwa menurutnya orang-orang ini berkumpul tidak lain karena ingin mendengar kebaikan dari mereka berdua. Ia lalu menawarkan pembagian tugas: salah seorang menyampaikan hadits dari Ibnu Mas'ud dan yang lain membenarkan. Syutair mempersilakan Masruq, yang dipanggil dengan kunyahnya, Abu Aisyah, untuk menyampaikan, dan ia sendiri yang membenarkan.

Menurut Ustadz, nama Masruq berarti "yang dicuri". Nama aslinya Masruq bin al-Ajda' bin Malik. Konon ia dijuluki demikian karena semasa kecil pernah diculik lalu dikembalikan. Cara dua orang saling menyampaikan dan membenarkan ini juga menarik. Satu orang bicara, tetapi riwayatnya dikuatkan oleh saksi kedua.

Mata, Telinga, Tangan, dan Kaki Ikut Berzina

Riwayat pertama yang disampaikan adalah hadits Ibnu Mas'ud tentang bagian-bagian tubuh yang berzina:

العَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَاليَدَانِ تَزْنِيَانِ، وَالرِّجْلَانِ تَزْنِيَانِ، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

"Dua mata berzina, dua tangan berzina, dua kaki berzina, dan kemaluanlah yang membenarkan semua itu atau mendustakannya." (Al-Adab Al-Mufrad)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sarana-sarana yang mengantarkan kepada zina. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa zina mata adalah memandang, dan zina telinga adalah mendengarkan. Rasulullah ﷺ menamai sebab-sebab itu dengan "zina" karena ujungnya adalah zina. Zina yang sebenarnya baru terjadi jika kemaluan membenarkan, dan tidak terjadi jika kemaluan mendustakan. Meski begitu, semua jalan menuju ke sana sudah dihitung sebagai zina.

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ menyebut wanita yang memakai wewangian lalu melewati sekelompok laki-laki agar mereka mencium aromanya sebagai zāniyah. Tentu ia tidak benar-benar berzina, tetapi ia telah melakukan sebab yang menjurus ke sana.

Ustadz memberi contoh yang dekat dengan kehidupan kita. Seorang laki-laki yang sengaja menonton film Korea berjam-jam hanya untuk memandangi wanita-wanita cantik, hingga syahwatnya bergejolak, berarti matanya sedang berzina. Telinga pun demikian. Zinanya adalah mendengar lagu, lirik, dan rayuan yang membangkitkan syahwat, atau seorang wanita yang mendengar suara lelaki dengan cara serupa. Tidak semua yang didengar disebut zina, hanya yang membuat syahwat bergejolak. Lisan berzina dengan rayuan, tangan dengan sentuhan yang menimbulkan hasrat, dan kaki dengan melangkah menuju tempat perzinaan.

Zaman yang Memudahkan Jalan Maksiat

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32)

Perhatikan bahwa yang dilarang adalah mendekati zina, bukan sekadar melakukannya. Ustadz mengingatkan bahwa kita hidup di zaman ketika sarana zina terbuka lebar. Di sebagian negeri, kamar-kamar kecil bahkan disediakan di pinggir jalan, dan alat-alat pencegah penyakit dijual bebas sehingga orang semakin mudah melakukannya. Ini selaras dengan tanda-tanda dekatnya kiamat, ketika zina dilakukan terang-terangan.

Di zaman seperti ini, yang selamat adalah orang yang menjauhkan diri dari semua pintunya. Ustadz mengutip bait yang sering beliau sampaikan: semua peristiwa besar bermula dari pandangan, dan api yang besar bermula dari percikan kecil. Bagi seorang pemuda, kuncinya sederhana, yaitu menundukkan pandangan. Agar tidak memandang, jangan mengklik. Kalau sudah terlanjur terlihat, segera palingkan.

Pandangan Pertama, dan Panah Iblis yang Sulit Dicabut

Rasulullah ﷺ mengajarkan:

لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

"Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Engkau berhak atas yang pertama, tetapi tidak atas yang kedua."

Jadi pandangan pertama yang tidak disengaja tidak berdosa, sedangkan yang kedua dilarang. Pertarungan sesungguhnya ada di awal. Jika langsung dipalingkan, urusannya selesai. Hati belum bergejolak, sehingga tinggal melihat lalu berpaling. Tetapi jika sudah lima menit memandang, hati terlanjur terkena panah iblis. Panah itu terkadang menancap begitu dalam hingga tak bisa dicabut. Kalaupun tercabut, racunnya sering tersisa, dan banyak orang yang sudah bertobat masih saja teringat-ingat masa lalunya yang buruk.

