AM 79. Argo Pahala yang Tetap Berjalan: Ketika Sakit Menjadi Penghapus Dosa dan Pengganti Amal

Al-Adab Al-Mufrad, Sesi 79, disarikan dari kajian Ustadz Firanda Andirja

Semakin bertambah usia, semakin banyak penyakit yang datang tanpa diundang. Ada kolesterol, asam urat, dan asam lambung, dan siapa pun yang pernah melewati usia empat puluh tahu bahwa tubuh mulai "berbunyi" sedikit-sedikit. Kajian kali ini masih melanjutkan hadits-hadits tentang sakit dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, dan Ustadz memandangnya sebagai hiburan bagi siapa pun yang sedang diuji. Sakit tidak hanya menggugurkan dosa. Ia juga tidak menghentikan "argo pahala" amal yang biasa kita kerjakan ketika sehat. Jika disambut dengan sabar, ia bahkan mengangkat derajat.

Sakit yang Memurnikan

Imam Bukhari membawakan riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْمُؤْمِنُ أَخْلَصَهُ اللَّهُ كَمَا يُخْلِصُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

"Apabila seorang mukmin sakit, Allah memurnikannya sebagaimana tungku pandai besi memurnikan besi dari kotorannya." (Al-Adab Al-Mufrad)

Al-kīr adalah alat tiup pandai besi yang menekan udara hingga karat dan kotoran pada besi terlepas. Demikian pula penyakit, yang membersihkan dosa-dosa yang telah lalu. Karena itulah Rasulullah ﷺ mengucapkan lā ba'sa thahūrun in syā'allāh kepada orang sakit, yang artinya "tidak mengapa, semoga ini menjadi pembersih."

Ustadz mengajak kita jujur menghitung dosa. Sebagian sudah kita mintakan ampun, sebagian terlupa, dan sebagian kita remehkan. Misalnya ketika membuka media sosial lalu terlihat wanita yang terbuka auratnya, rambut atau lengannya, padahal itu dosa. Karena terlalu sering, kita lupa beristighfar. Begitu pula dengan ghibah yang sering didengar, bahkan dinikmati, padahal itu dosa. Wajar bila potensi dosa kita yang belum terampuni sangat banyak, dan salah satu cara Allah menggugurkannya adalah dengan memberi sakit.

Dalam riwayat Aisyah yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ وَجَعٌ أَوْ مَرَضٌ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهِ عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، أَوِ النَّكْبَةُ يُنْكَبُهَا

"Tidaklah seorang muslim ditimpa rasa sakit atau penyakit melainkan Allah menggugurkan dosa-dosanya dengan itu, bahkan duri yang menusuknya atau tersungkur di atas wajahnya."

Maka semua bentuk rasa sakit, termasuk kesandung atau salah menendang, ikut menjadi penghapus dosa.

Wasiat Sa'ad bin Abi Waqqash dan Sepertiga yang Sudah Banyak

Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu jatuh sakit parah di Makkah, dan Rasulullah ﷺ datang menjenguknya. Sa'ad berkata bahwa ia memiliki harta yang banyak sementara ahli warisnya hanya seorang putri. Ia bertanya apakah boleh berwasiat dua pertiga hartanya untuk jalan Allah. Nabi ﷺ menjawab tidak. Ia meminta setengah, dan beliau menjawab tidak lagi. Ia meminta sepertiga, dan beliau menjawab, "Sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak." Dalam riwayat lain beliau bersabda:

إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

"Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, meminta-minta kepada orang lain." (Muttafaq 'alaih)

Dari sini Ustadz menjelaskan beberapa pelajaran. Wasiat adalah harta yang dibagikan setelah wafat, sedangkan hadiah atau wakaf diberikan semasa hidup. Wasiat maksimal sepertiga harta, jadi orang yang memiliki satu miliar hanya boleh berwasiat sekitar 333 juta, dan sisanya untuk ahli waris. Berbeda dengan hadiah atau wakaf yang diberikan ketika sehat, yang langsung berlaku. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahkan berkata bahwa sebaiknya orang menguranginya menjadi seperempat, karena Rasulullah ﷺ sendiri menyebut sepertiga sudah banyak. Intinya, syariat sangat memperhatikan ahli waris agar tidak terzalimi dan tidak jatuh miskin. Maka jangan terlalu bersemangat menyedekahkan seluruh harta sehingga anak-anak terlantar.

