Setelah hampir tiga jam transit di Schiphol, pesawat KLM penerbangan KL 1975 akhirnya bertolak menuju Bandara Ferihegy, Budapest.
Durasi penerbangannya kurang lebih sama dengan Jakarta–Makassar — singkat, tapi pemandangan dari jendela pesawat sungguh tidak mengecewakan. Tak lama setelah take-off, terhampar di bawah sana ratusan kincir angin yang berjajar rapi di dataran Belanda — sebuah pemandangan yang ikonik dan selalu mengesankan. Di ketinggian jelajah, hamparan awan putih yang menggumpal bak kapas berpadu dengan birunya langit tanpa batas. Saya betah berlama-lama menatapnya.
Tepat pukul 12 siang, pesawat mendarat mulus di Budapest.
Sambutan Pak Joko dan Jalanan Budapest
Di pintu keluar, Pak Joko dari KBRI Hongaria sudah menunggu untuk mengantar saya ke hotel. Sepanjang perjalanan 30 menit menuju kota, beliau dengan ramah berbagi banyak cerita tentang Budapest.
Satu hal yang langsung menarik perhatian: kondisi jalan dalam kota Budapest ternyata tidak jauh berbeda dengan Serpong — banyak tambalan aspal di sana-sini. Pak Joko menjelaskan bahwa jalan yang benar-benar mulus adanya di highway antarnegara Schengen. Jalan dalam kota, rupanya, bukan prioritas utama.
Hotel Hilton di Kawasan Castle Area
Saya menginap di Hotel Hilton Budapest — dipilih karena lokasinya yang sangat dekat dengan Collegium Budapest, venue konferensi yang menjadi tujuan utama perjalanan ini.
Dan betapa beruntungnya saya mendapat hotel di lokasi ini.
Hotel Hilton berada di tengah Castle Area — kawasan yang mengelilingi istana raja, penuh dengan bangunan bersejarah yang usianya berabad-abad. Dalam radius berjalan kaki, ada:
Gereja St. Mátyás — dibangun oleh Raja Béla IV pada tahun 1225, berdiri kokoh dengan menara yang khas. Fisherman's Bastion — benteng bergaya neo-gotik yang menawarkan pemandangan terbaik ke arah sungai Danube dan Gedung Parlemen di seberangnya. Maria Magdalena Tower — sisa bangunan gereja abad pertengahan yang bertahan dari Perang Dunia II. Dan tentu saja, Royal Palace — kompleks istana raja Hongaria yang pembangunannya dimulai sejak abad ke-15 dan mencapai bentuknya saat ini pada 1910. Kini, istana megah itu berfungsi sebagai galeri nasional dengan koleksi peninggalan sejarah terbanyak di Hongaria.
Di samping kanan Royal Palace berdiri Istana Alexander — kediaman perdana menteri Hongaria di era kerajaan, yang kini menjadi Kantor Presiden Hongaria. Yang menarik, kawasan ini terbuka untuk umum dan ramai dikunjungi wisatawan. Saya sempat terpikir: bagaimana jadinya kalau kantor presiden di Indonesia seperti ini? Paspampres-nya pasti sibuk bukan kepalaan. Hehehe.
Royal Palace, Budapest
Pemandangan dari Atas Bukit
Karena kawasan Castle Area terletak di atas bukit, pemandangan dari sini luar biasa. Dari hotel, dengan jelas terlihat Gedung Parlemen (Országház) yang berdiri megah di seberang Sungai Danube — salah satu gedung parlemen terindah di dunia, dengan detail arsitektur gotik yang menakjubkan.
Terlihat pula St. Stephen's Basilica, gereja terbesar di Budapest dengan luas sekitar 4.000 meter persegi, yang dibangun sejak 1851. Dan yang paling memesona: Chain Bridge — jembatan pertama Budapest yang dibangun antara 1839–1849, yang menjadi simbol penyatuan dua kota, Buda dan Pest, menjadi Budapest pada tahun 1873.
Semua itu tersaji dari satu sudut pandang, gratis, hanya dengan berdiri di teras hotel.
Chain Bridge dan St. Stephen’s Basilica dilihat dari jalan menuju Hotel Hilton
Mencari Makan Halal dan Pengaruh Turki
Pak Joko dengan baik hati menawarkan bantuan mencarikan restoran halal. Dan ternyata — tidak sesulit yang saya bayangkan. Restoran kebab Turki mudah ditemukan di Budapest. Alhamdulillah.
Ada alasan historisnya: Turki pernah menjajah Hongaria selama lebih dari 150 tahun. Pengaruh kuliner itu rupanya bertahan jauh lebih lama dari pengaruh politiknya — meski jejak arsitektur atau budaya Ottoman hampir tidak terlihat lagi di kota ini.
Karena pelayan restoran tidak fasih berbahasa Inggris, Pak Joko memesan dalam bahasa Hongaria — dengan lancar dan natural. Tidak mengherankan: beliau sudah lama menetap di sini, menikah dengan wanita Hongaria, dan anak-anaknya pun sudah menjadi warga negara Hongaria. Budapest sudah menjadi rumah kedua beliau yang sesungguhnya.
Jetlag, Forint, dan Matahari yang Cepat Tenggelam
Kembali ke hotel pukul 15.00 — dan rasa kantuk langsung menyerang. Efek jetlag yang tidak bisa ditawar. Saya berusaha keras untuk tidak tidur, karena pukul 18.00 sudah ada pertemuan dengan rekan-rekan dari SEA-EU-NET.
Rencana jalan-jalan memotret suasana sekitar hotel pun segera disusun. Tapi begitu bersiap keluar pukul 16.00, pemandangan di luar jendela sudah gelap gulita. Matahari musim dingin di Budapest terbenam sangat cepat — dan tidak memberi peringatan.
Akhirnya saya memutuskan untuk tinggal di kamar dan browsing internet. Tapi ternyata di Hotel Hilton pun internet tidak gratis — meski tarif kamar sudah 80 euro per malam. Tarifnya: 1.350 forint untuk 30 menit, 3.100 forint untuk satu jam, 7.800 forint untuk 24 jam, dan 19.500 forint untuk seminggu.
Satu forint setara sekitar 50 rupiah — artinya, internet seminggu di hotel ini menguras sekitar Rp975.000. Cukup untuk membuat saya berpikir dua kali sebelum streaming video.
Satu catatan menarik: Hongaria belum mengadopsi euro sebagai mata uang resmi. Seluruh transaksi — di toko, restoran, bus, tram — menggunakan forint. Hanya segelintir tempat seperti Hotel Hilton yang mau menerima euro.
Reuni Tahunan di Collegium Budapest
Tepat pukul 18.00, saya turun ke lobi. Teman-teman sudah berkumpul lebih dulu: Tanfer dan Elif dari Turki, Christoph, Gerold, dan Margot dari Jerman, Ahmad dari Malaysia, Simon dari Kanada, dan Alex dari Austria.
Kami berjalan bersama ke Collegium Budapest yang hanya berjarak 100 meter dari hotel. Di sana kami disambut oleh Mr. Béla — mantan diplomat Hongaria yang menjadi tuan rumah konferensi tahun ini.
Pertemuan tahunan seperti ini selalu menjadi sesuatu yang saya nantikan. Bertemu kembali dengan wajah-wajah yang sudah familiar, bertukar cerita tentang perkembangan di negara masing-masing, berdiskusi tentang isu-isu yang lintas batas. Kuliah dulu sempat belajar banyak tentang Eropa — dan malam itu, semua bekal itu terasa berguna. Hehehe.
Bersambung ke Bagian Ketiga...
1 Komentar
salut sama dirimu, sudah benar-benar mewujudkan impian exploring the world nih!! keep writing ya... !!Salam Hi-ers!!
BalasHapus