Dari situ Ustadz menjelaskan bagaimana "cinta lokasi" sering bermula. Mulanya saling melirik, lalu berbicara, lalu bertemu, lalu makan bersama, dan banyak yang berujung pada perbuatan terlarang. Manusia lemah menghadapi syahwatnya. Karena itu jangan biarkan syahwat berkobar, dan tutup salurannya sejak awal.

Allah ﷻ berfirman:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur: 30)

Hati ibarat wadah, dan pandangan, pendengaran, pembicaraan serta bacaan adalah corong-corong yang mengisinya. Menurut Ibnul Qayyim, corong pandangan adalah yang paling besar merusak hati, melebihi corong pendengaran, karena yang terlihat jauh lebih banyak. Orang yang banyak melihat akan banyak berpikir, baik tentang artis maupun istri orang. Hatinya penuh seperti hard disk yang kehabisan ruang, sehingga sulit untuk khusyuk. Itulah makna dzālika azkā lahum, bahwa menundukkan pandangan lebih menyucikan hati dan membuat shalat lebih ikhlas serta bacaan Al-Qur'an lebih khusyuk.

Adil, Ihsan, dan Larangan Berbuat Zalim

Berikutnya Ibnu Mas'ud menyebut tiga ayat. Pertama, ayat yang menurutnya paling komprehensif tentang halal dan haram, perintah dan larangan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, serta memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (perbuatan) keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)

Ustadz menjelaskan bahwa tiga perintah itu masing-masing punya lawan yang dilarang. Lawan al-'adl adalah zalim, lawan al-ihsān adalah berbuat buruk kepada orang lain, dan lawan ītā'i dzil qurbā adalah memutus silaturahim. Keadilan sendiri mencakup banyak hal: adil terhadap diri sendiri, anak, istri, atasan, bawahan, dan tetangga. Adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, sedangkan zalim adalah meletakkannya bukan pada tempatnya.

Bahkan terhadap diri sendiri kita tidak boleh zalim. Ibnu Taimiyah menyebut bahwa di antara hikmah larangan memakai satu sandal saja adalah agar tidak menzalimi kaki yang satunya. Demikian pula larangan duduk setengah di bawah naungan dan setengah di bawah terik matahari. Jika tubuh sendiri tidak boleh dizalimi, apalagi orang lain.

Dalam rumah tangga, hadits tentang suami yang memiliki dua istri menjadi peringatan keras:

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

"Siapa yang memiliki dua istri lalu condong kepada salah satunya, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan tubuh miring."

Ustadz berseloroh bahwa memiliki satu istri lebih aman dan dua lebih berbahaya. Memang ada plus dan minusnya, tetapi risiko berbuat zalimnya nyata. Namun beliau menegaskan bahwa kita tidak dituntut sempurna, hanya diminta sāddidū wa qāribū, yakni berusaha tepat atau mendekati ketepatan. Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Maka bertakwalah kepada Allah semampumu." (QS. At-Taghabun: 16)

Ihsan pun harus hadir dalam segala hal, termasuk ketika menyembelih. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ

"Apabila kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik." (HR. Muslim)

Seorang yang memang berhak dihukum mati pun tidak boleh dimutilasi. Pisau penyembelih harus tajam. Tidak boleh mengasahnya di depan hewan, dan tidak boleh menyembelih di hadapan hewan lain. Kalau kepada hewan saja demikian, tentu kepada manusia lebih lagi. Mungkin inilah alasan Imam Bukhari menaruh ayat ini dalam bab tentang kezaliman.

Takwa: Pintu Keluar dari Kegelapan

Ayat kedua yang disebut Ibnu Mas'ud adalah ayat yang paling cepat memberi solusi:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. At-Talaq: 2–3)

Menurut sebagian ahli tafsir, gambaran makhraj adalah seseorang yang terjebak di tempat sempit dan gelap, mencari pintu keluar tetapi tidak kunjung menemukannya. Ketika ia bertakwa, Allah memberinya pintu itu. Bukan hanya jalan keluar, tetapi juga bonus berupa rezeki yang tak disangka-sangka.