Sunnah Menjenguk: Sentuhan dan Doa

Dalam riwayat itu Rasulullah ﷺ meletakkan tangan di dahi Sa'ad, mengusap wajah dan perutnya, lalu berdoa Allāhummasyfi Sa'dan wa atmim lahu hijratah, "Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad dan sempurnakanlah hijrahnya." Sa'ad merasakan dinginnya tangan Nabi ﷺ di hatinya hingga akhir hayat. Ustadz menjelaskan latar belakang doa itu. Sa'ad menangis karena khawatir wafat di Makkah, negeri yang telah ia tinggalkan karena Allah. Para muhajirin tidak boleh kembali menetap di tanah yang mereka tinggalkan, sehingga ia takut hijrahnya tidak sempurna.

Dari sini kita belajar adab menjenguk. Sunnahnya adalah meletakkan tangan pada orang sakit, di dahi, wajah, atau perutnya, sambil berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

"Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit." (Muttafaq 'alaih)

Jika tidak mengusap pun tidak apa-apa, yang penting menyentuhnya sambil berdoa. Sentuhan membuat orang sakit merasa diperhatikan, dan hal itu bisa menaikkan semangatnya.

Menyangka Wafat, Ternyata Panjang Umur

Sa'ad menyangka ajalnya sudah dekat, tetapi ia sembuh, memiliki banyak anak, dan kemudian memimpin pasukan dalam Perang Qadisiyah yang menaklukkan Persia. Ustadz menegaskan bahwa umur tidak ada yang tahu. Banyak orang sehat meninggal tanpa didahului sakit, dan banyak orang sakit yang masih hidup bertahun-tahun. Beliau menyebut kenalannya yang mengidap diabetes sejak umur tiga puluh dan hampir delapan puluh tahun masih hidup, sementara yang tidak berpenyakit gula bisa wafat di umur enam puluhan karena penyakit lain. Beliau menceritakannya sambil bercanda tentang gorengan yang tiap hari dimakan.

Kesembuhan Hanya dari Allah

Rasulullah ﷺ sendiri ketika mengobati orang sakit hanya berdoa kepada Allah. Nabi Ibrahim 'alaihissalam berkata:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku." (QS. Asy-Syu'ara': 80)

Maka tidak benar jika kesembuhan dimohonkan kepada makhluk. Ustadz menyebut contoh yang beliau lihat di internet, yaitu orang yang datang ke kuburan seorang wali lalu memohon kesembuhan anaknya kepada penghuni kubur. Menurut beliau, itu syirik akbar. Beliau juga menyebut orang yang berteriak memanggil Ali bin Abi Thalib saat pesawat terguncang, padahal Ali sendiri tidak mampu membela dirinya ketika ditikam. Orang-orang saleh itu wali Allah, tetapi bukan untuk dijadikan tempat meminta. Rasulullah ﷺ saja tidak berkata "wahai Muhammad, sembuhkan aku." Demikian pula lelaki dalam kisah Ashabul Ukhdud yang diberi karamah menyembuhkan orang buta, ia menegaskan bahwa yang menyembuhkan adalah Allah dan ia hanya berdoa.

Pahala Amal Orang Sehat Tetap Dicatat

Bab berikutnya berjudul bāb yuktabu lil-marīdh mā kāna ya'malu wa huwa shahīh, bahwa dicatat bagi orang yang sakit pahala amal yang biasa ia kerjakan ketika sehat. Orang sakit banyak terhalang, ada yang tidak bisa shalat malam, berpuasa, bersilaturahim, atau bersedekah karena penghasilan berkurang. Di antara keindahan syariat, "argo pahala" tetap berjalan. Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَمْرَضُ إِلَّا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ وَهُوَ صَحِيحٌ

"Tidaklah seseorang jatuh sakit melainkan dicatat untuknya semisal apa yang biasa ia kerjakan ketika ia sehat."

