May 21, 2013

SNI untuk Sirine Peringatan Dini Tsunami akan Ditetapkan

Pada tahun 2006, setelah terjadinya bencana tsunami di Pangandaran, Pemerintah Kabupaten Bantul bersama dengan beberapa elemen masyarakat telah menginisiasi pembangunan alat penyebaran peringatan dini tsunami berupa sirine yang dipasang pada garis pantai di Kabupaten Bantul  yang membentang sepanjang 13,7 KM. Hingga saat ini total 32 unit sirine telah dipasang dan terpadu dengan sistem pengeras suara di masjid, gereja dan fasilitas umum lainnya.

Hal itu disampaikan, Bupati Bantul, Ibu Sri Surya Widati, sesaat sebelum menyerahkan rumusan konsep SNI untuk Sirine Peringatan Dini Tsunami kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menegristek), Gusti Muhammad Hatta, di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Senin 20 Mei 2013. Menurut Sri, sistem peringatan dini tsunami dengan sirine tersebut yang merupakan hasil inovasi dan kreativitas masyarakat, telah berfungsi dengan baik saat diuji pada kegiatan tsunami drill yang didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Sistem tersebut juga telah direplikasi di beberapa daerah lain, seperti Purworejo, Kebumen, Cilacap dan Ciamis. “Oleh karena itu, kami mendorong agar hasil inovasi masyarakat yang berbasis kearifan lokal dapat berkembang menjadi industri yang berdaya saing, sehingga perlu dibuat standar nasional (SNI)  untuk sirine ini”, ujar Sri Surya Widati.

Sementara itu, Menurut Menegristek, sejak Tahun 2008, Presiden telah meresmikan Sistem Peringatan Dini Tsunami, dimana potensi bencana tsunami sudah dapat diketahui paling lama 5 menit setelah terjadinya gempa. Namun, tambah Menegristek, yang peringatan dini ini perlu ditunjang sistem penyebaran peringatan dini yang sifatnya menjangkau masyarakat di daerah rawan bencana, seperti sistem sirine yang dibuat oleh masyarakat Bantul. “Saya sangat senang dan mendorong sistem ini untuk menjadi Standar Nasional, karena merupakan karya anak bangsa dan dibuat dari bahan lokal dari dalam negeri”, Ujar Mennegristek.

Lebih lanjut Menegristek menyampaikan, berdasarkan data dari Badan Informasi Geospasial (BIG) sejak 2006 lalu, Indonesia mempunyai garis pantai 104 ribu kilometer. Dengan panjang ini, Indonesia merupakan negara ke-empat setelah Amerika Serikat, Kanada dan Rusia. Para ahli memperkirakan separuh pesisir pantai Indonesia, berarti sekitar 52 ribu kilometer, rawan tsunami. Sirine di tingkat lokal yang dibahas mempunyai radius daya pancar sekitar 200 meter. Hal ini berarti diperlukan sekitar130 ribu unit sirine di sepanjang pantai Indonesia yang rawan tsunami. Bila harga tiap sirine ini Rp. 20 juta, maka tidak kurang dari Rp. 2,2 trilyun harus disediakan untuk keperluan melindungi masyarakat dari ancaman bencana tsunami. SNI diperlukan agar sistem sirine sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi lokal sehingga kebutuhan sistem sirine yang besar dapat dipenuhi dari industri dalam negeri. (munawir)

Menristek Luncurkan Ujicoba Prototipe Bus Listrik

Pengembangan mobil hibrida dan mobil listrik merupakan visi yang telah dibangun Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika mengambil inisiatif menjadi tuan rumah UN Climate Change Conferentce di Bali pada 2007. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan perlunya percepatan pengembangan mobil ramah lingkungan untuk mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17 tahun lalu, Presiden kembali meminta Kementerian Riset dan Teknologi dan pihak terkait lainnya untuk membuat kendaraan yang ramah lingkungan, dengan istilah Low Cost Green Car dan lebih ditekankan kepada angkutan publik. Bus Listrik buatan LIPI merupakan salah satu wujud dari kendaraan ramah lingkungan tersebut.

Hal itu disampaikan Menegristek, Gusti Muhammad Hatta, saat memberikan sambutan pada acara Peluncuran Uji Coba Prototipe Bus Listrik di Taman Pintar Yogkarta, Senin, 20 Mei 2013. Menurut Menegristek, bus listrik bisa menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran udara, “Di Jakarta, 40 persen pencemaran udara berasal dari transportasi. Penggunaan bus litrik yang bebas emisi akan membantu menjaga kualitas udara di Yogyakarta”, ujar Menegristek.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan bahwa Pemda DIY menyambut baik dan mengapresiasi  ujicoba prototipe riset bus listrik ini. Menurut Sri Sultan, kemacetan telah menjadi masalah dalam transportasi yang serius di Yogyakarta. Setiap bulannya terjadi penambahan 200-300 mobil dan 6000 sepeda motor yang tidak seimbang dengan pertumbuhan infrastruktur jalan. “Oleh karena itu, penggunaan bus listrik  diharapkan dapat menjadi solusi transportasi massal di Jogjakarta”, ujar Sri Sultan.

Sri Sultan menjelaskan beberapa keunggulan bus listrik,  yaitu tidak memiliki emisi gas buang, tidak bising seperti mesin diesel, sehingga merupakan alat angkut yang ramah lingkungan. Bus Listrik juga hemat dalam penggunaan bahan bakar karena konsumsi listrik sesuai dengan pola gerak kendaraan. Sri Sultan berharap, Ujicoba prototipe bus listrik di Yogyakarta bisa memberikan umpan balik positif bagi pengembangan program mobil listrik, yang saat ini telah masuk kedalam tahap riset dan ujicoba protitipe, penyiapan regulasi dan identifikasi sektor industri.  

Selama masa ujicoba beberapa bulan kedepan, Bus listrik LIPI yang menggunakan tenaga baterai dan berkapasitas 12 orang tersebut akan melayani wisatawan yang ingin berkeliling di seputar kawasan keraton dan alun-alun DIY, tanpa dipungut biaya. Tempat pengisian (Charging Point) daya baterai bus Listrik telah disiapkan PT. PLN dan ditempatkan di Terminal Penumpang Giwangan dan Taman Pintar yang juga menjadi pickup point untuk penumpang bus.

Sebelum peluncuran ujicoba oleh Menegristek, Gubernur DIY dan Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, terlebih dahulu ditandatangi Kesepakatan bersama antara Kementerian Ristek dan Pemkot Yogyakarta terkait program ini. Turut hadir dalam acara ini, Sekretaris Kementerian Ristek, Hari Purwanto; Deputi Bidang Jaringan Iptek, Agus Rusyana Hoetman; kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar, Kepala BATAN, Djarot S. Wisnubroto;  Kepala BSN, Bambang Prasetya dan Wakil Ketua LIPI, Djusman Sajuti. (munawir)

May 3, 2013

Ngejar Bahan Tesis di UNJ

Jadi ceritanya begini, awalnya tuh karena proposal tesis saya belum di ACC oleh Prof. Azhar Kasim, dosen pembimbing saya. Menurut beliau, saya musti mengganti paradigma penelitian saya menjadi positivis atau post-positivis, yg sebelumnya menggunakan pendekatan kualitatif.

Saya pun browsing sana-sini mencari karya ilmiah lain yg topiknya sama, yaitu evaluasi program sosialisasi dengan model CIPP dan menggunakan pendekatan positivis. Sebenarnya udah nemu beberapa yg topiknya sama, tapi kok ya rasanya hati nih belum sreg kalo musti pake paradigma positivis. Saya cari lagi tesis/disertasi yang menggunakan model CIPP dan akhirnya nemu berita di Antara, kalo bulan Maret kemaren, Ibu Andi Nurpati baru promosi Doktor di UNJ dengan disertasi yang mengangkat topik evaluasi program sosialisasi pemilu 2009 di KPU, dgn menggunakan model CIPP dan pembahasan yang deskriptif analitis.

Senangnya bukan kepalang, bagai musafir nemu oase di tengah sahara.. Hehehe... Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi Ibu Andi Nurpati via sms dan twitter untuk meminta salinan disertasi beliau untuk saya jadikan tinjauan pustaka. Alhamdulillah Ibu Andi Nurpati membalas twit saya dan meminta alamat email saya. Tak lama setelah saya membalas twit ibu Andi Nurpati, beliau twit lg menginfokan kalau disertasi beliau juga bisa saya dapatkan di UPT Perpustakaan UNJ dan Perpustakaan Pasca Sarjana UNJ. Saya paham, dengan kesibukan beliau yang luar biasa padat, mungkin sulit bagi beliau untuk segera mengirimkan disertasi beliau melalui email.

Keesokan harinya alias hari ini, saya pun langsung menuju kampus UNJ. Tak lupa terlebih dahulu saya menghubungi Pak Wandi, rekan sesama peserta diklatpim tahun lalu yg bertugas sebagai Kasubbag Umum di FT UNJ, berharap bisa bersua walau sebentar demi silaturrahim. Walau masih tanggal muda, namun kantong tua, akhirnya saya milih naik bus aja, ga naik taksi atau ojek.

Pukul 09.45, dari perempatan Kebon Sirih (BI), saya naek bus Kopaja 502 tujuan Kampung Melayu dan turun di perempatan Matraman. Sebelum turun, saya nanya keneknya, kalo mo ke UNJ naek bus apa. Keneknya bilang naek Metro Mini 49 aja. Saya pun nurutin sarannya bapak kenek itu, ga lama nunggu bus 49nya datang. Agak aneh rasanya dah lama duduk tapi kali ini ga ada kenek yg nagih ongkos, eh ternyata bayar ongkosnya langsung ke pak supir... Pendapatannya pasti lebih gede karena ga musti ngupah kenek.

Tapi sepertinya saya salah naek bus deh, karena bus 49 ini malah putar balik di Utan Kayu.  saya memilih turun di deket halte busway dan baru ngeh kalo dari utan kayu ke UNJ bisa naik Trans Jakarta. Dodol yak, kenapa ga naik Trans Jakarta aja dari Perempatan Matraman tadi. Ga nyampe 10 menit kemudian, saya dah tiba di kampus UNJ dengan Trans Jakarta. ada sesuatu yang menarik di halte busway, yaitu layar informasi kedatangan armada TransJakarta berikut posisi realtimenya. Namun sayangnya informasi yang muncul di layar tidak akurat, bus TJ dari arah Matraman yang katanya bakal datang semenit lagi ga nongol-nongol. Bus dari arah sebaliknya malah udah datang padahal di layar tersebut infonya baru datang 6 menit kemudian. Yah maklum aja deh.

Baru kali ini nginjak kampus UNJ, suasana di dalamnya beda ama UNHAS dan UI yang lebih luas dan banyak pohon serta ada danaunya, di kampus ini terasa lebih crowded. saya langsung menuju UPT Perpustakaan. Ruangan penyimpan disertasi ada di lantai 6, terlebih dahulu naik tangga ke lantai 2 dan dari sana menggunakan lift menuju lantai 6. Khusus untuk pengunjung non civitas akademika UNJ, wajib membayar tiga ribu rupiah, entahlah apakah pembayaran ini termasuk PNBP atau tidak, yang jelas di kwitansinya ga ada nomer seri.

Begitu tiba di lantai 6, petugas mempersilahkan saya mencari terlebih dahulu di katalog yang menggunakan program komputer. agak kagok juga karena applikasi katalognya masih menggunakan program DOS dan bener-bener mouseless hehehe... setelah dicari-cari, disertasi ibu Andi Nurpati ga nemu juga, mungkin karena masih baru, jadi belum masuk koleksi UPT Perpustakaan. Yo wes saya pun ke perpustakaan Pascasarjana UNJ untuk melanjutkan pencarian.

Sayangnya, pengunjung yang bukan anggota perpustakaan Pascasarjana tidak bisa mengakses koleksi literatur di perpustakaan tersebut. petugasnya bilang saya harus bawa surat pengantar dari kantor... eh cape deh. kalopun bisa ngakses, tuh disertasi cuman bisa saya baca di tempat, ga bisa difotocopy atau dipimnjem. petugasnya juga nginfoin kalo disertasi bu Andi Nurpati blum keindeks karena masih baru... fyuh...

Akhirnya kuputuskan pulang aja, sebelumnya mampir dulu ke FT UNJ, sayangnya pak Wandi masih rapat jadi ga sempat silaturrahim. Beliau mau bantu untuk copy-in disertasi yang saya cari kalau sudah ada di perpustakaan. tapi keknya bakal lama kalo nunggu tuh disertasi masuk perpustakaan UNJ. pukul 11.15 saya naik busway menuju Dukuh Atas, dari situ pindah koridor 1 dan turun di halte Sarinah.  Pukul 12.00 saya dah nyampe kantor dan ga telat sholat Juma'at alhamdulilah.

Jadi kesimpulannya gini, keuntungan naik public transport itu sebagai berikut :
1. Cepet : buktinya dari UNJ ke kantor cuman butuh 45 menit pake Trans Jakarta. coba kalo nyetir atau naik taksi, pasti lebih lama karena macet. seharusnya bisa lebih cepat dari 45 menit, tapi di depan Pasaraya Manggarai agak tersendat karena banyak mobil masuk ke jalur busway.
2. Murah : total ongkos yang keluar dari kantor di Thamrin menuju kampus UNJ di Rawamangun pulang pergi hanya 11 ribu rupiah. harusnya sih 9 ribu aja karena yang 2 ribu itu untuk bayar pas saya salah naik bus Metro Mini 49. coba kalo naik taksi, 11 ribu paling nyampe Tugu Tani doang. 
3. Sehat : pindah koridor busway di Dukuh Atas itu sesuatu banget, jalan dari Halte Dukuh Atas 2 ke Halte Dukuh Atas lumayan bakar kalori. tapi buat yang jarang jalan kek saya bisa pegel juga, pas naek Trans Jakarta nih betis langsung keram hehehehe
4. Nyaman : naik Trans Jakarta lumayan nyaman kalo ga terlalu padet kek tadi, alhamdulillah masih dapat duduk dan masih bisa ngetik postingan ini. sebagian besar thread ini saya ketik di BB di dalam Trans Jakarta, di perjalanan dari kampus UNJ menuju Sarinah. Yang ga nyaman ya pas naek Kopaja 502 ama Metro Mini 49 tadi, ga ada AC jadinya keringetan gimana gitu. Masalah keamanan juga blum terjamin, tahun 2010 silam BB saya pernah dicopet di Kopaja 502.

Udah dulu ah, lumayan deh ngapus kangen ngeblog... hehehe....