Ustadz mengaitkannya dengan kisah Nabi Yunus 'alaihissalam. Beliau pergi dalam keadaan marah karena kaumnya menolak dakwah, sebelum diizinkan Allah, dan tidak terbetik di hatinya bahwa Allah akan mengujinya. Allah berfirman:

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyempitkannya. Maka ia berdoa dalam keadaan sangat gelap: 'Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Anbiya': 87)

Semua telah disiapkan Allah. Kapal yang akan ia tumpangi sudah menanti. Lalu datang ombak besar, sehingga seseorang harus turun, dan undian jatuh kepada Yunus berkali-kali. Setelah itu Allah menyiapkan seekor ikan paus yang menelannya. Maka beliau berseru dalam kegelapan yang bertumpuk: gelap perut ikan, gelap lautan, dan gelap malam. Doanya dibuka dengan tauhid dan ditutup dengan pengakuan innī kuntu minaz-zālimīn. Allah pun menyelamatkannya.

Pelajaran yang ditekankan Ustadz ialah bahwa ujian tidak akan terangkat kecuali Allah mengangkatnya. Kita boleh menempuh jalan duniawi dengan meminta bantuan orang, menelepon pejabat, atau mencari "beking". Tetapi uang sebanyak apa pun dan jabatan setinggi apa pun tidak berguna jika Allah belum mengizinkan ujian itu berakhir. Cara paling utama untuk mempercepatnya adalah bertakwa dan bersabar. Nabi Nuh 'alaihissalam bersabar berabad-abad, dan Allah berfirman kepada Rasul-Nya:

تِلْكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ

"Itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Tidak pernah kamu mengetahuinya, begitu pula kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Hud: 49)

Kalau ujian belum juga terangkat setelah setahun shalat malam, berarti belum waktunya, atau takwa kita masih perlu ditambah. Ustadz menyindir dengan ringan: shalat malam lancar tetapi menonton film Korea juga lancar. Beliau juga menceritakan seorang ayah yang mengaku anaknya tidak pernah menonton film, lalu si anak menjawab jujur bahwa kemarin ayahnya sendiri yang mengajaknya ke bioskop. Takwa memang sebatas kemampuan, tetapi harus terus ditingkatkan.

Hamba yang Menzalimi Dirinya, dan Rahmat yang Tak Pernah Habis

Ayat ketiga adalah ayat yang oleh Ibnu Mas'ud disebut paling besar harapannya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53)

Ustadz mengajak kita merenungi redaksinya. Allah masih memanggil mereka "hamba-hamba-Ku" padahal mereka bermaksiat, dan itu tanda kasih sayang masih ada. Allah juga tidak berkata "yang bermaksiat", tetapi asrafū 'alā anfusihim, yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri. Sebab maksiat pertama-tama menimpa pelakunya. Racunnya masuk ke hati lebih dulu, lalu cepat atau lambat akan meledak di dunia atau di akhirat. Penutup ayat dengan dua nama, Al-Ghafūr dan Ar-Rahīm, melengkapi harapan itu.

Ibnul Qayyim membahas kasus yang paling berat: pembunuhan. Si pembunuh melakukan tiga kezaliman sekaligus. Ia menzalimi korban, menzalimi keluarga korban yang kehilangan ayah, anak, atau suami, dan melanggar hak Allah yang melarang membunuh jiwa tanpa hak. Bahkan Firaun ketika binasa tidak ditangisi langit dan bumi. Allah berfirman fa mā bakat 'alaihimus-samā'u wal-ardh (QS. Ad-Dukhan: 29). Lalu bagaimana dengan pembunuh yang ingin bertobat padahal korbannya sudah wafat? Jawabannya tetap ada jalan, meski sulit. Jika ia benar-benar bertaubat nasuha, Allah-lah yang akan mengurus urusannya di akhirat. Dengan demikian, kezaliman apa pun masih punya jalan pulang selama pelakunya mau kembali kepada Allah.

Hadits Qudsi Abu Dzar: Seruan Allah kepada Para Hamba-Nya

Hadits kedua adalah hadits qudsi dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, yang diriwayatkan Imam Bukhari melalui Abu Idris al-Khaulani. Ustadz menjelaskan bahwa hadits qudsi adalah perkataan Allah yang disampaikan Nabi ﷺ tetapi bukan bagian dari Al-Qur'an. Tidak semua firman Allah berbentuk kitab. Ada firman Allah yang menjadi Taurat, Injil, Zabur, Al-Qur'an, dan lembaran Ibrahim serta Musa. Ada pula percakapan Allah dengan para malaikat, atau dengan Nabi Muhammad ﷺ pada malam mikraj. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah." (QS. Luqman: 27)

Hadits ini begitu agung. Abu Idris al-Khaulani, bila menyampaikannya, tidak duduk dan tidak berdiri, tetapi berlutut. Imam Ahmad menyebutnya sebagai hadits paling mulia yang diriwayatkan penduduk Syam. Ibnu Taimiyah menyebut bahwa hadits ini memuat kaidah-kaidah agung dalam agama, baik dalam ilmu maupun amal, baik pokok maupun cabang. Adapun perawinya, Abu Dzar, dikenal sebagai sahabat yang paling lurus lisannya.

Hadits ini dibuka dengan firman Allah:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

"Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."

Maknanya, secara kemampuan Allah Al-Qādir mampu melakukan apa saja, tetapi Dia mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, sebagaimana Dia mewajibkan rahmat atas diri-Nya. Jika Rabb yang Mahakuasa saja mengharamkannya atas diri-Nya, kita lebih pantas menjauhinya.

Wujud Kezaliman: Harta, Lisan, dan Rumah Tangga

Ustadz menukil sebuah atsar dari Ibnu Umar ketika seseorang memintanya menuliskan seluruh ilmu. Ilmu itu banyak, jawab beliau, tetapi bila engkau mampu bertemu Allah dalam empat keadaan, lakukanlah: perutmu ringan, punggungmu ringan, lisanmu terjaga, dan engkau tidak keluar dari jamaah.

Perut ringan berarti tidak memakan yang haram atau syubhat, dan tidak menipu rezeki orang. Ayah Imam Bukhari, Ismail bin Ibrahim, berpesan saat wafat bahwa ia tidak mengetahui satu dinar atau dirham pun dari penghasilannya yang haram. Lihatlah anaknya, lanjut Ustadz. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan makanan haram tumbuh dengan tingkah yang liar. Punggung ringan berarti tidak membawa tanggungan kezaliman kepada orang lain. Sebisa mungkin ketika bertemu Allah tak ada yang menuntut kita sedikit pun harta, baik anak buah, mitra kerja, maupun siapa pun. Bahkan jika kita benar dan menang dalam sengketa, jangan sampai ada yang kita ambil secara tidak patut. Lisan terjaga berarti menjauhi gibah, namimah, merendahkan, dan mengejek, karena semua itu kezaliman lisan. Itulah kesimpulan dari belajar bertahun-tahun, kata Ustadz: agar kita tidak menzalimi orang.

Allah berfirman tentang orang-orang yang berserikat:

وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ

"Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka itu." (QS. Sad: 24)

Kerja sama bisnis berpotensi melahirkan kezaliman, tetapi jika dilandasi iman dan takwa justru diberkahi. Ustadz mengaitkannya dengan sebuah hadits yang riwayatnya lemah, bahwa Allah menjadi pihak ketiga bagi dua orang yang berserikat selama tidak ada yang berkhianat. Beliau lalu bercerita tentang seorang kenalan yang menitipkan uangnya dalam sebuah akad bagi hasil. Setiap bulan laporannya selalu menunjukkan keuntungan, tetapi ketika uangnya diminta, uang itu sudah tidak ada. Laporan dibuat agar meyakinkan dan keuntungan dipastikan setiap bulan, padahal investasi sungguhan bisa saja rugi. Jujur memang mahal.

Dalam rumah tangga pun kezaliman bisa berlangsung puluhan tahun tanpa disadari. Suami harus menunaikan hak istri, dan istri harus menunaikan hak suami, termasuk ketika suami berhasrat lalu dicuekkan begitu saja. Betapa celakanya jika seseorang masuk neraka karena tidak menunaikan hak pasangannya.

Meminta Segala Hal kepada Allah

Rangkaian seruan Allah dalam hadits ini juga mengajarkan bahwa kita selalu butuh. Allah berfirman bahwa semua hamba-Nya lapar kecuali yang Dia beri makan, maka mintalah makan kepada-Nya:

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ

"Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku memberi kalian makan."

Ibnu Rajab al-Hanbali menyebut bahwa ini dalil bahwa kita diperintahkan meminta kepada Allah, bahkan perkara yang tampak sepele. Nabi Musa 'alaihissalam pernah meminta, setelah menolong dua wanita di Madyan:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

"Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan segala kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qasas: 24)

Sebagian salaf menafsirkannya sebagai permintaan akan roti, sebab Musa sudah lama hanya memakan dedaunan sejak kabur dari Mesir. Sebagian salaf lain bahkan berdoa dalam sujud meminta garam agar makanan mereka ada rasanya. Ada pula riwayat bermasalah yang memerintahkan agar seseorang meminta kepada Allah sampai tali sandalnya. Maknanya tetap benar: jangan malu meminta kepada Allah, karena jantung kita pun berdetak atas kehendak-Nya. Sekalipun kita lapar dan belum tahu dari mana makanan akan datang, mintalah dulu, lalu serahkan caranya kepada Allah. Demikian pula soal pakaian, sebagaimana firman-Nya dalam hadits ini.