Dalam hadits Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu dalam Shahih Bukhari:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

"Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, dicatat baginya semisal apa yang biasa ia kerjakan ketika mukim dan sehat." (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabat dalam perjalanan jihad bahwa di Madinah ada orang-orang yang tidak kalian tempuh lembah dan tidak kalian naiki gunung kecuali mereka bersama kalian, karena sakit menahan mereka. Ustadz memberi contoh orang yang biasa shalat malam, shalat dhuha, dan bersedekah, lalu terkena stroke dan terduduk dua puluh tahun. Selama dua puluh tahun itu, pahalanya tetap dicatat. Allah mengetahui bahwa seandainya ia sehat, ia akan melakukannya. Begitu pula dengan musafir yang tidak sempat shalat sunnah rawatib, berpuasa sunnah, atau silaturahim karena perjalanan. Pahalanya tetap dicatat.

Namun ada syaratnya, yaitu amal itu sudah menjadi kebiasaan, bukan dilakukan sesekali. Rasulullah ﷺ bersabda, "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit." Ustadz bercerita tentang seorang dai di Arab Saudi yang setiap Kamis keluar berdakwah ke kampung-kampung. Setelah mengalami kecelakaan, ia terduduk puluhan tahun, namun pahala dakwahnya tetap mengalir karena kebiasaannya.

Penjelasan ini juga membantah satu syubhat. Orang yang berkata mengapa kekafiran selama enam puluh tahun dibalas dengan neraka yang abadi. Jawabannya, Allah memberi pilihan, enam puluh tahun beriman dibalas surga abadi atau enam puluh tahun kafir dibalas neraka abadi. Siapa yang memilih yang kedua jangan menyalahkan Allah. Allah juga mengetahui bahwa seandainya mereka dihidupkan kembali, mereka akan kembali kufur:

وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

"Seandainya mereka dikembalikan (ke dunia), tentu mereka akan kembali (melakukan) apa yang telah dilarang. Sungguh, mereka itu pendusta." (QS. Al-An'am: 28)

Di akhir bab, riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menyempurnakan penjelasannya. Selama sakit, Allah mencatat amal yang biasa ia kerjakan ketika sehat. Jika sembuh, dosa-dosanya dicuci, dan jika wafat, ia diampuni. Hanya ada dua ujung penyakit, yaitu sembuh atau wafat, dan keduanya berujung pengampunan. Maka dengan nada yang sama Asma binti Abu Bakar berkata bahwa ia tidak ingin wafat sampai salah satu dari dua ujung itu datang kepadanya.

Demam yang "Datang" kepada Nabi, dan Kaum Anshar yang Dicintai

Hadits terakhir dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa demam datang kepada Nabi ﷺ. Ustadz menegaskan bahwa kita beriman dengan hadits seperti ini tanpa menakwilkan, sebab Allah mampu mengubah sesuatu yang abstrak menjadi konkret. Demikian pula amal saleh yang kelak ditimbang, atau datang menemani di kubur sebagai sosok yang tampan lagi harum. Puasa dan Al-Qur'an memberi syafaat, Al-Baqarah dan Ali Imran datang bagaikan dua awan yang menaungi, sedekah menaungi pemiliknya di padang mahsyar, serta rahim dan amanah berdiri di kanan kiri shirath. Bahkan kematian dihadirkan dalam rupa domba lalu disembelih di antara surga dan neraka.

Demam itu berkata, "Utuslah aku kepada keluargamu yang paling engkau dahulukan." Nabi ﷺ menjawab, "Pergilah kepada kaum Anshar." Kaum Anshar adalah orang-orang yang sangat dekat di hati beliau. Beliau bersabda bahwa Anshar adalah syi'ār sementara manusia lain adalah dithār. Artinya Anshar adalah pakaian yang menempel di kulit, sementara yang lain pakaian luar. Mereka pun demam selama enam hari, lalu mengadu kepada Nabi ﷺ. Beliau mendatangi rumah demi rumah dan mendoakan mereka.

Mengadu di sini, kata Ustadz, berbeda dengan memprotes takdir. Menceritakan keluhan penyakit kepada dokter bukan berarti memprotes Allah. Yang tidak boleh adalah mengeluh sambil mempertanyakan keputusan-Nya.

Pilihan Seorang Wanita: Sabar demi Surga

Seorang wanita Anshar mengejar Nabi ﷺ dan berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku juga dari Anshar dan ayahku dari Anshar, doakanlah aku seperti engkau mendoakan kaum Anshar." Beliau menjawab, "Jika engkau mau, aku doakan agar sembuh. Jika engkau mau, bersabarlah dan bagimu surga." Ia memilih sabar, dengan mengatakan bahwa ia tidak mau menjadikan surganya sebagai spekulasi.

Dari sini Ustadz menyoroti beberapa pelajaran. Pertama, adab bersumpah. Wanita itu bersumpah dengan Dzat yang mengutus Nabi, bukan dengan nama Nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

"Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah berbuat syirik." (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Seseorang boleh berkata wa rabbi Muhammad atau wa rabbil Ka'bah, tetapi tidak boleh wa Muhammad atau wal Ka'bah. Aisyah radhiyallahu 'anha pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Aku tidak memboikot kecuali namamu." Kedua, Rasulullah ﷺ tidak berkata "aku yang menyembuhkanmu", beliau berkata, "Kalau engkau mau, aku berdoa kepada Allah." Ketiga, dalam kata-kata wanita itu terdapat kecerdasan karena ia tidak mau berspekulasi dengan surganya.

Jangan Berspekulasi dengan Surga

Ustadz mengaitkannya dengan realitas kita. Banyak orang berspekulasi dengan surga, nekat bertransaksi riba, menipu orang, duduk berjam-jam menonton hal yang tidak pantas, lalu berkata "nanti tobat sekali saja, sekalian naik haji." Hidup hanya sekali. Ada yang mengorupsi uang rakyat lalu membangun pesantren, menyangka urusannya aman, padahal haji dan pondok dari uang haram adalah tanda spekulasi yang sangat tinggi. Seakan-akan Allah bisa dikelabui. Maka ketika ada tawaran yang syubhat, tinggalkan saja, sebab rezeki di tangan Allah dan tidak berubah karenanya, dan lebih baik tidak siap dihisab dalam hal yang meragukan.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang dicintai Allah justru sering diuji. Kita menginginkan tanda cinta berupa harta dan kesehatan, tetapi tanda cinta Allah sering datang dalam bentuk ujian. Nabi ﷺ bersabda, "Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka." Kita hanya diperintahkan meminta 'āfiyah, bukan sakit, dalam doa pagi dan petang, yaitu Allāhumma innī as'alukal-'āfiyata fid-dunyā wal-ākhirah. Tetapi Allah lebih tahu mana yang terbaik, seperti orang tua yang tidak mengabulkan semua rengekan anaknya karena tahu mana yang baik. Kadang doa dikabulkan di dunia, kadang ditunda, kadang diganti di akhirat.

Penutup

Rasa sakit dan rasa takut sama-sama menjadi sebab pengampunan bagi orang beriman. Penyakit membersihkan karat dosa, argo pahala amal kita yang biasa tetap berjalan selama kita terhalang, dan sabar bisa menjadi jalan menuju surga. Karena itu jangan membiasakan diri memprotes takdir, jangan meminta kesembuhan dari selain Allah, dan jangan berspekulasi dengan surga. Mulailah menanam kebiasaan amal saleh walau sedikit, seperti seribu rupiah sedekah, satu rakaat witir, atau dzikir pagi dan petang. Bisa jadi itulah yang tetap mengalir saat tubuh sudah tak mampu lagi.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami 'āfiyah di dunia dan akhirat. Jika Engkau mengujikan kami dengan sakit, jadikanlah ia penggugur dosa dan pengangkat derajat, serta karuniakan kesabaran dan rida. Tetapkan amal saleh kami menjadi kebiasaan yang terus berlanjut, jagalah kami dari berspekulasi dengan surga-Mu, dan sempurnakanlah akhir hidup kami dalam husnul khatimah. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar