September 28, 2010

Penilaian Tahap Akhir Program Insentif Ristek

Dalam rangka pembangunan iptek yang dikaitkan dengan pengembangan Sistem Inovasi Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) setiap tahun meluncurkan Program Insentif Riset. Program tersebut adalah instrumen kebijakan yang diluncurkan KRT untuk menjalankan misinya dalam memberikan kesempatan dan memotivasi institusi penelitian, pengembangan, dan penerapan, serta pelaku iptek dalam melakukan penelitian, mengatasi permasalahan yang secara sistematis menghambat pertumbuhan inovasi, dan mendorong adopsi hasil inovasi oleh pelaku bisnis/ industri, masyarakat dan pemerintah. Program tersebut dibagi atas empat bentuk yaitu Insentif Riset Dasar, Insentif Riset Terapan, Insentif Peningkatan Kapasistas Iptek Sistem Produksi dan Insentif Percepatan Difusi dan Pemanfaatan Iptek.

Pada hari Selasa, 28 September 2010, KRT dan DRN menyelenggarakan Penilaian Tahap Akhir Program Insentif Riset TA 2011 terhadap proposal riset baru yang telah lulus Desk Evaluation. Pada kegiatan yang bertempat di Graha Widya Bakti Puspiptek tersebut, para peneliti yang mengajukan proposal diberikan kesempatan untuk mempresentasikan rencana risetnya di depan tim penilai yang terdiri dari anggota DRN.

Seperti telah tertuang dalam RPJMN 2010-2014 dan ARN 2010-2014, aktivitas insentif riset diselenggarakan dalam tujuh bidang fokus. Pada kegiatan hari ini, jumlah proposal riset yang dinilai berdasarkan bidang fokus tersebut adalah : Ketahanan Pangan sebanyak 70 proposal, Teknologi Kesehatan dan Obat sebanyak 39 proposal, Energi sebanyak 43 proposal, Teknologi dan Manajemen Transportasi sebanyak 39 proposal, Teknologi Informasi dan Komunikasi sebanyak 38 proposal, Teknologi Pertahanan dan Keamanan sebanyak 42 proposal, serta Material Maju sebanyak 38 proposal. Selain itu terdapat pula proposal penelitian untuk dua Faktor Pendukung Keberhasilan yaitu Sains Dasar sebanyak 38 proposal dan Sosial  Kemanusiaan sebanyak 35 proposal. Jumlah proposal tersebut di atas tidak termasuk 165 proposal lanjutan yang telah dinilai pada bulan Agustus yang lalu.

Menurut Asdep Jaringan Penyedia, Sri Setiawati, proposal penelitian baru maupun lanjutan tersebut akan dipilih berdasarkan nilai yang terbaik dan jumlah proposal yang dibiayai akan disesuaikan dengan ketersediaan pagu anggaran Program Insentif Riset yang berjumlah 100 milyar rupiah. Sri Setiawati menambahkan, salah satu indikator penting dalam penilaian proposal riset tersebut adalah adanya keterkaitan dengan Produk Target. Produk Target adalah produk/layanan (berupa barang/jasa/sistem/prosedur) yang dicapai dalam rangka mendukung inovasi teknologi, berorientasi pada kebutuhan (demand driven), memperhatikan pengguna teknologi (masyarakat, industri dan pemerintah), bagaimana digunakan dan siapa pengguna, serta dengan pendekatan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, and Time-bound). “Proposal riset yang nantinya terpilih adalah yang mempunyai keluaran yang mendukung Produk Target tersebut”, Ujar Sri Setiawati. (mwr/humasristek)

September 27, 2010

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Penyelenggaraan Pekan Iptek Indonesia China 2011

Salah satu hasil dari Pertemuan Joint Committee  Iptek Indonesia-China ke-4 yang telah diselenggarakan pada 3 Agustus 2010 di Jogjakarta, adalah rencana penyelenggaraan China-Indonesia Science and Technology Week pada tahun 2011 mendatang. Dalam konsepnya, kegiatan ini merupakan ajang berkumpulanya para peneliti, ilmuwan, akademisi, sektor industri serta stakeholder iptek lainnya baik dari Indonesia maupun China.  Pada kegiatan yang akan dikemas dalam bentuk konferensi dan pameran tersebut, para stakeholder iptek dari kedua negara dapat berinteraksi serta bertukar informasi dan pengalaman dalam bidang pengembangan iptek dan inovasi.