Ada kalimat bijak yang dinukil Ustadz: jangan meminta kepada manusia, mintalah kepada Allah yang pintu-Nya tak pernah tertutup. Allah murka jika engkau tidak meminta kepada-Nya, sedangkan manusia marah jika engkau terlalu banyak meminta. Seorang triliuner pun, jika diminta berulang kali, mulai dari tersenyum, cemberut, memalingkan muka, hingga mengusir. Sementara Allah tak pernah berkurang sedikit pun.

Kekayaan Allah yang Tak Terbatas

Dalam hadits qudsi itu, Allah menggambarkan bahwa seandainya seluruh jin dan manusia sejak yang pertama hingga yang terakhir memiliki hati yang paling takwa, seperti hati Nabi Muhammad ﷺ atau Jibril, hal itu tidak menambah kerajaan-Nya sedikit pun. Sebaliknya, seandainya semuanya berhati paling bejat, seperti Firaun, Abu Jahal, dan Abu Lahab, kekuasaan-Nya juga tidak berkurang sedikit pun. Ustadz menyisipkan satu anekdot: seorang syekh yang terus-menerus menceritakan Firaun ditegur orang Mesir agar sesekali mengangkat tokoh lain. Ketika ia berceramah tentang Abu Jahal, justru Nabi ﷺ pernah menyebut Abu Jahal sebagai "Firaun umat ini". Ternyata, tetap Firaun juga.

Seandainya seluruh makhluk berkumpul di satu dataran lalu setiap orang meminta dan semuanya dikabulkan, hal itu tidak mengurangi kerajaan Allah, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika sebuah jarum dicelupkan lalu diangkat. Ustadz menjelaskan bahwa ini sekadar gambaran untuk menunjukkan luasnya kekayaan Allah. Hakikatnya tidak berkurang sama sekali, karena bagi-Nya cukup mengatakan kun fayakūn:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu." (QS. Yasin: 82)

Allah tidak membutuhkan sujud, tangis, atau ibadah kita. Kitalah yang membutuhkannya.

Amalmu Kembali kepadamu, Bukan kepada Iblis

Hadits ini ditutup dengan firman Allah:

يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

"Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku balas sepenuhnya. Siapa yang mendapati kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan siapa yang mendapati selain itu, janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri."

Siapa yang mendapati amalnya baik hendaklah memuji Allah, karena Allah yang memberinya taufik, sehingga tidak ada tempat untuk ujub dan sombong. Siapa yang mendapati keburukan tidak boleh menyalahkan siapa pun selain dirinya, termasuk iblis. Iblis tidak punya kekuatan memaksa, ia hanya berbisik, dan kitalah yang menyambut bisikan itu lalu mengklik. Kelak di neraka iblis berpidato dari mimbar api dan melepaskan diri dari para pengikutnya:

وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلَّا أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنفُسَكُم ۖ مَّا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُم بِمُصْرِخِيَّ

"Dan tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kamu, melainkan sekadar aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Karena itu janganlah kamu mencela aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu dan kamu pun tidak dapat menolongku." (QS. Ibrahim: 22)

Ustadz mengingatkan bahwa pada hari itu suami dan istri yang sama-sama masuk neraka pun akan saling menyalahkan, dan justru itu menambah penderitaan mereka.

Penutup

Dua hadits ini bertemu di satu titik: kezaliman adalah kegelapan, dan kegelapan itu pertama-tama menimpa diri pelakunya. Ia bermula dari hal-hal kecil, dari satu pandangan, satu klik, satu bisikan yang kita sambut. Namun pintu keluarnya selalu terbuka lewat takwa, istighfar, dan permohonan yang tak henti kepada Rabb yang kekayaan-Nya tak berkurang sedikit pun. Maka tundukkan pandangan sejak awal, jauhi yang haram sekecil apa pun, tunaikan hak sesama, dan perbanyak istighfar di sela-sela kesibukan kita.

Ya Allah, bimbinglah kami menundukkan pandangan dan menjaga lisan, jauhkan kami dari menzalimi diri sendiri dan orang lain. Ampunilah dosa-dosa kami yang tampak maupun tersembunyi, bukakanlah bagi kami jalan keluar dari setiap kesempitan, dan karuniakanlah rezeki dari arah yang tidak kami sangka. Jadikanlah kami hamba-Mu yang bertakwa, dan akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar