Sudah dua malam berturut-turut, saya terbangun tepat pukul dua pagi.
Tubuh ini rupanya belum mau berkompromi dengan perbedaan waktu Budapest. Berbaring dengan mata terbuka tidak membuat kantuk itu kembali, maka saya pun memilih bangun, mandi, dan kembali berbagi cerita di blog ini.
Budapest di Musim Dingin yang Tidak Ramah
Di luar jendela, cuaca Budapest sedang tidak bersahabat. Dingin menusuk, ditambah gerimis yang tidak kunjung reda. Rekan saya Tanfer dari Turki memperkirakan salju akan turun pada hari Rabu. Tapi Renata dari Polandia menampiknya — katanya cuaca saat ini masih terlalu hangat untuk salju.
Entah siapa yang benar. Tapi dalam hati, saya diam-diam berharap Tanfer yang tepat. Sudah tiga kali saya melewati musim dingin di Eropa, tapi belum sekalipun merasakan salju jatuh langsung dari langit. Selalu saja meleset. Hehehe.
General Assembly dan Wajah-wajah Baru
Setelah sarapan, kami berkumpul kembali di Collegium Budapest untuk memulai General Assembly Meeting — agenda rutin tahunan konsorsium SEA-EU-NET.
Yang membuat pertemuan kali ini terasa lebih segar: ada beberapa anggota baru yang bergabung. Mereka datang dari Euresearch Switzerland, STI Thailand, NTU Singapura, DOST Filipina, NAST Laos, dan AIT yang berbasis di Thailand. Ada juga wajah baru dari institusi lama — salah satunya Rapela Zaman dari The Royal Society UK, menggantikan Natalie Day dan Laura Dawson.
Saya sempat salah menduga. Dari penampilannya, saya mengira Rapela berasal dari India dan beragama Hindu. Ternyata ia keturunan Bangladesh — dan seorang Muslimah. Saat makan siang, kami menghabiskan waktu mengobrol tentang kondisi Islam di negara masing-masing. Percakapan yang selalu terasa istimewa setiap kali bertemu sesama Muslim dari belahan dunia yang berbeda.
Suasana meeting hari pertama
Petualangan Kuliner: Antara Waspada dan Hampir Celaka
Satu hal yang selalu menjadi tantangan tersendiri setiap kali berada di Eropa adalah soal makanan.
Saya, Ahmad dari Malaysia, dan rekan-rekan dari Turki selalu saling berkoordinasi sebelum mengambil makanan — saling bertanya, saling mengecek, saling mengingatkan. Kalau salah satu di antara kami berani mengambil satu menu tertentu, yang lain baru ikut. Sistem yang sederhana tapi cukup efektif.
Tapi tidak selamanya aman.
Malam pertama tiba, kami merasa cukup bijak dengan hanya mengambil salad — pilihan yang tampaknya paling tidak berisiko. Namun beberapa detik sebelum suapan pertama masuk ke mulut, rekan tuan rumah dari Hongaria tiba-tiba memberi tahu: dalam salad itu ada potongan kecil daging babi.
Hampir saja.
Maka keesokan paginya, saya memutuskan untuk tidak mengambil risiko di sarapan. Telur rebus, scramble egg, roti, aneka kue, buah-buahan, sereal — semua yang tampak aman saya ambil sepenuhnya. Breakfast like a king, dengan kalkulasi bahwa makan siang dan makan malam nanti mungkin tidak akan banyak pilihannya.
Ternyata perkiraan saya salah — dalam arti yang menyenangkan. Tuan rumah rupanya sudah mengantisipasi kejadian malam sebelumnya, dan menyiapkan menu vegetarian khusus untuk kami yang Muslim. Alhamdulillah — lunch and dinner like a king juga akhirnya.
Ini bukan museum bro... ini McD... hehehehe
Telepon yang Tidak Terduga
Selepas makan malam, niat untuk jalan-jalan di sekitar hotel kembali gagal — hujan masih turun. Saya memilih pulang lebih awal dan langsung tidur meski jam baru menunjukkan pukul 19.10.
Begitu masuk kamar, telepon berbunyi.
Saya angkat — dan suara di seberang langsung berbicara dalam bahasa Indonesia, dengan logat yang terasa tidak asing. Setelah memastikan saya adalah Munawir Razak, beliau memperkenalkan diri: Anis Kadir.
Nama itu langsung memicu ingatan. Pak Joko sebelumnya pernah bercerita bahwa ada staf KBRI Hongaria asal Makassar yang pernah kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo — namanya Anis Kadir. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa Anis Kadir yang dimaksud adalah senior saya di Pesantren IMMIM.
Kanda Anis Kadir alumni IMMIM angkatan 1989. Karena jarak angkatan yang cukup jauh, kami tidak pernah bertemu di pesantren. Dan setelah lulus dari Kairo, beliau langsung merantau ke Budapest — sudah lebih dari 16 tahun. Beliau mengenali nama saya dari berkas perjalanan dinas yang disampaikan Pak Joko, dan — ternyata — pernah mampir ke blog ini.
"Saya tidak asing dengan nama antum," kata beliau.
Saya tertawa kecil mendengarnya.
Ustaz Taufan pernah berkata: walaupun belum pernah bertemu, bila sama-sama pernah mondok di Pesantren IMMIM, rasanya sudah seperti kenal lama. Dan malam itu, di Budapest, di ujung telepon kamar hotel, saya merasakannya sendiri.
Bertemu senior di Indonesia saja sudah menggembirakan. Apalagi menemukan saudara sepesantren di belahan bumi Allah yang lain seperti ini.
Subhanallah.
Insya Allah sebelum saya pulang ke tanah air, kami akan sempat bertemu langsung.
Bersambung ke Bagian Keempat...
0 Komentar