Untuk menindaklanjuti rencana penyelenggaraan kegiatan S&T Week tersebut, Deputi Bidang Jaringan Iptek, Kementerian Ristek, Syamsa Ardisasmita bersama Direktur Jenderal Kerjasama Internasional Kementerian Iptek Republik Rakyat China, Jin Xiaoming menandatangani Implementing Agreement on 2011 China-Indonesia Science and Technology Week pada hari Senin, 27 September 2010, di Gedung II BPPT Lantai 24, Jakarta. Penandatanganan agreement tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata; Wakil Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, Li Xueyong; dan Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Zhang Qiyue.

Dalam sambutanya, Menristek menegaskan bahwa kegiatan S&T Week mempunyai nilai strategis, dimana kedua negara dapat saling berbagi dan belajar tentang potensi, kekuatan dan kebutuhan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Menristek, mengetahui kondisi iptek di negara mitra sangat penting sebagai dasar menentukan pengembangan kerjasama tersebut ke depan. “Kegiatan konferensi dan pameran tersebut akan memandu kita menentukan prioritas bidang kerjasama yang akan kita lakukan dengan China ke depan’, Ujar Menristek.

Sementara itu, Li Xueyong dalam sambutannya menyampaikan harapan yang senada dengan Menristek terkait penyelenggaraan China-Indonesia S&T Week tahun depan. Li juga menyampaikan rencana kunjungan dua orang astronout China ke Indonesia pada bulan 13-19 November mendatang. Menurut Li, dalam kunjungannya ke Indonesia, kedua astronot China tersebut akan melakukan beberapa kunjungan termasuk dialog interaktif dengan siswa siswi sekolah menengah tingkat pertama. “Saya berharap kunjungan kedua astronot China tersebut tidak hanya memperkuat kerjasama kedua negara di bidang teknologi angkasa luar, namun juga mempererat ikatan persahabatan antara warga kedua negara’, Ujar Li Xueyon.

Menristek menyambut gembira rencana kunjungan kedua astronot China tersebut dan berharap generasi muda Indonesia dapat memanfaatkan kesempatas emas tersebut untuk belajar langsung dari kedua astronot China terkait pencapaian mereka yang fenomenal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, Asdep Jaringan Iptek Internasional, Nada Marsudi menyampaikan bahwa kerjasama Indonesia-China di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah terjalin sejak tahun 2003 dan meliputi bidang pertanian, energi, ketahanan pangan dan obatt-obatan herbal. Melalui penyelenggaraan S&T week ini diharapkan bidang-bidang kerjasama yang lain dapat diidentifikasi dan diimpelementasikan di masa yang akan datang.  (munawir)

September 22, 2010

Menko Perekonomian Buka Gelar Teknologi Tepat Guna XII

Kebijakan arah dan prioritas pembangunan ekonomi yang dituangkan dalam RPJMN 2010-2014 ditujukan untuk  meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan kemandirian dan daya saing bangsa serta memperkokoh fondasi perekonomian nasional. Salah satu sasaran yang ingin dicapai pemerintah adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam 2010-2014 rata-rata 6,6 – 6,8 persen pertahun dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkeadilan.  Untuk mencapai sasaran tersebut, maka kebijakan ekonomi serta  kebijakan ilmu pengetahuan dan teknologi harus terintegrasi dan selaras dengan upaya peningkatan daya saing nasional.

Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian, Hatta Radjasa, saat membacakan sambutan tertulis Presiden Republik Indonesia pada pembukaan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) XII di Jogja Expo Center, Jogjakarta pada Selasa, 22 September 2010. Hatta Radjasa pada kesempatan tersebut didampingi oleh Mendagri, Gamawan Fauzi dan Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tampak hadir pula sejumlah Gubernur dan Bupati/Walikota dari berbagai daerah di tanah air.

Gelar TTG merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan secara bergilir oleh pemerintah provinsi. Kegiatan ini selalu diselenggarakan dengan melaksanakan kegiatan pameran teknologi tepat guna, seminar serta temu bisnis. Gelar TTG XII kali ini bertemakan “Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat”. Hatta Radjasa menilai tema tersebut sangat tepat dan relevan dengan upaya besar pemerintah untuk meningkatkan peran teknologi sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Dengan tema itu saya mengajak semua untuk menyatukan langkah dan memantapkan koordinasi bagi peningkatan penguasaan dan pemanfaatan teknologi yang dapat mendukung tranformasi  perekonomian nasional menuju perekonomian yang maju dan berbasis pada keunggulan komptetitif” Ujar Hatta Radjasa.

Teknologi tepat guna adalah yang teknologi yang cocok dengan kebutuhan masyarakat sehingga bisa dimanfaatkan. Biasanya dipakai sebagai istilah untuk teknologi yang tidak terlalu mahal, tidak perlu perawatan yang rumit, dan penggunaannya ditujukan bagi masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Menurut Hatta Radjasa, teknologi tepat guna adalah teknologi yang sesuai dengan modal, daya beli, keterampilan dan kapasitas rakyat Indonesia. Teknologi tepat guna sangat sesuai dengan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong yang mudah diperoleh di bebagai pelosok tanah air. Mengingat pentingnya manfaat teknologi tepat guna yang memiliki keunggulan kompetitif sesuai dengan kondisi lingkungan sosial, budaya dan ekonomi rakyat,  pemerintah akan mendorong Komite Inovasi Nasional untuk menjadikannya program unggulan. “Saya meminta KIN dapat membantu merumuskan dan mendorong berkembangnya teknologi yang unggul, mampu bersaing dan dapat diterapkan oleh masyarakat, utamaya yang bergerak di usaha skala mikro, kecil dan menengah.” Ujar Hatta Radjasa.

Hatta menambahkan, untuk saat ini dan kedepan pemberdayaan dan penggunaan Teknologi tepat guna harus difasilitasi sebagai proses difusi teknologi di kalangan masyarakat. Pengembangan Teknologi tepat guna secara produktif dapat mempercepat interaksi yang sinergis antara produsen teknologi dengan pengguna teknologi.  Interaksi seperti inilah yang ikut mendorong tumbuh dan berkembangnya inovasi teknologi  sekaligus memfasilitasi tumbuhnya kewirausahaan teknologi atau technopreneuship.

Kegiatan Gelar TTG XII yang akan berlangsung pada tanggal 22-26 September 2010 diikuti oleh 386 stand dari pemerintah provinsi, kabupaten, kota, dunia usaha, lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Kementerian Riset dan Teknologi bersama BPPT, BATAN, BAKOSURTANAL dan LIPI yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut menggelar Panggung Inovasi yang selama kegiatan TTG XII akan menggelar talkshow dengan menghadirkan pakar dan narasumber yang terkait dengan Teknologi Tepat Guna.   (munawir)

September 21, 2010

Kementerian Ristek akan berpartisipasi pada IDAM Expo 2010

Kementerian Pertahanan setiap dua tahun sekali menyelenggarakan kegiatan pameran yang bersifat internasional yaitu Indo Defence Expo dan Forum. Untuk Tahun 2010, penyelenggaraan Indo Defence 2010 agak berbeda dengan pelaksanaan dua kali sebelumnya.  Kali ini selain melibatkan peralatan darat juga peralatan laut dan udara. Dengan demikian Indo Defence 2010 dapat disebut Indo Defence, Indo Aerospace dan Indo Marine Expo (IDAM) 2010.

Dalam rangka mempersiapkan partisipasi stakeholder terkait riset dan iptek pada kegiatan IDAM 2010, Kementerian Riset dan Teknologi menyelenggarakan rapat koordinasi pada Selasa, 21 September 2010. Rapat yang dipimpin oleh Asisten Deputi Produktivitas Riset Iptek Strategis, Goenawan Wybisana dihadiri perwakilam dari Balitbang Kementerian Pertahanan, LPNK Ristek, perguruan tinggi dan industri strategis bidang hankam.

Menurut Gunawan Wybisena, Kementerian Riset dan Teknologi pada kegiatan IDAM 2010 akan menyerahkan secara simbolis 20 perangkat peralatan komunikasi untuk keperluan tempur yang diproduksi PT. LEN kepada Kementerian Pertahanan. Peralatan yang bernama Manpack Alkom FISCOR-100 tersebut beroperasi pada rentang frekuensi 2 Mhz hingga 30 Mhz dengan 256 channel dengan kebutuhan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Peralatan ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level pleton hingga batalion
.
Selain itu, pada IDAM 2010, Kementerian Riset dan Teknologi berencana untuk memamerkan roket RX-550 buatan LAPAN yang memiliki diameter 550 mm dan tinggi 18 meter di pintu gerbang Jakarta Internasional Expo, Kemayoran yang akan menjadi tempat pelaksanaan IDAM 2010 pada tanggal 10-13 November mendatang. Gunawan berharap kehadiran roket RX-550 pada pameran tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri kepada masyarakat.

Kementerian Pertahanan selaku penyelenggara menargetkan kegiatan IDAM 2010 ini akan diikuti peserta dari luar negeri yang berasal dari 38 negara dan  dalam negeri sebanyak sebanyak 550 perusahaan, dengan target  pengunjung sekitar 20.000 orang. (munawir)

September 19, 2010

Revitalisasi Kerjasama Iptek Indonesia-India

Indonesia dan India telah memiliki hubungan yang harmonis dan unik bahkan sejak zaman kuno. Terdapat banyak persamaan latar belakang kebudayaan di antara kedua negara. Sejak awal kemerdekaan pun, pemimpin kedua negara, Soekarno dan Jawaharal Nehru berkomitmen untuk menjaga hubungan baik yang dijalin kedua negara tersebut. Kedua negara juga memiliki peran yang penting dalam mendirikan Gerakan Non-Blok dan mendorong Kerjasama Selatan-Selatan.  Hubungan baik yang telah terjalin tersebut menjadi dukungan yang positif bagi India dan Indonesia untuk menjalin kerjasama efektif di bidang riset dan iptek.

Hal tersebut disampaikan Syamsa Ardisasmita, Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, saat memberikan Sambutan pada The 2nd Meeting of Indonesia-India Joint Science and Technology Committee yang diselenggarakan di Hotel Ramayana, Bali pada tanggal 19 Oktober 2010.

Indonesia dan India memiliki pandangan yang sama terhadap strategisnya kerjasama di bidang riset dan Iptek. Nota Kesepahaman Kerjasama Iptek antara kedua negara telah ditandatangani pada tahun 2001 dan telah menghasilkan beberapa tindakan nyata, antara lain adalah  pengiriman 41 orang dari Indonesia untuk berpartisipasi dalam pelatihan ICT di TATA INFOTECH Bangalore, partisipasi enam orang ilmuwan dan pembuat kebijakan iptek pada ASEAN-India Teknologi S & T Teknologi Platform ke-12 pada tahun 2006, penelitian satelit kerjasama antara LAPAN dan ISRO; serta beberapa lokakarya ASEAN India di bidang Iptek Material.

Dalam sambutannya, Syamsa menegaskan pertemuan ini menjadi momen yang tepat untuk melakukan revitalisasi kerjasama yang terjalin selama ini. Syamsa berharap dari kerjasama bilateral ini, Indonesia dapat belajar dari kemajuan iptek yang telah dicapai India. “Dengan kerjasama ini kita dapat berbagi pengalaman dengan India  di bidang kesehatan dan kedokteran, teknologi informasi dan komunikasi serta desalinasi air laut”, Ujar Syamsa.

Salah satu bidang prioritas yang akan dikerjasamakan kedua negara adalah Teknologi Infomasi dan Komunikasi,  di antaranya adalah pengembangan perpustakaan digital, perangkat lunak open source, dan penerapan e-voting. Khusus untuk e-voting, pada tahun 2004 India telah terlebih dahulu menerapkan e-voting pada pemilihan parlemen dengan total peserta pemilu yang mencapi 290 juta orang dan menggunakan lebih dari 1 juta perangkat e-voting (EVM). Pada kesempatan tersebut, Syamsa menyampaikan bahwa dari aspek teknologi, Indonesia telah siap melaksanakan e-voting. Namun tantangan yang masih dihadapi pemerintah saat ini adalah meyakinkan seluruh pihak bahwa penerapan teknologi e-voting pada proses pemilu maupun pilkada adalah metode yang lebih efektif, efisien, terjaga kerasahasiannya dan hasilnya tetap kredibel.              

Pada pertemuan tersebut hadir pula dari Kementerian Ristek, Amin Soebandrio, Staf Ahli Menristek bidang Kesehatan dan Obat; Masrizal, Staf Ahli Menristek bidang Pertanian dan Pangan; Engkos Koswara, Staf Ahli Menristek bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi; serta Nada Marsudi, Asdep Jaringan Iptek Internasional. Dari LPNK turut hadir Bambang Prasetya, Deputi Bidang Ilmu Hayati, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); Bambang Herunadi dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP); Andrari Grahitandaru dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); Andriani Agustina dan Erni Sri Sinta dari LAPAN; Moch. Riyadi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Irma S. Hapsari dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Sedangkan, delegasi dari India terdiri dari A.K. Sood, Direktur Kerjasama Internasional, Kementerian Iptek India; K.V. Prabu, Principal Scientist dari Indian Agriculture Research Institute; Vibha Tandon dari Universitas Delhi; R.K. Sharma dari Institute of Nuclear Medicine and Allied Sciences; serta Sugandh Rajaram dari Kedutaan Besar India di Jakarta.

Di akhir pertemuan, Syamsa Ardisasmita dan A.K, Sood menandatangani Minutes of Meeting yang di dalamnya menyepakati  untuk melakukan satu lokakarya setiap tahun mulai 2011-2013, untuk menunjuk Kementerian Ristek Indonesia dan Kementerian Iptek India sebagai focal point untuk mendorong komunikasi antar instansi terkait di kedua negara, serta untuk menyelesaikan draft Nota Kesepahaman yang baru di bidang Iptek yang rencananya akan ditandatangani saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke India pada awal tahun 2011. (munawir)

September 8, 2010

Kerjasama Riset Kelautan Indonesia-Amerika Serikat melalui Index Satal 2010

Kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat di bidang riset kelautan melalui Ekspedisi  Indonesia Exploration Sangihe Talaud (INDEX SATAL) 2010 berhasil menemukan sejumlah biota laut unik dan banyak sekali semburan hidrotermal di kedalaman perairan Sangihe Talaud. Berbagai biota laut yang ditemukan di sekitar gunung api bawah laut bernama Gunung Kawio di kedalaman 1.800 meter tersebut sangat unik karena mampu hidup dalam tekanan hingga 180 bar, di suhu panas 350 derajat Celcius serta dalam kondisi gelap tanpa sinar matahari.

Hal itu disampaikan Sugiarta W. Santosa, Ketua Tim Riset Indonesia Index Satal dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan saat menyampaikan presentasi hasil kegiatan Index Satal di depan tim Koordinasi Pemberian Izin Penelitian Asing di Kantor Kementerian Riset dan Teknologi, pada Rabu 7 September 2010.

Misi Index Satal 2010 merupakan misi riset bersama  antara  Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dari Indonesia dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dari Amerika Serikat. Misi Index Satal 2010 yang berlangsung selama 35 hari dari 6 Juli-9 Agustus 2010, memfokuskan riset dalam beberapa bidang yaitu pemetaan batimetri, celah hidrotermal, vulkanologi, geologi kelautan, habitat kelautan, oseonografi fisika dan biologi, hidrografi, flora dan fauna laut dalam, serta teknologi informasi kelautan.

Menurut Sugiarta, ada tiga hal yang mendasari Sangihe Talaud dipilih sebagai lokasi riset, yaitu pertama, wilayah tersebut unik secara tektonik yaitu double seduction dimana tidak banyak daerah di dunia yang mempunyai karakteristik seperti ini. Kedua, wilayah ini merupakan pertemuan dua jalur gunung api besar di dunia dan pertemuan jalur gempa wilayah timur dan pasifik. Ketiga, wilayah ini merupakan wilayah laut dalam yang belum banyak dieksplorasi potensinya.

Ekspedisi Index Satal melibatkan Kapal Riset Okeanos Explorer milik NOAA serta Baruna Jaya IV milik BPPT. Kapal Okeanos memiliki  kemampuan teknologi pemantauan laut dalam menggunakan ROV (remotely operated vehicle) bernama Hercules Little yang mampu menyelam hingga kedalaman 7000 meter dan dilengkapi dengan High Definition Camera yang mampu mengambil gambar yang hasilnya dapat dilihat langsung di Kantor BRKP di Jakarta Utara dan Kantor NOAA di Seatle.

Sedangkan kegiatan Kapal Baruna Jaya IV difokuskan pada pengambilan sampel biota, Bathymetric mapping sampai dengan kedalam 1500 meter, dan Mid-water and bottom trawling. Menurut Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam  BPPT, Ridwan Djamaluddin, ekspedisi bersama dua kapal riset merupakan yang pertama kali bagi BPPT. Kapal Baruna Jaya IV telah menyelesaikan tugas di ekspedisi ini dengan baik dan secara teknologi mampu mengimbangi kemampuan Oceanos Explorer. “Pada ekspedisi ini, Kapal Baruna Jaya IV bahkan mampu memberikan beberapa kontribusi yang tidak dapat dilakukan oleh Kapal Oceanos Explorer” Ujar Ridwan Djamaluddin.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral BPPT, Yusuf Surachman,  mengatakan keberhasilan ekspedisi Index Satal menemukan hydrothermal vent merupakan sebuah penemuan yang membanggakan. Pada umumnya, hydrothermal vents hanya terdapat di wilayah mid-ocean-ridge, namun expedisi ini ternyata mampu menemukan hydrothermal vents yang terdapat di Indonesia. “Sangat sulit untuk menemukan hydrothermal vents tanpa menggunakan peralatan yang canggih. Saya menganggap expedisi riset ini sukses karena mampu menemukan hal-hal yang baru” , Ujar Yusuf Surachman.

Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo yang memimpin rapat tersebut memberikan appresiasi atas keberhasilan tim ekspedisi Index Satal 2010. ”Semoga kerjasama ini dapat terus berjalan dan menghasilkan banyak hal yang bermanfaat bagi pengembangan riset dan iptek di Indonesia”, Ujar Teguh Rahardjo mengakhiri rapat tersebut.  (munawir)

September 3, 2010

Polri mengapresiasi Teknologi DNA Forensik Lembaga Eijkman

Di negara maju seperti Jepang dan Jerman, hasil pengembangan riset dasar membutuhkan waktu yang singkat untuk menjadi produk industri. Hal tersebut mengindikasikan bahwa riset dasar, semakin hari semakin dekat jaraknya dengan penerapan di masyarakat. Kondisi tersebut disebabkan adanya konsentrasi sumber daya manusia, infrastruktur, dan informasi pada lembaga-lembaga riset.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Menristek, Mulyanto saat memberikan sambutan pada acara Penyerahan Penghargaan Kapolri kepada Lembaga Eijkman pada hari Jumat, 3 September 2010 di Lembaga Eijkman. Penghargaan tersebut diberikan Kapolri sebagai wujud apresiasi atas kerjasama Lembaga Eijkman dalam membantu dan mendukung Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor), Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia, dalam identifikasi DNA kasus-kasus yang menjadi perhatian publik.

Mulyanto menambahkan bahwa Kementerian Riset dan Teknologi melalui berbagai program insentif riset, sedang dan akan terus mengarahkan riset dasar maupun terapan untuk bermuara pada difusi dan diseminasi, agar hasil riset dapat bekontribusi dalam penyelesaian masalah bangsa. “Keberhasilan Lembaga Eijkman dalam teknologi identifikasi DNA, membuktikan bahwa riset adalah sesuatu yang vital untuk dikembangkan ke depan, dan sekaligus menegaskan riset bukanlah menara gading”, Ujar Mulyanto.

Menurut Direktur Lembaga Eijkman, Sangkot Marzuki, Identifikasi DNA merupakan salah satu bentuk pengabdian Lembaga Eijkman kepada masyarakat untuk memberantas segala bentuk kejahatan dan merupakan bagian penting dari agenda utama pemerintah dalam menegakkan Indonesia yang lebih aman. Pengalaman bertahun-tahun dalam penelitian keanekaragaman genetik manusia Indonesia dan penyidikan DNA di Lembaga Eijkman, merupakan bukti keberhasilan aplikasi kemampuan teknologi biologi molekul yang lahir dari penelitian fundamental. “Ilmu Biologi Molekul yang dua puluh tahun lalu dianggap banyak orang sebagai suatu mimpi di awang-awang, sekarang telah terbukti sebagai teknologi garis depan untuk penanganan berbagai masalah nasional dalam keamanan, pertahanan dan kesehatan”, ujar Sangkot.

Sementara itu, Kepala Puslabfor Polri, Brigjen Polisi Budiono, yang hadir menyerahkan penghargaan tersebut mengemukakan bahwa kerjasama Polri dengan Lembaga Eijkman merupakan implementasi dari Grand Strategi Polti Tahap II Tahun 2010-2014 yang bertujuan untuk membangun kemitraan dan modernisasi kepolisian dengan memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan, baik dalam operasional maupun pembinaan guna efektivitas dan efisisensi pelaksanaan tugas, menuju Polri yang proporsional, profesional, mandiri, dipercaya masyarakat dan humanis.

Sejak tahun 2004, Lembaga Eijkman telah memiliki kapasitas yang memenuhi standard internasional dalam mengidentifikasi DNA dan berbagai macam barang bukti DNA untuk membantu POLRI dalam pengungkapan kasus-kasus kriminal, identifikasi korban bencana massal, penyidikan orang hilang, uji paternitas dan maternitas serta pengembangan database populasi. Saat ini, Unit Identifikasi DNA Lembaga Eijkman telah didukung oleh tersedianya peralatan dan teknologi mutakhir serta dilengkapi dengan sistem manajemen DNA Database serta perangkat lunaknya untuk mencari dan mencocokkan profil DNA yang telah dianalisis.

Mengakhiri sambutannya, Sangkot Marzuki mengutarakan bahwa  kerjasama Polri dengan Lembaga Eijkman secara resmi didasari oleh Nota Kesepahaman  tentang Penelitian Pengembangan Iptek dan Pelayanan di Bidang DNA Forensik yang ditandatangani pada tanggal 2 Maret 2005. Namun kerjasama kedua institusi sudah berjalan baik dan produktif dalam memandafaatkan teknologi DNA forensik sebelum nota kesepahaman tersebut ditandatangani. Kerjasama tersebut dimulai dengan penanganan kasus bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia. Kerjasama dan sinergi yang solid antara kedua lembaga di lapangan dan laboratorium, mampu menuntaskan kasus yang rumit tersebut kurang dari dua minggu. “Penyelesaian kasus tersebut tanpa bantuan apapun dari luar negeri. Prestasi tersebut dikukuhkan dalam suatu makalah ilmiah bersama antara POLRI dengan Lembaga Eijkman dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional utama untuk ilmu forensik”, Ujar Sangkot. (munawir)